Sejarah manusia bukan hanya kisah mengenai raja, perang, agama, perdagangan, dan penemuan teknologi. Di balik seluruh perubahan besar tersebut terdapat satu kebutuhan yang sering luput diperhatikan: energi.
Manusia membutuhkan energi untuk:
memasak makanan;
menghangatkan rumah;
mengolah logam;
menggerakkan alat;
mengangkut barang;
membangun kota;
menjalankan pabrik;
mengoperasikan kendaraan;
menghasilkan listrik;
dan mempertahankan kekuatan militer.
Semakin banyak energi yang dapat dikuasai suatu masyarakat, semakin besar pula kemampuannya untuk menghasilkan pangan, membangun industri, melakukan perdagangan, dan memperluas pengaruhnya.
Perjalanan manusia dari kayu bakar menuju batu bara, minyak bumi, listrik, tenaga nuklir, dan energi terbarukan telah mengubah cara manusia hidup. Perubahan sumber energi juga menggeser pusat kekuatan dunia.
Negara yang menguasai sumber energi, teknologi pengolahannya, serta jalur distribusinya sering memperoleh keunggulan ekonomi dan geopolitik.
Karena itu, energi tidak hanya menjadi persoalan teknis. Energi juga berkaitan dengan kekuasaan, kedaulatan, kemakmuran, dan konflik.
Energi sebagai Dasar Peradaban
Energi secara sederhana dapat dipahami sebagai kemampuan untuk melakukan kerja.
Peradaban modern terbentuk karena manusia belajar mengubah energi dari satu bentuk ke bentuk lain, kemudian menggunakannya untuk memasak, bergerak, memproduksi barang, menghasilkan cahaya, dan menjalankan mesin.
Pada awal sejarah, manusia sangat bergantung pada energi yang tersedia langsung di alam, seperti:
tenaga otot manusia;
tenaga hewan;
kayu bakar;
sinar matahari;
angin;
dan aliran air.
Jumlah energi yang dapat digunakan sangat terbatas. Manusia hanya dapat bekerja sesuai kekuatan tubuh, jumlah hewan, ketersediaan kayu, dan kondisi alam.
Keadaan berubah ketika manusia menemukan cara untuk menggunakan sumber energi yang lebih padat, mudah disimpan, dan mampu menggerakkan mesin dalam skala besar.
Setiap peralihan energi kemudian melahirkan perubahan besar dalam ekonomi dan masyarakat.
Namun, transisi energi tidak berlangsung dengan cara satu sumber langsung menggantikan sumber sebelumnya. Kayu tidak hilang ketika batu bara digunakan. Batu bara juga tidak lenyap setelah minyak bumi berkembang.
Sumber energi baru biasanya ditambahkan ke dalam sistem, sementara sumber lama tetap digunakan untuk keperluan tertentu. Karena itulah konsumsi energi dunia terus bertambah seiring pertumbuhan penduduk dan perekonomian.
Era Kayu Bakar dan Biomassa
Selama ribuan tahun, kayu bakar merupakan salah satu sumber energi utama manusia.
Kayu digunakan untuk:
memasak;
menghangatkan tempat tinggal;
membakar tembikar;
membuat batu bata;
mengolah logam;
dan menghasilkan arang.
Masyarakat juga menggunakan sisa tanaman, jerami, serta kotoran hewan yang dikeringkan sebagai bahan bakar.
Sebelum Revolusi Industri, kehidupan manusia masih sangat bergantung pada biomassa, tenaga hewan, kincir air, dan kincir angin.
Kayu dan pertumbuhan kota
Ketika jumlah penduduk dan kota meningkat, kebutuhan kayu ikut membesar.
Kayu bukan hanya digunakan sebagai bahan bakar, tetapi juga untuk:
membangun rumah;
membuat perabot;
membangun jembatan;
membuat gerobak;
menopang tambang;
dan membangun kapal.
Kerajaan yang memiliki angkatan laut besar membutuhkan kayu dalam jumlah sangat besar. Kapal perang membutuhkan batang pohon berkualitas untuk lambung, tiang, dan berbagai komponennya.
Karena itu, hutan menjadi aset strategis.
Kekurangan kayu dapat membatasi kemampuan suatu negara membangun kapal, memperluas perdagangan, dan mempertahankan wilayahnya.
Keterbatasan kayu bakar
Kayu memiliki beberapa kelemahan.
Pertama, kepadatan energinya relatif rendah. Untuk menghasilkan panas besar, dibutuhkan volume kayu yang banyak.
Kedua, pengangkutannya mahal dan memerlukan ruang penyimpanan luas.
Ketiga, penggunaan yang tidak terkendali dapat menyebabkan penebangan hutan.
Keempat, produksi kayu bergantung pada luas lahan dan waktu pertumbuhan pohon.
Ketika kebutuhan energi masyarakat meningkat, biomassa tidak lagi cukup untuk menopang perkembangan industri besar.
Dunia kemudian beralih semakin kuat kepada batu bara.
Batu Bara dan Revolusi Industri
Batu bara telah dikenal sejak lama, tetapi penggunaannya meningkat pesat ketika Revolusi Industri berkembang di Inggris pada abad ke-18 dan ke-19.
Batu bara memiliki kepadatan energi lebih tinggi daripada kayu. Bahan bakar ini dapat menghasilkan panas yang besar dan disimpan dalam jumlah banyak.
Penggunaan batu bara kemudian berkaitan erat dengan pengembangan mesin uap.
Mesin uap mengubah batas kemampuan manusia
Mesin uap mengubah panas hasil pembakaran batu bara menjadi tenaga mekanis.
Dengan mesin uap, manusia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada:
kekuatan otot;
tenaga hewan;
aliran sungai;
atau hembusan angin.
Pabrik dapat dibangun di dekat kota dan jalur transportasi, tidak hanya di tepi sungai.
Mesin uap digunakan untuk:
memompa air dari tambang;
menggerakkan pabrik tekstil;
menjalankan lokomotif;
menggerakkan kapal;
dan mengoperasikan berbagai mesin produksi.
Batu bara menjadi jantung Revolusi Industri.
Transisi dari kayu menuju batu bara tidak berlangsung seketika. Di banyak tempat, keduanya digunakan bersamaan selama puluhan hingga ratusan tahun.
Batu bara dan lahirnya negara industri
Negara yang mempunyai cadangan batu bara, teknologi mesin, modal, dan jaringan transportasi memperoleh keunggulan besar.
Inggris mampu menjadi kekuatan industri dan maritim karena beberapa faktor yang saling mendukung:
cadangan batu bara;
perkembangan teknologi;
lembaga keuangan;
perdagangan internasional;
koloni;
dan kekuatan laut.
Produksi massal menurunkan biaya barang. Kereta api dan kapal uap mempercepat pengangkutan bahan mentah serta produk industri.
Batu bara juga membantu negara-negara Eropa membangun senjata, kapal, rel, dan industri baja.
Dengan demikian, energi menjadi salah satu fondasi imperialisme modern.
Kekuatan industri memungkinkan negara tertentu menaklukkan atau mengendalikan wilayah yang secara teknologi dan energi lebih lemah.
Batu Bara, Baja, dan Perebutan Kawasan Industri
Pada era industri, tambang batu bara dan pusat produksi baja menjadi wilayah strategis.
Kawasan seperti Ruhr di Jerman berkembang sebagai pusat pertambangan batu bara dan industri berat. Kemampuan memproduksi baja dan mesin sangat menentukan kekuatan ekonomi sekaligus militer.
Persaingan antarnegara Eropa bukan hanya mengenai wilayah, nasionalisme, dan politik. Wilayah industri yang kaya batu bara dan bijih besi juga mempunyai nilai strategis.
Setelah perang, pengawasan terhadap kawasan industri sering menjadi bagian dari upaya membatasi kemampuan suatu negara membangun kembali kekuatan militernya.
Pembentukan kerja sama batu bara dan baja di Eropa setelah Perang Dunia II kemudian memiliki makna penting. Menyatukan pengelolaan bahan baku strategis dipandang sebagai salah satu cara mengurangi kemungkinan negara-negara Eropa kembali berperang.
Energi dan bahan industri yang dahulu menjadi sumber persaingan perlahan dijadikan dasar kerja sama.
Minyak Bumi Menggantikan Batu Bara sebagai Energi Strategis
Batu bara mendominasi industri abad ke-19, tetapi abad ke-20 menjadi era minyak bumi.
Minyak mempunyai beberapa keunggulan:
kepadatan energi tinggi;
mudah dipompa;
mudah diangkut melalui kapal dan pipa;
dapat diolah menjadi berbagai bahan bakar;
dan cocok untuk mesin pembakaran dalam.
Dari minyak bumi dapat dihasilkan:
bensin;
solar;
avtur;
minyak tanah;
pelumas;
aspal;
dan bahan baku petrokimia.
Penemuan mesin pembakaran dalam memungkinkan berkembangnya mobil, truk, tank, kapal modern, dan pesawat terbang.
Jika batu bara merupakan bahan bakar kereta api dan pabrik, minyak menjadi bahan bakar mobilitas modern.
Minyak dan Perubahan Kekuatan Militer
Perubahan dari kapal berbahan bakar batu bara menuju kapal berbahan bakar minyak memberikan beberapa keuntungan.
Minyak lebih mudah dimuat, menghasilkan energi lebih padat, dan memungkinkan kapal menempuh perjalanan lebih efisien.
Namun, perubahan ini juga menciptakan ketergantungan baru.
Negara yang tidak memiliki cadangan minyak harus:
mengimpor;
membangun pangkalan;
menguasai pelabuhan;
menjaga jalur laut;
atau menjalin hubungan dengan negara produsen.
Dalam perang modern, kendaraan, pesawat, kapal, dan mesin tidak dapat beroperasi tanpa pasokan bahan bakar.
Pasukan yang memiliki banyak kendaraan tetapi tidak memiliki bahan bakar akan kehilangan kemampuan tempurnya.
Karena itu, kilang, tangki penyimpanan, jalur pipa, pelabuhan minyak, dan kapal tanker menjadi sasaran strategis dalam peperangan.
Minyak dalam Perang Dunia II
Perang Dunia II tidak semata-mata terjadi karena perebutan minyak. Penyebabnya jauh lebih luas, termasuk ekspansionisme, ideologi, nasionalisme ekstrem, krisis ekonomi, dan ambisi wilayah.
Namun, minyak menjadi salah satu kebutuhan strategis utama bagi negara-negara yang berperang.
Jerman memiliki keterbatasan minyak domestik dan sangat membutuhkan bahan bakar untuk kendaraan lapis baja serta angkatan udaranya. Invasi Jerman terhadap Uni Soviet pada 1941 merupakan bagian dari perang ekspansionis yang jauh lebih besar, tetapi akses terhadap sumber daya wilayah timur, termasuk kawasan minyak, menjadi kepentingan strategis.
Pertempuran menuju Kaukasus menunjukkan pentingnya wilayah penghasil minyak. Tanpa pasokan bahan bakar yang memadai, kemampuan Jerman mempertahankan perang bergerak akan terus menurun.
Jepang juga mengalami ketergantungan terhadap impor energi dan bahan mentah. Perluasan kekuasaan Jepang di Asia berkaitan dengan ambisinya menguasai sumber daya dan membangun wilayah ekonomi yang dikendalikan sendiri.
Minyak menjadi kebutuhan penting bagi armada laut dan udara Jepang.
Perang tersebut memperlihatkan satu pelajaran besar:
Kekuatan militer modern tidak hanya ditentukan oleh jumlah tentara dan senjata, tetapi juga oleh kemampuan memperoleh serta mengirimkan energi.
Minyak dan Perubahan Pusat Kekuatan Dunia
Ketika minyak menjadi bahan bakar utama transportasi, negara-negara yang memiliki cadangan besar memperoleh posisi strategis baru.
Kawasan Timur Tengah menjadi sangat penting karena mempunyai cadangan minyak besar dan berada dekat jalur perdagangan utama.
Perusahaan minyak internasional, negara kolonial, negara produsen, dan kekuatan besar kemudian bersaing dalam:
memperoleh hak eksplorasi;
mengendalikan konsesi;
menentukan harga;
menguasai jalur pipa;
dan menjaga pemerintahan yang dianggap menguntungkan.
Hubungan internasional di kawasan tersebut tidak dapat dijelaskan hanya melalui minyak. Faktor agama, etnis, kolonialisme, nasionalisme, keamanan, serta persaingan kekuatan besar tetap sangat penting.
Namun, minyak memperbesar nilai strategis kawasan dan membuat konflik lokal dapat menimbulkan dampak global.
Krisis Suez 1956 dan Jalur Energi
Terusan Suez menghubungkan Laut Tengah dengan Laut Merah sehingga mempersingkat perjalanan antara Eropa dan Asia.
Ketika Mesir menasionalisasi Terusan Suez pada 1956, Inggris, Prancis, dan Israel melakukan operasi militer.
Konflik tersebut tidak hanya berhubungan dengan energi. Nasionalisme Mesir, sisa kolonialisme, keamanan Israel, dan kontrol jalur pelayaran juga menjadi faktor utama.
Namun, Terusan Suez serta jaringan pipa di kawasan tersebut sangat penting bagi pengangkutan minyak menuju Eropa.
Gangguan terhadap terusan dan sabotase pipa minyak menunjukkan bahwa negara konsumen dapat mengalami kerentanan meskipun tidak berperang langsung di wilayah penghasil minyak. Dokumen diplomatik pada masa itu mencatat kerusakan jaringan pipa dan kekhawatiran terhadap keamanan kawasan minyak.
Peristiwa ini menegaskan bahwa keamanan energi tidak hanya ditentukan oleh lokasi sumur minyak, tetapi juga oleh:
jalur laut;
kanal;
selat;
pipa;
terminal;
dan pelabuhan.
Embargo Minyak 1973: Energi sebagai Senjata Politik
Pada Oktober 1973, perang kembali terjadi antara Israel dan sejumlah negara Arab.
Negara-negara pengekspor minyak Arab kemudian menggunakan minyak sebagai alat tekanan politik. Ekspor kepada negara tertentu dibatasi dan produksi dikurangi.
Embargo tersebut menimbulkan kekurangan pasokan serta kenaikan harga minyak yang besar.
Dampaknya terasa di banyak negara:
harga bahan bakar meningkat;
inflasi melonjak;
pertumbuhan ekonomi melemah;
antrean bahan bakar muncul;
dan pemerintah mulai memikirkan efisiensi energi.
Krisis 1973 menunjukkan bahwa negara produsen dapat menggunakan sumber energi sebagai instrumen diplomasi.
Negara-negara industri juga menyadari bahwa ketergantungan kepada sedikit pemasok menciptakan kerentanan besar.
Krisis tersebut mendorong:
pembangunan cadangan minyak strategis;
diversifikasi sumber pasokan;
peningkatan efisiensi kendaraan;
pengembangan energi nuklir;
pencarian minyak baru;
dan penelitian energi alternatif.
International Energy Agency dibentuk setelah krisis untuk membantu koordinasi keamanan energi serta respons terhadap gangguan pasokan.
Dengan demikian, embargo minyak tidak hanya mengubah harga energi. Peristiwa tersebut mengubah kebijakan energi negara-negara industri selama beberapa dekade.
Revolusi Iran dan Perang Iran–Irak
Revolusi Iran pada 1979 mengganggu produksi dan ekspor minyak.
Tidak lama kemudian, Perang Iran–Irak pecah pada 1980. Perang tersebut mempunyai penyebab politik, wilayah, ideologi, keamanan, dan persaingan kekuasaan.
Minyak bukan satu-satunya penyebab perang. Namun, kedua negara merupakan produsen penting, sedangkan fasilitas minyak dan jalur ekspor mempunyai nilai strategis.
Gangguan pasokan yang berhubungan dengan Revolusi Iran dan Perang Iran–Irak turut menciptakan gejolak harga energi dunia. EIA mencatat kedua peristiwa itu sebagai bagian dari gangguan politik yang berkaitan dengan lonjakan besar harga minyak.
Konflik juga meluas ke serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas minyak.
Sekali lagi, minyak berfungsi sekaligus sebagai:
sumber pendapatan;
pendukung pembiayaan perang;
sasaran militer;
dan sumber risiko bagi perekonomian dunia.
Invasi Irak ke Kuwait dan Perang Teluk
Pada Agustus 1990, Irak menginvasi Kuwait.
Peristiwa tersebut mempunyai berbagai latar belakang, termasuk utang Irak setelah perang dengan Iran, sengketa wilayah, hubungan politik, dan perselisihan mengenai produksi minyak.
Saddam Hussein menuduh Kuwait mengambil minyak dari lapangan Rumayla yang melintasi perbatasan Irak–Kuwait. Ia juga menuntut wilayah dan konsesi tertentu.
Kuwait merupakan negara kecil dengan cadangan minyak besar. Penguasaan Irak atas Kuwait berpotensi meningkatkan pengaruh Irak terhadap pasokan minyak dunia dan mengancam negara-negara tetangganya.
Koalisi internasional kemudian dibentuk untuk memaksa Irak keluar dari Kuwait.
Perang Teluk sering digambarkan secara sederhana sebagai “perang demi minyak”. Penjelasan itu terlalu sempit.
Konflik tersebut juga berkaitan dengan:
pelanggaran kedaulatan;
keamanan kawasan;
hukum internasional;
kestabilan politik;
dan keseimbangan kekuatan.
Namun, kekayaan minyak Kuwait serta pentingnya Teluk Persia jelas membuat konflik tersebut mempunyai konsekuensi global yang sangat besar.
Minyak, Gas, dan Jalur Pipa
Minyak bukan satu-satunya sumber energi yang memengaruhi politik modern. Gas alam juga semakin penting.
Berbeda dari minyak yang relatif mudah dikirim menggunakan kapal tanker, gas secara historis lebih bergantung pada jaringan pipa.
Pipa menciptakan hubungan jangka panjang antara:
negara produsen;
negara transit;
dan negara konsumen.
Ketergantungan ini dapat menghasilkan kerja sama, tetapi juga dapat menjadi sumber tekanan.
Negara pemasok dapat mengurangi aliran gas. Negara transit dapat memengaruhi pengiriman. Negara konsumen dapat menghadapi krisis apabila tidak mempunyai cadangan atau pemasok alternatif.
Perkembangan LNG mengurangi sebagian ketergantungan terhadap pipa karena gas dapat dicairkan dan dikirim melalui kapal. Namun, LNG membutuhkan fasilitas mahal berupa:
terminal pencairan;
kapal khusus;
terminal penerimaan;
dan fasilitas regasifikasi.
Karena itu, infrastruktur energi dapat membentuk hubungan politik yang bertahan puluhan tahun.
Rusia, Ukraina, dan Keamanan Energi Eropa
Hubungan energi Rusia dan Eropa merupakan salah satu contoh ketergantungan gas lintas negara.
Selama bertahun-tahun, Rusia memasok gas dalam jumlah besar ke Eropa melalui jaringan pipa, sebagian melewati Ukraina.
Ketergantungan tersebut memberikan manfaat ekonomi kepada kedua pihak, tetapi juga menciptakan kerentanan.
Konflik Rusia–Ukraina tidak dapat dijelaskan sebagai konflik energi semata. Sejarah, keamanan, identitas nasional, wilayah, aliansi, dan geopolitik merupakan faktor utama.
Namun, energi memainkan beberapa peran:
pendapatan ekspor membantu perekonomian negara produsen;
jaringan pipa menjadi aset strategis;
pemutusan pasokan dapat menjadi tekanan politik;
dan negara konsumen menghadapi risiko kekurangan serta lonjakan harga.
Setelah konflik berkembang, negara-negara Eropa mempercepat diversifikasi gas, pembangunan terminal LNG, efisiensi energi, dan pengembangan energi terbarukan.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa perdagangan energi dapat menciptakan saling ketergantungan, tetapi saling ketergantungan tidak selalu mampu mencegah perang.
Laut Cina Selatan dan Perebutan Wilayah Energi
Laut Cina Selatan merupakan kawasan penting bagi perdagangan dunia dan pengangkutan energi.
Sejumlah negara memiliki klaim wilayah yang tumpang tindih. Konflik tersebut berkaitan dengan kedaulatan, pulau, wilayah laut, perikanan, posisi militer, kebanggaan nasional, dan jalur pelayaran.
Potensi minyak dan gas turut menambah nilai strategis kawasan.
EIA memperkirakan Laut Cina Selatan memiliki cadangan minyak dan gas yang telah ditemukan serta potensi sumber daya yang belum dieksplorasi. Namun, banyak wilayah masih kurang dieksplorasi karena sengketa teritorial.
Penting untuk tidak melebih-lebihkan peran energi. Sebagian besar cadangan yang telah ditemukan berada dekat pantai dan di wilayah yang tidak disengketakan.
Namun, hak eksplorasi minyak dan gas tetap menjadi salah satu sumber ketegangan.
Sengketa dapat:
menunda eksplorasi;
menghalangi investasi;
memicu kehadiran kapal patroli;
dan menimbulkan perselisihan diplomatik.
Energi dalam kasus ini bukan satu-satunya alasan perebutan wilayah, tetapi menjadi salah satu faktor yang meningkatkan nilai ekonomi wilayah tersebut.
Selat Hormuz sebagai Titik Strategis Energi
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Sebagian besar ekspor minyak dan LNG dari negara-negara Teluk melewati jalur tersebut.
Gangguan akibat perang, serangan kapal, ranjau, atau penutupan selat dapat memengaruhi harga energi dunia.
Data EIA menunjukkan bahwa mayoritas minyak mentah, kondensat, dan LNG yang melewati Hormuz pada 2024 dikirim menuju pasar Asia.
Hal ini sangat relevan bagi negara-negara Asia seperti:
China;
India;
Jepang;
Korea Selatan;
dan negara pengimpor energi lainnya.
Selat strategis menunjukkan bahwa negara tidak harus menguasai ladang minyak untuk memengaruhi keamanan energi.
Kemampuan mengamankan atau mengganggu jalur pengiriman juga dapat menjadi sumber kekuatan.
Listrik Mengubah Kehidupan Manusia
Minyak mengubah transportasi, sedangkan listrik mengubah hampir seluruh kehidupan modern.
Listrik sebenarnya bukan sumber energi primer. Listrik merupakan bentuk energi yang dihasilkan dari sumber lain, seperti:
batu bara;
gas;
minyak;
air;
nuklir;
angin;
matahari;
panas bumi;
dan biomassa.
Keunggulan listrik terletak pada kemampuannya dikirim melalui jaringan dan diubah menjadi:
cahaya;
panas;
gerakan;
suara;
serta komputasi.
Elektrifikasi memungkinkan berkembangnya:
lampu;
mesin industri;
pompa air;
pendingin;
rumah sakit;
telekomunikasi;
kereta listrik;
pusat data;
dan internet.
Listrik memisahkan penggunaan energi dari lokasi pembakarannya. Pabrik atau rumah tidak harus membakar batu bara sendiri karena listrik dapat dihasilkan di pembangkit dan dikirim melalui jaringan.
Elektrifikasi dan Kekuatan Negara
Negara dengan sistem listrik yang luas dan andal memiliki keunggulan besar.
Listrik mendukung:
produktivitas industri;
pendidikan;
kesehatan;
administrasi;
pertahanan;
komunikasi;
dan kualitas hidup.
Sebaliknya, negara yang sering mengalami pemadaman akan menghadapi hambatan ekonomi.
Karena itu, pembangkit, jaringan transmisi, gardu, pusat pengendali, dan distribusi menjadi infrastruktur strategis.
Dalam konflik modern, jaringan listrik dapat menjadi sasaran serangan karena kerusakan listrik dapat mengganggu:
air bersih;
rumah sakit;
komunikasi;
transportasi;
industri;
dan layanan pemerintah.
Ketergantungan terhadap listrik juga melahirkan jenis ancaman baru, yaitu serangan siber terhadap sistem energi.
Energi Nuklir dan Era Atom
Penemuan fisi nuklir membuka babak baru sejarah energi.
Dalam reaksi fisi, inti atom dipecah dan melepaskan energi yang sangat besar.
Teknologi tersebut digunakan dalam dua arah yang sangat berbeda:
senjata nuklir;
pembangkit listrik nuklir.
Penggunaan bom atom pada akhir Perang Dunia II menunjukkan daya penghancur energi nuklir.
Setelah perang, teknologi nuklir dikembangkan untuk menghasilkan listrik.
Pembangkit nuklir dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar dengan emisi karbon operasional yang rendah. Namun, teknologi ini membutuhkan:
investasi besar;
standar keselamatan tinggi;
pengelolaan limbah radioaktif;
sumber daya manusia;
dan sistem pengawasan ketat.
Peran nuklir berbeda di setiap negara. Sebagian negara mengembangkannya secara besar-besaran, sedangkan negara lain mengurangi atau menutup pembangkit karena persoalan biaya, keselamatan, atau penerimaan masyarakat.
Nuklir dan Kekuatan Geopolitik
Energi nuklir tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari isu keamanan.
Teknologi pengayaan uranium dan pengolahan bahan nuklir dapat mempunyai penggunaan sipil sekaligus potensi militer.
Karena itu, pengembangan nuklir sering menimbulkan kekhawatiran mengenai:
proliferasi senjata;
pengawasan internasional;
keamanan material;
dan kemampuan suatu negara membuat senjata.
Negara yang menguasai teknologi nuklir memperoleh:
kemampuan ilmiah;
industri berteknologi tinggi;
kemandirian listrik tertentu;
dan pengaruh strategis.
Namun, negara tersebut juga harus menghadapi kewajiban keselamatan dan diplomasi yang sangat besar.
Energi Terbarukan: Kembali kepada Alam dengan Teknologi Modern
Energi terbarukan bukan sepenuhnya hal baru.
Manusia telah lama menggunakan:
kayu;
tenaga air;
angin;
dan sinar matahari.
Perbedaannya, teknologi modern memungkinkan sumber tersebut digunakan dalam skala jauh lebih besar dan efisien.
Energi terbarukan modern mencakup:
tenaga surya;
tenaga angin;
tenaga air;
panas bumi;
bioenergi;
serta energi laut.
Perkembangan panel surya, turbin angin, baterai, elektronik daya, dan jaringan digital telah menurunkan biaya serta memperluas penggunaan energi bersih.
Kapasitas energi terbarukan global terus bertambah dan diperkirakan tumbuh kuat menuju 2030.
Mengapa Transisi Energi Terbarukan Berbeda?
Transisi dari batu bara ke minyak sebagian besar merupakan pergantian antarbahan bakar yang ditambang dan dibakar.
Energi surya dan angin mempunyai karakter berbeda.
Matahari dan angin tidak perlu dibeli sebagai bahan bakar. Setelah pembangkit dibangun, sumber energinya tersedia secara alami.
Namun, produksinya bergantung pada cuaca dan waktu.
Karena itu, sistem energi terbarukan membutuhkan:
jaringan yang kuat;
penyimpanan energi;
pembangkit fleksibel;
interkoneksi;
pengelolaan permintaan;
dan sistem digital.
Kekuasaan energi juga dapat bergeser.
Negara pengimpor minyak dapat mengurangi ketergantungan dengan membangun tenaga surya dan angin. Namun, negara tersebut mungkin menjadi bergantung pada:
mineral kritis;
panel surya;
turbin;
baterai;
semikonduktor;
dan teknologi jaringan.
Dengan demikian, transisi energi tidak menghapus geopolitik. Transisi hanya mengubah objek persaingannya.
Mineral Kritis sebagai “Minyak Baru”?
Energi terbarukan dan kendaraan listrik membutuhkan berbagai mineral, antara lain:
litium;
nikel;
kobalt;
tembaga;
grafit;
dan unsur tanah jarang.
Mineral tersebut digunakan untuk:
baterai;
motor listrik;
jaringan transmisi;
panel;
dan turbin angin.
Tidak tepat menyebut mineral kritis sepenuhnya sebagai “minyak baru” karena karakteristiknya berbeda.
Minyak harus terus dibakar sehingga perlu dibeli berulang-ulang. Mineral digunakan untuk membangun peralatan dan sebagian dapat didaur ulang.
Namun, konsentrasi pertambangan dan pemrosesan di beberapa negara dapat menciptakan ketergantungan strategis.
Persaingan masa depan mungkin berkaitan dengan:
akses tambang;
teknologi pemurnian;
manufaktur baterai;
hak paten;
standar industri;
dan penguasaan rantai pasok.
IEA menekankan bahwa transisi energi bersih menciptakan bentuk baru tantangan keamanan energi yang membutuhkan kerja sama internasional serta rantai pasok yang tangguh.
Apakah Energi Terbarukan Akan Mengakhiri Konflik Energi?
Energi terbarukan dapat mengurangi beberapa jenis konflik.
Negara dapat menghasilkan listrik dari matahari, angin, air, atau panas bumi di wilayahnya sendiri sehingga ketergantungan impor bahan bakar berkurang.
Namun, konflik energi tidak akan otomatis hilang.
Potensi persoalan baru antara lain:
perebutan lahan;
konflik tambang;
persaingan mineral;
pembangunan bendungan lintas negara;
penguasaan teknologi;
monopoli industri;
dan kontrol jaringan listrik.
Bendungan di sungai internasional dapat menimbulkan perselisihan antara negara hulu dan hilir.
Pertambangan nikel atau litium dapat memicu konflik lingkungan serta sosial.
Pembangunan pembangkit besar juga dapat berhadapan dengan masyarakat lokal apabila tidak dilakukan secara adil.
Dengan demikian, sumber energi yang lebih bersih tetap memerlukan tata kelola yang baik.
Energi dan Kolonialisme
Perebutan energi juga berkaitan dengan sejarah kolonialisme.
Negara kolonial tidak hanya mencari emas dan rempah. Mereka juga mencari:
kayu;
batu bara;
minyak;
karet;
logam;
dan sumber daya lain yang mendukung industri.
Ketika minyak ditemukan di wilayah koloni atau negara yang lemah, perusahaan asing sering memperoleh konsesi yang sangat menguntungkan.
Sebagian masyarakat lokal hanya memperoleh manfaat terbatas, sementara keuntungan besar mengalir ke luar negeri.
Kondisi tersebut melahirkan nasionalisme sumber daya.
Banyak negara kemudian:
menasionalisasi perusahaan;
mengubah kontrak;
menaikkan pajak;
dan menuntut kendali lebih besar.
Perebutan energi dengan demikian tidak selalu berbentuk perang terbuka. Konflik dapat muncul melalui:
diplomasi;
kontrak;
embargo;
kudeta;
sanksi;
dan penguasaan perusahaan.
Kutukan Sumber Daya
Memiliki energi dalam jumlah besar tidak selalu membuat negara makmur.
Sebagian negara kaya minyak dan gas justru mengalami:
korupsi;
ketergantungan ekspor;
konflik;
ketimpangan;
dan lemahnya industri lain.
Fenomena ini sering disebut resource curse atau kutukan sumber daya.
Pendapatan energi yang sangat besar dapat membuat pemerintah tidak terdorong membangun sistem pajak dan ekonomi yang beragam.
Kelompok politik atau bersenjata juga dapat berebut menguasai sumber pendapatan tersebut.
Karena itu, sumber energi dapat menjadi berkah atau sumber masalah, bergantung pada:
kualitas institusi;
transparansi;
pembagian pendapatan;
hukum;
dan kemampuan mengelola lingkungan.
Mengapa Energi Sering Memicu Konflik?
Energi sering berkaitan dengan konflik karena beberapa alasan.
1. Energi menentukan kemampuan ekonomi
Tanpa energi, industri tidak dapat berjalan dan transportasi berhenti.
2. Energi mendukung kekuatan militer
Tank, kapal, pesawat, komunikasi, dan logistik membutuhkan energi.
3. Sumber energi tidak tersebar merata
Sebagian negara memiliki cadangan besar, sementara negara lain sangat bergantung pada impor.
4. Jalur distribusi mudah terganggu
Selat, pipa, terminal, dan pelabuhan dapat menjadi titik lemah.
5. Pendapatan energi sangat besar
Kelompok politik dan negara dapat berebut menguasainya.
6. Energi dapat dijadikan alat tekanan
Embargo, pemotongan produksi, atau pembatasan ekspor dapat digunakan sebagai senjata ekonomi.
Namun, Hindari Menyederhanakan Semua Perang sebagai Perebutan Energi
Meskipun energi penting, tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap perang terjadi hanya karena minyak, gas, atau sumber daya.
Konflik biasanya muncul dari gabungan banyak faktor:
ideologi;
agama;
nasionalisme;
perbatasan;
keamanan;
sejarah;
etnis;
ambisi pemimpin;
dan kepentingan ekonomi.
Energi dapat menjadi:
tujuan utama;
faktor tambahan;
sumber pembiayaan;
sasaran serangan;
atau alat diplomasi.
Dalam Perang Dunia II, misalnya, minyak sangat strategis, tetapi perang tersebut tidak hanya disebabkan oleh minyak.
Dalam Perang Teluk, minyak mempunyai peran besar, tetapi pelanggaran kedaulatan Kuwait dan keamanan kawasan juga sangat penting.
Analisis sejarah yang baik harus membedakan antara:
energi sebagai penyebab;
energi sebagai kepentingan;
energi sebagai alat;
dan energi sebagai dampak konflik.
Pelajaran bagi Indonesia
Indonesia mempunyai sejarah panjang sebagai negara penghasil energi.
Indonesia pernah menjadi eksportir minyak penting dan anggota OPEC. Namun, pertumbuhan konsumsi serta penurunan produksi kemudian membuat Indonesia bergantung pada impor minyak dan produk BBM tertentu.
Pada saat yang sama, Indonesia memiliki:
batu bara;
gas alam;
panas bumi;
tenaga air;
bioenergi;
surya;
angin;
dan mineral untuk baterai.
Sejarah energi dunia memberikan beberapa pelajaran.
Pertama, jangan bergantung pada satu sumber
Ketergantungan berlebihan menciptakan kerentanan.
Kedua, cadangan domestik harus dikelola untuk jangka panjang
Sumber energi yang melimpah dapat habis atau kehilangan nilai.
Ketiga, infrastruktur sama pentingnya dengan cadangan
Minyak tanpa kilang, gas tanpa pipa, dan listrik tanpa jaringan tidak banyak berguna.
Keempat, diversifikasi pemasok tetap diperlukan
Negara harus menghindari ketergantungan pada satu negara atau satu jalur pengiriman.
Kelima, transisi energi harus membangun industri nasional
Indonesia tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah kemudian mengimpor teknologi bernilai tinggi.
Keenam, dampak lingkungan dan sosial harus diperhatikan
Kemandirian energi tidak boleh dicapai dengan merusak hutan, menggusur masyarakat, atau mencemari lingkungan.
Masa Depan: Kekuatan Negara Ditentukan oleh Sistem Energi
Pada masa lalu, kekuatan negara sering diukur dari tambang batu bara, cadangan minyak, dan jumlah kapal perangnya.
Pada masa depan, kekuatan energi akan semakin ditentukan oleh kemampuan membangun sistem yang terdiri atas:
energi terbarukan;
nuklir di negara tertentu;
penyimpanan energi;
jaringan cerdas;
kendaraan listrik;
hidrogen;
efisiensi energi;
mineral kritis;
dan teknologi digital.
Negara tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam.
Negara juga memerlukan:
riset;
industri;
modal;
sumber daya manusia;
standar;
dan tata kelola.
Investasi global untuk energi bersih, jaringan, penyimpanan, nuklir, efisiensi, dan elektrifikasi kini telah melampaui investasi untuk minyak, gas, dan batu bara.
Hal ini menunjukkan bahwa pusat persaingan energi sedang bergeser.
Penutup
Energi telah mengubah jalannya sejarah manusia.
Kayu bakar memungkinkan manusia memasak, bertahan hidup, dan mengembangkan pengolahan logam.
Batu bara menggerakkan mesin uap, pabrik, kereta, kapal, dan Revolusi Industri.
Minyak bumi menciptakan mobilitas modern, mengubah peperangan, serta menjadikan kawasan penghasil minyak sebagai pusat geopolitik dunia.
Listrik memungkinkan lahirnya kota modern, rumah sakit, komunikasi, industri otomatis, dan teknologi digital.
Energi nuklir menghadirkan sumber listrik berdaya besar sekaligus ancaman senjata paling mematikan.
Energi terbarukan kini membuka kemungkinan sistem energi yang lebih bersih dan tersebar, tetapi juga menciptakan persaingan baru atas mineral, teknologi, jaringan, dan lahan.
Sejarah juga menunjukkan bahwa energi dapat menjadi sumber kerja sama sekaligus konflik.
Perang Dunia II, Krisis Suez, Embargo Minyak 1973, Perang Iran–Irak, invasi Irak ke Kuwait, ketegangan gas Rusia–Eropa, serta sengketa Laut Cina Selatan memperlihatkan berbagai bentuk keterkaitan energi dengan kekuasaan.
Namun, energi jarang menjadi satu-satunya penyebab perang. Konflik manusia selalu lebih rumit daripada perebutan satu komoditas.
Pelajaran terpentingnya adalah bahwa negara yang kuat bukan hanya negara yang memiliki banyak sumber energi.
Negara yang kuat adalah negara yang mampu:
mengelola sumber dayanya secara bijaksana;
membangun teknologi;
melindungi jalur pasokan;
melakukan diversifikasi;
menjaga lingkungan;
dan membagikan manfaat energi secara adil.
Dari kayu bakar hingga panel surya, sejarah manusia pada dasarnya juga merupakan sejarah pencarian energi.
Siapa yang mampu menguasai energi sering mampu mengubah dunia. Namun, siapa yang gagal mengelolanya dapat menjadikan energi sebagai sumber ketergantungan, ketimpangan, dan konflik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.