Sunday, November 10, 2013

MENYIKAPI PERSELISIHAN PARA USTADS


Share/Bookmark

Sesungguhnya saya sangat prihatin melihat fenomena para ustads yang saling menyerang  kepada ustads-ustads yang lain secara terbuka di majelis masing-masing atau di buku-buku atau di media informasi atau di forum-forum diskusi. Apalagi sampai membawa-bawa nama ulama-ulama terdahulu. Memuliakan guru-guru dan ulama mereka sendiri dan menjelek-jelekkan guru-guru dari ustad-ustad yang lain. Ini benar-benar terjadi seperti yang saya lihat sampai sejauh ini.

Padahal menurut saya, selama seseorang atau sekelompok umat meyakinkan dirinya bahwa mereka berpegang teguh kepada Al Quran dan Al Hadis dalam ber-Islam, maka mereka masihlah satu saudara, yaitu saudara ahlussunnah wal jamaah.

Adapun perbedaan pemahaman atau perbedaan metode yang digunakan dalam merujuk kepada Al Quran dan Al Hadis atau perbedaan tingkatan totalitas dalam pengamalan Al Quran dan Al Hadis seharusnya menjadi tugas bersama untuk dikoordinasikan. Satu-keluarga ahlussunnah wal jamaah haruslah saling mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan dan saling mencegah terhadap perbuatan kemungkaran, bid'ah dan subhat. Apabila terjadi perselisihan maka merujuklah dan telaah kembali Al Quran dan As Sunnah. Tentunya hal ini haruslah dilakukan dengan sebaik-baiknya  dan sesantun-santunnya dengan asas saling berkasih sayang dan lemah lembut serta itikad bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan umat islam ahlusunnah wal jamaah. Bukankah semakin berilmu seseorang seharusnya semakin bijak dan semakin santun dalam menyampaikan sesuatu?

Jika perselisihan ini dibiarkan berlarut-larut maka saya khawatir suasana tidak kondusif ini akan dimanfaatkan oleh aliran sesat untuk berkembang pesat di Indonesia. Aliran sesat akan tampak seperti solusi bagi masyarakat awam sehubungan dengan keputusasaan mereka terhadap hilangnya sosok figur ustad atau ulama ii tengah-tengah mereka yang benar-benar bijak dalam menyikapi masalah dan perselisihan. Seiring dengan sangat awamnya pemahaman agama masyarakat, karena kurang perhatian dari ustad-ustad yang lebih sibuk berselisih satu sama lain, maka mereka akan dengan mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran sesat.

Perpecahan juga akan membuat barisan ahlussunnah wal jamaah menjadi lemah dan rapuh. Mudah terombang ambing, mudah diserang dan dijajah. Semakin berkurang orang yang mendalami agama. Maka tidak heran jika umat kini mengalami kemunduran drastis, dizalimi dimana-mana tanpa bisa melakukan perlawanan yang berarti. Mungkin ini diakibatkan karena semangat beramar makruf nahi mungkar dan berlemah lembut yang telah menipis, sedangkan semangat berselisih secara frontal yang semakin meningkat diantara sesama ahlusunnah wal jamaah.

Namun demikian, apapun yang terjadi kita haruslah tetap optimis. ALLAH Azza Wajalla akan selalu menjaga agama ini hingga hari kiamat kelak. Di sisi lain kita harus selalu berusaha secara terus menerus untuk memperdalam pemahaman kita terhadap Al Quran dan Al Hadis semampu kita. Al Quran dan Al Hadis adalah sumber utama dalam ber-Islam. Rujukan semua ulama ahlussunnah wal jamaah. Kita juga harus menghindari sikap fanatik terhadap mazhab, ulama, kyai, guru, habib, cendikiawan, dan tokoh-tokoh. Hal ini agar kita senantiasa bisa menjaga komitment untuk hanya mengikuti Allah dan RasulNya dalam berislam serta agar tidak terjebak dalam fanatisme sempit dan buta terhadap tokoh-tokoh tertentu.

REFERENSI:

Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara. (Al-Hujurat: 10)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imran/3 : 110)

Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :
“Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain.Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah.Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarakannya dan tidak boleh menghinanya. Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya.
Cukup merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang  muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari).

Muhammad Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang di antara sesama mereka. (Al-Fath:. 29)

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan siksa yang berat. (Ali lmran: 105)

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat
ayatnya agar kamu mendapat petunjuk”
(Q.S. Ali Imron ayat 103)

Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu (wahai Muhammad) terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terpulang kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahu mereka apa yang telah mereka perbuat. (Al-An'am: 159)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. Taubah : 32)

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir benci. “(QS. Ash-Shaff : 8).

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesengguhnya Kami benar-benar memeliharanya. ” (QS. Al-Hijr : 9).

"Sesungguhnya Allah akan menurunkan (orang) setiap permulaan 100 tahun seseorang kepada Umat yang akan (Tajdid) mengembalikan kegemilangan Agama mereka" [Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud, Hakim di dalam Mustadrak dan al-Baihaqi di dalam al-Ma'rifah. HR Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 6527), Dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267) dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 599).]

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ketika Bani Israil melakukan berbagai maksiat, maka para ahli agama melarang mereka tetapi mereka tidak mau berhenti. Kemudian ahli agama itu duduk bersama mereka, saling bersandar dengan mereka, dan minum bersama mereka. Kemudian Allah mempertentangkan hati sebagian mereka dengan sebagian yang lain, dan melaknati mereka melalui lisan Dawud, Sulaiman dan Isa bin Maryam.” Kemudian Nabi saw duduk—sebelumnya Beliau bersandar—seraya bersabda: “Demi Dzat yang menguasai diriku, janganlah kalian diam hingga kalian menarik mereka kepada kebenaran dengan kuat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dari Hudzaifah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Demi Dzat yang menguasai diriku, kamu harus memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, atau kalau tidak maka Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya tetapi Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Tirmidzi)

Imam Syafi'i berkata, “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”[3] Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63.

Imam Malik bin Anas menyatakan :
"Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, ambillah ; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, tinggalkanlah". [Ibnu 'Abdul Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam kitabnya Ushul Al-Ahkam (VI/149), begitu pula Al-Fulani hal. 72.]

Imam Malik berkata:
"Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri". [Dikalangan ulama mutaakhir hal ini populer dinisbatkan kepada Imam Malik dan dinyatakan shahihnya oleh Ibnu Abdul Hadi dalam kitabnya Irsyad As-Salik (1/227). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdul Barr dalam kitab Al-Jami' (II/291), Ibnu Hazm dalam kitab Ushul Al-Ahkam (VI/145, 179), dari ucapan Hakam bin Utaibah dam Mujahid. Taqiyuddin Subuki menyebutkannya dalam kitab Al-Fatawa (I/148) dari ucapan Ibnu Abbas. Karena ia merasa takjub atas kebaikan pernyataan itu, ia berkata : "Ucapan ini diambil oleh Mujahid dari Ibnu Abbas, kemudian Malik mengambil ucapan kedua orang itu, lalu orang-orang mengenalnya sebagai ucapan beliau sendiri".]

Beberapa pesan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi):
a. “Jika suatu hadits shahih, itulah madzhabku.” [Ibnu Abidin dalam kitab al-Hasyiyah (I/63) dan kitab Rasmul Mufti (I/4) dari kumpulan-kumpulan tulisan Ibnu Abidin. Juga oleh Syaikh Shalih al-Filani dalam kitab Iqazhu al-Humam hlm 62 dan lain-lain]

Ibnu Abidin menukil dari Syarah al-Hidayah karya Ibnu Syahnah al-Kabir, seorang guru Ibnul Humam, yang berbunyi:

“Bila suatu hadits shahih sedangkan isinya bertentangan dengan madzhab kita, yang diamalkan adalah hadits.” Hal ini merupakan madzhab beliau dan tidak boleh seseorang muqallid menyalahi hadits shahih dengan alasan dia sebagai pengikut Hanafi, sebab secara sah disebutkan dari Imam Abu Hanifah bahwa beliau berpesan, “Jika suatu hadits shahih, itulah madzhabku.” Begitu juga Imam Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dari para imam lain pesan semacam itu.

b. “Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.” [Ibnu Abdul Barr dalam kitab al-Intiqa fi Fadhail ats-Tsalatsah al-Aimmah al-Fuqaha hlm 145, Ibnu Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in (II/309), Ibnu Abidin dalam Hasyiyah al-Bahri ar-Raiq (VI/293), dll]

c. “Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tinggalkanlah pendapatku itu.” [Al-Filani dalam kitab al-Iqazh hlm 50, menisbatkannya kepada Imam Muhammad]

Beberapa pesan Imam Ahmad bin Hambal
a. “Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.” [Al-Filani hlm 113 dan Ibnu Qayyim dalam al-I'lam (II/302)]

Pada riwayat lain disebutkan: “Janganlah kamu taqlid kepada siapapun mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima).”

di kesempatan lain dia berkata: “Yang dinamakan ittiba’ yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sedangkan yang datang dari para tabi’in boleh dipilih.” [Abu Dawud dalam Masa'il Imam Ahmad hlm 276-277]

b. “Pendapat Auza’i, Malik dan Abu Hanifah adalah ra’yu (pikiran). Bagi saya semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsar (hadits).” [Ibnu Abdul Barr dalam al-Jami’ (II/149)]

c. “Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berada di jurang kehancuran.” [Ibnu Jauzi hlm 142]