Monday, February 28, 2011

DIGNITY DALAM PANDANGAN ISLAM DAN MATERIALISME


Share/Bookmark


Sebagian besar masyarakat yang ada sekarang menganggap tingkat kesuksesan sesorang selalu diukur dari apa yang dikenakannya. Seorang pengusaha yang merasa bahwa dirinya telah sukses dalam usahanya, akan menunjukkan kesuksesannya tersebut dengan memiliki sejumlah mobil mewah atau rumah yang besar dan megah. Seberapa banyak mobil mewah yang dia miliki, atau seberapa megah rumahnya akan dia sesuaikan dengan penilaiannya mengenai seberapa sukses dia dalam kehidupannya. Ini dilakuakan dalam rangka menunjukkan status soialnya di tengah masyarakat bahwa dia adalah seorang yang sukses. Dengan melakukan hal semacam ini, dia berharap orang-orang akan menganggapnya sebagai seorang yang punya status sosial yang lebih tinggi atau lebih ber-dignity dibandingkan orang lain.

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa tingkat kesuksesan seseorang dalam hidup selalu diukur dari sisi materi. Pola pikir seperti ini merupakan salah satu bentuk pola pikir materialisme.

Allah menjelaskan di dalam Al-Quran mengenai fenomena ini, dimana manusia secara naluriahnya memang cendeung menyenangi segala hal yang berbau materi.

Al Imron :14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Padahal Allah telah memberikan suatu pengertian bahwa terdapat suatu hal yang seharusnya selalu menjadi tujuan manusia dalam membina kehidupan di dunia ini, yaitu untuk mendapatkan tempat yang tinggi di akhirat kelak. Hal ini dijelaskan dalam ayat berikutnya.

Al Imron :15. Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

Jadi dari sini dapat dikatakan bahwa pola pikir dan gaya hidup materialisme ini bertentangan dengan ajaran islam.

Ini dapat dilihat juga dari gaya hidup Rasulullah, terkhusunya setelah beliau diangkat menjadi Nabi hingga akhir hayatnya (selama masa kenabian). Rasulullah dan para sahabat generasi awal misalnya Abu bakar, Umar, Ustman, dan Ali selalu mencontohkan gaya hidup yang sederhana bahkan cenderung terlihat kekurangan materi, walaupun mereka punya kekuasaan yang besar.

Ahl bin Sa’ad, salah satu sahabat Nabi, berkata: ”Rasulullah tidak pernah terlihat makan roti dari tepung pilihan dari saat itu (kenabian) hingga beliau meninggal”.

Ahmad mengeluarkan dengan isnad yang shahih, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, dia berkata, “Umar bin Al-Khaththab ra. bercerita kepadaku, “Aku pernah memasuki rumah Rasulullah Shallailahu Alaihi wa Sallam, yang saat itu beliau sedang berbaring di atas selembar tikar. Setelah aku duduk di dekat beliau, aku baru tahu bahwa beliau juga menggelar kain mantelnya di atas tikar, dan tidak ada sesuatu yang lain, Tikar itu telah menimbulkan bekas guratan di lambung beliau. Aku juga melihat di salah satu pojok rumah beliau ada satu takar gandum. Di dinding tergantung selembar kulit yang sudah disamak. Melihat kesederhanaan ini kedua mataku meneteskan air mata."

“Mengapa engkau menangis wahai Ibnul-Khaththab?” tanya beliau. “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak menangis jika melihat gurat-gurat tikar yang membekas di lambung engkau itu dan lemari yang hanya diisi barang itu? Padahal Kisra dan Kaisar hidup di antara buab-buahan dan sungai yang mengalir. Engkau adalah Nabi Allah dan orang pilihan-Nya, sementara lemari engkau hanya seperti itu.”
“Wahai Ibnul-Khaththab, apakah engkau tidak ridha jika kita mendapatkan akhirat, sedangkan mereka hanya mendapatkan dunia?”

Al-Hakim juga mentakhrijnya secara shahih, berdasarkan syarat Muslim. Ibnu Hibban meriwayatkannya dari Anas, dan dia menyebutkan yang seperti ini. Begitulah yang disebutkan di dalam At-Targhib, 5/161

Sahabat Nabi Muhammad yang lain, Amr bin Haris, mengatakan bahwa: "ketika Nabi wafat tidak meninggalkan uang sepeserpun atau sesuatu yang lain kecuali pelana putih, senjata dan sebidang tanah untuk wakaf."

Nabi Muhammad hidup dalam kesederhanaan walaupun sebenarnya beliau punya kekuasaan yag besar. Namun Beliau menjadi pemimpin yang paling sukses di dunia karena telah berhasil meninggalkan karya nyata yaitu berupa sebagian besar penduduk semenanjung Arab sudah memeluk Islam sebelum beliau wafat dan masuk dibawah kekuasaan Islam sesudah tahun ke-18 kenabian, dan hingga sekarang islam dan ajran-ajarannya masih terus eksis dan terus berkembang.

Dari kehidupan Nabi Muhammad, kita dapat merenungkan apakah Beliau mengemban risalah untuk mendapatkan status sosial, kebesaran, dan kekuasaan?

Padahal seperti kita ketahui bersama, hasrat menikmati status sosial dan kekuasaan, dalam konsep materialisme, akan selalu diasosiasikan dengan kendaraan mewah, makanan yang enak, baju mahal, istana mewah, dan lain sebagainya.

Dan untuk itu, Allah memperingatkan manusia untuk tidak tergoda kepada dunia dan kesenangannya, yang sebenarnya hanyalah merupakan cobaa’an bagi manusia.

Al Hadid :20. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

Saba’: 37. Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).

At Taubah:85. Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir.

Al Anfaal :28. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Tingkatan status sosial seseorang, dalam pandangan islam, akan dapat dicapai oleh seseorang sesuai dengan tingkat keimanan dan ketakwaannya kepada Allah.

Al hujurat:13. ......... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Dignity dalam konsep islam akan bisa dididapatkan oleh seorang muslim apabila dia menjalankan semua syariat atau ketentuan-ketentuan yang berasal dari Allah dan Rasulnya, dan tidak berbantah-bantahan mengenai hal itu atau dengan kata lain tetap dalam satu jama’ah.

Al Anfaal:46. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Selain itu menjalankan semua syariah secara menyeluruh bukan sepotong-sepotong.

Al Baqarah :208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.

Apabila sesorang telah mantab keimanannya, maka Allah telah menjanjikan bahwa Dia akan menanamkan rasa takut ke dalah hati orang-orang yang mungkar kepada Allah, yang akan membuat mereka gentar dalam menghadapi kaum muslimum.

Al Imron :151. Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim.

Dengan demikian, mari kita taati Allah dan Rasulnya dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi segala larangannya, sesuai dengan tuntunan dalam Al-Quran dan Al Hadis untuk bisa memperoleh tempat yang paling mulia yang bisa kita dapatkan dihadapan Allah.

Sekalipun kita telah mencapai kesuksesan, hidup yang berkecukupan bahkan mungkin berlebih, kita harus berupaya keras untuk tetap berjuang di jalan Allah dengan cara-cara yang telah disyariatkan kepada kita.

Al Fathir :29. Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

Al Baqarah :245. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Al Baqarah :261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

1 comments :

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g:
:h: :i: :j: :k: :l:
:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Post a Comment

Silakan beri komentar barupa kritik dan saran yang membangun demi kemajuan blog saya ini. Jangan malu - malu!