Sabtu, 07 Juni 2014

Cukup Satu Jurus Andalan: Mengubah Keterbatasan Menjadi Kekuatan


Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada orang yang memiliki banyak bakat, tetapi tidak pernah benar-benar mengasah satu pun hingga matang. Ada juga orang yang memiliki keterbatasan, tetapi justru mampu menemukan satu kekuatan utama yang membuatnya unggul.

Dalam kehidupan, kita sering terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat apa yang tidak kita miliki, lalu merasa minder. Kita melihat kelebihan orang lain, lalu lupa menggali potensi diri sendiri. Padahal, bisa jadi sesuatu yang kita anggap sebagai kekurangan justru dapat menjadi sumber kekuatan apabila diarahkan dengan cara yang tepat.

Ada sebuah kisah inspiratif yang menggambarkan hal tersebut.

Pemuda dengan Keterbatasan Fisik

Dikisahkan, di Hawaii ada seorang pemuda yang sejak lahir tidak memiliki tangan kanan. Kondisi itu membuatnya tumbuh dengan rasa tidak percaya diri. Sejak kecil, ia sering menerima ejekan dari teman-temannya. Perlahan, ia menjadi pribadi yang minder, pendiam, dan cenderung menutup diri.

Ia merasa dirinya tidak sama dengan orang lain. Ia merasa kekurangannya akan selalu menjadi penghalang. Dalam pikirannya, mustahil baginya untuk melakukan sesuatu yang membutuhkan kekuatan fisik, apalagi belajar bela diri.

Namun, hidupnya mulai berubah ketika ia bertemu dengan seorang guru bela diri keturunan Jepang.

Sang guru melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lain. Ketika banyak orang hanya melihat kekurangan fisik pemuda itu, sang guru justru melihat potensi yang dapat dikembangkan.

Guru itu bertanya, “Apakah kamu mau belajar bela diri agar lebih percaya diri?”

Pemuda itu menjawab dengan penuh semangat, “Mau, saya sangat mau.”

Sejak saat itu, latihan pun dimulai.

Hanya Diajari Satu Jurus

Dalam pelajaran bela diri itu, sang guru tidak mengajarkan banyak teknik. Ia hanya mengajarkan satu jurus kuncian.

Pemuda itu diminta mengulang jurus tersebut berkali-kali. Hari demi hari, minggu demi minggu, ia hanya melatih jurus yang sama.

Awalnya, ia mengikuti arahan gurunya dengan semangat. Namun, setelah beberapa waktu, ia mulai bertanya-tanya.

“Guru, saya sudah cukup menguasai jurus ini. Tolong ajarkan saya jurus yang lain.”

Namun, sang guru hanya menjawab, “Ulangi lagi. Lakukan lebih cepat dan lebih bertenaga.”

Pemuda itu pun kembali berlatih. Ia mengulang gerakan yang sama. Ia memperbaiki posisi tubuhnya. Ia meningkatkan kecepatannya. Ia menguatkan tenaga dan ketepatan gerakannya.

Beberapa minggu kemudian, ia kembali berkata, “Guru, saya sudah ahli. Apakah sekarang saya bisa belajar jurus lain?”

Sang guru tidak menjawab dengan memberi jurus baru. Ia justru meminta pemuda itu mempraktikkan jurus tersebut melawan lawan tanding.

Ternyata, pemuda itu berhasil mengalahkan lawan tandingnya hanya dengan satu jurus.

Sang guru puas melihat hasilnya.

Mengikuti Kompetisi

Setelah melihat perkembangan muridnya, sang guru berkata, “Sekarang kamu akan saya ikutkan dalam kompetisi bela diri.”

Pemuda itu terkejut.

“Guru, bagaimana mungkin saya ikut kompetisi? Saya baru menguasai satu jurus.”

Sang guru menjawab dengan tegas, “Tidak masalah. Fokuslah pada jurusmu.”

Kompetisi pun dimulai. Lawan pertama maju. Pemuda itu menggunakan jurus yang sama, dan ia menang.

Lawan kedua maju. Ia kembali memakai jurus yang sama, dan menang lagi.

Satu per satu lawan berhasil dikalahkan. Setiap kali rasa ragu muncul, sang guru hanya mengingatkan, “Tetap fokus. Lakukan jurus itu lebih cepat dan lebih bertenaga.”

Pemuda itu terus melaju hingga mencapai babak final.

Menghadapi Juara Bertahan

Di final, ia harus menghadapi juara bertahan yang sudah beberapa kali memenangkan kompetisi. Pemuda itu mulai khawatir. Ia merasa lawannya pasti jauh lebih berpengalaman.

Ia kembali menemui gurunya.

“Guru, kali ini lawannya sangat kuat. Saya hanya punya satu jurus. Bagaimana kalau dia sudah bisa membaca gerakan saya?”

Sang guru tetap tenang.

“Kamu tetap gunakan jurus itu. Lakukan lebih cepat dan lebih bertenaga.”

Pertandingan final pun dimulai. Lawannya memang kuat. Namun, ketika kesempatan datang, pemuda itu menggunakan jurus kuncian yang selama ini ia latih ribuan kali.

Hasilnya mengejutkan.

Ia berhasil mengalahkan sang juara bertahan.

Pemuda yang dahulu merasa minder karena keterbatasannya kini menjadi pemenang kompetisi bela diri.

Rahasia di Balik Satu Jurus

Setelah kemenangan itu, pemuda tersebut masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi. Ia bertanya kepada gurunya.

“Guru, bagaimana mungkin saya bisa memenangkan kompetisi hanya dengan satu jurus?”

Sang guru tersenyum lalu menjawab, “Ada dua alasan. Pertama, jurus yang kamu pelajari adalah salah satu teknik kuncian yang sangat kuat. Kamu melatihnya terus-menerus sampai benar-benar mahir. Kedua, jurus itu sebenarnya memiliki satu kelemahan. Untuk mematahkan jurus tersebut, lawan harus memegang tangan kananmu. Tetapi kamu tidak memiliki tangan kanan.”

Pemuda itu terdiam.

Selama ini, ia menganggap kondisi fisiknya sebagai kelemahan terbesar. Namun, dalam strategi yang tepat, hal itu justru menjadi keunggulan yang tidak dimiliki lawan-lawannya.

Keterbatasan yang dulu membuatnya minder ternyata dapat menjadi perlindungan dari kelemahan jurusnya.

Pelajaran dari Kisah Ini

Kisah ini mengandung pelajaran yang sangat kuat. Sering kali, kita terlalu sibuk menyesali apa yang tidak kita miliki. Kita merasa kalah karena tidak memiliki modal tertentu, latar belakang tertentu, koneksi tertentu, pendidikan tertentu, atau kemampuan tertentu.

Padahal, setiap orang memiliki medan perjuangan yang berbeda. Kekurangan yang terlihat di permukaan belum tentu benar-benar menjadi kelemahan. Bisa jadi, kekurangan itu justru dapat menjadi pembeda, keunikan, atau kekuatan apabila ditempatkan dalam strategi yang tepat.

Yang dibutuhkan adalah kesabaran untuk mengenali diri, keberanian untuk berlatih, dan kerendahan hati untuk menerima bimbingan.

Fokus pada Kekuatan Inti

Banyak orang ingin menguasai terlalu banyak hal sekaligus. Mereka ingin bisa semua bidang, mencoba banyak peluang, berpindah-pindah dari satu metode ke metode lain, tetapi tidak pernah benar-benar mendalami satu kemampuan.

Akibatnya, mereka mengetahui banyak hal secara permukaan, tetapi tidak memiliki satu keahlian yang benar-benar menjadi kekuatan utama.

Kisah pemuda tadi mengajarkan pentingnya fokus.

Ia tidak menang karena memiliki banyak jurus. Ia menang karena satu jurus yang ia miliki dilatih terus-menerus sampai menjadi sangat kuat.

Dalam kehidupan, kita juga membutuhkan “satu jurus andalan”.

Bagi seorang penulis, jurus andalannya bisa berupa kemampuan menyampaikan ide dengan sederhana.

Bagi seorang pedagang, jurus andalannya bisa berupa kejujuran dan kemampuan memahami pelanggan.

Bagi seorang karyawan, jurus andalannya bisa berupa ketelitian, konsistensi, atau kemampuan menyelesaikan masalah.

Bagi seorang pemimpin, jurus andalannya bisa berupa kemampuan mendengar dan mengambil keputusan.

Bagi seorang kreator konten, jurus andalannya bisa berupa sudut pandang unik yang tidak dimiliki orang lain.

Tidak semua orang harus unggul di semua bidang. Tetapi setiap orang perlu menemukan kekuatan intinya.

Latihan yang Konsisten

Keahlian tidak lahir dalam semalam. Pemuda dalam kisah tadi tidak langsung menang hanya karena diajari satu jurus. Ia menang karena mengulang, memperbaiki, mempercepat, dan menguatkan jurus itu berkali-kali.

Pengulangan yang benar melahirkan kemahiran.

Dalam banyak bidang, orang sering berhenti terlalu cepat. Baru belajar sedikit, sudah bosan. Baru mencoba sebentar, sudah ingin ganti strategi. Baru mengalami kesulitan, sudah merasa tidak cocok.

Padahal, sebagian besar keberhasilan membutuhkan proses panjang.

Konsistensi sering lebih penting daripada banyaknya pilihan. Satu kemampuan yang dilatih setiap hari dapat menjadi jauh lebih kuat daripada sepuluh kemampuan yang hanya dicoba sesekali.

Pentingnya Mentor

Pelajaran lain dari kisah ini adalah pentingnya seorang mentor atau guru.

Pemuda itu tidak bisa melihat kekuatannya sendiri. Ia hanya melihat kekurangannya. Sang guru melihat lebih jauh. Guru itu memahami jurus apa yang tepat, bagaimana cara melatihnya, dan bagaimana mengubah keterbatasan muridnya menjadi keunggulan.

Dalam kehidupan, kita juga membutuhkan orang yang dapat memberi arahan. Mentor tidak selalu harus orang terkenal. Mentor bisa berupa guru, orang tua, atasan, sahabat yang bijak, pelatih, pembimbing, atau siapa pun yang memiliki pengalaman dan mampu melihat potensi kita dengan lebih jernih.

Kadang, orang lain dapat melihat kekuatan yang tidak kita sadari.

Namun, bimbingan tidak akan bermanfaat jika kita tidak mau rendah hati. Pemuda dalam kisah tadi menang karena ia percaya pada gurunya dan bersedia berlatih sesuai arahan.

Mengubah Kekurangan Menjadi Kekuatan

Tidak semua kekurangan bisa dihapus. Ada keterbatasan yang memang harus diterima. Namun, menerima bukan berarti menyerah.

Menerima berarti memahami kondisi diri dengan jujur, lalu mencari cara terbaik untuk tetap bertumbuh.

Seseorang yang tidak pandai berbicara di depan umum mungkin kuat dalam menulis. Seseorang yang introvert mungkin unggul dalam analisis mendalam. Seseorang yang tidak punya modal besar mungkin lebih kreatif dalam membangun usaha kecil. Seseorang yang pernah gagal mungkin menjadi lebih bijak dalam membaca risiko.

Kekurangan tidak selalu menjadi akhir. Kadang, ia adalah pintu menuju bentuk kekuatan yang berbeda.

Jangan Membandingkan Jurus Kita dengan Orang Lain

Salah satu sumber kegelisahan adalah terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat orang lain punya banyak kemampuan, lalu merasa kecil. Kita melihat orang lain lebih cepat maju, lalu merasa tertinggal.

Padahal, setiap orang memiliki jurus yang berbeda.

Ada orang yang kuat karena luas pergaulannya. Ada yang kuat karena ketekunannya. Ada yang kuat karena kreativitasnya. Ada yang kuat karena kesabarannya. Ada yang kuat karena keberaniannya. Ada yang kuat karena kedalaman ilmunya.

Tugas kita bukan meniru semua jurus orang lain, tetapi menemukan jurus yang paling sesuai dengan diri kita.

Belajar dari orang lain boleh. Terinspirasi dari orang lain baik. Namun, jangan sampai kehilangan arah karena ingin menjadi seperti semua orang.

Satu Jurus Bukan Berarti Berhenti Belajar

Fokus pada satu jurus andalan bukan berarti berhenti belajar hal lain. Maksudnya adalah memiliki kekuatan utama yang benar-benar diasah.

Setelah kekuatan inti terbentuk, seseorang tetap dapat memperluas kemampuan. Namun, perlu ada fondasi yang jelas.

Misalnya, seorang penulis boleh belajar desain, pemasaran, SEO, dan public speaking. Namun, kekuatan utamanya tetap menulis. Seorang pengusaha boleh belajar keuangan, branding, operasional, dan kepemimpinan. Namun, ia perlu tahu apa keunggulan utama bisnisnya.

Fokus bukan berarti sempit. Fokus berarti memiliki pusat kekuatan.

Cara Menemukan Jurus Andalan

Ada beberapa cara sederhana untuk menemukan jurus andalan dalam diri kita.

Pertama, perhatikan hal yang relatif mudah kita lakukan dibanding orang lain.

Kedua, ingat pekerjaan atau aktivitas yang membuat kita bersemangat.

Ketiga, lihat masalah apa yang sering orang minta bantuan kepada kita.

Keempat, perhatikan pengalaman hidup yang membentuk cara pandang kita.

Kelima, tanyakan kepada orang yang jujur dan bijak tentang kekuatan yang mereka lihat dalam diri kita.

Keenam, coba berbagai hal secukupnya, lalu pilih satu bidang untuk dilatih lebih serius.

Ketujuh, jangan takut menerima kekurangan diri, karena kekurangan itu bisa menjadi bagian dari strategi.

Terapkan dalam Kehidupan Sehari-hari

Konsep satu jurus andalan dapat diterapkan dalam banyak bidang kehidupan.

Dalam pekerjaan, temukan kemampuan yang membuat kita bernilai. Bisa berupa ketelitian, komunikasi, analisis, kreativitas, kecepatan eksekusi, atau kemampuan menyelesaikan konflik.

Dalam bisnis, temukan keunggulan yang membedakan produk atau layanan kita. Jangan hanya meniru pesaing. Cari nilai unik yang bisa diperkuat.

Dalam pendidikan, temukan cara belajar yang paling cocok. Ada yang kuat dengan membaca, ada yang kuat dengan praktik, ada yang kuat dengan diskusi, ada yang kuat dengan visual.

Dalam dakwah, temukan cara berkontribusi yang sesuai. Ada yang kuat berbicara, ada yang kuat menulis, ada yang kuat membantu kegiatan, ada yang kuat mendukung secara finansial, ada yang kuat membangun komunitas.

Setiap orang dapat berbuat baik melalui jalan yang sesuai dengan kekuatan masing-masing.

Kesimpulan

Kisah “cukup satu jurus andalan” mengajarkan bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang. Dalam strategi yang tepat, sesuatu yang dianggap sebagai kekurangan dapat berubah menjadi kekuatan.

Kunci utamanya adalah mengenali diri, menemukan kekuatan inti, berlatih secara konsisten, dan menerima bimbingan dari orang yang tepat.

Tidak semua orang harus memiliki banyak jurus. Kadang, satu jurus yang benar-benar dikuasai lebih bermanfaat daripada banyak jurus yang hanya diketahui setengah-setengah.

Maka, jangan terlalu lama meratapi kekurangan. Temukan jurus andalanmu, latih dengan sungguh-sungguh, dan gunakan untuk memberi manfaat.

Semoga kita mampu mengenali potensi diri, menerima kekurangan dengan lapang, dan mengubahnya menjadi kekuatan yang membawa kebaikan.

Jumat, 06 Juni 2014

Berlomba-Lomba dalam Kebaikan: Mengubah Orientasi Hidup dari Dunia ke Akhirat


Setiap manusia memiliki dorongan untuk mengejar sesuatu dalam hidupnya. Ada yang mengejar harta, jabatan, popularitas, prestasi, kenyamanan, atau pengakuan dari manusia. Semua itu tidak selalu salah apabila ditempatkan secara proporsional dan dicari dengan cara yang halal.

Namun, masalah muncul ketika dunia menjadi tujuan utama. Manusia bisa lupa bahwa hidup di dunia hanya sementara. Waktu terus berjalan, usia terus berkurang, dan setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Dalam Islam, manusia tidak diciptakan untuk hidup tanpa tujuan. Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah bukan hanya shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi juga mencakup seluruh amal baik yang dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan Allah serta Rasul-Nya.

Karena itulah, seorang Muslim diperintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Tujuan Hidup Manusia

Allah berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini menjadi dasar penting dalam memahami tujuan hidup. Manusia tidak diciptakan hanya untuk makan, bekerja, menikah, membangun rumah, mengumpulkan harta, lalu selesai. Semua aktivitas dunia seharusnya diarahkan untuk ibadah kepada Allah.

Bekerja dapat menjadi ibadah jika dilakukan dengan cara halal dan niat yang benar. Menafkahi keluarga dapat menjadi ibadah. Menuntut ilmu dapat menjadi ibadah. Membantu orang lain dapat menjadi ibadah. Bahkan tersenyum kepada saudara dengan niat kebaikan pun dapat bernilai ibadah.

Namun, agar semua itu bernilai ibadah, hati harus dijaga. Niat harus benar. Cara yang ditempuh juga harus sesuai dengan syariat.

Allah Melihat Hati dan Amal

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia bukan semata penampilan, kekayaan, jabatan, atau status sosial. Di hadapan Allah, yang paling penting adalah hati dan amal.

Seseorang bisa terlihat sederhana, tetapi mulia karena keikhlasan dan amalnya. Sebaliknya, seseorang bisa terlihat hebat di mata manusia, tetapi rendah di sisi Allah jika hatinya dipenuhi kesombongan, riya, dan cinta dunia.

Karena itu, berlomba-lomba dalam kebaikan bukan tentang terlihat paling saleh di hadapan manusia. Berlomba dalam kebaikan adalah upaya memperbaiki diri, memperbanyak amal saleh, dan mencari ridha Allah.

Makna Berlomba-Lomba dalam Kebaikan

Allah berfirman:

“...Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan...”
(QS. Al-Baqarah: 148)

Berlomba dalam kebaikan berarti menyegerakan diri untuk melakukan amal saleh. Jika ada kesempatan berbuat baik, jangan ditunda. Jika ada peluang membantu, lakukan. Jika ada waktu untuk bertaubat, jangan menunggu tua. Jika ada kemampuan untuk bersedekah, jangan menunggu kaya.

Dalam urusan dunia, manusia sering sangat cepat bergerak. Ada diskon, langsung dikejar. Ada peluang bisnis, segera dihitung. Ada jabatan, diperjuangkan. Ada tren baru, segera diikuti.

Namun, ketika urusan akhirat datang, sering kali manusia menunda. Shalat ditunda. Taubat ditunda. Sedekah ditunda. Membaca Al-Qur’an ditunda. Meminta maaf ditunda. Berbakti kepada orang tua ditunda.

Padahal, kesempatan hidup tidak selalu panjang.

Dunia Itu Sementara

Allah menggambarkan kehidupan dunia dalam Surah Al-Hadid ayat 20 sebagai permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, ajang bermegah-megahan, dan saling membanggakan harta serta anak. Dunia diumpamakan seperti tanaman yang mengagumkan setelah hujan, lalu mengering, menguning, dan akhirnya hancur.

Ayat ini bukan berarti dunia harus dibenci sepenuhnya. Dunia tetap tempat manusia beramal. Dunia adalah ladang akhirat. Namun, dunia tidak boleh menipu manusia sehingga lupa pada tujuan akhir.

Harta dapat menjadi bekal jika digunakan untuk kebaikan. Jabatan dapat menjadi ladang pahala jika dipakai untuk menegakkan keadilan. Ilmu dapat menjadi amal jariyah jika diajarkan dengan ikhlas. Keluarga dapat menjadi jalan ibadah jika dibina dengan iman.

Dunia menjadi berbahaya ketika ia menguasai hati.

Berlomba Mengejar Dunia Bisa Membinasakan

Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa yang beliau khawatirkan atas umatnya bukan semata kemiskinan, tetapi ketika dunia dibentangkan, lalu manusia berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana umat terdahulu berlomba-lomba, hingga dunia itu membinasakan mereka.

Peringatan ini sangat relevan dengan kehidupan modern. Banyak orang merasa tertinggal jika tidak memiliki rumah besar, kendaraan bagus, pakaian bermerek, jabatan tinggi, atau pencapaian tertentu. Media sosial sering memperkuat perasaan ini. Manusia menjadi mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain.

Akhirnya, hidup terasa seperti perlombaan tanpa akhir.

Padahal, tidak semua yang tampak indah adalah berkah. Tidak semua yang terlihat sukses membawa ketenangan. Tidak semua yang banyak dimiliki manusia akan menolongnya di akhirat.

Yang akan menemani manusia setelah mati adalah amalnya.

Berlomba Menuju Ampunan dan Surga

Allah berfirman:

“Berlomba-lombalah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi...”
(QS. Al-Hadid: 21)

Ayat ini mengarahkan perlombaan manusia kepada tujuan yang benar: ampunan Allah dan surga.

Jika manusia ingin berlomba, berlombalah dalam hal yang mendekatkan kepada Allah. Berlombalah menjadi lebih jujur. Berlombalah lebih sabar. Berlombalah lebih ikhlas. Berlombalah dalam sedekah. Berlombalah dalam menolong orang. Berlombalah dalam menjaga shalat. Berlombalah dalam memperbaiki akhlak.

Perlombaan seperti ini tidak merugikan orang lain. Justru, jika banyak orang berlomba dalam kebaikan, masyarakat akan menjadi lebih baik.

Berbeda dengan perlombaan dunia yang sering memicu iri, dengki, kesombongan, dan persaingan tidak sehat, perlombaan dalam kebaikan melahirkan keberkahan.

Jangan Menunda Amal Saleh

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bersegeralah kalian beramal saleh sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap...”
(HR. Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahwa keadaan manusia bisa berubah. Hati bisa berubah. Waktu luang bisa hilang. Kesehatan bisa berganti sakit. Kesempatan bisa tertutup. Lingkungan bisa berubah. Ujian bisa datang tanpa diduga.

Karena itu, jangan menunda amal saleh.

Jika hari ini masih mampu shalat dengan tenang, jagalah. Jika hari ini masih bisa membaca Al-Qur’an, bacalah. Jika hari ini masih ada orang tua, berbaktilah. Jika hari ini masih ada rezeki, sedekahkan sebagian. Jika hari ini masih ada kesempatan meminta maaf, lakukanlah.

Menunda kebaikan adalah salah satu tipu daya setan.

Contoh Berlomba dalam Kebaikan

Berlomba dalam kebaikan tidak harus selalu berupa amal besar. Banyak amal kecil yang jika dilakukan dengan ikhlas dan konsisten akan bernilai besar di sisi Allah.

Beberapa contoh yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Menjaga shalat tepat waktu

Shalat adalah tiang agama. Salah satu bentuk perlombaan dalam kebaikan adalah berusaha memperbaiki kualitas shalat, menjaga waktunya, dan tidak menundanya tanpa alasan.

2. Membaca dan memahami Al-Qur’an

Tidak harus langsung banyak. Mulailah dari beberapa ayat setiap hari. Yang penting konsisten dan disertai usaha memahami maknanya.

3. Bersedekah sesuai kemampuan

Sedekah tidak harus menunggu kaya. Memberi sedikit dengan ikhlas lebih baik daripada menunggu banyak tetapi tidak pernah dilakukan.

4. Menolong orang lain

Membantu tetangga, meringankan pekerjaan teman, memberi makan orang yang membutuhkan, atau membantu keluarga adalah bentuk kebaikan yang besar nilainya.

5. Menjaga lisan dan tulisan

Di era media sosial, menjaga komentar, tidak menyebarkan fitnah, dan tidak mencaci orang lain juga termasuk amal saleh.

6. Berbakti kepada orang tua

Selama orang tua masih ada, berbuat baiklah kepada mereka. Jika sudah wafat, doakan mereka dan sambung silaturahmi dengan orang-orang yang mereka cintai.

7. Memperbaiki akhlak

Menjadi lebih sabar, tidak mudah marah, tidak sombong, tidak iri, dan mudah memaafkan adalah bentuk kebaikan yang sangat penting.

8. Menuntut ilmu

Ilmu membantu seseorang beribadah dengan benar, bekerja dengan baik, dan mengambil keputusan secara bijak.

9. Mengajak kepada kebaikan

Dakwah tidak selalu harus di mimbar. Mengajak keluarga shalat, mengingatkan teman dengan baik, menulis hal bermanfaat, atau memberi contoh akhlak yang baik juga termasuk dakwah.

10. Bertaubat setiap hari

Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Karena itu, memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri adalah bagian dari perlombaan menuju ampunan Allah.

Kualitas Lebih Penting daripada Sekadar Banyak

Berlomba dalam kebaikan bukan berarti hanya mengejar jumlah amal tanpa memperhatikan kualitas. Amal yang banyak tetapi dilakukan dengan riya dapat rusak nilainya. Amal kecil yang ikhlas bisa sangat besar di sisi Allah.

Karena itu, ada dua hal yang perlu dijaga: kuantitas dan kualitas.

Kuantitas berarti memperbanyak amal sesuai kemampuan. Kualitas berarti menjaga keikhlasan, mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ, dan berusaha menghadirkan hati ketika beramal.

Jangan sampai seseorang sibuk memperbanyak amal tetapi lupa memperbaiki niat. Jangan pula menjadikan alasan “yang penting ikhlas” untuk malas beramal.

Keduanya perlu berjalan bersama.

Jangan Meremehkan Kebaikan Kecil

Kadang seseorang merasa amalnya terlalu kecil. Ia merasa sedekahnya sedikit, ilmunya sedikit, bacaan Al-Qur’annya sedikit, atau kebaikannya tidak seberapa.

Padahal, di sisi Allah, amal kecil bisa bernilai besar jika dilakukan dengan ikhlas.

Senyum yang tulus, ucapan baik, menyingkirkan gangguan dari jalan, memberi minum, membantu orang tua, mendoakan saudara, dan menahan diri dari membalas keburukan adalah kebaikan.

Jangan meremehkan kebaikan kecil. Bisa jadi amal kecil itulah yang menjadi sebab Allah memberi rahmat kepada kita.

Berlomba dalam Kebaikan Bukan untuk Sombong

Ada bahaya yang perlu diwaspadai. Ketika seseorang mulai beramal, setan bisa menggoda dari pintu lain: merasa lebih baik dari orang lain.

Berlomba dalam kebaikan bukan berarti memandang rendah orang yang belum mampu melakukan kebaikan yang sama. Jangan merasa paling saleh karena lebih sering hadir di masjid. Jangan merasa paling dermawan karena lebih banyak bersedekah. Jangan merasa paling berilmu karena lebih banyak membaca.

Tujuan berlomba dalam kebaikan adalah mendekat kepada Allah, bukan memenangkan pujian manusia.

Jika melihat orang lain berbuat baik, jadikan itu motivasi. Jika melihat orang lain belum baik, doakan dan nasihati dengan lembut. Jangan jadikan amal sebagai bahan kesombongan.

Mengubah Orientasi Hidup

Agar dapat berlomba dalam kebaikan, seseorang perlu mengubah orientasi hidupnya.

Jika sebelumnya ukuran sukses hanya harta, maka tambahkan ukuran keberkahan. Jika sebelumnya ukuran mulia hanya jabatan, maka ingat bahwa kemuliaan sejati ada pada takwa. Jika sebelumnya waktu habis untuk mengejar dunia, maka sisihkan waktu terbaik untuk Allah.

Mengubah orientasi hidup bukan berarti meninggalkan pekerjaan atau tanggung jawab dunia. Seorang Muslim tetap harus bekerja, belajar, menafkahi keluarga, membangun usaha, dan memberi manfaat.

Namun, semua itu dilakukan sebagai bagian dari ibadah, bukan sebagai tujuan akhir yang melalaikan.

Cara Menumbuhkan Semangat Berlomba dalam Kebaikan

Ada beberapa cara sederhana untuk menumbuhkan semangat beramal saleh.

Pertama, ingat kematian. Kesadaran bahwa hidup terbatas membuat manusia lebih serius memanfaatkan waktu.

Kedua, baca Al-Qur’an secara rutin. Al-Qur’an menghidupkan hati dan mengingatkan manusia pada tujuan hidup.

Ketiga, berkumpul dengan orang saleh. Lingkungan yang baik dapat memudahkan seseorang berbuat baik.

Keempat, kurangi hal yang melalaikan. Terlalu banyak hiburan, media sosial, dan pergaulan yang sia-sia dapat melemahkan semangat ibadah.

Kelima, buat target amal harian. Misalnya shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, sedekah, zikir, atau membantu orang lain.

Keenam, evaluasi diri sebelum tidur. Tanyakan: kebaikan apa yang sudah saya lakukan hari ini? Dosa apa yang harus saya taubati?

Ketujuh, berdoa agar Allah memudahkan hati untuk taat.

Penutup

Berlomba-lomba dalam kebaikan adalah panggilan bagi setiap Muslim untuk tidak menyia-nyiakan hidup. Dunia ini sementara, sedangkan akhirat kekal. Harta, jabatan, dan popularitas akan ditinggalkan. Yang akan terus menyertai manusia adalah amalnya.

Islam tidak melarang manusia bekerja dan meraih kebaikan dunia. Namun, dunia harus ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan utama.

Jika ingin berlomba, berlombalah menuju ampunan Allah. Berlombalah dalam shalat, sedekah, ilmu, akhlak, bakti kepada orang tua, menolong sesama, menjaga lisan, dan memperbaiki hati.

Jangan menunggu waktu lapang untuk berbuat baik. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu tua untuk bertaubat. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai nikmat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senang berbuat baik, ikhlas dalam beramal, dan diberi akhir kehidupan yang baik.

Wallahu a‘lam.


Minggu, 10 November 2013

MENYIKAPI PERSELISIHAN PARA USTADS

Sesungguhnya saya sangat prihatin melihat fenomena para ustads yang saling menyerang  kepada ustads-ustads yang lain secara terbuka di majelis masing-masing atau di buku-buku atau di media informasi atau di forum-forum diskusi. Apalagi sampai membawa-bawa nama ulama-ulama terdahulu. Memuliakan guru-guru dan ulama mereka sendiri dan menjelek-jelekkan guru-guru dari ustad-ustad yang lain. Ini benar-benar terjadi seperti yang saya lihat sampai sejauh ini.

Padahal menurut saya, selama seseorang atau sekelompok umat meyakinkan dirinya bahwa mereka berpegang teguh kepada Al Quran dan Al Hadis dalam ber-Islam, maka mereka masihlah satu saudara, yaitu saudara ahlussunnah wal jamaah.

Adapun perbedaan pemahaman atau perbedaan metode yang digunakan dalam merujuk kepada Al Quran dan Al Hadis atau perbedaan tingkatan totalitas dalam pengamalan Al Quran dan Al Hadis seharusnya menjadi tugas bersama untuk dikoordinasikan. Satu-keluarga ahlussunnah wal jamaah haruslah saling mengingatkan dan mengajak kepada kebaikan dan saling mencegah terhadap perbuatan kemungkaran, bid'ah dan subhat. Apabila terjadi perselisihan maka merujuklah dan telaah kembali Al Quran dan As Sunnah. Tentunya hal ini haruslah dilakukan dengan sebaik-baiknya  dan sesantun-santunnya dengan asas saling berkasih sayang dan lemah lembut serta itikad bersama dalam menjaga persatuan dan kesatuan umat islam ahlusunnah wal jamaah. Bukankah semakin berilmu seseorang seharusnya semakin bijak dan semakin santun dalam menyampaikan sesuatu?

Jika perselisihan ini dibiarkan berlarut-larut maka saya khawatir suasana tidak kondusif ini akan dimanfaatkan oleh aliran sesat untuk berkembang pesat di Indonesia. Aliran sesat akan tampak seperti solusi bagi masyarakat awam sehubungan dengan keputusasaan mereka terhadap hilangnya sosok figur ustad atau ulama ii tengah-tengah mereka yang benar-benar bijak dalam menyikapi masalah dan perselisihan. Seiring dengan sangat awamnya pemahaman agama masyarakat, karena kurang perhatian dari ustad-ustad yang lebih sibuk berselisih satu sama lain, maka mereka akan dengan mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran sesat.

Perpecahan juga akan membuat barisan ahlussunnah wal jamaah menjadi lemah dan rapuh. Mudah terombang ambing, mudah diserang dan dijajah. Semakin berkurang orang yang mendalami agama. Maka tidak heran jika umat kini mengalami kemunduran drastis, dizalimi dimana-mana tanpa bisa melakukan perlawanan yang berarti. Mungkin ini diakibatkan karena semangat beramar makruf nahi mungkar dan berlemah lembut yang telah menipis, sedangkan semangat berselisih secara frontal yang semakin meningkat diantara sesama ahlusunnah wal jamaah.

Namun demikian, apapun yang terjadi kita haruslah tetap optimis. ALLAH Azza Wajalla akan selalu menjaga agama ini hingga hari kiamat kelak. Di sisi lain kita harus selalu berusaha secara terus menerus untuk memperdalam pemahaman kita terhadap Al Quran dan Al Hadis semampu kita. Al Quran dan Al Hadis adalah sumber utama dalam ber-Islam. Rujukan semua ulama ahlussunnah wal jamaah. Kita juga harus menghindari sikap fanatik terhadap mazhab, ulama, kyai, guru, habib, cendikiawan, dan tokoh-tokoh. Hal ini agar kita senantiasa bisa menjaga komitment untuk hanya mengikuti Allah dan RasulNya dalam berislam serta agar tidak terjebak dalam fanatisme sempit dan buta terhadap tokoh-tokoh tertentu.

REFERENSI:

Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara. (Al-Hujurat: 10)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imran/3 : 110)

Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam bersabda :
“Janganlah kamu saling dengki, saling membenci, saling mengintip rahasia, saling bersaing, saling mencari keburukan, saling menawar lebih tinggi untuk menipu pembeli sehingga menawar tinggi, saling memutuskan hubungan, saling bermusuhan, janganlah sebagian kalian menjual atas jualan yang lain.Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan Allah.Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, tidak boleh menelantarakannya dan tidak boleh menghinanya. Taqwa ada di sini, taqwa ada di sini, taqwa ada di sini kata Rasululloh Shallallahu'alaihi wasallam sambil menunjuk dadanya.
Cukup merupakan kejelekan seseorang apabila menghina saudaranya yang  muslim. Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. Hati-hatilah bersangka buruk, karena sesungguhnya bersangka buruk adalah omongan yang paling dusta. Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu dan hartamu, tetapi ia melihat hati dan perbuatanmu.” (riwayat Muslim dan Bukhari).

Muhammad Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya, mereka bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang di antara sesama mereka. (Al-Fath:. 29)

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan siksa yang berat. (Ali lmran: 105)

“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat
ayatnya agar kamu mendapat petunjuk”
(Q.S. Ali Imron ayat 103)

Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu (wahai Muhammad) terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terpulang kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahu mereka apa yang telah mereka perbuat. (Al-An'am: 159)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. Taubah : 32)

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meski orang-orang kafir benci. “(QS. Ash-Shaff : 8).

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesengguhnya Kami benar-benar memeliharanya. ” (QS. Al-Hijr : 9).

"Sesungguhnya Allah akan menurunkan (orang) setiap permulaan 100 tahun seseorang kepada Umat yang akan (Tajdid) mengembalikan kegemilangan Agama mereka" [Hadits diriwayatkan oleh Abu Daud, Hakim di dalam Mustadrak dan al-Baihaqi di dalam al-Ma'rifah. HR Abu Dawud (no. 4291), al-Hakim (no. 8592), dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul ausath” (no. 6527), Dinyatakan shahih oleh imam al-Hakim, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar (dinukil dalam kitab “’Aunul Ma’buud” 11/267) dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahihah” (no. 599).]

Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Ketika Bani Israil melakukan berbagai maksiat, maka para ahli agama melarang mereka tetapi mereka tidak mau berhenti. Kemudian ahli agama itu duduk bersama mereka, saling bersandar dengan mereka, dan minum bersama mereka. Kemudian Allah mempertentangkan hati sebagian mereka dengan sebagian yang lain, dan melaknati mereka melalui lisan Dawud, Sulaiman dan Isa bin Maryam.” Kemudian Nabi saw duduk—sebelumnya Beliau bersandar—seraya bersabda: “Demi Dzat yang menguasai diriku, janganlah kalian diam hingga kalian menarik mereka kepada kebenaran dengan kuat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dari Hudzaifah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Demi Dzat yang menguasai diriku, kamu harus memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, atau kalau tidak maka Allah akan mengirim kepada kalian siksa dari sisi-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya tetapi Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR Tirmidzi)

Imam Syafi'i berkata, “Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”[3] Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63.

Imam Malik bin Anas menyatakan :
"Saya hanyalah seorang manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku. Bila sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, ambillah ; dan bila tidak sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah, tinggalkanlah". [Ibnu 'Abdul Barr dan dari dia juga Ibnu Hazm dalam kitabnya Ushul Al-Ahkam (VI/149), begitu pula Al-Fulani hal. 72.]

Imam Malik berkata:
"Siapa pun perkataannya bisa ditolak dan bisa diterima, kecuali hanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri". [Dikalangan ulama mutaakhir hal ini populer dinisbatkan kepada Imam Malik dan dinyatakan shahihnya oleh Ibnu Abdul Hadi dalam kitabnya Irsyad As-Salik (1/227). Diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdul Barr dalam kitab Al-Jami' (II/291), Ibnu Hazm dalam kitab Ushul Al-Ahkam (VI/145, 179), dari ucapan Hakam bin Utaibah dam Mujahid. Taqiyuddin Subuki menyebutkannya dalam kitab Al-Fatawa (I/148) dari ucapan Ibnu Abbas. Karena ia merasa takjub atas kebaikan pernyataan itu, ia berkata : "Ucapan ini diambil oleh Mujahid dari Ibnu Abbas, kemudian Malik mengambil ucapan kedua orang itu, lalu orang-orang mengenalnya sebagai ucapan beliau sendiri".]

Beberapa pesan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi):
a. “Jika suatu hadits shahih, itulah madzhabku.” [Ibnu Abidin dalam kitab al-Hasyiyah (I/63) dan kitab Rasmul Mufti (I/4) dari kumpulan-kumpulan tulisan Ibnu Abidin. Juga oleh Syaikh Shalih al-Filani dalam kitab Iqazhu al-Humam hlm 62 dan lain-lain]

Ibnu Abidin menukil dari Syarah al-Hidayah karya Ibnu Syahnah al-Kabir, seorang guru Ibnul Humam, yang berbunyi:

“Bila suatu hadits shahih sedangkan isinya bertentangan dengan madzhab kita, yang diamalkan adalah hadits.” Hal ini merupakan madzhab beliau dan tidak boleh seseorang muqallid menyalahi hadits shahih dengan alasan dia sebagai pengikut Hanafi, sebab secara sah disebutkan dari Imam Abu Hanifah bahwa beliau berpesan, “Jika suatu hadits shahih, itulah madzhabku.” Begitu juga Imam Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dari para imam lain pesan semacam itu.

b. “Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.” [Ibnu Abdul Barr dalam kitab al-Intiqa fi Fadhail ats-Tsalatsah al-Aimmah al-Fuqaha hlm 145, Ibnu Qayyim dalam I’lamul Muwaqi’in (II/309), Ibnu Abidin dalam Hasyiyah al-Bahri ar-Raiq (VI/293), dll]

c. “Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tinggalkanlah pendapatku itu.” [Al-Filani dalam kitab al-Iqazh hlm 50, menisbatkannya kepada Imam Muhammad]

Beberapa pesan Imam Ahmad bin Hambal
a. “Janganlah engkau taqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambil.” [Al-Filani hlm 113 dan Ibnu Qayyim dalam al-I'lam (II/302)]

Pada riwayat lain disebutkan: “Janganlah kamu taqlid kepada siapapun mereka dalam urusan agamamu. Apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, itulah hendaknya yang kamu ambil. Adapun tentang tabi’in, setiap orang boleh memilihnya (menolak atau menerima).”

di kesempatan lain dia berkata: “Yang dinamakan ittiba’ yaitu mengikuti apa yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, sedangkan yang datang dari para tabi’in boleh dipilih.” [Abu Dawud dalam Masa'il Imam Ahmad hlm 276-277]

b. “Pendapat Auza’i, Malik dan Abu Hanifah adalah ra’yu (pikiran). Bagi saya semua ra’yu sama saja, tetapi yang menjadi hujjah agama adalah yang ada pada atsar (hadits).” [Ibnu Abdul Barr dalam al-Jami’ (II/149)]

c. “Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berada di jurang kehancuran.” [Ibnu Jauzi hlm 142]