Sejak ribuan tahun lalu, manusia selalu mencoba membaca pola dalam perjalanan waktu. Salah satu gagasan yang terus muncul—baik dalam kajian sejarah, filsafat, hingga pemikiran keagamaan—adalah teori perulangan peristiwa sejarah dalam siklus tertentu, salah satunya setiap 100 tahun.
Apakah ini kebetulan? Atau memang ada hukum tak kasat mata yang mengatur ritme peradaban?
1. Akar Pemikiran: Mengapa 100 Tahun?
Secara sosiologis dan biologis, 100 tahun sering dianggap sebagai:
-
Rentang 3–4 generasi manusia
-
Masa di mana memori kolektif langsung mulai hilang
-
Titik pergantian nilai, trauma, dan cara pandang terhadap dunia
Di sinilah siklus sejarah sering dimulai kembali.
2. Pola Perang Besar: Dari Konflik ke Konflik
Jika kita melihat secara makro:
Perang Salib (abad ke-11–13)
- Penaklukan Mongol & Pasca-Mongol (abad 13–14, efek panjang)
Perang Ottoman–Eropa (abad 15–18)
- Perang Napoleon (awal abad ke-19)
- Perang Napoleon (±1799–1815) mengubah wajah Eropa secara radikal
- Mengakhiri banyak monarki feodal
- Menyebarkan nasionalisme modern
- Mengubah peta politik hampir seluruh Eropa
- Ini bukan sekadar perang militer, tetapi perang ide yang membentuk dunia modern.
-
Awal abad ke-20 ditandai oleh Perang Dunia I (1914–1918)
-
Disusul Perang Dunia II (1939–1945) yang menjadi eskalasi lanjutan
-
Memasuki abad ke-21, dunia kembali berada pada fase ketegangan global, konflik regional besar, dan perlombaan teknologi militer.
3. Wabah dan Penyakit: Siklus Ketakutan Kolektif
Wabah besar juga sering muncul dalam interval panjang:
-
Abad ke-14: Black Death
Abad ke-16 (1500–1599): Wabah Cacar di Amerika
Setelah kontak dengan Eropa:
-
Hingga 90% populasi asli Amerika musnah
-
Runtuhnya peradaban besar (Aztec, Inca)
Salah satu kehancuran peradaban tercepat dalam sejarah.
-
-
Abad ke-19: Kolera global
-
Awal abad ke-20: Flu Spanyol
-
Awal abad ke-21: Pandemi global modern (Korona)
Menariknya, wabah tidak hanya soal penyakit, tetapi:
-
Menguji sistem kesehatan
-
Mengguncang ekonomi
-
Membuka tabir ketimpangan sosial
-
Mengubah cara manusia memandang kehidupan dan kematian
Setiap wabah besar selalu diikuti oleh perubahan tatanan dunia.
4. Bencana alam besar
- Letusan Gunung Samalas – 1257 (Lombok). Salah satu letusan gunung api terbesar dalam 7.000 tahun terakhir.
Dampak global: Pendinginan iklim dunia (global volcanic winter), Gagal panen di Eropa, Timur Tengah, dan Asia, Kelaparan massal, Ketidakstabilan kerajaan di berbagai wilayah.
Banyak sejarawan iklim menyebutnya pemicu awal rangkaian krisis abad 14.
Banjir Besar & Cuaca Ekstrem Eropa (1315–1317). Dikenal sebagai Great Famine. Penyebab utama:
-
Hujan ekstrem bertahun-tahun
-
Musim dingin panjang
-
Gagal panen beruntun
Dampak:
-
Jutaan korban kelaparan
-
Populasi melemah drastis
-
Ketahanan sosial runtuh
-
Letusan Gunung Huaynaputina – 1600 (Peru)
Meski terjadi di akhir abad 16 / awal 17, dampaknya global.
Dampak:
-
Pendinginan iklim dunia
-
Gagal panen di Eropa & Rusia
-
Kelaparan besar Rusia (1601–1603)
Bencana di Amerika Selatan berdampak langsung ke Eurasia.
-
Little Ice Age (puncak abad 17)
Pendinginan global berkepanjangan.
Dampak:
-
Musim dingin ekstrem
-
Panen gagal bertahun-tahun
-
Banjir & pembekuan sungai
-
Kerusuhan pangan di Eropa & Asia
➡️ Alam menjadi faktor utama instabilitas global.
-
- “Year Without a Summer” (1816) Dipicu oleh letusan besar gunung Tambora (1815), dunia mengalami: Musim panas yang gagal, Kelaparan massal di Eropa dan Amerika Utara, Migrasi besar-besaran,Kerusuhan sosial akibat krisis pangan.
- Letusan Gunung Krakatau (1883). Dampaknya: Tsunami besar di Nusantara, Abu vulkanik menyelimuti atmosfer global, Gagal panen di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa, Perubahan iklim sementara yang memengaruhi ekonomi global.
5. Wafatnya Tokoh Besar dan Munculnya Pengganti
Dalam banyak peradaban—termasuk Islam—terdapat keyakinan bahwa terdapat siklus sejarah yang berulang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini, pada setiap awal seratus tahun, seseorang yang memperbarui agamanya.”
(HR. Abu Dawud)
Sesuai konteks hadis, 100 tahun dimaksud adalah dalam kalender tahun Hijriyah.
Secara historis, kita sering melihat:
-
Wafatnya ulama besar, pemimpin karismatik, atau tokoh intelektual yang menjaga nilai-nilai dan ajaran Islam yang murni, dan meninggalkan banyak kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam beragama.
-
Terjadi masa kekosongan pemikiran atau kebingungan arah. Umat Islam terjebak dalam berbagai nilai-nilai dan praktek-praktek agama yang kian menyimpang dari ajaran Islam yang murni.
-
Lalu muncul kembali ulama besar yang baru yang berupaya memperkenalkan kembali nilai-nilai Islam dan ajaran Islam yang murni dan akan banyak menghadapi berbagai kontroversi dan konfrontasi di tengah Umat Islam sendiri.
Ini bukan sekadar regenerasi biologis, tetapi regenerasi ide dan keberanian moral.
6. Perspektif Filsafat: Siklus atau Ilusi Pola?
Tidak semua sejarawan sepakat bahwa sejarah benar-benar berulang secara matematis.
Ada dua kubu besar:
-
Deterministik – percaya sejarah mengikuti pola siklik
-
Kontingensi – percaya sejarah dibentuk oleh kebetulan dan pilihan manusia
Namun di antara keduanya, ada satu titik temu:
Manusia cenderung mengulangi kesalahan yang sama ketika lupa alasan mengapa kesalahan itu dulu terjadi.
7. Lalu, Kita Ada di Fase Apa Sekarang?
Jika benar kita sedang berada di ujung atau awal satu siklus baru, maka ciri-cirinya biasanya:
-
Ketidakpastian global
-
Krisis kepercayaan pada institusi
-
Polarisasi sosial
-
Ledakan teknologi yang melampaui etika
-
Kerinduan pada figur pemimpin atau pemikir yang memberi arah
Apakah kita belajar cukup cepat sebelum harga yang harus dibayar terlalu mahal?
