Riya dan ujub adalah dua penyakit hati yang perlu diwaspadai oleh setiap Muslim. Keduanya tidak selalu tampak dari luar, tetapi dapat merusak nilai amal dari dalam.
Seseorang bisa terlihat rajin beribadah, aktif berdakwah, banyak bersedekah, atau memiliki ilmu yang luas. Namun, jika hatinya tidak dijaga, amal-amal tersebut dapat tercampur dengan keinginan dipuji manusia atau rasa bangga terhadap diri sendiri.
Karena itu, menjaga keikhlasan adalah perjuangan yang terus-menerus. Bukan hanya sebelum beramal, tetapi juga ketika beramal dan setelah amal itu selesai dilakukan.
Apa Itu Riya?
Riya adalah menampakkan ibadah atau kebaikan dengan tujuan mendapatkan pujian, penghargaan, pengakuan, atau kedudukan di hadapan manusia.
Riya merupakan lawan dari ikhlas. Jika ikhlas berarti beramal karena Allah, maka riya berarti amal tersebut tercampur oleh keinginan agar dilihat manusia.
Contoh riya dapat terjadi dalam banyak bentuk. Seseorang bersedekah agar disebut dermawan. Seseorang memperindah salatnya karena merasa sedang diperhatikan. Seseorang rajin tampil dalam kegiatan agama agar dianggap saleh. Seseorang menulis nasihat bukan untuk mengingatkan diri dan orang lain, tetapi agar dipuji sebagai orang berilmu.
Riya sangat berbahaya karena menyerang bagian paling inti dari amal, yaitu niat.
Apa Itu Ujub?
Ujub adalah rasa bangga terhadap diri sendiri secara berlebihan. Orang yang ujub merasa kagum kepada amal, ilmu, ibadah, kecerdasan, keturunan, keberhasilan, atau kedudukannya sendiri.
Berbeda dengan riya yang berkaitan dengan keinginan dipuji orang lain, ujub bisa muncul meskipun seseorang sedang sendirian. Ia tidak perlu dilihat manusia untuk merasa tinggi. Cukup dengan memandang dirinya sendiri secara berlebihan, ia sudah terjebak dalam ujub.
Contohnya, seseorang merasa dirinya lebih ikhlas daripada orang lain. Ia bangga karena merasa sudah berhasil menjauhi riya. Ia merasa ilmunya paling benar. Ia merasa amalnya lebih banyak. Ia merasa dakwahnya paling besar pengaruhnya. Ia merasa dirinya lebih dekat kepada Allah dibandingkan orang lain.
Ujub sangat halus karena kadang muncul setelah seseorang berhasil melakukan kebaikan.
Perbedaan Riya dan Ujub
Riya dan ujub sering berkaitan, tetapi keduanya tidak sama.
Riya berhubungan dengan pandangan manusia. Seseorang beramal agar dilihat, dipuji, atau dihormati.
Ujub berhubungan dengan kekaguman terhadap diri sendiri. Seseorang merasa hebat karena amal, ilmu, atau keberhasilannya.
Riya berkata, “Lihatlah aku.”
Ujub berkata, “Aku memang hebat.”
Keduanya sama-sama berbahaya karena membuat hati berpaling dari ketergantungan kepada Allah.
Hubungan Riya dan Ujub
Riya dan ujub dapat saling menguatkan. Seseorang yang awalnya ingin dipuji manusia bisa menjadi bangga terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, seseorang yang ujub bisa terdorong untuk menampakkan amalnya agar orang lain mengakui kehebatannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa riya berkaitan dengan penyekutuan dalam tujuan ibadah kepada selain Allah, sedangkan ujub berkaitan dengan ketergantungan kepada diri sendiri. Orang yang riya belum benar-benar mewujudkan makna “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” sedangkan orang yang ujub belum benar-benar mewujudkan makna “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Makna ini sangat dalam. Riya membuat seseorang mencari penilaian manusia. Ujub membuat seseorang lupa bahwa semua kemampuan beramal sebenarnya berasal dari pertolongan Allah.
Mengapa Riya Berbahaya?
Riya berbahaya karena dapat menghapus keikhlasan amal. Amal yang seharusnya ditujukan kepada Allah menjadi tercampur oleh tujuan duniawi.
Riya juga membuat hati menjadi tidak tenang. Orang yang riya bergantung pada penilaian manusia. Jika dipuji, ia senang. Jika tidak diperhatikan, ia kecewa. Jika dikritik, ia marah. Padahal, penilaian manusia selalu berubah.
Riya membuat amal kehilangan ruhnya. Ibadah yang seharusnya mendekatkan hati kepada Allah justru berubah menjadi alat pencitraan diri.
Rasulullah saw. pernah mengingatkan para sahabat tentang syirik yang samar, yaitu seseorang memperindah salatnya karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya.
Peringatan ini menunjukkan bahwa riya sangat halus. Ia bisa masuk ke dalam ibadah yang paling mulia sekalipun.
Mengapa Ujub Berbahaya?
Ujub berbahaya karena membuat seseorang merasa aman dari kekurangan. Ia sulit menerima nasihat, sulit melihat kesalahan sendiri, dan mudah merendahkan orang lain.
Orang yang ujub lupa bahwa kemampuan beramal adalah taufik dari Allah. Jika Allah tidak memberi pertolongan, manusia tidak akan mampu beribadah, belajar, berdakwah, bersabar, atau melakukan kebaikan.
Ujub juga dapat menghalangi seseorang dari taubat. Bagaimana seseorang akan bertaubat jika ia merasa dirinya sudah baik?
Karena itu, ujub sering lebih sulit disadari daripada riya. Riya kadang dapat dikenali dari keinginan dipuji. Namun, ujub bisa bersembunyi dalam perasaan “saya sudah lebih baik”.
Contoh Riya dalam Kehidupan Sehari-hari
Riya tidak hanya terjadi dalam ibadah formal. Ia dapat muncul dalam banyak aktivitas, termasuk aktivitas sosial dan digital.
Beberapa contoh riya antara lain:
- bersedekah hanya agar disebut dermawan;
- memperbagus bacaan salat karena ada orang yang mendengar;
- memposting amal kebaikan semata-mata agar dipuji;
- menolong orang lain agar dianggap peduli;
- menampilkan kesalehan agar dihormati;
- berdakwah agar dianggap berilmu;
- atau memperlihatkan kesederhanaan agar dipuji rendah hati.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua amal yang terlihat manusia otomatis riya. Ada amal yang memang perlu tampak karena alasan pendidikan, transparansi, syiar, laporan, atau motivasi kebaikan. Yang menentukan adalah niat di dalam hati.
Karena itu, jangan mudah menuduh orang lain riya. Lebih baik gunakan pembahasan ini untuk memeriksa diri sendiri.
Contoh Ujub dalam Kehidupan Sehari-hari
Ujub juga dapat muncul dalam berbagai keadaan.
Misalnya:
- merasa lebih saleh karena rajin ibadah;
- merasa lebih pintar karena banyak membaca;
- merasa lebih benar karena mengikuti kajian tertentu;
- merasa lebih berjasa karena aktif dalam dakwah;
- merasa lebih ikhlas daripada orang lain;
- merasa lebih rendah hati, lalu bangga dengan kerendahan hati itu;
- atau merasa lebih baik karena mampu menjauhi dosa yang dilakukan orang lain.
Ujub dapat muncul pada siapa saja. Bahkan, seseorang yang sedang berusaha menjauhi riya pun bisa terjebak ujub jika ia merasa bangga karena menganggap dirinya sudah bersih dari riya.
Inilah sebabnya penyakit hati harus terus diawasi.
Tidak Semua Amal yang Tampak Itu Riya
Ada hal penting yang perlu diluruskan. Ketakutan terhadap riya jangan sampai membuat seseorang meninggalkan amal saleh.
Kadang, seseorang enggan salat di masjid karena takut riya. Enggan bersedekah karena takut dilihat orang. Enggan berbagi ilmu karena takut dipuji. Padahal, jika niatnya dijaga, amal-amal tersebut tetap perlu dilakukan.
Riya harus dilawan dengan memperbaiki niat, bukan dengan meninggalkan amal baik.
Jika sebuah amal perlu dilakukan secara terbuka karena ada manfaatnya, maka lakukanlah sambil terus meminta pertolongan Allah agar hati tetap ikhlas.
Misalnya, penggalangan dana perlu diumumkan agar transparan. Kajian perlu disampaikan secara terbuka agar ilmu tersebar. Kegiatan sosial perlu didokumentasikan untuk laporan. Hal-hal seperti ini tidak otomatis riya selama niat dan adabnya dijaga.
Cara Menjaga Diri dari Riya
Menghindari riya membutuhkan latihan hati. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
1. Memperbaiki niat sebelum beramal
Sebelum melakukan amal, tanyakan kepada diri sendiri: untuk siapa saya melakukan ini? Apakah saya mencari keridaan Allah atau mencari pujian manusia?
2. Menyembunyikan sebagian amal
Sebagian amal sebaiknya disembunyikan agar hati terbiasa tidak bergantung pada pujian. Misalnya sedekah rahasia, doa di malam hari, atau kebaikan kecil yang tidak diketahui orang.
3. Tidak terlalu mengejar pujian
Pujian manusia dapat melemahkan hati jika terlalu dikejar. Jika mendapat pujian, kembalikan semuanya kepada Allah dan sadari bahwa manusia hanya melihat bagian luar.
4. Mengingat bahwa manusia tidak memberi pahala
Yang memberi pahala adalah Allah. Jika seseorang beramal hanya untuk manusia, maka ia kehilangan tujuan yang lebih besar.
5. Berdoa agar diberi keikhlasan
Keikhlasan adalah karunia Allah. Karena itu, mintalah kepada Allah agar hati dijaga dari riya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Cara Menjaga Diri dari Ujub
Ujub dilawan dengan mengingat kelemahan diri dan besarnya pertolongan Allah.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
1. Menyadari bahwa semua kebaikan berasal dari Allah
Jika kita mampu salat, bersedekah, belajar, berdakwah, atau bersabar, semua itu terjadi karena Allah memberi taufik. Tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu.
2. Mengingat dosa dan kekurangan diri
Setiap manusia memiliki kekurangan. Mengingat kekurangan diri dapat membantu hati tetap rendah.
Namun, ini bukan berarti putus asa. Tujuannya adalah menumbuhkan kerendahan hati, bukan membenci diri sendiri.
3. Tidak meremehkan orang lain
Orang yang hari ini tampak biasa saja bisa jadi memiliki amal rahasia yang lebih dicintai Allah. Orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja kelak bertaubat dan menjadi lebih baik.
Karena itu, jangan merasa lebih tinggi dari orang lain.
4. Menerima nasihat
Orang yang bebas dari ujub lebih mudah menerima nasihat. Ia sadar bahwa dirinya masih bisa salah dan masih perlu dibimbing.
5. Mengingat akhir kehidupan
Tidak ada manusia yang tahu bagaimana akhir hidupnya. Kesadaran ini membuat seseorang tidak merasa aman dari ujian dan terus memohon keteguhan kepada Allah.
Ikhlas sebagai Jalan Keselamatan
Ikhlas adalah inti amal. Orang yang ikhlas tidak terlalu sibuk dengan penilaian manusia. Ia berusaha melakukan kebaikan karena Allah, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Orang yang ikhlas tidak berarti tidak pernah terganggu oleh pujian atau celaan. Ia tetap manusia. Namun, ia terus berjuang mengembalikan hatinya kepada Allah.
Ikhlas bukan sesuatu yang selesai sekali untuk selamanya. Ikhlas perlu dijaga berulang-ulang. Kadang niat sudah benar di awal, tetapi berubah di tengah jalan. Kadang amal sudah selesai, tetapi ujub muncul setelahnya.
Karena itu, orang yang ingin ikhlas perlu terus memeriksa hatinya.
Jangan Sibuk Menuduh Orang Lain Riya
Pembahasan tentang riya dan ujub seharusnya membuat kita lebih banyak mengoreksi diri, bukan sibuk menilai hati orang lain.
Hati manusia adalah wilayah yang tidak mudah diketahui. Kita boleh menilai perbuatan lahiriah yang jelas salah, tetapi tidak boleh sembarangan menuduh niat orang lain.
Jika melihat seseorang beramal secara terbuka, jangan langsung berkata ia riya. Bisa jadi ia punya alasan yang benar. Bisa jadi amalnya justru lebih ikhlas daripada amal kita yang tersembunyi.
Lebih baik takutlah kepada riya dalam diri sendiri daripada sibuk mencari riya dalam diri orang lain.
Kesimpulan
Riya dan ujub adalah dua penyakit hati yang sangat halus. Riya membuat seseorang beramal untuk dilihat manusia, sedangkan ujub membuat seseorang bangga terhadap dirinya sendiri.
Keduanya dapat merusak keikhlasan amal. Riya membuat hati mencari pujian manusia. Ujub membuat hati lupa bahwa semua kebaikan hanya terjadi karena pertolongan Allah.
Cara melawan riya adalah memperbaiki niat, menyembunyikan sebagian amal, tidak mengejar pujian, dan mengingat bahwa pahala hanya dari Allah. Cara melawan ujub adalah menyadari kelemahan diri, mengingat bahwa semua taufik berasal dari Allah, menerima nasihat, dan tidak meremehkan orang lain.
Semoga Allah menjaga hati kita dari riya yang tersembunyi dan ujub yang halus. Semoga setiap amal yang kita lakukan diterima sebagai amal yang ikhlas karena-Nya.
Wallahu a‘lam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini.