Rabu, 22 Oktober 2014

Memahami Dahsyatnya Perkembangan Ekonomi China: SDM, Reformasi Pasar, dan Alih Teknologi


Perkembangan ekonomi China merupakan salah satu kisah transformasi ekonomi terbesar dalam sejarah modern. Dalam beberapa dekade, China berubah dari negara yang sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.

Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Pertumbuhan ekonomi China bukan sekadar “keajaiban”, melainkan hasil dari kombinasi berbagai faktor: kualitas sumber daya manusia, reformasi institusi pasar, industrialisasi, keterbukaan terhadap investasi, alih teknologi, pembangunan infrastruktur, serta kemampuan pemerintah menjaga arah pembangunan jangka panjang.

Profesor Gregory C. Chow dalam bukunya Interpreting China’s Economy banyak membahas bagaimana reformasi ekonomi China sejak akhir 1970-an membuka jalan bagi pertumbuhan yang sangat cepat. China tidak langsung menjadi negara maju, tetapi memanfaatkan posisinya sebagai negara berkembang untuk mengejar ketertinggalan melalui pembelajaran, produksi, ekspor, dan akumulasi modal.

Namun, dalam membaca perkembangan ekonomi China, kita perlu berhati-hati. Angka-angka proyeksi masa lalu tidak selalu terjadi persis sebagaimana diperkirakan. Ekonomi dunia berubah, tantangan China juga berubah, dan pertumbuhan China saat ini tidak lagi setinggi masa awal reformasi. Karena itu, artikel ini berusaha membahas perkembangan ekonomi China secara lebih seimbang: mengapa China bisa tumbuh sangat cepat, apa faktor pendorongnya, dan apa tantangan yang dihadapi ke depan.

Reformasi Ekonomi China sejak 1978

Titik penting perkembangan ekonomi China modern dimulai pada tahun 1978, ketika Deng Xiaoping mendorong kebijakan reformasi dan keterbukaan. Sebelum masa itu, ekonomi China sangat dikendalikan oleh negara melalui sistem ekonomi terencana. Produktivitas masih rendah, insentif pasar terbatas, dan ruang gerak pelaku ekonomi belum berkembang luas.

Reformasi 1978 mengubah arah pembangunan China secara bertahap. China mulai memberi ruang lebih besar kepada mekanisme pasar, mendorong investasi, membuka diri terhadap teknologi asing, mengembangkan kawasan ekonomi khusus, serta memberi insentif bagi masyarakat untuk berproduksi dan berusaha.

Yang menarik, reformasi China dilakukan secara bertahap, bukan dengan perubahan mendadak. Pemerintah tetap mempertahankan kontrol politik yang kuat, tetapi pada saat yang sama membuka ruang ekonomi yang lebih fleksibel.

Pendekatan bertahap ini membuat China mampu bereksperimen. Kebijakan yang berhasil diperluas, sedangkan kebijakan yang kurang berhasil diperbaiki. Dalam banyak hal, China menjalankan reformasi ekonomi dengan prinsip pragmatis: yang penting mampu meningkatkan produksi, menyerap tenaga kerja, memperkuat industri, dan menaikkan kesejahteraan masyarakat.

Tiga Faktor Utama Pendorong Pertumbuhan China

Secara umum, terdapat tiga faktor besar yang sering disebut sebagai pendorong perkembangan ekonomi China.

Pertama, kualitas sumber daya manusia.

Kedua, institusi pasar yang semakin berfungsi.

Ketiga, posisi China sebagai negara berkembang yang mampu mengejar ketertinggalan teknologi dan produktivitas dari negara maju.

Ketiga faktor ini saling berhubungan. Sumber daya manusia yang kuat membutuhkan sistem ekonomi yang memberi ruang untuk berkembang. Institusi pasar membutuhkan masyarakat yang mampu merespons insentif. Sementara posisi sebagai negara berkembang memberi peluang besar untuk tumbuh cepat melalui adopsi teknologi, industrialisasi, dan peningkatan produktivitas.

1. Sumber Daya Manusia yang Kuat

Sumber daya manusia merupakan salah satu fondasi penting perkembangan ekonomi China. Yang dimaksud dengan sumber daya manusia bukan hanya tingkat pendidikan formal, tetapi juga keterampilan, etos kerja, disiplin, kemampuan belajar, jiwa dagang, dan kecerdikan dalam melihat peluang.

China memiliki sejarah panjang sebagai peradaban besar. Sejak zaman kuno, masyarakat China dikenal memiliki tradisi kerajinan, perdagangan, birokrasi, pendidikan, dan kemampuan produksi yang tinggi. Produk seperti sutra, porselen, kertas, dan berbagai kerajinan bernilai tinggi menunjukkan bahwa tradisi keterampilan telah lama mengakar dalam masyarakat China.

Nilai-nilai seperti kerja keras, ketekunan, penghormatan terhadap pendidikan, serta kemampuan beradaptasi menjadi modal sosial yang penting ketika reformasi ekonomi dibuka.

Ketika peluang pasar mulai tersedia, masyarakat China dapat bergerak cepat. Petani, pekerja, pedagang, pengusaha kecil, hingga pengusaha industri mulai memanfaatkan ruang baru yang diberikan oleh reformasi. Inilah salah satu alasan mengapa pertumbuhan China berlangsung sangat cepat.

Pendidikan dan Mobilitas Sosial

Pendidikan juga menjadi bagian penting dalam pembangunan China. Banyak keluarga China melihat pendidikan sebagai jalan untuk memperbaiki nasib. Anak-anak didorong untuk belajar keras, masuk universitas terbaik, dan menguasai ilmu yang dapat meningkatkan status sosial serta ekonomi.

Selain pendidikan dalam negeri, China juga mengirim banyak pelajar ke luar negeri. Mereka belajar di berbagai universitas besar dunia, terutama di bidang teknik, sains, manajemen, ekonomi, dan teknologi. Sebagian dari mereka kemudian kembali ke China membawa pengetahuan, jaringan, dan pengalaman internasional.

Mobilitas sosial seperti ini menjadi bahan bakar bagi perkembangan industri, teknologi, dan kewirausahaan.

Namun, kualitas sumber daya manusia tidak hanya lahir dari sekolah. Ia juga lahir dari budaya kerja, pengalaman produksi, disiplin industri, dan kemampuan belajar dari praktik.

Etos Kerja dan Budaya Produksi

Salah satu kekuatan China adalah kemampuannya membangun budaya produksi dalam skala besar. Banyak wilayah di China berkembang menjadi pusat manufaktur yang sangat efisien. Pekerja, pemasok, pabrik, logistik, dan jaringan distribusi terhubung dalam ekosistem industri yang kuat.

Dalam banyak sektor, China tidak hanya memproduksi barang murah. Seiring waktu, China bergerak naik ke produk yang lebih kompleks, seperti elektronik, kendaraan listrik, panel surya, baterai, kereta cepat, telekomunikasi, dan teknologi digital.

Kemampuan ini tidak muncul hanya karena upah tenaga kerja rendah. Pada tahap awal, upah rendah memang menjadi daya tarik. Namun, dalam jangka panjang, yang membuat China kuat adalah kemampuan mengorganisasi produksi, membangun rantai pasok, meningkatkan keterampilan, dan mengadopsi teknologi.

2. Institusi Pasar yang Semakin Berfungsi

Sebelum reformasi ekonomi, China belum memiliki institusi pasar yang kuat. Banyak keputusan ekonomi ditentukan oleh perencanaan negara. Harga, produksi, distribusi, dan alokasi sumber daya tidak sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.

Reformasi mengubah keadaan tersebut. China mulai memperkenalkan insentif pasar. Masyarakat diberi ruang lebih besar untuk bekerja, berusaha, menjual produk, menerima keuntungan, dan mengembangkan bisnis.

Institusi pasar dapat dipahami sebagai seperangkat aturan, sistem, dan mekanisme yang membuat kegiatan ekonomi berjalan. Di dalamnya termasuk hak usaha, harga, perbankan, sistem hukum, kontrak, pasar tenaga kerja, investasi, perdagangan, serta perlindungan terhadap aktivitas ekonomi.

Ketika institusi pasar mulai berfungsi, orang yang bekerja lebih produktif dapat memperoleh hasil lebih baik. Pengusaha yang mampu membaca peluang dapat berkembang. Modal dapat mengalir ke sektor yang lebih produktif. Barang dan jasa dapat bergerak mengikuti kebutuhan pasar.

Reformasi Bertahap, Bukan Sekali Jadi

Salah satu pelajaran penting dari China adalah bahwa institusi pasar tidak harus sempurna sejak awal agar ekonomi bisa tumbuh. Pada awal reformasi, sistem hukum, perbankan, tata kelola perusahaan, dan perlindungan hak ekonomi di China masih jauh dari sempurna.

Namun, pemerintah China terus melakukan perbaikan secara bertahap. Ketika pasar mulai berkembang, aturan dan lembaga penunjang juga ikut diperbaiki. Sistem perbankan diperkuat, perusahaan negara direstrukturisasi, sektor swasta diberi ruang, dan investasi asing diarahkan ke sektor strategis.

China menunjukkan bahwa pertumbuhan dapat terjadi ketika ada kombinasi antara ruang pasar, insentif ekonomi, stabilitas politik, dan komitmen perbaikan berkelanjutan.

Peran Perusahaan Desa dan Kota

Pada masa awal reformasi, salah satu fenomena penting adalah berkembangnya perusahaan desa dan kota. Perusahaan-perusahaan ini menjadi motor produksi lokal, menyerap tenaga kerja, dan memenuhi kebutuhan pasar yang sedang tumbuh.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi tidak hanya didorong oleh perusahaan besar negara. Inisiatif lokal juga berperan penting. Banyak daerah memanfaatkan peluang untuk membangun industri, memproduksi barang, dan menjualnya ke pasar domestik maupun internasional.

Dari sini muncul dinamika baru: masyarakat lokal menjadi lebih produktif, pendapatan meningkat, dan perekonomian bergerak lebih cepat.

3. Posisi China sebagai Negara Berkembang

Faktor ketiga yang sangat penting adalah posisi China sebagai negara berkembang ketika reformasi dimulai. Negara berkembang yang memiliki penduduk besar, tenaga kerja melimpah, dan tingkat teknologi awal yang relatif rendah memiliki peluang untuk tumbuh cepat jika mampu mengadopsi teknologi dari negara maju.

China memanfaatkan kesenjangan teknologi ini dengan sangat agresif.

Melalui investasi asing, kerja sama industri, ekspor, pendidikan luar negeri, transfer teknologi, dan pembelajaran produksi, China mampu mengejar ketertinggalan. Banyak teknologi yang awalnya berasal dari luar kemudian dipelajari, dimodifikasi, dan dikembangkan lebih lanjut.

Dalam ekonomi pembangunan, negara yang masih berada pada tahap awal industrialisasi sering memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Produktivitas dapat meningkat cepat ketika tenaga kerja berpindah dari sektor pertanian tradisional ke sektor industri dan jasa yang lebih produktif.

China mengalami proses ini dalam skala sangat besar.

Industrialisasi dan Ekspor

Salah satu strategi utama China adalah industrialisasi berbasis ekspor. China menjadi pusat produksi dunia karena mampu menyediakan barang dalam jumlah besar, harga kompetitif, dan kualitas yang terus meningkat.

Banyak perusahaan global memindahkan sebagian proses produksinya ke China. Hal ini memberi China akses pada modal, teknologi, standar produksi, manajemen, dan jaringan pasar internasional.

Seiring waktu, China tidak hanya menjadi tempat perakitan. China mulai membangun merek, teknologi, dan kemampuan inovasi sendiri.

Perubahan ini terlihat pada berbagai sektor seperti elektronik, teknologi informasi, kendaraan listrik, energi terbarukan, baterai, dan infrastruktur transportasi.

Infrastruktur sebagai Pengungkit Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi China juga ditopang oleh pembangunan infrastruktur besar-besaran. Jalan raya, pelabuhan, bandara, kawasan industri, pembangkit listrik, jaringan kereta cepat, dan kota-kota baru dibangun untuk mendukung aktivitas ekonomi.

Infrastruktur yang baik menurunkan biaya logistik, mempercepat distribusi barang, meningkatkan konektivitas, dan memperkuat daya saing industri.

Bagi negara sebesar China, infrastruktur bukan sekadar proyek fisik. Infrastruktur menjadi alat untuk menghubungkan wilayah, membuka pasar, menggerakkan industri konstruksi, dan meningkatkan produktivitas ekonomi.

Peran Negara dalam Ekonomi China

Model ekonomi China tidak sepenuhnya sama dengan ekonomi pasar liberal. Negara tetap memainkan peran besar. Pemerintah menentukan arah pembangunan, mengatur sektor strategis, mengendalikan sistem keuangan dalam tingkat tertentu, dan menggunakan perusahaan negara untuk menjalankan prioritas nasional.

Di satu sisi, peran negara yang kuat dapat membantu menjaga stabilitas, membangun infrastruktur, dan mengarahkan investasi ke sektor prioritas.

Namun, di sisi lain, peran negara yang terlalu besar juga dapat menimbulkan risiko, seperti inefisiensi, utang tinggi, distorsi pasar, dan ketergantungan pada investasi.

Karena itu, perkembangan ekonomi China perlu dilihat secara seimbang. Ada keberhasilan besar, tetapi juga ada tantangan struktural.

Tantangan Ekonomi China Saat Ini

Pertumbuhan China saat ini tidak lagi setinggi masa awal reformasi. Setelah beberapa dekade tumbuh sangat cepat, ekonomi China mulai memasuki fase yang lebih matang dan menghadapi tantangan baru.

Beberapa tantangan utama antara lain:

1. Perlambatan pertumbuhan

Pertumbuhan dua digit semakin sulit dipertahankan. Ketika ekonomi sudah besar, menjaga pertumbuhan tinggi menjadi lebih sulit. Sumber pertumbuhan lama seperti tenaga kerja murah, urbanisasi cepat, dan ekspor manufaktur tidak lagi sekuat dahulu.

2. Penuaan penduduk

China menghadapi masalah demografi. Jumlah penduduk usia kerja mulai tertekan, sementara jumlah penduduk lanjut usia meningkat. Hal ini dapat memengaruhi produktivitas, konsumsi, sistem pensiun, dan beban sosial.

3. Masalah sektor properti

Sektor properti pernah menjadi mesin penting pertumbuhan China. Namun, ketergantungan berlebihan pada properti menimbulkan risiko utang, kelebihan pasokan, dan tekanan terhadap kepercayaan konsumen.

4. Ketegangan perdagangan dan teknologi

Hubungan China dengan negara-negara besar, terutama Amerika Serikat, menghadapi ketegangan dalam perdagangan, teknologi, semikonduktor, dan geopolitik. Hal ini dapat memengaruhi akses teknologi dan pasar global.

5. Kebutuhan meningkatkan konsumsi domestik

China selama ini sangat kuat dalam investasi dan ekspor. Namun, untuk pertumbuhan jangka panjang yang lebih seimbang, konsumsi domestik perlu diperkuat.

6. Transisi dari manufaktur murah ke inovasi

China perlu terus bergerak dari produksi biaya rendah menuju inovasi bernilai tinggi. Proses ini tidak mudah karena membutuhkan riset, kreativitas, perlindungan hak kekayaan intelektual, dan ekosistem inovasi yang kuat.

Pelajaran untuk Negara Berkembang

Perkembangan ekonomi China memberikan banyak pelajaran bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Pertama, kualitas sumber daya manusia sangat penting. Pendidikan formal, keterampilan teknis, etos kerja, dan budaya produktif harus dibangun dalam jangka panjang.

Kedua, institusi ekonomi harus terus diperbaiki. Pasar membutuhkan aturan yang jelas, birokrasi yang efisien, sistem hukum yang dapat dipercaya, dan insentif yang mendorong produktivitas.

Ketiga, industrialisasi masih penting. Negara berkembang tidak cukup hanya mengandalkan konsumsi dan ekspor bahan mentah. Nilai tambah perlu dibangun melalui industri, teknologi, dan rantai pasok.

Keempat, infrastruktur dapat menjadi pengungkit besar jika diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, bukan sekadar proyek fisik.

Kelima, transfer teknologi perlu dikelola. Negara berkembang harus belajar dari luar, tetapi juga membangun kemampuan domestik agar tidak selamanya bergantung.

Keenam, stabilitas politik dan konsistensi kebijakan berpengaruh besar terhadap investasi dan pembangunan jangka panjang.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Indonesia memiliki potensi besar: jumlah penduduk besar, sumber daya alam melimpah, pasar domestik luas, posisi strategis, dan peluang industrialisasi. Namun, potensi itu perlu dikelola dengan serius.

Dari China, Indonesia dapat belajar tentang pentingnya konsistensi pembangunan, pendidikan, infrastruktur, hilirisasi industri, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan keberanian memperbaiki institusi ekonomi.

Namun, Indonesia tidak harus meniru China sepenuhnya. Setiap negara memiliki sistem politik, budaya, sejarah, dan struktur sosial yang berbeda. Yang perlu diambil adalah prinsip-prinsip umumnya: membangun SDM, memperkuat institusi, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah.

Indonesia perlu menemukan jalannya sendiri.

Kesimpulan

Perkembangan ekonomi China adalah hasil dari kombinasi sumber daya manusia yang kuat, reformasi pasar, industrialisasi, alih teknologi, pembangunan infrastruktur, dan peran negara yang konsisten dalam mengarahkan pembangunan.

China berhasil memanfaatkan momentum reformasi sejak 1978 untuk mengubah struktur ekonominya. Dari negara berkembang dengan produktivitas rendah, China tumbuh menjadi salah satu pusat ekonomi, industri, dan teknologi dunia.

Namun, keberhasilan China tidak berarti tanpa tantangan. Saat ini, China menghadapi perlambatan pertumbuhan, penuaan penduduk, tekanan sektor properti, ketegangan geopolitik, dan kebutuhan untuk meningkatkan konsumsi domestik serta inovasi.

Bagi negara berkembang, kisah China memberi pelajaran penting: pertumbuhan ekonomi besar membutuhkan kerja panjang, institusi yang terus diperbaiki, SDM yang disiplin, strategi industrialisasi, dan kemampuan belajar dari dunia.

Pada akhirnya, tidak ada pembangunan yang terjadi secara instan. Kemajuan ekonomi adalah hasil dari akumulasi kebijakan, budaya kerja, pembelajaran, dan konsistensi dalam jangka panjang.

Selasa, 26 Agustus 2014

Sukses Terbesar dalam Hidup: Meraih Ridha Allah dan Surga-Nya


Setiap orang memiliki definisi sukses yang berbeda. Ada yang menganggap sukses sebagai kemampuan memiliki penghasilan yang cukup, pekerjaan yang stabil, rumah yang nyaman, dan keluarga yang harmonis. Ada juga yang menganggap sukses sebagai keberhasilan membuat karya, membangun usaha, mencapai jabatan tertentu, atau memberikan manfaat bagi banyak orang.

Semua definisi itu tidak sepenuhnya salah. Dalam kehidupan dunia, manusia memang membutuhkan penghasilan, keluarga, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan pencapaian. Bahkan, Islam tidak melarang umatnya untuk berusaha meraih kehidupan dunia yang baik selama dilakukan dengan cara yang halal dan tidak melalaikan akhirat.

Namun, sebagai seorang Muslim, definisi sukses tidak boleh berhenti pada ukuran dunia. Dunia hanyalah tempat singgah, sedangkan akhirat adalah tempat kembali. Maka, kesuksesan sejati harus dilihat dari sudut pandang yang lebih besar: apakah hidup kita membawa kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh dari-Nya?

Sukses Menurut Pandangan Dunia

Dalam pandangan umum, sukses sering diukur dari sesuatu yang terlihat. Misalnya harta, kendaraan, rumah, gelar, jabatan, pengaruh, popularitas, atau prestasi.

Ukuran seperti ini mudah dipahami karena dapat dilihat secara langsung. Seseorang yang memiliki banyak harta sering dianggap sukses. Seseorang yang memiliki jabatan tinggi dianggap berhasil. Seseorang yang dikenal banyak orang dianggap telah mencapai sesuatu yang besar.

Namun, ukuran sukses yang hanya berpatokan pada dunia memiliki kelemahan. Semua itu dapat berubah. Harta bisa berkurang. Jabatan bisa hilang. Popularitas bisa memudar. Kesehatan bisa melemah. Bahkan, hidup manusia sendiri memiliki batas yang tidak diketahui kapan berakhirnya.

Karena itu, ukuran sukses yang hanya bergantung pada dunia tidak cukup kokoh untuk menjadi tujuan akhir hidup manusia.

Sukses Dunia Bukan Sesuatu yang Salah

Meskipun demikian, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membenci dunia secara mutlak. Seorang Muslim boleh bekerja keras, berusaha memperbaiki ekonomi, belajar dengan sungguh-sungguh, membangun keluarga yang baik, dan memberi manfaat melalui profesinya.

Harta dapat menjadi sarana kebaikan. Jabatan dapat menjadi amanah untuk menegakkan keadilan. Ilmu dapat menjadi jalan amal jariyah. Keluarga dapat menjadi ladang pahala. Pekerjaan dapat menjadi ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal.

Yang menjadi masalah bukanlah dunia itu sendiri, melainkan ketika dunia menjadi tujuan utama hingga seseorang melupakan Allah, mengabaikan kewajiban, menghalalkan segala cara, dan tidak lagi memikirkan akhirat.

Dunia seharusnya menjadi bekal, bukan tujuan akhir.

Sukses Menurut Islam

Dalam Islam, kesuksesan sejati adalah keselamatan di akhirat dan keridhaan Allah. Seorang Muslim disebut sukses bukan hanya ketika ia memperoleh kenyamanan dunia, tetapi ketika ia mampu menjalani hidup sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Allah telah memberikan pedoman hidup melalui Al-Qur’an dan Sunnah. Di dalamnya terdapat arahan tentang ibadah, akhlak, keluarga, muamalah, pekerjaan, hubungan sosial, kepemimpinan, dan berbagai sisi kehidupan manusia.

Islam mengajarkan bahwa setiap aktivitas dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, dan tidak melanggar aturan Allah.

Tidur bisa bernilai ibadah jika diniatkan untuk menguatkan tubuh agar bisa taat kepada Allah. Bekerja bisa bernilai ibadah jika dilakukan untuk mencari rezeki halal dan menafkahi keluarga. Mendidik anak bisa bernilai ibadah. Menolong tetangga bisa bernilai ibadah. Menjaga lisan dari menyakiti orang lain juga termasuk ibadah.

Dengan demikian, sukses dalam Islam bukan hanya soal pencapaian besar, tetapi juga soal konsistensi menjalankan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesuksesan Kecil dalam Kehidupan Sehari-Hari

Sering kali kita membayangkan sukses sebagai sesuatu yang besar dan jauh. Padahal, kesuksesan besar di akhirat dibangun dari kesuksesan-kesuksesan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Bangun untuk shalat Subuh adalah kesuksesan kecil.

Menjaga lisan dari fitnah adalah kesuksesan kecil.

Mencari rezeki yang halal adalah kesuksesan kecil.

Menolak suap adalah kesuksesan kecil.

Bersabar ketika diuji adalah kesuksesan kecil.

Meminta maaf ketika salah adalah kesuksesan kecil.

Membantu orang lain tanpa berharap pujian adalah kesuksesan kecil.

Mendidik keluarga dengan kasih sayang adalah kesuksesan kecil.

Menyisihkan rezeki untuk sedekah adalah kesuksesan kecil.

Membaca Al-Qur’an walau beberapa ayat adalah kesuksesan kecil.

Kesuksesan kecil seperti ini mungkin tidak selalu terlihat oleh manusia. Namun, Allah mengetahuinya. Tidak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Allah.

Konsistensi Lebih Penting daripada Sekadar Semangat Sesaat

Dalam perjalanan hidup, semangat manusia bisa naik dan turun. Ada saatnya seseorang rajin beribadah, tetapi ada juga saatnya merasa lemah. Ada saatnya mudah bersedekah, tetapi ada juga saatnya merasa berat. Ada saatnya hati terasa dekat kepada Allah, tetapi ada juga saatnya lalai.

Karena itu, salah satu kunci sukses adalah konsistensi.

Amal yang kecil tetapi dilakukan terus-menerus dapat menjadi bekal yang besar. Konsistensi menunjukkan kesungguhan hati. Ia melatih jiwa agar tidak mudah menyerah dan tidak hanya beramal ketika sedang semangat.

Seorang Muslim tidak harus menunggu sempurna untuk mulai berbuat baik. Mulailah dari yang mampu dilakukan. Jaga shalat. Perbaiki niat. Kurangi dosa. Tambah sedikit demi sedikit amal saleh. Jika jatuh, segera bangkit dengan taubat.

Sukses Terbesar adalah Masuk Surga

Allah berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 13:

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.”

Ayat ini memberi definisi yang sangat jelas. Kemenangan besar bukan semata-mata kekayaan, jabatan, gelar, atau pujian manusia. Kemenangan besar adalah masuk ke dalam surga Allah.

Inilah sukses terbesar seorang Muslim.

Ketika seseorang mendapatkan ridha Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya, maka semua lelah dalam ketaatan menjadi bermakna. Semua kesabaran saat diuji menjadi tidak sia-sia. Semua perjuangan menahan diri dari maksiat menjadi kebahagiaan. Semua amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas menjadi bekal abadi.

Jangan Tertipu oleh Penilaian Manusia

Manusia sering menilai dari luar. Mereka melihat pakaian, rumah, pekerjaan, kendaraan, jabatan, jumlah pengikut, atau banyaknya harta. Namun, Allah melihat hati dan amal.

Seseorang bisa tampak biasa saja di mata manusia, tetapi sangat mulia di sisi Allah karena ketakwaannya. Sebaliknya, seseorang bisa terlihat sukses di dunia, tetapi merugi jika hidupnya jauh dari Allah.

Karena itu, jangan terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia. Pengakuan manusia tidak selalu menunjukkan nilai sejati. Yang lebih penting adalah bagaimana kedudukan kita di sisi Allah.

Jika manusia memuji, jangan sampai membuat sombong. Jika manusia meremehkan, jangan sampai membuat putus asa. Fokus utama seorang Muslim adalah memperbaiki hubungan dengan Allah dan menjalani hidup dengan benar.

Menyeimbangkan Sukses Dunia dan Akhirat

Islam mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim boleh berusaha sukses di dunia, tetapi tidak boleh melupakan akhirat. Ia boleh mencari rezeki, tetapi harus halal. Ia boleh mengejar ilmu, tetapi harus bermanfaat. Ia boleh memiliki jabatan, tetapi harus amanah. Ia boleh kaya, tetapi harus bersyukur dan tidak sombong.

Sukses dunia yang mendukung akhirat adalah nikmat. Namun, sukses dunia yang membuat lalai adalah ujian yang berbahaya.

Maka, setiap pencapaian dunia perlu ditanya: apakah ini mendekatkan saya kepada Allah atau menjauhkan saya dari-Nya? Apakah harta ini membuat saya lebih dermawan atau lebih kikir? Apakah jabatan ini membuat saya lebih adil atau lebih sombong? Apakah ilmu ini membuat saya lebih rendah hati atau justru merasa paling benar?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membantu menjaga arah hidup.

Cara Membangun Kesuksesan Sejati

Ada beberapa langkah sederhana untuk membangun kesuksesan sejati dalam hidup.

1. Perbaiki niat

Sebelum melakukan sesuatu, luruskan niat. Niatkan pekerjaan, belajar, keluarga, dan aktivitas harian sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.

2. Jaga shalat

Shalat adalah tiang agama. Jika ingin sukses sejati, hubungan dengan Allah harus dijaga.

3. Cari rezeki yang halal

Rezeki halal mungkin tidak selalu terlihat paling cepat, tetapi lebih berkah dan lebih menenangkan hati.

4. Perbanyak amal saleh

Jangan menunggu kaya atau tua untuk berbuat baik. Lakukan kebaikan sesuai kemampuan.

5. Jaga akhlak

Sukses tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari cara. Akhlak yang baik adalah bagian penting dari kesuksesan seorang Muslim.

6. Bertaubat setiap hari

Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Karena itu, perbanyak istighfar dan segera kembali kepada Allah ketika salah.

7. Gunakan dunia sebagai bekal akhirat

Jadikan harta, ilmu, jabatan, waktu, dan tenaga sebagai sarana untuk meraih ridha Allah.

8. Ingat kematian

Mengingat kematian membantu manusia tidak terlalu larut dalam dunia dan lebih serius mempersiapkan akhirat.

Penutup

Sukses memiliki banyak definisi. Bagi sebagian orang, sukses berarti memiliki harta, jabatan, keluarga harmonis, karya besar, atau pengaruh sosial. Semua itu bisa menjadi kebaikan jika ditempatkan dengan benar.

Namun, bagi seorang Muslim, sukses terbesar adalah mendapatkan ridha Allah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya. Itulah kemenangan yang besar.

Kesuksesan akhirat tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari kesuksesan kecil dalam kehidupan sehari-hari: menjaga shalat, mencari rezeki halal, memperbaiki akhlak, menolong sesama, bersabar dalam ujian, dan terus bertaubat kepada Allah.

Semoga Allah membimbing kita untuk tidak tertipu oleh ukuran sukses yang semu, serta menuntun kita menuju kesuksesan sejati di dunia dan akhirat.

Wallahu a‘lam.

Selasa, 05 Agustus 2014

EKSTRAKSI SILICA (SiO2) DARI ABU SEKAM PADI SEBAGAI BAHAN BAKU PENGUAT KOMPOSIT BERMATRIKS ALUMUNIUM (AMCs) UNTUK APLIKASI BAHAN KOMPONEN OTOMOTIF

Berikut adalah studi yang pernah saya lakukan bersama teman-teman ketika masih kuliah. Studinya mengenai penelitian terhadap sekam padi. Semoga bisa bermanfaat bagi Anda semua.

I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini, perkembangan teknologi komposit, khususnya metal matrix composite (MMCs) semakin maju seiring dengan perkembangan teknologi industri otomotif. Penggunaan baja sebagai bahan suku cadang dan komponen otomotif mulai digantikan dengan bahan komposit dimana memiliki sifat mekanik dan ketahanan korosi yang lebih baik. Metalurgi serbuk (powder metallurgy) merupakan salah satu metode pembuatan MMCs yang paling banyak digunakan dalam pembuatan komponen industri otomotif karena menawarkan efisiensi bahan baku dan energi yang lebih baik dibandingkan dengan metode produksi lainnya.

Penerapan teknologi MMCs dalam industri otomotif di Indonesia, khususnya yang berbasis powder metallurgy masih belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari jumlah produksi komponen otomotif dalam negeri yang masih rendah, yaitu sebesar 200 produk dibandingkan dengan Thailand yang sudah memiliki 1.500 produk industri komponen. Padahal, kebutuhan komponen otomotif dalam negeri, baik untuk kendaraan baru maupun untuk spare parts cukup besar karena menurut data statistik tahun 2006, jumlah populasi kendaraan bermotor roda empat di tanah air adalah 9.461.984 unit, sedangkan untuk kendaraan bermotor roda dua adalah 23.312.945 unit. (http://www.bppt.go.id/).

Kekayaan SDA nasional sebenarnya menawarkan potensi pengadaan material – material yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembuatan MMCs untuk mendukung kemajuan industri otomotif dalam negeri. Salah satunya adalah sekam padi dimana berdasarkan penelitian, (Houston, 1972; Hara,1986; Shofiatun, 2000 dalam Harsono, 2002), diketahui banyak mengandung bahan keramik silika (SiO2). Harga sekam padi di pasaran cukup murah, dan ketersediannya di alam juga melimpah. Di wilayah Jawa Timur saja, potensi sekam padi yang dapat dihasilkan dapat mencapai 3,2 juta ton tiap tahunnya.

Akan tetapi, dari jumlah ini hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan. Selama ini, sekam padi sering hanya digunakan sebagai bahan pembakar bata merah atau dibuang begitu saja. (Pakpahan, 2006). Padahal bahan SiO2 yang terkandung dalam sekam padi dapat dimanfaatkan sebagai bahan penguat pada MMCs.

Proses ekstraksi silika dilakukan terhadap abu sekam padi yang merupakan hasil proses pembakaran sekam padi. Terdapat beberapa metode pemurnian silika dari sekam padi mulai dari yang mahal hingga yang murah dan sederhana. (Harsono, 2002; Mittal, D., 1997). Harsono (2002) melakukan ekstraksi silika dari sekam padi melalui beberapa tahapan proses. Proses tersebut meliputi pengeringan, pengabuan, pengarangan, pengasaman, dan identifikasi unsur.

Silika (SiO2) memimilki kekerasan, sifat tahan aus, ketahanan termal dan kekakuan yang tinggi. Apabila material ini digunakan sebagai penguat dan dipadukan dengan aluminium sebagai matriks maka akan dapat dihasilkan komposit yang memiliki kekuatan serta ketahanan korosi tinggi, ringan serta machinability yang baik. Jenis MMCs yang bermatriks alumunium seperti ini disebut AMCs (Alumunium Matrix Composite). Aplikasi AMCs pada komponen otomotif diantaranya pada cylinder liner, disc brake, drum brake, dan engine piston. (Schumacher.C., 1991).

Penelitian terhadap AMCs berpenguat SiO2 pernah dilakukan sebelumnya oleh Gregolin (2002). Bahan SiO2 yang digunakan merupakan bahan non sintetik yang diambil dari endapan mineral yang terdapat di pegunungan Brazil yang disebut spongilites. Komponen yang terkandung pada mineral ini adalah silika (> 90 %), Al2O3 (< 0,5 %), dan Fe2O3 (dapat mencapai hingga 1 persen) serta mempunyai struktur kristal campuran amorf dan kristalin. Selama proses heat treatment pada suhu 600 oC diketahui terbentuk struktur co – continuous AlSi/Al2O3 pada interface dimana mampu menambah kekuatan ikatan antar muka antara partikel matriks dan penguat pada komposit. Pada kegiatan ini akan diteliti pengaruh besar temperatur pengabuan sekam padi terhadap kandungan SiO2 dan fasa – fasa lain yang dihasilkan. Temperatur pengabuan divariasikan pada tempertur 600, 750, dan 900 oC. Dari variasi temperatur pengabuan ini dikatahui juga akan berpengaruh terhadap karakteristik kristal SiO2 yang terbentuk dimana kemudian akan ditinjau pengaruhnya terhadap karakteristik ikatan antar muka yang terbentuk pada partikel komposit. Fraksi volume penguat SiO2 divariasikan menjadi 10, 25, dan 40 persen. Sifat mekanik komposit perlu juga diukur untuk mengetahui apakah komposit Al/SiO2 ini layak untuk diaplikasikan sebagai bahan komponen otomotif.

I.2 Perumusan Masalah


Permasalahan yang diangkat pada program ini dirumuskan sebagai berikut:
  1. Bagaimana pengaruh temperatur pengabuan yang diberikan kepada sekam padi terhadap kuantitas silika serta karakteristik struktur kristal yang dihasilkan.
  2. Bagaimanakah pengaruh karakteristik SiO2 yang dihasilkan tersebut terhadap karakteristik ikatan antar muka yang terbentuk pada komposit.
  3. Bagaimana pengaruh karakteristik SiO2 yang dihasilkan terhadap kekuatan mekanik komposit.

I.3 Tujuan Program

Adapun tujuan dari pelaksanaan kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1. Mengkaji pengaruh temperatur pengabuan yang diberikan kepada sekam padi terhadap kuantitas silika serta karakteristik struktur kristal yang dihasilkan.
  2. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik SiO2 yang dihasilkan tersebut terhadap karakteristik ikatan antar muka yang terbentuk pada komposit.
  3. Untuk mengetahui pengaruh karakteristik SiO2 yang dihasilkan terhadap kekuatan mekanik komposit.

I.4 Luaran yang Diharapkan

Luaran yang diharapkan dari program ini adalah diperoleh suatu teknik rekayasa material baru yang berbasis metal matrix composites melalui metode powder metallurgy dengan memanfaatkan bahan – bahan SDA nasional. Seperti diketahui Indonesia memiliki kekayaan bahan tambang seperti bijih bauskit yang merupakan bahan baku alumunium serta kuantitas sekam padi yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal. Hal ini mendorong adanya penelitian – penelitian untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi keberadaan bahan – bahan tersebut melalui pengembangan teknologi rekayasa material yang murah dan sederhana seperti yang akan dilakukan dalam penelitian ini. Besar harapan agar dari teknologi tersebut nantinya bangsa Indonesia mampu memproduksi bahan komponen dan suku cadang otomotif secara mandiri.

I.5 Kegunaan Program

Kegunaan dan manfaat dari program penelitian ini diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Memberikan solusi upaya peningkatan nilai fungsi serta nilai jual sekam padi yang selama ini kurang mampu dimanfaatkan secara maksimal sehingga diharapkan nantinya dapat meningkatkan taraf hidup petani.
  2. Memberikan bahan masukan dalam upaya pengembangan industri otomotif dalam negeri yang bertujuan meningkatkan kemampuan memproduksi komponen otomotif dan suku cadang secara mandiri.
  3. Dapat dijadikan referensi atau acuan pembuatan komposit bermatriks alumunium (Al) dengan penguat silika (SiO2) yang dapat diaplikasikan dalam bidang otomotif dengan metode metalurgi serbuk misalnya pada pembuatan automotive breaking system, gears, automotive pushrods, disc brake, planetary barier, chain sprockets.
  4. Dapat digunakan sebagai bahan referensi pada penelitian – penelitian selanjutnya yang sejenis.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Komposit adalah gabungan dari dua material atau lebih yang berbeda secara makroskopis, dimana sifat yang dihasilkan merupakan perpaduan sifat dari elemen penyusunnya. Material pembentuk komposit ada dua yaitu matriks dan penguat (reinforcement). Matriks merupakan bahan yang berperan sebagai penyangga dan pengikat bahan penguat. Matriks memiliki karakteristik lunak, ulet, berat per satuan volume yang rendah serta modulus elastisitas yang lebih rendah dari penguatnya. Antara partikel matriks dan penguat harus memiliki kemampuan mengikat dan atau memberikan ikatan antar muka (interface bonding) yang kuat satu sama lain. (Jones, R. M., 1975)

Metal Matrix Composites (MMCs) merupakan salah satu jenis komposit dimana matriks yang digunakan adalah dari bahan logam. MMCs tergolong ke dalam komposit partikulat dimana termasuk komposit isotropik karena partikel penguatnya tersebar merata pada matriks, sehingga distribusi penguatannya sama ke segala arah. Komposit partikulat pada umumnya keuletan (ductililty) dan ketangguhannya (failure thoughness) menurun dengan semakin tinggi fraksi volume penguatnya. (Froyen dan Verlinden, 1994).

Pada komposit partikulat, nilai modulus elastisitasnya secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan persamaan Halpin-Tsai (Cawla, 1987), yaitu:


Salah satu contoh dari MMCs yang paling banyak penggunaannya adalah AMCs dimana bahan logam alumunium bertindak sebagai matriks. Pemanfaatan AMCs dalam industri otomotif memiliki beberapa alasan yaitu untuk meningkatkan temperatur operasi mesin, memperbaiki properti (tahan aus), meningkatkan kekakuan dan kekuatan, serta mereduksi berat bagian mesin. (Schumacher.C., 1991).

II.1 Metode Pembuatan MMCs

MMCs dapat dibuat dengan menggunakan metode peleburan atau dengan metalurgi serbuk (powder metallurgy). Metode peleburan dilakukan dengan memasukkan komponen penguat yang memiliki titik leleh lebih tinggi ke dalam komponen matriks yang dilelehkan. Pencampuran ini disertai dengan pengadukan untuk diperoleh penguat yang tersebar lebih merata pada matriks kemudian dituang atau dicetak ke dalam cetakan.

Sedangkan pada metode metalurgi serbuk terdapat beberapa tahapan proses yang meliputi pencampuran, penekanan dan sintering. (Hirschhorn, J. S., 1976). Pencampuran adalah penggabungan dua bahan serbuk atau lebih dengan komposisi tertentu untuk memperoleh struktur komposit yang isotropik. Penekanan merupakan salah satu cara untuk memadatkan serbuk menjadi bentuk tertentu yang sesuai dengan cetakannya (dies). Sintering merupakan teknik untuk memproduksi material dengan densitas yang terkontrol melalui aplikasi termal. Teknik sintering menawarkan kemudahan dalam desain kontrol mikrostruktural yaitu kontrol ukuran butir (grain size), densitas pasca sintering (sintered density), ukuran dan distribusi fase lain termasuk pori (pores). (Kang Suk – Joong., 2005). Sintering umumnya dilakukan pada temperatur konstan dengan waktu tahan (holding time) yang bervariasi untuk mendapatkan hasil tertentu.

Proses metalurgi serbuk merupakan proses fabrikasi yang sangat efektif dari segi biaya (cost effective). Metalurgi serbuk juga menawarkan efisiensi bahan baku yang sangat tinggi dengan komposisi matriks dan reinforced yang bervariasi.(Fogagnolo.J.B., 2004.). Gambar 2.1 menunjukkan efisiensi bahan baku dan efisiensi energi dari metode powder metallurgy dibandingkan metode manufaktur lainnya. Keunggulan lainnya adalah banyaknya variabel proses yang dapat dikontrol, sehingga kualitas produk akhir yang dihasilkan akan lebih akurat sesuai dengan yang diinginkan. Untuk itu, penggunaan metode powder metallurgy perlu menjadi pertimbangan mengingat aplikasinya terhadap dunia otomotif yang mensyaratkan standar keamanan yang tinggi. Gambar 2.2 menunjukkan persentase aplikasi powder metallurgy pada berbagai jenis.


Kelemahan dari metode ini adalah tidak bisa digunakan pada proses pembuatan benda – benda yang mempunyai dimensi relatif besar. Hal ini membuat motode metalurgi serbuk cocok untuk digunakan dalam pembuatan komponen otomotif dan suku cadang otomotif yang mempunyai dimensi relatif kecil. Misalnya pada automotive breaking system, gears, automotive pushrods, disc brake, planetary barier, chain sprockets.


Pada tahun 1980-an, industri transportasi mulai mengembangkan AMCs berpenguat discontinuous. Keunggulan AMCs ini adalah karakteristik mekaniknya yang isotropik dan biaya proses pembuatan dan bahan penguat discontinuous seperti SiC dan Al2O3 yang murah.

Pada Gambar 2.1 disajikan beberapa contoh produk AMCs dalam aplikasi industri transportasi : (a) Brake rotor pada kereta api kecepatan tinggi dari Jerman, ICE – 1 dan ICE – 2 yang dikembangkan oleh Knorr Bremse AG dan dibuat dari paduan alumunium berpenguat partikulat (AlSi7Mg + SiC partkulat). Dibandingkan dengan komponen konvensional yang terbuat dari besi tuang dengan berat 120 kg/komponen, produk AMCs ini jauh lebih ringan yaitu sebesar 76 kg/komponen. (b) braking system (disc, drum, dan caliper) dari New Lupo untuk Volkswagen yang dibuat dari paduan alumunium berpenguat partikulat. (c). Pushrod AMCs berpenguat serat continuous yang diproduksi oleh 3M untuk mesin balap. Pushrod – pushrod tersebut mempunyai berat 40% dari berat baja, selain itu juga lebih kuat dan kaku, serta mempunyai kemampuan meredam getaran yang lebih baik. (d) Kawat AMCs juga dikembangkan oleh 3M untuk core dari konduktor listrik. (Froyen,L., Verlinden,B., 1994).

MPIF (Metal Powder Industry Federation) melaporkan beberapa produk komponen otomotif terbaik di dunia yang dibuat dengan teknik powder metallurgy. (ASM Handbook, Vol 7). Salah satunya adalah auto transmission sprockets (Gambar 2.2) yang diproduksi oleh Stackpole Limited Automotive Gear Division yang berbahan dasar ferrous. Komponen – komponen tersebut mempunyai kekeuatan tarik sebesar 860 MPa (125 ksi), tegangan luluh 825 MPa (120 ksi), serta kekerasan permukaan lebih dari 60 HRC.

II.2 Sekam Padi Dan Silika

Sekam padi adalah bagian terluar dari butir padi yang merupakan hasil sampingan saat proses penggilingan padi dilakukan. Sekitar 20 – 35 persen dari bobot padi adalah sekam padi dan kurang lebih lima belas persen dari komposisi sekam padi adalah abu sekam. (Hara, 1986 dalam Harsono 2002). Tabel 2.1 menunjukkan analisis proksimasi kandungan komponen fisik sekam padi.


Harsono (2002), mensintesa silika dioksida (amorf) dari sekam padi melalui beberapa tahapan proses, yaitu pencucian, pengeringan, pengabuan, pengarangan, dan pengasaman. Kandungan SiO2 tertinggi diperoleh dengan pengeringan dengan sinar matahari selama 1 jam yaitu sebesar 89,46 persen, dibandingkan dengan pengeringan dalam oven (190 oC) selam 1 jam yang sebesar 83,15 persen. Persentase bobot yang hilang dari sekam padi setelah proses pembakaran adalah antara 78,78 – 80,2 persen.

Nilai paling umum kandungan silika dari abu sekam adalah 90 – 96 %. Silika yang terdapat dalam sekam memiliki struktur amorf terhidrat (Houston, 1972 dalam Harsono, 2002). Apabila pembakaran dilakukan pada suhu di atas 650 oC, kristalinitas SiO2 akan meningkat sehingga dapat terbentuk fase kristobalit dan tridimit (Hara,1986 dalam Harsono 2002).


Penelitian Hwang C. L. (2002) menunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur pada proses pengarangan sekam dalam oven akan diperoleh kemurnian SiO2 yang makin tinggi. Temperatur optimal adalah 1.000 oC dengan kandungan silika maksimal 95,48 persen. Selain silika yang kandungannya dominan terdapat zat – zat lainnya yang terkandung dalam abu sekam yang dapat disebut sebagai zat pengotor (impurities). Apabila diurut dari kandungannya yang tertinggi, zat – zat tersebut yaitu : K2O, CaO, MgO, SO3, Na2O, dan Fe2O3. Komposisi kimia abu sekam setelah proses pemurnian pada perlakuan temperatur berbeda ditunjukkan oleh Tabel 2.2.

Silika (SiO2) dalam bentuk amorf memiliki densitas sebesar 2,21 gr/cm3 dengan modulus elastisitas sebesar 10 x 106 psi. Kandungan unsur silikon (Si) dan oksigen (O) pada silika jenis ini, adalah 46,7 persen dan 53,3 persen. Nilai kekerasan material ini pada pembebanan tegak lurus dengan menggunakan indentor intan (metode vickers atau knoop) adalah sebesar 710 kg/mm2 sedangkan pada arah pembebanan dengan sudut elevasi diketahui nilai kekerasannya adalah sebesar 790 kg/mm2. (Mantell, C. L., 1958). Gambar 2.3 Berikut adalah diagaram fase SiO2 polimorf.


II.3 Penelitian Tentang AMCs Berpenguat SiO2

Pada AMCs, pemanfaatan silika masih belum dikaji secara optimal karena selama ini diketahui memiliki reaktifitas yang tinggi terhadap alumunium. Kontak antara leburan alumunium dengan silika akan merusak struktur silika berdasarkan reaksi reduksi :
4Al + 3SiO2 → 2Al2O3 + 3Si

Bahkan, proses pencampuran kedua material tersebut pada temperatur 400 oC sudah dapat memicu terjadinya reaksi reduksi tersebut dimana terbentuk struktur material yang disebut co – continous microstructure AlSi/Al2O3 pada interface antara penguat dan matriks.

Gregolin E. N., (2002) melakukan penelitian tentang AMCs dengan memanfatkan SiO2 sebagai penguat. Proses pembuatannya dilakukan dengan metode powder metallurgy. Setelah proses mixing dilakukan, pada bahan dilakukan cold compaction sebesar 100 MPa kemudian disinter dengan temperatur sebesar 450 oC dan waktu tahan 4,5 jam. Hot extrusion dilakukan untuk mereduksi diameter penampang spesimen yang dihasilkan dari 100 mm menjadi 18 mm. Pada spesimen lalu dilakukan heat treatment pada temperatur 600 oC dengan variasi waktu tahan dan media pendingin air.


Dari analisa struktur mikro dengan menggunakan SEM diketahui terbentuk bentuk fase co – continuous pada permukaan partikel penguat seperti ditunjukkan pada Gambar 3. Daerah B meruapakan daerah dimana terjadi reaksi antara penguat dan matriks. Warna abu – abu gelap pada wilayah batas butir di wilayah B menunjukkan tigginya kandungan Si di wilayah tersebut.

Struktur co – continuous tersebut (wilayah B) akan makin dominan seiring penambahan temperatur dan waktu tahan pada proses pemanasan hingga reaksi berhenti pada saat seluruh penguat telah bertransformasi menjadi struktur co – continuous. Sebenarnya pembentukan struktur semacam ini, menawarkan pengembangan komposit in situ dimana penguatnya dibentuk dalam matriks melalui reaksi kimia antar elemen selama proses fabrikasi komposit. Dengan mengupayakan reaksi yang terjadi dapat diminimalkan dan terkontrol, maka dapat dihasilkan komposit dengan ikatan antar muka partikel yang lebih kuat sehingga memiliki kekuatan mekanik lebih baik.


Fase gelap menunjukkan fase logam sedangkan fase terang menunjukkan fase keramik. Berdasarkan Gambar 4, fase keramik yang terbentuk mempunyai ukuran lebar sekitar 0,25 µm dimana ukuran ini seragam (homogen) pada seluruh penguat. Padahal pada penelitian – penelitian yang lain diketahui fase keramik yang terbentuk pada penguat mempunyai ukuran yang bervariasi dari 0,2 – 0,5 µm. Perbedaan ini diakibatkan karena adanya kandungan Fe2O3 pada bahan penguat. Struktur yang seragam (homogen) seperti yang dihasilkan dalam penelitian ini tentunya meyebabkan komposit memiliki distribusi tegangan yang lebih baik.

III. METODE PENELITIAN

III.1 Prosedur Penelitian

Penelitian ini dimulai dari persiapan alat dan bahan. Lalu dilanjutkan dengan beberapa tahap poses pengerjaan yang meliputi ekstraksi silika dari sekam padi, pembuatan spesimen komposit dilanjutkan dengan pengujian struktur mikro dan mekanik. Adapaun rincian dari prosedur penelitian ini akan disajikan mulai dari sub bab III.1.1 sampai III.1.9.

III.1.1. Ekstraksi SiO2 Dari Sekam Padi

Sintesa silika dari sekam padi dilakukan secara bertahap yang meliputi pencucian, pengeringan, pengarangan, pengabuan, pemurnian dan identifikasi.
  1. Pencucian, dilakukann dengan air yang bertujuan untuk membersihkan sekam dari impuritas akibat kotoran.
  2. Pengeringan, dilakukan di bawah sinar matahari
  3. Penimbangan, dilakukan untuk membagi sampel sekam padi menjadi dua bagian sama besar yaitu sampel A, B dan C dimana harus memenuhi berat sekam padi yang akan diproses yaitu masing – masing dengan berat 250 gram. Dengan asumsi persentase berat sekam yang hilang selama proses sebesar 80 persen, maka nantinya akan didapatkan abu sekam dari masing – masing sampel sebanyak 50 gram.
  4. Pengarangan dan Pengabuan, merupakan tahap selanjutnya yang dilakukan dimana masing – masing sampel dikenai variabel temperatur pengabuan seperti disajikan pada Tabel 3.1 berikut.

  5. Pemurnian, dilakukan setelah didapatkan abu sekam untuk memisahkan zat – zat pengotor dari abu sekam. Metode yang dipakai untuk pemurnian ini adalah metode pengasaman yaitu dengan menggunakan larutan HCl pekat. Proses pemurnian dibawah kondisi asam dimaksudkan untuk menghilangkan oksida – oksida logam dan non logam dari dalam abu sekam karena asam klorida yang diberikan akan mengikat oksida logam yaitu P2O5, K2O, MgO, Na2O,CaO dan Fe2O3 menjadi kloridanya dan oksida non logam kecuali silika diubah menjadi asamnya. Proses pemurniannya dilakukan dengan cara memasukkan sampel berupa abu sekam ke dalam gelas piala dan dibasahi dengan akuades panas, lalu pada campuran ditambahkan 200 ml HCl pekat dan diuapkan sampai kering. Pengerjaan ini diulangi tiga kali. Selanjutnya dituangkan 625 ml akuades dan 40 ml HCl pekat ke gelas piala tadi dan dibiarkan di atas penangas air selama 15 menit. Campuran tersebut kemudian disaring dengan kertas saring bebas abu dan dicuci lima kali dengan akuades panas. Hasil dari penyaringan berupa residu padat beserta kertas saringnya dipanaskan mula-mula pada suhu 300 oC selama 1 jam hingga kertas saring menjadi arang. Kemudian dilanjutkan dengan memanaskan pada suhu 600 oC selama 2 jam hingga yang tersisa hanya endapan Silika (SiO2) berwarna putih.
  6. Pengujian XRD dan Gravimetri, ditujukan untuk identifikasi apakah fase SiO2 telah terbentuk dan jenis SiO2 apa yang terbentuk, kristalin atau amorf, serta zat pngotor apa yang terkandung. Selain itu juga dilakukan perhitungan kuantitas kandungan SiO2 dalam abu sekam tersebut dengan menggunakan analisa gravimetri.
  7. Penggerusan dan Pengayakan, dilakukan pada endapan silika pada sampel A, B dan C dimana masing – masing dihaluskan secara mekanik dengan menggunakan mortar lalu diayak hingga didapatkan partikel SiO2 dengan ukuran lebih besar dari 200 mesh.

III.1.2. Penentuan Banyaknya Spesimen Yang Akan Dibuat

Fraksi volume penguat divariasikan sebesar 10, 25, dan 40 persen untuk masing- masing sampel abu sekam (A, B, dan C) sehingga dalam penelitian ini akan didapatkan spesimen sebanyak sembilan jenis. Replikasi dilakukan sebanyak tiga kali sehingga jumlah spesimen total adalah 27 spesimen. Adapun penentuan banyak sampel berdasarkan variabel perlakuannya seperti yang ditunjukkan pada Tabel 3.2 berikut.

III.1.3. Penentuan Dimensi Komposit Yang Akan Dibuat

Dari cetakan yang telah tersedia diketahui memiliki diameter rongga cetakan berbentuk silinder sebesar 14 mm. Dalam penelitian ini akan dibuat spesimen komposit yang memiliki ukuran diamater dan tinggi yang sama sehingga diketahui volume spesimen komposit yang akan dibuat adalah sebesar 2,154 cm3.

III.1.4. Penentuan Dan Penimbangan Massa Masing – Masing Konstituen

Penentuan massa masing – masing kontituen (matriks dan penguat) dalam struktur komposit dilakukan sesuai fraksi volume masing – masing. Densitas komponen (matriks dan penguat) yaitu untuk Al sebesar 2,7 gr/cm3 dan silika amorf sebesar 2,21 gr/cm3. Massa masing – masing komponen ditentukan berdasarkan perhitungan persentase komponen dikalikan dengan volume komposit dikalikan dengan massa jenis komponen.

Dimana m SiO2 adalah massa silika (gr), V SiO2 adalah fraksi volume silika yang besarnya divariasikan menjadi 10, 25, dan 40 persen, ρ SiO2 adalah densitas silika yaitu sebesar 2,21 gr/cm3, m Al adalah massa alumunium (gr), V Al adalah fraksi volume alumunium yang besarnya adalah 100% - , ρ Al adalah densitas alumunium (gr/cm3) yaitu sebesar 2,70 gr/cm3 dan Vc adalah volume komposit yang besarnya adalah 2,154 cm3. Hasil perhitungan massa masing komponen adalah seperti ditunjukkan oleh Tabel 3.3 berikut.

III.1.5. Pencampuran Material Matriks Dan Penguatnya (Mixing)

Proses pencampuran yang digunakan adalah metode wet mixing dengan menambahkan pelarut polar, yaitu metil alkohol. Pencampuran dilakukan dengan menggunakan hot plate magnetic stirrer dengan temperatur pemanasan 80oC. Dalam metode wet mixing ini pengadukan terus dilakukan hingga larutan media pencampur menguap seluruhnya. Indikasinya ditunjukkan dengan stirrer yang telah berhenti berputar karena tertahan oleh gumpalan matriks dan penguat yang telah tercampur. Stirrer kemudian diambil dari baker yang berisi gumpalan sedangkan gumpalan tersebut dikeringkan dengan furnace pada temperatur konstan sebesar 100 oC selama 30 menit.

III.1.6. Kompaksi

Kompaksi dilakukan dengan metode cold compaction dimana proses penekanan dilakukan pada temperatur kamar serta tipe penekanan singgle compaction dimana arah kompaksi hanya satu arah. Sebagai bahan lubricant digunakan zinc stearat yang dioleskan secara merata pada permukaan rongga cetakan (dies) dan penekan. Besar tekanan kompaksi yang diberikan yaitu sebesar 15 kN dan lama penekanan 15 menit.

III.1.7. Sintering

Sintering dilakukan dengan menggunakan vacuum furnace dengan tekanan ruang vakum sebesar 10-2 torr (10-2 mmHg). Besar temperatur sinter yang diberikan yaitu 600 oC dengan lama penahanan (holding time) 2 jam.

III.1.8. Pengujian Tekan dan SEM

Pengujian tekan dilakukan untuk mendapatkan karakteristik grafik tegangan dan regangan sehingga bisa diketahui karakteristik mekanik dari masing – masing spesimen seperti nilai modulus elastisitas dan kekutan tarik komposit. Pengujian kompresi dilakukan sesuai standar ASTM E9 – 89a, yang digunakan untuk mengetahui nilai modulus elastisitas komposit yang menunjukkan karakteristik mekaniknya. Pengamatan struktur mikro dengan menggunakan SEM untuk mengetahui karakteristik ikatan antar muka yang terbentuk.

III.1.9. Pengukuran Densitas Setelah Sinter dan Fraksi Porositas

Sebagai data pendukung perlu juga dilakukan pengukuran densitas komposit setelah sinter dan fraksi porositas. Untuk pengukuran densitas setelah sinter digunakan metode archimides. Volume komposit setelah sintering diukur dengan prinsip archimides. Pertama, tentukan besarnya massa benda setelah sinter (ms) dengan timbangan seperti pada Gambar 3.1.(a), lalu tentukan berat benda (Ws) dengan cara mengalikan massa benda setelah sinter (ms) dengan nilai percepatan gravitasi bumi (g) yang besarnya 9,8 m/s2.

Dengan menggunakan timbangan gantung tentukan apparent weight (Wap) atau berat benda saat dicelup pada fluida. Gaya apung Fby, atau disebut juga buoyant force ditentukan dengan persamaan Fby = Ws - Wap, dimana Fby adalah sama dengan berat fluida yang dipindahkan (Wf), sehingga massa fluida yang dipindahkan (mf) dapat ditentukan dari persamaan 3.1 berikut.


Maka volume fluida yang dipindahkan dapat ditentukan berdasarkan Persamaan 3.4 berikut.

Dimana fluida yang digunakan pada penelitian ini adalah butanol dengan massa jenis sebesar 0.809 gr/cm3. Volume fluida yang dipindahkan (Vf) sama dengan volume benda yang dimasukkan fluida (Vs). Sehingga densitas benda setelah sinter adalah:

Porositas setelah sintering dapat dihitung, dimana terlebih dahulu densitas komposit teoritik, ρt ditentukan. Teori ini berdasarkan pada formula rule of mixture seperti pada persamaan 3.7. Hasil perhitungan densitas teoritis untuk fraksi volume 10, 20, 30, dan 40 persen disajikan pada Tabel 3.4. Porositas setelah sinter, Ps, ditentukan berdasarkan persamaan 3.8.

III.2 Variabel Penelitian

Adapun variabel penelitian dalam kegiatan ini disajikan dalam Tabel 3.5 berikut.

III.3. Flow Chart Penelitian


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sintesa silika dari sekam padi dilakukan secara bertahap yang meliputi pencucian, pengeringan, pengarangan, pengabuan, pemurnian dan identifikasi. Tahap awal dari sintesa silika dari sekam padi ini adalah, pencucian dilakukan dengan air yang bertujuan untuk membersihkan sekam dari impuritas akibat kotoran. Penimbangan dilakukan untuk tiga sampel, sampel A, B dan C, dengan berat masing – masing 250 gram. Selanjutnya, adalah pengeringan dengan sinar matahari dilanjutkan pengeringan dengan pengarangan dan pengabuan dengan furnace pada temperatur berbeda-beda dari tiap-tiap sampelnya.

Setelah proses pengabuan dengan variasi temperatur yang berbeda, ternyata dari masing – masing sampel, kecuali dari sampel C, didapatkan dua jenis produk, yaitu abu sekam berwarna hitam dan putih. Abu sekam yang berwarna putih terpisah dengan produk abu sekam yang berwarna hitam, dimana terletak pada pemukaan lapisan teratas dari produk abu sekam secara keseluruhan. Adapun visualisasi dari fenomena ini dapat dilihat pada Gambar 4.1. Pada sampel C, tidak terbentuk abu sekam yang berwarna putih, namun hanya terbentuk abu sekam berwarna hitam.

Pada sampel A dan B dimana terbentuk abu sekam berwarna putih dan hitam, dilakukan pemisahan diantaranya. Lalu massa masing – masing jenis produk abu sekam ini ditimbang. Adapun hasil penimbangan abu sekam pada sampel A, B, dan C disajikan pada Tabel 4.2.

Tahap selanjutnya adalah pemurnian dengan metode pengasaman menggunakan HCl pekat. Sampel yang pertama dimurnikan yaitu sampel A yang meliputi jenis sampel A berupa abu sekam berwarna putih, dan abu sekam berwarna hitam.



Pada sampel A yang berwarna hitam, setelah dilakukan pemurnian tidak dihasilkan abu sekam yang berwarna putih seperti yang diharapkan dimana seharusnya tampilan warna fisik silika berwarna putih. Hal ini dikarenakan pada sampel abu sekam A yang berwarna hitam kandungan unsur karbonnya sangat dominan yang menyebabkannya berwarna hitam dimana setelah ekstraksi pun unsur karbon ini tidak dapat dipisahkan dengan silika. Maka dapat dikatakan bahwa pada sampel abu sekam yang berwarna putihlah kandungan silikanya yang paling banyak.

Untuk itu, pada pemurnian sampel B cukup dilakukan pada abu sekam yang berwarna putih saja. Sedangkan pada sampel C, karena tidak terdapat abu sekam berwarna putih maka proses ekstraksi dilakukan pada sampel C secara keseluruhan yang berwarna hitam.Setelah Proses pemurnian dilakukan terhadap sampel A, B, dan C maka didapatkan sampel hasil pemurnian seperti ditunjukkan pada Gambar 4.2.


IV.1 Karakteristik Silika Yang Dihasilkan

Dalam penelitian ini, karakteristik silika yang akan dikaji meliputi karakteristik kualitas dan kuantitas silika yang dihasilkan dari variabel perlakuan temperatur pengabuan yang diberuikan pada sekam.

IV.1.1 Analisa Kualitatif

Sampel A, B, dan C ini diuji XRD untuk mengetahui apakah telah terbentuk silika. Hasil uji XRD disajikan pada Gambar 4.3. Dari Gambar 4.3 tersebut diketahui bahwa bentuk grafik dari masing – masing sampel menunjukkan kemiripan dalam hal nilai 2θ dimana terbentuk puncak – puncak difraksi serta terbentuknya fase amorf yang dapat dilihat dari terbentuknya noise pada grafik yang dihasilkan. Hal ini diakibatkan, sinar – X yang ditembakkan oleh alat XRD tidak mampu didifraksikan secara sempurna oleh struktur kristal yang amorf sehingga sudut difraksi sinar – X yang dibaca oleh alat menjadi tidak beraturan akibat terjadinya penghamburan.

Walaupun sama – sama terbentuk fase amorf, namun pada masing – masing sampel sebenarnya terdapat perbedaan karakteristik puncak tertinggi yang dihasilkan. Pada nilai 2θ sekitar 26, terlihat perbedaan nilai intensitas puncak tertinggi masing – masing sampel dimana akan kita dapatkan bahwa puncak terendah terjadi pada Sampel A dan tertinggi pada Sampel C. Selain itu dapat juga kita amati bahwa pada masing – masing sampel terdapat perbedaan bentuk puncak tertinggi yang terbentuk. Untuk sampel A puncak tertingginya adalah yang paling landai dibandingkan yang lainnya, sedangkan untuk sampel C adalah yang puncak tertingginya paling lancip. Dari sini dapat dikatakan bahwa dengan menaikkan temperatur pengabuan, maka akan semakin ada kecenderungan silika amorf bertransformasi menjadi fase kristalin dimana dari hasil pengujian XRD dapat ditunjukkan dengan semakin terbentuknya puncak yang semakin lancip dan semakin besar intensitasnya.


Hasil penelitian ini, khususnya pada Sampel A yang dikenakan temperatur pengabuan sebesar 600 oC sama dengan hasil percobaan yang dilakukan oleh Harsono (2002) dimana sama – sama didapatkan SiO2 dalam fasa amorf. Namun, pada sampel B dan C dengan temperatur pemanasan hingga 750oC dan 900oC perlu diteliti lebih lanjut seberapa banyakkah fase kristalin yang terbentuk dari variabel perlakuan temperatur pemanasan tersebut. Hal ini dikarenakan dari hasil pengujian XRD diketahui pada Sampel B dan C semakin cenderung membentuk fase kristalin dimana ditunjukkan dengan puncak grafik yang semakin lancip dan semakin tinggi intensitasnya. Hal ini sesuai dengan teori Hara (1986) dalam Harsono (2002) yang menyebutkan bahwa untuk mendapatkan fasa kristalin maka harus dilakukan pemanasan pada suhu di atas 650oC agar kristalinitas SiO2 meningkat sehingga dapat terbentuk fase kristobalit dan tridimit.

V.1.2 Analisa Kuantitatif

Pada analisa kuantitatif silika dalam abu sekan digunakan analisa gravimetri untuk mengetahui berapa persentase kandungan SiO2 dalam abu sekam yang dihasilkan, dimana hasil pengujian disajikan pada Tabel 4.1. Dari hasil pengujian gravimetri diketahui bahwa kandungan silika tertinggi terbentuk pada Sampel B yaitu pada temperatur pengabuan sebesar 750oC. Hasil ini ternyata di luar dari prediksi yang diharapkan, dimana berdasarkan Hwang, C. L., (2002) seharusnya pada temperatur pemanasan sekam yang semakin tinggi akan dapat dihasilkan kandungan silika yang semakin tinggi pula.


Penjelasan mengenai hal ini dapat dijelaskan apabila dihubungkan dengan diagram fasa SiO2 seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.3. Ketika pemanasan dilakukan pada tekanan atmosfer yaitu sebesar 1 bar, maka saat temperatur pemanasan mencapai 900oC, temperatur ini telah mencapai temperatur perubahan fase dari quartz (high) menjadi SiO2 tridymite. Pada proses perubahan fasa kristal ini waktu tahan yang diberikan kurang memadai untuk terbentuknya SiO2 tridymite kristalin secara menyeluruh. Hal ini berakibat pada SiO2 amorf yang sudah memutuskan ikatan terhidratnya namun belum sempat menyusun atom – atomnya secara teratur untuk membentuk SiO2 kristalin akan membentuk SiO2 amorf dan sejumlah unsur silikon bebas yang bereaksi dengan zat pengotor atau lingkungan. Unsur silikon bebas inilah yang kemudian hilang selama proses karena bereaksi dengan zat pengotor yang kemudian mengakibatkan persentase silika total (amorf dan kristalin) pada Sampel C lebih rendah dibandingkan Sampel B.

V.2 Karakteristik Ikatan Antar Muka Partikel Alumunium Dan Silika

Pengujian struktur mikro dengan SEM sedang dalam proses pengerjaan saat laporan ini dibuat. Tempat pengujian yaitu di Laboraturium Geologi Kuarter, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Jl. Dr. Junjunan 236 Bandung 40174. Dalam laporan ini penulis menampilkan foto SEM dari spesimen yang diuji yaitu spesimen dengan varibel temperatur pengabuan sekam sebesar 600oC, 750oC, dan 900oC pada fraksi volume penguat silika untuk masing – masing spesimen tersebut yakni sebesar 10 persen.




Dari foto SEM, dapat dilihat bahwa anatara partikel alumunium dan alumina terbentuk ikatan yang secara visual dapat dilihat pada gambar. Namun, hal ini perlu penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui apakah struktur co-continuous AlSi/Al2O3 terbentuk.

V.3 Karakteristik Mekanik Komposit

Dari hasil pengujian tekan diketahui karakteristik kekuatan tekan dari masing – masing spesimen seperti yang disajikan pada Gambar 4.4 Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa pada sampel dengan variabel temperatur pengabuan sekam sebesar 900oC memiliki karakteristik kekuatan tekan yang berbeda dengan sampel lainnya, khususnya untuk fraksi volume silika lebih besar dari 25 persen. Fenomena ini diakibatkan karena pada sampel tersebut mempunyai fraksi porositas yang rendah dimana karakteristik fraksi porositas dapat dilihat pada Gambar 4.6. Sedangkan dari karakteristik densitas komposit pada Gambar 4.5 dikeatahui bahwa untuk spesimen dengan variabel temperatur pengabuan sekam sebesar 900oC memberikan nilai densitas yang cenderung meningkat untuk fraksi volume penguat lebih besar dari 25 persen dibandingkan dengan spesimen pada variabel lainnya dimana memiliki tren karakteristik nilai densitas yang cenderung menurun. Ini berarti pada spesimen tersebut terjadi peningkatan berat.


Penjelasan dari fenomena naiknya nilai kekuatan tarik pada spesimen dengan temperatur pengabuan sekam sebesar 900oC adalah semakin rendah fraksi porositas yang terjadi akan semakin sedikit daerah yang menjdi konsentrasi tegangan ketika spesimen dikenakan beban mekanik. Karena jumlah konsentrasi tegangan yang sedikit, maka semakin sulit gejala – gejala failure (patah) dari suatu material memulai prosesnya, sehingga material yang seperti ini akan lebih kuat menerima beban mekanik dibandingkan denganmaterial yang mempunyai banyak daerah konsentrasi regangan, dimana dalam hal ini daerah tersebut dapat dikatakan sebagai produk cacat dari suatu proses pembuatan material.


Porositas merupakan salah satu bentuk cacat yang sering dijumpai pada produk – produk hasil pengecoran dan proses powder metallurgy. Dalam hubungannya dengan proses powder metallurgy, keberadaan cacat sulit untuk dipisahkan selama proses powder metallurgy yang digunakan yaitu proses manual.

Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengurangi fraksi porositas pada produk powder metallurgy. Salah satu caranya adalah dengan mereduksi ukuran partikel serbuk yang akan dikompaksi seminimal mungkin. Dengan mereduksi ukuran partikel berarti memberikan sedikit kesempatan bagi partikel – partikel serbuk untuk membentuk rongga yang terbentuk antar permukaan partikel yang diakibatkan bentuk partikel yang kasar dan cukup besar sehingga cukup memberi ruang kosong. Walaupun rongga ini seharusnya hilang ketika proses pemadatan dilakukan, namun seringkali masih belum mampu menghilangkan secara keseluruhan keberadaan rongga tersebut terutama yang terletak di bagian dalam – tengah spesimen karena udara yang terjebak dan sulit keluar. Saat proses sinter dilakukan rongga ini seharusnya akan semakin berkurang lagi, namun karena letak porous terlalu jauh dari permukaan spesmen sehingga mengakibatkan udara terjebak di dalam spesimen saat setelah sinter.

Dalam penelitian ini, walaupun telah dilakukan upaya untuk mereduksi ukuran partikel dengan menggunakan mortar, hingga ketika diayak partikel lolos ayakan dengan kerapatan ayakan sebesar 200 mesh, namun kenyataanya porositas yang terjadi masih tetap ada dimana kisarannya dalah 1 – 8 persen dari volume komposit.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
VI.1 Kesimpulan

Berdasarkan data penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan dapat dibuat beberapa kesimpulan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut.
  1. Variasi temperatur pengabuan sekam dalam furnace sebesar 600oC, 750oC dan 900oC ternyata mampu menghasilkan produk silika dengan struktur kristal yang sebagian amorf dan sebagian lagi kristalin dengan persentase kandungan silika paling tinggi didapatkan dengan perlakuan temperatur pengabuan 750oC yaitu sebesar 91 persen.
  2. Dari pengujian SEM diketahui bahwa antara partikel alumunium dan silika terbentuk ikatan antar muka
  3. Untuk karakteristik kekuatan tekan diketahui bahwa yang paling baik adalah spesimen dengan temperatur pengabuan silika sebesar 900oC dan fraksi volume penguat lebih besar dari 25 persen.
VI. 2 Saran

Adapun saran yang dapat disampaikan hasil penelitian ini disajikan sebagai berikut.
  1. Beberapa perhitungan, pengamatan dan pengujian perlu dilakukan lebih lanjut untuk mengetahui secara lebih mendetail hasil percobaan ini. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu dan biaya yang diberikan kurang mendukung. Untuk itu pada penelitian selanjutnya terdapat beberapa hal yang perlu ditelaah dari hasil penelitian ini yaitu perbandingan jumlah silika kristalin dan amorf yang dihasilkan dalam abu sekam, karakteristik thermal, perilaku korosi, serta karakteristik mekanik yang meliputi karakteristik impak, kekerasan dan abrasivitas komposit.
  2. Penelitian pendukung sebaiknya dilakukan dengan variasi perlakuan yang lain dimana nantinya dapat dijadikan sebagai pendukung dari penelitian ini mengingat penelitian ini merupakan penelitian awalan dari penelitian besar yang masih memiliki banyak varibel yang perlu diteliti untuk bisa mengetahui variabel – variable terbaik yang dapat dijadikan sebagai refrensi dalam produksi komponen otomotif berbasis komposit alumunium – silika.
  3. Mengingat potensi pemanfaatan dari silika yang luas dimana tidak hanya seperti yang ditujukan dari penelitian ini yaitu sebagai bahan penguat dari komposit bermatriks alumunium, tetapi juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kaca, dan bahan baku peralatan – peralatan elektronik, maka perlu diadakan suatu sistem industrialisasi ekstraksi silika dari sekam padi, agar nantinya dapat menambah stok silika dalam negeri.

DAFTAR PUSTAKA
  • _________, 1998. ASM Handbook Vol. 7, Powder Metal Technologies and Aplications. ASM International
  • Chawla, K. K. 1987. Composite Material: Science and Engineering. London Paris Tokyo : Springer-Verlag New York Berlin Heidelberg.
  • Fogagnolo, J.B., 2004. Aluminium Matrix Composites Reinforced with Si3N4, AIN and ZrB2, Produced by conventional powder Metallurgy and Mechanical Alloying. Avenide de la Universid, 30-28911
  • Froyen, L., dan Verlinden, B., 1994. Aluminium Matrix Composites Materials. Talat 1402. Belgium : European Aluminium Associations (EAA)
  • Gregolin, E. N., 2002. Alumunium Matrix Composites Reinforced With Co – Continuous Interlaced Phases Alumunium – Alumina Needles. Materials Research, vol.5, no.3 São Carlos July/Sept. 2002
  • Harsono, H. 2002. Pembuatan Silika Amorf Dari Limbah Sekam Padi. Jurnal Ilmu dasar Vol. 3, No. 2, 2002 : 98 – 103
  • Hirschhorn. Joel. S., 1976. Introduction to Powder Metallurgy. New Jersey : American Powder Metallurgy Institute.
  • Hwang, C.L. and Wu, D.S., 1989. Properties of Cement Paste Containing Rice Husk Ash. ACI Third International Conference Proceedings, pg. 738.
  • Jones, R. M. 1975. Mechanics Of Composite Material. Washington, DC : Scripta Book Company
  • Kang Suk – Joong., 2005. Sintering : Densifikation, Grain Growth and Microstructures. Elseviere - Butterworth. Heinemenn
  • Mantell, C. L., 1958. Engineering Material Handbook. New York : McGraw – Hill Book Company.
  • Mittal, D. 1997. Silica From Ash, A Valuable Produst From Waste Material. Resonance, July
  • Nursuhud, D., dan Basuki, T. (1989). Suatu Studi Kemungkinan Pemakaian Bahan Bakar Sekam Padi untuk Pusat Listrik Tenaga Uap Sistem Gasifikasi. Laporan Penelitian Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik Industri. Surabaya : Pusat Penelitian Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
  • Pakpahan, A. 2006. Padi Lebih Bernilai dari Emas. Suara Pembaharuan, 20 November 2006.
  • PM2 Industry, 2001. Vision And Technology Roadmap, Powder Metallurgy And Particulate Materials. Metal Powder Industries Federation (MPIF), September, 2001.
    Schumacher C.,1991, SAE Technology, paper No.892495
  • Workshop Roadmap Industri Komponen Otomotif. 13 Oktober 2004. dalam http://www.bppt.go.id/. dikunjungi : 8 September 2007 pukul 07.15 WIB

TIM PENELITI
  1. Alek Kurniawan Apriyanto
  2. Moch. Zaenal Arifin
  3. Huda Istikha Lubis
  4. Rahmatillah Isra