Dakwah adalah bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Melalui dakwah, seorang muslim saling mengingatkan dalam kebaikan, mengajak kepada ketaatan, serta berusaha menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Namun, dakwah tidak cukup hanya disampaikan dengan ilmu. Dakwah juga harus disampaikan dengan adab, kasih sayang, kelembutan, dan niat yang ikhlas.
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang nasihat yang sebenarnya baik dapat diterima dengan berat karena cara penyampaiannya terlalu keras. Sebaliknya, orang yang diberi nasihat juga kadang terlalu cepat tersinggung, berprasangka buruk, atau membalas dengan kata-kata yang lebih tajam. Padahal, sesama muslim seharusnya saling menjaga hati, saling menasihati, dan saling menguatkan dalam kebenaran.
Karena itu, etika dalam berdakwah dan menerima dakwah menjadi hal yang sangat penting.
Berdakwah dengan Kasih Sayang
Bagi seorang muslim yang ingin mendakwahi saudaranya dan mengajaknya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, hendaknya dakwah dilakukan dengan penuh kasih sayang. Tujuan dakwah bukan untuk merendahkan orang lain, bukan untuk merasa paling benar, dan bukan pula untuk memenangkan perdebatan.
Tujuan dakwah adalah mengajak kepada kebaikan. Karena itu, cara yang digunakan juga harus baik.
Allah berfirman:
“Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”(QS. Ali Imran: 159)
Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa kelembutan memiliki pengaruh besar dalam dakwah. Jika seseorang bersikap keras dan berhati kasar, orang lain dapat menjauh, meskipun isi nasihat yang disampaikan benar.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya lemah lembut tidak berada pada sesuatu kecuali pasti menjadikannya indah, dan tidaklah lemah lembut dihilangkan dari sesuatu kecuali pasti menjadikannya buruk.”(HR. Muslim no. 2594, dari Aisyah)
Hadis ini menunjukkan bahwa kelembutan merupakan akhlak yang memperindah setiap urusan. Dalam dakwah, kelembutan dapat membuka hati, meredakan emosi, dan membuat nasihat lebih mudah diterima.
Hindari Sikap Merendahkan dalam Berdakwah
Seorang muslim yang berdakwah hendaknya berhati-hati agar tidak merasa lebih suci, lebih berilmu, atau lebih selamat daripada orang yang dinasihati. Sikap seperti ini dapat merusak tujuan dakwah.
Nasihat yang disampaikan dengan nada merendahkan sering kali membuat orang lain merasa diserang. Akibatnya, isi dakwah tidak lagi menjadi perhatian utama, karena yang muncul justru rasa tersinggung dan pembelaan diri.
Dakwah yang baik seharusnya lahir dari rasa sayang kepada saudara seiman. Seorang muslim menasihati saudaranya karena ingin kebaikan baginya, bukan karena ingin mempermalukannya.
Jika ada kesalahan, sampaikan dengan cara yang paling baik. Jika ada kekeliruan, luruskan dengan ilmu. Jika ada perbedaan pendapat, bicarakan dengan adab.
Menerima Nasihat dengan Lapang Dada
Bagi seorang muslim yang diajak kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis oleh saudaranya, hendaknya tidak mudah panas hati. Jangan terburu-buru mencela balik, membalas dengan hardikan yang lebih kasar, atau langsung berprasangka buruk.
Bisa jadi saudara kita menyampaikan nasihat karena ia menginginkan kebaikan bagi kita. Mungkin caranya belum sempurna, tetapi niatnya bisa jadi baik. Karena itu, berbaik sangka tetap perlu dijaga.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu merupakan dosa.”(QS. Al-Hujurat: 12)
Prasangka buruk dapat merusak hubungan sesama muslim. Ketika seseorang langsung menilai buruk maksud saudaranya, nasihat yang seharusnya menjadi jalan kebaikan justru berubah menjadi sumber permusuhan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Hati-hatilah kalian dari prasangka buruk karena prasangka buruk itu merupakan ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat, cacat, atau cela orang lain. Janganlah kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka janganlah ia menzalimi saudaranya, jangan pula tidak memberikan bantuan kepada saudaranya, dan jangan merendahkannya...”(HR. Bukhari no. 6066 dan Muslim no. 6482)
Hadis ini mengingatkan bahwa hubungan sesama muslim harus dibangun di atas persaudaraan, bukan prasangka, kebencian, atau saling merendahkan.
Berdiskusi dengan Cara yang Baik
Jika terjadi perbedaan pandangan, maka berdiskusilah dengan cara yang baik. Diskusi seharusnya menjadi jalan untuk mencari kebenaran, bukan ajang untuk saling mengalahkan.
Hindari perdebatan yang tidak bermanfaat. Perdebatan yang penuh emosi sering kali membuat hati menjadi keras dan sulit menerima kebenaran. Sebaliknya, diskusi yang dilakukan dengan adab dapat menjadi sarana untuk saling belajar.
Dalam membahas suatu persoalan agama, seorang muslim hendaknya berusaha mencari pendapat yang paling mendekati Al-Qur’an dan Sunnah, sesuai dengan praktik dan pemahaman Rasulullah ﷺ, para sahabat, generasi tabi’in, generasi tabi’ut tabi’in, serta para ulama yang mengikuti manhaj mereka.
Allah berfirman:
“Jika kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.”(QS. An-Nisa’: 59)
Ayat ini menjadi pedoman penting bagi umat Islam ketika menghadapi perbedaan. Perselisihan seharusnya dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan kepada hawa nafsu, fanatisme kelompok, atau sekadar kebiasaan masyarakat.
Berlomba dalam Mengamalkan Kebenaran
Setelah mengetahui kebenaran, tugas berikutnya adalah mengamalkannya. Ilmu tidak cukup hanya dipahami atau diperdebatkan. Ilmu perlu dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Jika seorang muslim telah mengetahui suatu amalan yang lebih mendekati Sunnah, maka hendaknya ia berusaha mengamalkannya secara konsisten. Setelah itu, ia dapat mengajak orang lain dengan cara yang baik dan penuh hikmah.
Dengan demikian, dakwah tidak berhenti pada kata-kata. Dakwah juga tampak dalam akhlak, kesabaran, kelembutan, keteladanan, dan kesungguhan dalam memperbaiki diri.
Amar Ma’ruf Nahi Munkar dengan Adab
Jika dakwah dilakukan dengan ilmu dan adab, insya Allah umat Islam akan semakin kuat. Semangat amar ma’ruf nahi munkar akan tumbuh, tetapi tetap dibarengi dengan kasih sayang dan persaudaraan.
Allah berfirman:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.”(QS. Ali Imran: 110)
Ayat ini menunjukkan kemuliaan umat Islam ketika mereka menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Namun, kemuliaan itu perlu dijaga dengan akhlak yang baik. Menyeru kepada kebaikan tidak boleh dilakukan dengan cara yang justru menimbulkan kebencian, perpecahan, dan permusuhan.
Dakwah yang benar seharusnya mendekatkan manusia kepada Allah, menguatkan ukhuwah, dan menumbuhkan semangat untuk kembali kepada kebenaran.
Kesimpulan
Etika saling berdakwah sesama muslim sangat penting untuk dijaga. Orang yang berdakwah hendaknya mengutamakan kelembutan, kasih sayang, dan adab. Sementara itu, orang yang menerima nasihat hendaknya berlapang dada, berbaik sangka, dan tidak mudah tersinggung.
Jika terjadi perbedaan, kembalikanlah kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan bimbingan pemahaman Rasulullah ﷺ, para sahabat, generasi terbaik umat, serta para ulama yang mengikuti jalan mereka.
Dakwah bukanlah ajang untuk merasa paling benar, melainkan sarana untuk saling menolong dalam kebaikan. Dengan ilmu, adab, kelembutan, dan keikhlasan, semoga nasihat di antara sesama muslim dapat menjadi jalan untuk memperkuat iman, memperbaiki amal, dan menjaga persaudaraan Islam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.