Jumat, 19 Oktober 2012

Kapal Kehidupan: Belajar Menavigasi Dunia dengan Al-Qur’an dan Sunnah


Mengarungi kehidupan dapat diibaratkan seperti berlayar di tengah lautan yang luas. Setiap manusia memiliki kapal masing-masing. Kapal itu adalah dirinya sendiri: hati, akal, tubuh, waktu, rezeki, pilihan, dan amal perbuatannya.

Lautan yang dilalui adalah dunia dengan segala keindahan, ujian, godaan, peluang, dan bahayanya. Ada ombak yang tenang, ada badai yang menakutkan. Ada ikan yang dapat menjadi rezeki, ada pula hiu yang dapat menjadi ancaman. Ada mutiara yang bernilai, tetapi ada juga arus kuat yang dapat menyeret kapal menjauh dari tujuan.

Pulau tujuan yang ingin dicapai adalah keselamatan akhirat dan surga yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Dalam perjalanan panjang ini, manusia tidak cukup hanya memiliki kapal. Ia juga membutuhkan arah, kompas, peta, dan ilmu navigasi. Tanpa itu semua, kapal bisa tersesat, berputar-putar tanpa tujuan, menabrak karang, atau karam di tengah perjalanan.

Bagi seorang Muslim, panduan navigasi kehidupan adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.

Dunia sebagai Lautan

Dunia sering terlihat indah. Di dalamnya ada harta, keluarga, pekerjaan, kedudukan, ilmu, hiburan, persahabatan, dan berbagai kesempatan. Semua itu dapat menjadi bekal perjalanan jika digunakan dengan benar.

Namun, dunia juga dapat menipu. Keindahannya kadang membuat manusia lupa bahwa ia sedang berlayar menuju tujuan akhir. Banyak orang terlalu sibuk mengumpulkan isi lautan, sampai lupa menjaga kapalnya. Ada yang sibuk mengejar mutiara dunia, tetapi tidak menyadari kapalnya bocor. Ada pula yang terlalu menikmati pemandangan, sampai kehilangan arah.

Dunia bukan tujuan akhir. Dunia adalah tempat perjalanan, tempat ujian, dan tempat mengumpulkan bekal.

Karena itu, seorang Muslim perlu memandang dunia dengan seimbang. Dunia tidak harus dibenci, tetapi tidak boleh dijadikan tujuan utama. Dunia perlu dimanfaatkan sebagai sarana untuk meraih keridaan Allah.

Kapal adalah Diri Kita

Setiap manusia membawa kapalnya sendiri. Kapal itu bisa kuat atau rapuh, tergantung bagaimana ia merawat dirinya.

Hati adalah ruang kendali kapal. Jika hati baik, arah kapal lebih mudah dijaga. Jika hati rusak, kapal mudah diarahkan oleh hawa nafsu, amarah, iri, kesombongan, dan kelalaian.

Akal adalah alat membaca keadaan. Dengan akal, manusia dapat membedakan bahaya dan peluang, memilih jalur yang aman, dan mengambil keputusan.

Tubuh adalah bagian kapal yang harus dirawat. Jika tubuh diabaikan, perjalanan menjadi berat. Karena itu, kesehatan, kebersihan, makan yang baik, istirahat, dan aktivitas yang cukup juga menjadi bagian dari amanah.

Waktu adalah bahan bakar perjalanan. Setiap hari yang berlalu tidak akan kembali. Jika waktu digunakan untuk kebaikan, kapal bergerak mendekati tujuan. Jika waktu habis dalam kelalaian, kapal hanya terapung tanpa arah.

Amal adalah muatan kapal. Amal saleh menjadi bekal keselamatan. Dosa, kesombongan, dan kezaliman menjadi beban yang dapat memberatkan kapal.

Al-Qur’an dan Sunnah sebagai Kompas

Dalam pelayaran, kompas membantu menentukan arah. Tanpa kompas, pelaut mudah tersesat, terutama ketika langit gelap dan badai datang.

Dalam kehidupan, Al-Qur’an dan Sunnah adalah kompas yang menunjukkan jalan. Keduanya mengajarkan mana yang benar dan salah, halal dan haram, baik dan buruk, serta mana jalan yang membawa keselamatan dan mana yang membawa kerugian.

Al-Qur’an memberi petunjuk tentang tujuan hidup, tauhid, ibadah, akhlak, keluarga, muamalah, keadilan, kesabaran, dan akhirat. Sunnah Rasulullah ﷺ memberi contoh bagaimana petunjuk itu diterapkan dalam kehidupan nyata.

Tanpa Al-Qur’an dan Sunnah, manusia dapat mengira dirinya berjalan menuju kemajuan, padahal sedang menjauh dari keselamatan. Ia bisa merasa sedang bebas, padahal terombang-ambing oleh arus dunia.

Pentingnya Ilmu Navigasi Kehidupan

Seorang pelaut tidak cukup hanya memiliki peta. Ia juga harus belajar membaca peta. Ia perlu memahami arah angin, kedalaman laut, posisi bintang, arus, cuaca, dan tanda-tanda bahaya.

Demikian pula seorang Muslim. Tidak cukup hanya memiliki mushaf Al-Qur’an di rumah. Ia perlu membacanya, memahami maknanya, mempelajari tafsirnya sesuai kemampuan, dan mengamalkannya. Tidak cukup hanya mengaku mencintai Rasulullah ﷺ. Ia perlu mempelajari sunnah beliau dan meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Ilmu adalah bagian penting dari navigasi kehidupan. Dengan ilmu, seseorang dapat menghindari kesalahan yang berulang. Dengan ilmu, ia dapat membedakan nasihat yang benar dan ajakan yang menyesatkan. Dengan ilmu, ia dapat memahami bahwa tidak semua jalan yang ramai dilalui manusia adalah jalan yang benar.

Ombak dan Badai Kehidupan

Tidak ada pelayaran yang selalu tenang. Setiap manusia akan menghadapi ombak dan badai. Ada badai berupa kesulitan ekonomi, sakit, kehilangan, kegagalan, konflik keluarga, fitnah, tekanan pekerjaan, atau rasa takut terhadap masa depan.

Badai tidak selalu berarti Allah membenci hamba-Nya. Bisa jadi badai adalah ujian untuk menguatkan iman, membersihkan dosa, atau mengarahkan manusia kembali kepada Allah.

Kapal yang baik bukan kapal yang tidak pernah diterpa ombak. Kapal yang baik adalah kapal yang tetap bertahan, memperbaiki kerusakan, dan kembali ke arah yang benar setelah diguncang badai.

Begitu pula orang beriman. Ia tidak bebas dari masalah, tetapi ia memiliki pegangan. Ketika diuji, ia bersabar. Ketika diberi nikmat, ia bersyukur. Ketika salah arah, ia bertaubat. Ketika bingung, ia kembali kepada petunjuk Allah.

Muatan Kapal: Jangan Berlebihan Mencintai Dunia

Salah satu bahaya dalam pelayaran adalah kapal yang kelebihan muatan. Semakin banyak beban, semakin berat kapal bergerak. Jika muatan tidak terkendali, kapal bisa tenggelam.

Dalam kehidupan, muatan itu bisa berupa ambisi, cinta dunia, keserakahan, gengsi, iri hati, dendam, dan keinginan yang tidak pernah selesai.

Harta, pekerjaan, keluarga, dan cita-cita pada dasarnya bukan hal buruk. Semua bisa menjadi kebaikan jika ditempatkan dengan benar. Namun, jika semuanya membuat manusia lupa kepada Allah, maka itu berubah menjadi beban.

Seorang Muslim perlu belajar memilah muatan kapalnya. Mana yang perlu dibawa sebagai bekal, mana yang harus dikurangi, dan mana yang harus dibuang.

Bekal yang perlu dibawa adalah iman, ilmu, amal saleh, akhlak baik, doa, kesabaran, syukur, dan keikhlasan.

Beban yang perlu dibuang adalah dosa, kezaliman, kesombongan, riya, ujub, dendam, dan kelalaian.

Jangan Memasukkan Air Laut ke dalam Kapal

Laut berada di luar kapal. Selama laut tetap di luar, kapal dapat berlayar. Namun, jika air laut masuk ke dalam kapal, kapal terancam tenggelam.

Dunia juga demikian. Selama dunia berada di tangan, ia dapat dimanfaatkan. Namun, jika dunia masuk terlalu dalam ke hati, ia dapat menenggelamkan manusia.

Harta di tangan dapat menjadi sedekah. Jabatan di tangan dapat menjadi amanah. Ilmu di tangan dapat menjadi manfaat. Namun, jika harta, jabatan, popularitas, dan kesenangan dunia menguasai hati, manusia dapat lupa tujuan akhir.

Karena itu, seorang Muslim perlu terus membersihkan hati. Dunia boleh dicari, tetapi jangan sampai menguasai hati. Rezeki boleh diusahakan, tetapi jangan sampai mengorbankan iman. Kesuksesan boleh diraih, tetapi jangan sampai membuat sombong.

Karang dan Hiu: Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Dalam lautan, ada bahaya yang tampak dan ada yang tersembunyi. Karang bisa merusak kapal. Hiu bisa mengancam keselamatan. Arus bawah laut bisa menyeret kapal tanpa terasa.

Dalam kehidupan, bahaya juga bermacam-macam.

Ada bahaya yang tampak jelas, seperti maksiat, kezaliman, penipuan, riba, zina, khamr, dan perbuatan haram lainnya.

Ada pula bahaya yang halus, seperti riya, ujub, iri, prasangka buruk, cinta pujian, malas beribadah, dan merasa diri sudah cukup baik.

Bahaya yang tampak mudah dikenali, tetapi bahaya yang halus sering lebih sulit disadari. Karena itu, seorang Muslim perlu terus bermuhasabah.

Pelabuhan Sementara

Dalam perjalanan laut, kapal kadang singgah di pelabuhan. Pelabuhan berguna untuk mengisi bekal, memperbaiki kapal, dan beristirahat. Namun, pelabuhan bukan tujuan akhir.

Dalam kehidupan, pelabuhan sementara dapat berupa pendidikan, pekerjaan, rumah, keluarga, komunitas, dan pencapaian dunia. Semua itu penting, tetapi bukan tujuan terakhir.

Jangan sampai manusia terlalu nyaman di pelabuhan sementara hingga lupa bahwa perjalanan masih berlanjut.

Setiap pencapaian dunia seharusnya menjadi sarana untuk memperbaiki bekal akhirat. Pekerjaan menjadi jalan mencari rezeki halal. Keluarga menjadi ladang kasih sayang dan tanggung jawab. Ilmu menjadi alat memberi manfaat. Harta menjadi sarana sedekah. Waktu luang menjadi kesempatan beribadah.

Teman Seperjalanan

Dalam pelayaran, teman seperjalanan sangat berpengaruh. Teman yang baik membantu menjaga arah, memperbaiki kapal, dan mengingatkan ketika ada bahaya. Teman yang buruk dapat mengajak menyimpang, merusak kapal, atau membuat perjalanan menjadi berbahaya.

Begitu pula dalam kehidupan. Lingkungan sangat memengaruhi hati dan kebiasaan seseorang.

Bertemanlah dengan orang yang mengingatkan kepada Allah, mendukung kebaikan, menasihati dengan adab, dan tidak mendorong kepada maksiat. Jika memiliki teman yang sedang lemah, bantulah ia dengan cara yang baik. Jika kita sendiri lemah, dekatilah orang-orang yang dapat menguatkan iman.

Perjalanan menuju Allah lebih mudah jika ditemani orang-orang yang juga ingin selamat.

Memperbaiki Kapal Sebelum Terlambat

Setiap kapal bisa mengalami kerusakan. Ada layar yang sobek, papan yang retak, kemudi yang goyah, atau lubang kecil yang membuat air masuk perlahan.

Dalam diri manusia, kerusakan itu bisa berupa dosa, kebiasaan buruk, lalai salat, malas membaca Al-Qur’an, hubungan keluarga yang renggang, rezeki yang tidak bersih, atau hati yang mulai keras.

Jika kerusakan kecil dibiarkan, lama-lama dapat menjadi besar. Karena itu, perbaiki kapal sejak dini.

Taubat adalah cara memperbaiki arah. Istighfar adalah cara membersihkan hati. Ilmu adalah cara memperbaiki navigasi. Amal saleh adalah cara menambah bekal. Doa adalah cara memohon pertolongan kepada Pemilik lautan.

Selama masih hidup, kesempatan memperbaiki kapal masih ada.

Tujuan Akhir: Keselamatan di Sisi Allah

Setiap pelayaran memiliki tujuan. Jika tujuan tidak jelas, kapal bisa berputar-putar tanpa arah.

Tujuan hidup seorang Muslim adalah beribadah kepada Allah dan meraih keselamatan akhirat. Surga adalah tujuan akhir yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Namun, untuk sampai ke sana, seseorang perlu menjaga arah. Tidak cukup hanya berharap sampai. Ia harus berlayar dengan petunjuk yang benar, menghindari bahaya, memperbaiki kapal, dan memohon pertolongan Allah.

Tidak ada manusia yang selamat hanya karena kekuatannya sendiri. Keselamatan adalah rahmat Allah. Namun, rahmat itu harus dicari dengan iman, amal, taubat, dan kesungguhan.

Cara Menavigasi Kapal Kehidupan

Ada beberapa langkah yang dapat membantu kita menavigasi kehidupan.

1. Tetapkan tujuan

Ingat bahwa hidup bukan sekadar mengejar dunia. Tujuan akhir adalah kembali kepada Allah dengan membawa iman dan amal saleh.

2. Pelajari petunjuk

Bacalah Al-Qur’an, pelajari sunnah, dan carilah ilmu dari sumber yang benar.

3. Jaga hati

Hati adalah ruang kendali kapal. Bersihkan dari iri, sombong, riya, ujub, dan prasangka buruk.

4. Pilih teman yang baik

Teman seperjalanan dapat membantu atau menyesatkan. Pilih lingkungan yang mendekatkan kepada kebaikan.

5. Jangan berlebihan mencintai dunia

Gunakan dunia sebagai bekal, bukan sebagai tujuan utama.

6. Perbanyak taubat

Jika kapal mulai menyimpang, segera kembali ke jalur yang benar.

7. Berdoa kepada Allah

Manusia hanya berusaha. Allah-lah yang mengatur lautan, angin, dan keselamatan perjalanan.

Penutup

Kehidupan adalah pelayaran panjang. Kapal kita adalah diri kita sendiri. Lautan adalah dunia dengan segala ujian, peluang, dan godaannya. Pulau tujuan adalah keselamatan akhirat dan surga yang Allah janjikan.

Agar tidak tersesat, manusia membutuhkan navigasi. Bagi seorang Muslim, Al-Qur’an dan Sunnah adalah kompas utama dalam perjalanan hidup.

Dunia boleh dimanfaatkan, tetapi jangan sampai masuk terlalu dalam ke hati. Muatan kapal perlu dijaga agar tidak berlebihan. Kerusakan kapal perlu diperbaiki dengan taubat. Teman seperjalanan perlu dipilih dengan bijak. Dan dalam setiap perjalanan, pertolongan Allah harus selalu dimohonkan.

Semoga Allah menjaga kapal kehidupan kita, menuntun arah perjalanan kita, menyelamatkan kita dari badai dunia, dan mengantarkan kita menuju akhir yang baik.

Wallahu a‘lam.

Minggu, 24 Juni 2012

KISAH LUKMANUL HAKIM DAN ANAKNYA

Ada sebuah kisah mengenai kisah Lukmanul Hakim dan anaknya yang pernah saya dengar. Kurang lebih seperti berikut ini ceritanya:

Suatu hari Lukamnul Hakim yang sudah tua melakukan perjalanan beserta anaknya yang masih bocah, serta seekor keledai kurus yang menjadi tunggangan mereka secara bergantian. Mereka hendak menuju suatu tempat yang sangat jauh dari kampung halaman, dan harus melalui beberapa kota besar.

Suatu ketika rombongan tiga mahluk ini sampailah pada sebuah pasar yang sangat ramai. Pada Saat itu, Lukman sedang menunggangi keledai, sedangkan si Anak menuntun keledai itu menyusuri keramaian pasar. Sayup-sayup terdengarlah komentar-komentar dari orang-orang pasar mengenai rombongan ini.

“Pak Tua itu tega sekali, anaknya yang masih kecil disuruh jalan, sedangkan dia sendiri menunggangi keledai yang sudah kurus itu”.

“Masak anak kecil disuruh jalan, sementara orang tuanya berleha-leha di atas keledai?!”

Komentar-komentar tidak bertanggung jawab ini sambung menyambung ala komunitas pasar. Lama-lama semakin tidak mengenakkan juga di telinga Lukman beserta anaknya itu. Belum lagi dengan sejumlah orag pasar yang memandangi mereka dengan sinis. Tidak tahan dengan omongan orang-orang pasar, Lukman berkata kepada anaknya, “Nak, Ayah turun ya, biar kamu saja yang menunggangi keledai!”

Si anak yang masih bocah, manggut-manggut dengan polos, menuruti perintah ayahanda yang sangat dicintainya. Maka seketika itu, berubahlah formasi rombongan. Si Anak menunggangi keledai, sedangkan Lukman menuntun keledai itu, melanjutkan perjalanan menyusuri keramaian pasar.

Tidak lama berselang, komentar-komentar dari orang-orang pasar kembali muncul.
“Wah, Anak kecil itu sungguh tidak berbakti, masak bapak setua itu disuruh jalan”
“Mau jadi apa kalo besar nanti anak itu?”
“Anak kecil itu apa tidak kasihan pada orang tuanya yang sudah lanjut usia?”
“Bapak tua itu kok terlalu memanjakan anaknya”

Semakin bermacam-macam komentar-komentar orang pasar. Ada yang terdengar sayup-sayup, ada juga yang tanpa sopan santun menghardik. Semakin banyak pula orang-orang sekitar yang termakan dengan komentar orang pasar dan akhirnya menyerang rombongan tak berdosa itu dengan pandangan yang sangat sinis.

"Baiklah nak, barangkali sebaiknya ayah juga naik keledainya, ya"

Lukman pun naik ke pundak keledai, berbagi dengan anaknya. si Keledai meringkik, hendak berteriak karena beban berat yang diembannya. Namun apa mau dikata, diapun tidak bisa protes. Maka berlanjutlah perjalanan si keledai malang itu dengan dua penunggang di pundaknya.

Melihat hal ini, orang-orang pasar kembali berkomentar,
"Wah, kasihan sekali keledainya ya, sudah kurus masih saja ditunggangi"
"Raja tega!"
"Duh, bagaimana sih Pak Tua dan bocah ini? kejam sekali sama keledai yang sudah kurus kerempeng itu"

Mendangar komentar masyarakat yang masih saja sinis, Lukman dan anaknya yang tidak berdosa semakin tidak tahu harus berbuat apa lagi. Beruntung si keledai karena tidak mengerti bahasa manusia. Telinga Lukman semakin panas. Matanya juga tambah panas karena diserang secara kejam dengan pandangan-pandangan tajam yang menusuk sampai ke dada.

“Sudah Nak, kita bersabar aja ya" lanjut dia, "nah sekarang Anak turun dulu dari keledai, ya!”

Ketika si Anak sudah turun dari keledai, maka Lukman pun mengangkat si keledai seperti mengangkat sebuah hewan buruan. Dia menggendong keledai itu. Keledai kurus yang sudah sangat jinak itu pun seperti pasrah saja pada tuannya. Tangan kanan Lukman mendekap keledai agar tidak berubah posisi di bahunya.

Setelah posisi keledai itu pakem, lalu Lukman menggandeng tangan si anak dengan tangan kirinya, menyusuri kembali keramaian pasar yang seolah-olah tidak ada ujungnya itu. Kali ini Lukman bersikap cuek-cuek aja dan berjalan dengan percaya diri. Maka formasi rombongan yang aneh inipun menjadi bahan tertawaan orang-orang pasar.

“Wah..wah..wah…Bapak dan Anak ini sepertinya sudah gila, masak keledai digendong?!”
“Rombongan yang aneh”

Ya begitulah kalo menuruti kemauan orang-orang kebanyakan yang tidak berilmu. Bisanya mereka hanya berkomentar ngalor-ngidul, tidak karuan, sekehendak hatinya. Dijamin, di mata mereka, kita tidak akan pernah tampak benar, salah terus.

Berbeda halnya dengan Lukmanul Hakim yang merupakan hamba Allah yang sholeh dan berilmu serta diabadikan sebagai nama surat dalam Al Quran, Surat Lukman. Dalam surat Lukman, terdapat beberapa catatan mengenai pesan Lukman kepada anaknya(QS. Luqman: 13-19)"

“13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

16. (Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Wasiat-wasiat Luqman lainnya:
Selain dalam ayat al-Qur’an, Luqman juga mempunyai banyak wasiat. Wahab bin Munabbih pernah menuturkan: “Saya membaca hikmah Luqman yang jumlahnya lebih dari 10 ribu bab”.

Dalam bukunya Min Washaya al-Qur’an al-Karim (1/31-33), Muhammad al-Anwar Ahmad Baltagi, mengutip sebuah riwayat dari Malik bin Anas bahwasannya Luqman pernah menasehati putranya di bawah ini:

01 - Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya adalah iman dan layarnya adalah tawakal kepada Allah.

02 - Orang - orang yang sentiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari Allah. Orang yang insaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia akan sentiasa menerima kemulian dari Allah juga.

03 - Hai anakku; orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadat dan taat kepada Allah, maka dia tawadduk kepada Allah, dia akan lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepadaNya.

04 - Hai anakku; seandainya ibubapamu marah kepadamu kerana kesilapan yang dilakukanmu, maka marahnya ibubapamu adalah bagaikan baja bagi tanam tanaman.

05 - Jauhkan dirimu dari berhutang, kerana sesungguhnya berhutang itu boleh menjadikan dirimu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.

06 - Dan Berharaplah selalu kepada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakaiNya. Takutlah kepada Allah dengan sebenar benar takut ( takwa ), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat Allah.

07 - Hai anakku; seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rusak akhlaknya akan sentiasa banyak melamun hal-hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih
mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mahu mengerti.

08 - Hai anakku; engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih lagi dari semua itu, yaitu manakala engkau mempunyai tetangga (jiran) yang jahat.

09 - Hai anakku; janganlah engkau mengirimkan orang yang bodoh sebagai utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimulah saja yang layak menjadi utusan.

10 - Jauhilah bersifat dusta, sebab dusta itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit sahaja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.

11 - Hai anakku; bila engkau mempunyai dua pilihan, takziah orang mati atau menghadiri majlis perkawinan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab hal itu akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat sedangkan menghadiri pesta perkawinan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi sahaja.

12 - Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, kerana sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu alangkah lebih baik apabila diberikan kepada binatang sekalipun.

13 - Hai anakku; janganlah engkau langsung menelan sahaja kerana manisnya barang dan janganlah langsung memuntahkan saja pahitnya sesuatu barang itu, kerana manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.

14 - Makanlah makananmu bersama sama dengan orang orang yang takwa dan musyawarahlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara meminta nasihat dari
mereka.

15 - Hai anakku; bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah bagaikan orang yang mencari kayu bakar, maka setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih
ingin terus menambahkannya.

16 - Hai anakku; bilamana engkau mahu mencari kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura pura membuat dia marah. Bilamana dalam kemarahan itu
dia masih berusaha menginsafkan kamu,maka bolehlah engkau mengambil dia sebagai kawan. Bila tidak demikian, maka berhati hatilah.

17 - Selalulah baik tuturkata dan halus budibahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.

18 - Hai anakku; bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu daripadanya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.

19 - Jadikanlah dirimu dalam segala tingkah laku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain kerana itu adalah sifat riya~ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.

20 - Hai anakku; janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan olah dunia kerana engkau diciptakan Allah bukanlah untuk
dunia sahaja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terpedaya dengan dunianya.

21 - Hai anakku; usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta kasar, kerana engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.

22 - Hai anakku; janganlah engkau mudah ketawa kalau bukan kerana sesuatu yang menggelikan, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah
engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, janganlah menyia-nyiakan hartamu.

23 - Barang sesiapa yang penyayang tentu akan disayangi, siapa yang pendiam akan selamat daripada berkata yang mengandung racun, dan siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.

24 - Hai anakku; bergaullah rapat dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah kata nasihatnya karena sesungguhnya hati akan tentram mendengarkan nasihatnya, sehingga hati ini akan hidup dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya sebagaimana tanah subur yang disirami air hujan.

25 - Hai anakku; ambillah harta dunia sekadar keperluanmu sahaja, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekalan akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang atau bakul sampah kerana nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya kerana sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau berteman dengan orang yang bermuka dua, karena kelak akan membinasakan dirimu.


Wawwahu a'lam bis showab

Diambil dari berbagai referensi:
Salah satunya tulisan ust Aep Saipullah, dalam http://umisulaiman.blogspot.com/2009/04/makam-lukmanul-hakim.html

Jumat, 18 Mei 2012

Pembatalan Konser Lady Gaga: Antara Kebebasan Ekspresi, Budaya, dan Tanggung Jawab Publik


Pembatalan konser Lady Gaga pernah menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Ada kelompok yang mendukung konser tersebut karena melihatnya sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan hiburan. Ada pula kelompok yang menolak karena menilai sebagian konsep panggung, busana, dan gaya pertunjukannya tidak sesuai dengan nilai budaya dan moral masyarakat Indonesia.

Dalam sebuah negara yang masyarakatnya beragam, perbedaan pendapat seperti ini sebenarnya wajar. Setiap orang dapat memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap seni, hiburan, moralitas, dan batasan ekspresi publik.

Namun, yang perlu dijaga adalah cara menyampaikan pendapat. Menolak suatu konser tidak berarti harus menghina pribadi artisnya. Mendukung konser juga tidak berarti boleh meremehkan kekhawatiran masyarakat yang ingin menjaga nilai keluarga dan budaya.

Perdebatan seperti ini sebaiknya ditempatkan dalam ruang diskusi yang sehat.

Mengapa Konser Ini Menimbulkan Perdebatan?

Lady Gaga dikenal sebagai salah satu penyanyi internasional dengan gaya panggung yang kuat, teatrikal, dan sering memancing perhatian publik. Bagi sebagian orang, gaya tersebut dianggap sebagai bagian dari seni pertunjukan modern. Namun, bagi sebagian masyarakat lain, gaya seperti itu dinilai terlalu provokatif dan tidak sesuai dengan norma yang ingin dijaga.

Di sinilah muncul benturan nilai.

Sebagian orang melihat konser sebagai hiburan dan ekspresi seni. Sebagian lainnya melihat bahwa hiburan publik tetap perlu mempertimbangkan nilai kepantasan, usia penonton, dampak sosial, dan budaya lokal.

Indonesia bukan negara yang hampa nilai. Masyarakat Indonesia memiliki keberagaman agama, adat, dan norma sosial. Karena itu, pertunjukan publik, terutama yang berskala besar, perlu mempertimbangkan konteks masyarakat tempat acara itu diselenggarakan.

Kebebasan Ekspresi Tetap Memiliki Batas

Kebebasan berekspresi adalah hal penting dalam kehidupan modern. Seni, musik, dan budaya populer dapat menjadi ruang kreativitas. Banyak karya hiburan yang memberi inspirasi, semangat, dan bahkan kritik sosial.

Namun, kebebasan ekspresi bukan berarti tanpa batas. Dalam ruang publik, setiap bentuk ekspresi tetap perlu mempertimbangkan hukum, norma, keselamatan, usia penonton, dan dampak terhadap masyarakat luas.

Hal ini berlaku bukan hanya untuk artis luar negeri, tetapi juga artis dalam negeri.

Jika sebuah pertunjukan dianggap tidak pantas karena menampilkan unsur yang terlalu provokatif, maka seharusnya penilaian itu tidak hanya berlaku kepada satu artis asing saja. Standar yang sama juga perlu diterapkan pada hiburan lokal.

Inilah poin penting yang sering terlupakan.

Jangan Hanya Kritis kepada Artis Luar Negeri

Jika masyarakat menolak konser Lady Gaga karena alasan moral dan budaya, maka sikap tersebut sebaiknya dilakukan secara konsisten.

Jangan sampai konser artis luar negeri ditolak karena dianggap tidak sesuai norma, tetapi pertunjukan lokal yang menampilkan hal serupa justru dibiarkan. Jika standar moral hanya diterapkan kepada pihak tertentu, maka kritik tersebut akan terlihat tidak adil.

Konsistensi sangat penting.

Apabila yang dipersoalkan adalah penampilan panggung yang terlalu provokatif, eksploitasi tubuh, atau konten yang tidak sesuai untuk anak dan remaja, maka evaluasi harus berlaku umum. Tidak peduli apakah artisnya berasal dari luar negeri atau dalam negeri.

Dengan demikian, pembahasan ini tidak berhenti pada satu nama artis, tetapi menjadi refleksi lebih luas tentang arah industri hiburan.

Pengaruh Public Figure terhadap Masyarakat

Public figure memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat, terutama anak muda. Cara berpakaian, cara bicara, gaya hidup, dan pilihan nilai yang ditampilkan figur publik sering kali ditiru oleh penggemarnya.

Fenomena ini tidak bisa dianggap sepele.

Ketika seorang artis menjadi idola, sebagian penggemar bisa merasa sangat terikat secara emosional. Mereka rela mengeluarkan uang, datang dari jauh, berdesakan, bahkan merasa sangat kecewa ketika acara dibatalkan.

Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh budaya populer.

Karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam mengidolakan seseorang. Mengagumi karya seni boleh saja, tetapi jangan sampai kehilangan kemampuan menilai mana yang baik dan mana yang perlu disaring.

Tidak semua yang populer layak ditiru.

Perlindungan Anak dan Remaja

Salah satu alasan penting dalam membahas hiburan publik adalah perlindungan anak dan remaja. Mereka berada pada fase pembentukan karakter, identitas, dan cara pandang terhadap dunia.

Konten hiburan yang terlalu dewasa, provokatif, atau tidak sesuai usia dapat memengaruhi cara mereka memahami tubuh, hubungan, gaya hidup, dan nilai moral.

Karena itu, penyelenggara acara, pemerintah, orang tua, dan masyarakat perlu memperhatikan batas usia, klasifikasi konten, serta informasi yang jelas tentang jenis pertunjukan.

Jika sebuah konser atau pertunjukan memang ditujukan untuk penonton dewasa, maka perlu ada pengaturan yang jelas. Jika acara dapat diakses publik luas, maka tanggung jawab sosialnya tentu lebih besar.

Orang tua juga tidak boleh menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada media dan hiburan. Anak perlu didampingi dalam memilih tontonan, musik, dan figur yang mereka kagumi.

Seni, Bisnis, dan Tanggung Jawab Moral

Industri hiburan adalah bagian dari bisnis. Konser, album, merchandise, promosi, dan popularitas semuanya memiliki nilai ekonomi. Namun, karena hiburan menyentuh ruang budaya dan emosi masyarakat, bisnis hiburan juga memiliki tanggung jawab moral.

Sebuah pertunjukan tidak hanya menjual tiket. Ia juga membawa pesan, simbol, gaya hidup, dan nilai tertentu.

Karena itu, penyelenggara acara perlu bijak membaca konteks sosial. Tidak semua konsep yang berhasil di satu negara dapat diterima begitu saja di negara lain. Setiap masyarakat memiliki batas penerimaan yang berbeda.

Di sisi lain, kelompok masyarakat yang menolak juga perlu menyampaikan keberatan dengan cara yang beradab. Kritik yang baik tidak perlu memakai hinaan. Penolakan yang kuat tetap dapat disampaikan dengan bahasa yang santun dan argumentasi yang jelas.

Menolak Bukan Berarti Membenci

Dalam kasus seperti ini, penting untuk membedakan antara menolak konsep pertunjukan dan membenci pribadi seseorang.

Seorang Muslim, misalnya, boleh tidak setuju terhadap suatu bentuk hiburan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai agama. Namun, ketidaksetujuan itu tidak boleh berubah menjadi caci maki, penghinaan, atau kebencian kepada pribadi.

Akan lebih baik jika kritik disampaikan dengan adab.

Misalnya, tokoh masyarakat atau pihak yang menolak dapat menyampaikan bahwa keberatan mereka bukan karena kebencian terhadap artis tertentu, melainkan karena pertimbangan budaya, perlindungan generasi muda, dan nilai yang ingin dijaga.

Bahkan, jika memungkinkan, penolakan dapat disampaikan dalam bentuk surat terbuka yang sopan, berisi alasan yang jelas, serta harapan agar pihak terkait memahami sensitivitas masyarakat Indonesia.

Cara seperti ini lebih elegan daripada sekadar saling menyerang.

Perlu Standar Hiburan yang Lebih Jelas

Daripada setiap kasus hiburan publik selalu menjadi polemik, akan lebih baik jika ada standar yang lebih jelas dalam penyelenggaraan acara.

Standar tersebut dapat mencakup:

  1. klasifikasi usia penonton;
  2. transparansi konsep pertunjukan;
  3. kepatuhan terhadap hukum dan perizinan;
  4. pertimbangan nilai budaya lokal;
  5. keamanan acara;
  6. tanggung jawab promotor;
  7. dan perlindungan anak serta remaja.

Dengan adanya standar yang jelas, perdebatan tidak selalu menjadi emosional. Masyarakat dapat menilai berdasarkan aturan yang berlaku, bukan sekadar tekanan opini sesaat.

Standar ini juga harus berlaku adil untuk artis luar negeri dan artis dalam negeri.

Sikap Bijak bagi Masyarakat

Sebagai masyarakat, kita juga perlu bersikap lebih dewasa dalam menyikapi budaya populer.

Pertama, jangan mudah ikut arus hanya karena sesuatu sedang populer. Popularitas tidak selalu sama dengan kualitas.

Kedua, jangan mengidolakan manusia secara berlebihan. Setiap public figure tetap manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah.

Ketiga, pilih hiburan yang membawa manfaat atau setidaknya tidak merusak nilai diri dan keluarga.

Keempat, jika tidak setuju terhadap suatu pertunjukan, sampaikan dengan cara yang baik.

Kelima, jika mendukung kebebasan berekspresi, tetap hargai kekhawatiran masyarakat yang memiliki nilai berbeda.

Dengan sikap seperti ini, perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Pelajaran dari Pembatalan Konser Lady Gaga

Kasus pembatalan konser Lady Gaga dapat menjadi pelajaran bahwa hiburan bukan hanya urusan musik dan panggung. Hiburan juga berkaitan dengan budaya, moral publik, kebebasan berekspresi, tanggung jawab bisnis, perlindungan anak, dan sensitivitas masyarakat.

Ada beberapa pelajaran yang bisa diambil.

Pertama, industri hiburan perlu memahami konteks budaya tempat acara diselenggarakan.

Kedua, masyarakat perlu memiliki standar yang konsisten dalam menilai hiburan, baik dari luar negeri maupun dalam negeri.

Ketiga, kritik terhadap hiburan sebaiknya disampaikan dengan adab dan argumentasi, bukan hinaan.

Keempat, orang tua perlu lebih aktif mendampingi anak dalam memilih tontonan dan idola.

Kelima, kebebasan ekspresi dan tanggung jawab sosial perlu berjalan berdampingan.

Penutup

Pembatalan konser Lady Gaga bukan hanya soal satu artis atau satu konser. Peristiwa ini dapat menjadi bahan renungan tentang bagaimana masyarakat menyikapi budaya populer, kebebasan ekspresi, dan batasan moral dalam ruang publik.

Menolak suatu pertunjukan yang dianggap tidak sesuai nilai budaya adalah hak masyarakat. Namun, penolakan itu harus dilakukan secara beradab, tidak menyerang pribadi, dan tidak bersifat pilih kasih.

Jika yang diperjuangkan adalah moral publik, maka standar tersebut harus berlaku konsisten. Bukan hanya untuk artis luar negeri, tetapi juga untuk hiburan lokal.

Pada akhirnya, kita perlu membangun budaya hiburan yang sehat: kreatif, menghibur, menghargai seni, tetapi tetap memperhatikan nilai keluarga, norma masyarakat, dan perlindungan generasi muda.

Semoga masyarakat kita semakin bijak dalam memilih hiburan, mengidolakan public figure, dan menjaga nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.