Jumat, 17 Juni 2011

Keteladanan dari Salahuddin Al-Ayyubi


Salahuddin Al-Ayyubi adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam. Di dunia Barat, ia lebih dikenal dengan nama Saladin. Namanya banyak disebut dalam sejarah Perang Salib karena kepemimpinan, keberanian, sikap kesatria, dan kemuliaan akhlaknya. Ia dihormati bukan hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh banyak kalangan di luar Islam.

Nama lengkapnya adalah Yusuf bin Ayyub. Ia berasal dari keluarga Kurdi dan lahir di Tikrit, wilayah Irak, sekitar tahun 1137 atau 1138 M. Salahuddin kemudian tumbuh dalam lingkungan politik dan militer yang kuat, hingga akhirnya menjadi Sultan Mesir dan Suriah serta pendiri Dinasti Ayyubiyah.

Salahuddin dikenal sebagai pemimpin yang berhasil merebut kembali Yerusalem pada tahun 1187 setelah kota tersebut berada di bawah kekuasaan pasukan Salib sejak 1099. Peristiwa ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Islam dan sejarah dunia.

Salahuddin dan Perjuangan Merebut Yerusalem

Yerusalem atau Baitul Maqdis memiliki kedudukan penting bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Karena itu, kota ini sering menjadi pusat perhatian dalam sejarah politik dan keagamaan dunia. Pada masa Perang Salib, Yerusalem menjadi salah satu wilayah yang sangat diperebutkan.

Pada tahun 1187, Salahuddin berhasil mengalahkan pasukan Salib dalam Pertempuran Hattin. Kemenangan ini membuka jalan bagi pasukan Muslim untuk merebut kembali Yerusalem. Setelah itu, kota tersebut kembali berada di bawah pemerintahan Muslim.

Namun, kemenangan Salahuddin tidak hanya dikenang karena keberhasilannya secara militer. Yang membuat namanya tetap dihormati adalah cara ia memperlakukan penduduk kota setelah kemenangan. Dalam banyak catatan sejarah, Salahuddin dikenal tidak melakukan pembantaian besar-besaran terhadap penduduk Yerusalem. Sikap ini berbeda dengan tragedi yang pernah terjadi pada tahun 1099 ketika pasukan Salib merebut Yerusalem dan banyak penduduk Muslim serta Yahudi menjadi korban.

Dari sini, kita dapat melihat bahwa kemenangan sejati bukan hanya ketika seseorang berhasil mengalahkan lawan, tetapi ketika ia mampu mengendalikan diri saat berada di puncak kekuasaan.

Pemimpin yang Tidak Haus Darah

Salah satu keteladanan penting dari Salahuddin adalah sikapnya yang tidak menjadikan perang sebagai tujuan. Ia hidup pada masa konflik besar, tetapi tidak dikenal sebagai pemimpin yang haus darah. Perang baginya adalah keadaan yang tidak dapat dihindari ketika wilayah dan umat harus dipertahankan, bukan sarana untuk melampiaskan dendam.

Dalam sebuah nasihat yang sering dikaitkan dengannya, Salahuddin berpesan agar tidak mudah menumpahkan darah. Pesan ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus memahami beratnya akibat dari pertumpahan darah. Setiap keputusan dalam perang membawa konsekuensi besar bagi manusia.

Sikap seperti ini sangat penting untuk direnungkan. Dalam Islam, keberanian bukan berarti mudah melakukan kekerasan. Keberanian yang benar harus disertai keadilan, pengendalian diri, dan tanggung jawab moral.

Sikap Mulia terhadap Pemeluk Agama Lain

Setelah Yerusalem berada di bawah kekuasaan Salahuddin, kota tersebut tetap memiliki arti penting bagi umat Kristen. Salahuddin memahami hal ini. Karena itu, ia tidak menutup kota tersebut dari para peziarah Kristen.

Pada tahun 1192, setelah rangkaian Perang Salib Ketiga, Salahuddin dan Richard I dari Inggris mencapai kesepakatan damai. Perjanjian tersebut mempertahankan Yerusalem di bawah kekuasaan Muslim, tetapi tetap memberikan akses bagi peziarah Kristen yang tidak bersenjata untuk mengunjungi kota suci tersebut.

Kebijakan ini menunjukkan kebijaksanaan politik dan kelapangan hati. Salahuddin tidak hanya berpikir sebagai panglima perang, tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat yang majemuk. Ia memahami bahwa kemenangan harus diikuti dengan pengelolaan yang adil dan bermartabat.

Dalam kehidupan modern, sikap ini menjadi pelajaran penting. Perbedaan agama dan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk berlaku zalim. Seorang pemimpin yang baik harus mampu menjaga keadilan, keamanan, dan kehormatan seluruh rakyatnya.

Hubungan dengan Richard the Lionheart

Dalam sejarah Perang Salib Ketiga, Salahuddin sering dikaitkan dengan Richard I dari Inggris, yang dikenal dengan julukan Richard the Lionheart. Keduanya berada pada sisi yang berlawanan dalam perang, tetapi hubungan mereka sering digambarkan penuh penghormatan sebagai sesama pemimpin dan kesatria.

Dalam berbagai kisah populer, Salahuddin disebut pernah menunjukkan perhatian ketika Richard sakit, termasuk dengan mengirim bantuan atau dokter. Sebagian detail kisah ini sering disampaikan dalam tradisi sejarah populer, meskipun perlu dipahami dengan hati-hati karena tidak semua rinciannya mudah diverifikasi secara pasti.

Namun, gambaran umum yang dikenal luas adalah bahwa Salahuddin dan Richard saling mengakui kemampuan satu sama lain. Keduanya akhirnya memilih jalan perjanjian, bukan meneruskan perang tanpa akhir. Hal ini mengajarkan bahwa keberanian dalam perang harus diimbangi dengan kebijaksanaan untuk berdamai ketika perdamaian membawa kemaslahatan.

Kesederhanaan Salahuddin

Salahuddin juga dikenal sebagai pemimpin yang sederhana. Dalam berbagai kisah, ia digambarkan tidak menumpuk kekayaan pribadi meskipun memegang kekuasaan besar. Ketika wafat di Damaskus pada 4 Maret 1193, ia meninggalkan kesan mendalam sebagai pemimpin yang tidak menjadikan jabatan sebagai jalan untuk memperkaya diri.

Kesederhanaan ini menjadi salah satu pelajaran paling penting dari hidupnya. Banyak orang mampu menjadi kuat ketika berjuang, tetapi tidak semua mampu tetap sederhana ketika berkuasa. Salahuddin menunjukkan bahwa pemimpin besar tidak diukur dari kemewahan hidupnya, melainkan dari besarnya amanah yang ia jaga.

Dalam Islam, kekuasaan adalah titipan. Harta, jabatan, dan kemenangan tidak boleh membuat seseorang lupa diri. Semakin besar kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT.

Kedisiplinan Ibadah dan Akhlak

Salahuddin dikenal sebagai pemimpin yang memiliki perhatian besar terhadap agama. Ia hidup dalam lingkungan yang sangat menghargai ilmu, ibadah, dan perjuangan membela umat. Kedisiplinan spiritual menjadi salah satu sumber kekuatan moralnya.

Seorang pemimpin yang dekat dengan nilai agama akan lebih mudah mengingat bahwa kekuasaan bukan milik pribadi. Ia akan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan, lebih takut berbuat zalim, dan lebih sadar bahwa setiap kebijakan akan dimintai pertanggungjawaban.

Keteladanan Salahuddin bukan hanya terlihat di medan perang, tetapi juga dalam cara ia menjaga adab, menghormati ulama, memperhatikan rakyat, dan menempatkan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi.

Pemimpin yang Mengutamakan Amanah

Salahuddin mengajarkan bahwa pemimpin bukan sekadar orang yang memberi perintah. Pemimpin adalah orang yang memikul amanah. Ia harus berani, tetapi juga penyayang. Ia harus tegas, tetapi juga adil. Ia harus kuat, tetapi tidak boleh sombong.

Kepemimpinan seperti ini sangat relevan untuk semua zaman. Dalam keluarga, organisasi, masyarakat, maupun negara, pemimpin selalu diuji oleh kekuasaan. Ada yang menjadi sombong setelah diberi jabatan. Ada yang berubah setelah memiliki pengaruh. Ada pula yang lupa bahwa jabatan adalah tanggung jawab, bukan fasilitas untuk meninggikan diri.

Salahuddin memberikan contoh bahwa kekuasaan seharusnya digunakan untuk melayani, melindungi, dan menegakkan keadilan.

Pelajaran dari Salahuddin Al-Ayyubi

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari kehidupan Salahuddin Al-Ayyubi.

Pertama, kemenangan harus disertai akhlak. Keberhasilan mengalahkan lawan tidak boleh membuat seseorang kehilangan kemanusiaan.

Kedua, kekuatan harus dikendalikan oleh keadilan. Pemimpin yang kuat tetapi tidak adil dapat menjadi sumber kerusakan. Sebaliknya, pemimpin yang kuat dan adil dapat menjadi sumber ketenangan bagi rakyatnya.

Ketiga, perbedaan tidak boleh menghilangkan sikap hormat. Salahuddin hidup dalam masa konflik agama dan politik, tetapi ia tetap dikenal memiliki sikap kesatria terhadap lawan dan pemeluk agama lain.

Keempat, kesederhanaan adalah tanda kebesaran jiwa. Pemimpin besar tidak harus hidup mewah. Justru kesederhanaan dapat menunjukkan ketulusan dalam memikul amanah.

Kelima, iman dan ilmu harus menjadi dasar kepemimpinan. Tanpa iman, kekuasaan mudah disalahgunakan. Tanpa ilmu, kepemimpinan mudah salah arah.

Penutup

Salahuddin Al-Ayyubi adalah tokoh besar yang memberikan banyak teladan. Ia bukan hanya panglima yang berhasil merebut kembali Yerusalem, tetapi juga pemimpin yang dikenal karena akhlak, kesederhanaan, keberanian, dan rasa keadilannya.

Keteladanan Salahuddin mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya kemampuan memenangkan perang, tetapi kemampuan mengendalikan diri saat menang. Ia menunjukkan bahwa pemimpin besar adalah orang yang berani berjuang, tetapi tetap menjaga kasih sayang dan kehormatan manusia.

Dalam kehidupan hari ini, kita dapat mengambil pelajaran dari Salahuddin dengan cara memimpin diri sendiri, keluarga, pekerjaan, dan lingkungan dengan lebih amanah. Tidak semua orang akan menjadi panglima besar, tetapi setiap orang dapat belajar menjadi pribadi yang adil, berani, sederhana, dan berakhlak mulia.

Semoga keteladanan Salahuddin Al-Ayyubi menginspirasi kita untuk menjadi manusia yang lebih kuat imannya, lebih baik akhlaknya, dan lebih besar manfaatnya bagi sesama.

Senin, 06 Juni 2011

Cinta dan Benci karena Allah: Makna, Batasan, dan Cara Mengamalkannya


Sebagai manusia, kita semua pernah merasakan cinta dan benci. Kita mencintai keluarga, sahabat, pasangan, guru, atau orang-orang yang berbuat baik kepada kita. Kita juga mungkin pernah merasakan benci kepada seseorang karena disakiti, dikhianati, direndahkan, atau diperlakukan tidak adil.

Namun, dalam Islam, perasaan cinta dan benci perlu diarahkan dengan benar. Seorang Muslim tidak seharusnya mencintai atau membenci hanya karena hawa nafsu, kepentingan pribadi, fanatisme kelompok, iri hati, atau dendam.

Ada istilah yang sering dibahas dalam agama, yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah. Istilah ini mengajarkan bahwa ukuran cinta dan benci seorang Muslim seharusnya dikembalikan kepada iman, kebenaran, akhlak, dan keridaan Allah.

Namun, konsep ini perlu dipahami secara hati-hati. Jangan sampai “benci karena Allah” dijadikan alasan untuk bersikap kasar, merendahkan orang lain, memutus persaudaraan tanpa alasan yang benar, atau membenarkan kebencian pribadi.

Apa Arti Cinta karena Allah?

Cinta karena Allah berarti mencintai seseorang karena kebaikan, iman, ketakwaan, dan amal saleh yang ada pada dirinya. Cinta ini tidak semata-mata karena keuntungan dunia, hubungan darah, status sosial, kekayaan, popularitas, atau kepentingan pribadi.

Seseorang mencintai saudaranya karena ia melihat adanya kebaikan yang mendekatkan kepada Allah. Misalnya, ia mencintai orang yang menjaga salat, jujur, amanah, rendah hati, suka menolong, rajin belajar agama, berbakti kepada orang tua, atau berusaha memperbaiki diri.

Cinta seperti ini bukan cinta yang membutakan. Justru, cinta karena Allah membuat seseorang ingin melihat saudaranya semakin baik.

Jika saudara kita melakukan kesalahan, kita tidak membiarkannya terus jatuh. Kita menasihatinya dengan cara yang baik. Kita mendoakannya. Kita membantu semampu kita agar ia kembali kepada kebaikan.

Cinta karena Allah tidak berarti membenarkan semua perbuatan orang yang kita cintai.

Cinta yang Salah Arah

Kadang, seseorang mengaku mencintai saudaranya, tetapi membiarkannya dalam kemungkaran. Ia tidak mau menasihati karena takut hubungan menjadi tidak enak. Ia membenarkan kesalahan karena merasa sayang. Bahkan, ada yang ikut melanggar syariat demi menyenangkan orang yang dicintainya.

Cinta seperti ini bukan cinta yang sehat.

Cinta yang benar tidak membuat seseorang rela ikut dalam dosa. Cinta yang benar justru mendorong kita untuk menjaga orang yang kita cintai dari keburukan.

Misalnya, jika seorang teman mulai terbiasa berbohong, kita tidak membantunya menutupi kebohongan. Jika seorang saudara mengambil hak orang lain, kita tidak membelanya secara membabi buta. Jika seseorang yang kita cintai melakukan maksiat, kita tidak ikut membenarkan perbuatannya.

Nasihat yang baik memang tidak selalu mudah. Namun, membiarkan orang yang kita cintai berjalan menuju kerusakan bukanlah bentuk kasih sayang yang sebenarnya.

Apa Arti Benci karena Allah?

Benci karena Allah berarti membenci kekufuran, kemaksiatan, kezaliman, kebohongan, pengkhianatan, kesombongan, dan segala perbuatan yang dibenci Allah.

Namun, perlu dibedakan antara membenci perbuatan buruk dan membenci pribadi seseorang secara membabi buta.

Seorang Muslim membenci kemaksiatan, tetapi tetap berharap pelakunya mendapat hidayah. Ia membenci kezaliman, tetapi tidak boleh berlaku zalim dalam membalas. Ia membenci kebohongan, tetapi tetap menjaga lisannya dari fitnah. Ia membenci kesombongan, tetapi tidak boleh menjadi sombong karena merasa lebih baik.

Dengan demikian, benci karena Allah bukanlah kebencian yang liar. Ia harus tetap berada dalam batas ilmu, adab, keadilan, dan kasih sayang.

Benci karena Allah Bukan Dendam Pribadi

Banyak orang keliru membungkus dendam pribadi dengan bahasa agama. Ia berkata membenci karena Allah, padahal sebenarnya membenci karena iri, dengki, tersinggung, kalah bersaing, atau tidak suka secara personal.

Inilah yang perlu diwaspadai.

Jika kebencian membuat kita senang melihat orang lain jatuh, mungkin itu bukan benci karena Allah. Jika kebencian membuat kita mudah memfitnah, mungkin itu hawa nafsu. Jika kebencian membuat kita tidak adil, mungkin itu tanda hati sedang sakit.

Benci karena Allah seharusnya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, bukan semakin mudah menyakiti manusia.

Benci karena Allah seharusnya membuat kita menjaga batas, bukan melampaui batas.

Ukuran Cinta dan Benci

Ukuran cinta dan benci dalam Islam bukanlah kepentingan pribadi, tetapi kebenaran.

Kita mencintai kebaikan karena Allah mencintai kebaikan. Kita membenci kemaksiatan karena Allah membenci kemaksiatan. Kita mencintai orang saleh karena kesalehannya. Kita membenci kezaliman karena kezaliman merusak manusia.

Namun, manusia sering memiliki sisi baik dan sisi buruk sekaligus. Seseorang bisa memiliki kebaikan dalam satu sisi, tetapi masih memiliki kekurangan di sisi lain. Karena itu, sikap kita juga perlu adil.

Kita dapat mencintai kebaikan yang ada pada seseorang, tetapi tidak menyetujui kesalahannya. Kita dapat menolak keburukan yang ia lakukan, tetapi tetap mendoakan agar ia mendapat hidayah.

Sikap seperti ini lebih seimbang daripada mencintai secara buta atau membenci secara total.

Cinta karena Allah Menguatkan Ukhuwah

Jika cinta karena Allah dipahami dengan benar, ia akan menguatkan ukhuwah atau persaudaraan. Sesama Muslim akan saling menasihati, saling mendoakan, saling membantu dalam kebaikan, dan saling menjaga dari keburukan.

Cinta karena Allah membuat kita tidak hanya mencari teman yang menyenangkan, tetapi juga teman yang mengingatkan kepada kebenaran.

Cinta seperti ini akan terlihat dalam sikap:

  • mendoakan saudara tanpa diketahui;
  • menasihati dengan lembut;
  • tidak membuka aibnya;
  • membantu ketika ia kesulitan;
  • ikut bahagia ketika ia mendapat nikmat;
  • tidak iri terhadap keberhasilannya;
  • dan tidak meninggalkannya ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

Persaudaraan yang dibangun karena Allah lebih kuat daripada hubungan yang hanya dibangun karena kepentingan dunia.

Benci karena Allah Harus Tetap Adil

Islam mengajarkan keadilan, bahkan kepada orang yang tidak kita sukai. Kebencian tidak boleh membuat kita berlaku zalim.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin berbeda pendapat dengan kita, pernah bersalah kepada kita, atau memiliki perilaku yang tidak kita setujui. Namun, kita tetap tidak boleh menuduh tanpa bukti, menyebarkan fitnah, merampas haknya, atau memperlakukannya secara tidak adil.

Jika seseorang melakukan kesalahan, kesalahannya boleh dikritik. Tetapi kritik harus sesuai fakta, proporsional, dan tidak berubah menjadi penghinaan pribadi.

Benci karena Allah bukan berarti kehilangan akhlak.

Menasihati dengan Kasih Sayang

Salah satu bentuk cinta karena Allah adalah menasihati. Namun, nasihat memiliki adab.

Nasihat yang benar tidak hanya memperhatikan isi, tetapi juga cara penyampaiannya. Kebenaran yang disampaikan dengan kasar bisa membuat orang menjauh. Sebaliknya, kebenaran yang disampaikan dengan hikmah lebih berpeluang diterima.

Beberapa adab menasihati antara lain:

  • niatkan karena Allah, bukan ingin menang;
  • pilih waktu yang tepat;
  • sampaikan dengan bahasa yang baik;
  • jangan mempermalukan di depan umum;
  • bedakan antara menasihati dan menghakimi;
  • doakan orang yang dinasihati;
  • dan akui bahwa diri sendiri juga masih perlu diperbaiki.

Nasihat yang lahir dari cinta akan terasa berbeda dari teguran yang lahir dari kebencian.

Mencintai Kebaikan, Membenci Kemaksiatan

Dalam diri manusia, sering ada campuran antara kebaikan dan kekurangan. Karena itu, sikap yang bijak adalah mencintai kebaikan yang ada padanya dan membenci kemaksiatan atau keburukan yang dilakukannya.

Misalnya, seseorang rajin membantu orang lain, tetapi masih memiliki kebiasaan buruk dalam lisannya. Kita dapat menghargai kebaikannya, tetapi tetap tidak membenarkan kebiasaan buruknya.

Seseorang mungkin pernah salah, tetapi kemudian berusaha bertobat. Dalam kondisi seperti itu, jangan terus-menerus mengikatnya dengan masa lalunya. Jika Allah membuka pintu taubat, maka manusia tidak seharusnya menutup pintu perbaikan.

Sikap seperti ini membantu kita menjadi lebih adil.

Bahaya Cinta yang Berlebihan

Cinta yang tidak dikendalikan dapat membuat seseorang kehilangan objektivitas. Ia membela orang yang dicintainya meskipun salah. Ia menolak kritik karena merasa orang yang dicintainya pasti benar. Ia bahkan bisa memusuhi siapa pun yang menasihati orang tersebut.

Cinta seperti ini dapat muncul dalam banyak bentuk: fanatik kepada tokoh, kelompok, keluarga, pasangan, guru, atau organisasi.

Padahal, dalam Islam, tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Kebenaran harus lebih dicintai daripada tokoh atau kelompok.

Jika orang yang kita cintai salah, kita tetap harus adil. Mencintainya bukan berarti membenarkan semua perbuatannya.

Bahaya Benci yang Berlebihan

Sebaliknya, kebencian yang berlebihan dapat menutup mata dari kebaikan orang lain. Seseorang yang sudah kita benci seolah-olah tidak memiliki sisi baik sama sekali.

Kebencian seperti ini berbahaya karena dapat melahirkan fitnah, permusuhan, hasad, dan kezaliman.

Benci karena Allah tidak boleh membuat kita melampaui batas. Jika kebencian membuat kita senang menyebarkan aib, mudah mencaci, atau berharap orang lain hancur, maka kita perlu memeriksa hati.

Bisa jadi yang kita sebut “benci karena Allah” sebenarnya adalah penyakit hati.

Cara Mengamalkan Cinta dan Benci karena Allah

Agar cinta dan benci tetap berada dalam batas yang benar, beberapa hal berikut perlu diperhatikan:

  1. Jadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai ukuran, bukan perasaan pribadi.
  2. Bedakan antara membenci perbuatan buruk dan membenci pribadi secara mutlak.
  3. Jangan membela orang yang salah hanya karena dekat dengan kita.
  4. Jangan menzalimi orang yang kita benci.
  5. Nasihati saudara dengan adab.
  6. Doakan hidayah untuk orang yang masih salah.
  7. Jangan jadikan agama sebagai alasan untuk melampiaskan dendam.
  8. Periksa niat dan kondisi hati secara rutin.
  9. Cintai kebaikan di mana pun berada.
  10. Benci kemaksiatan tanpa kehilangan kasih sayang dan keadilan.

Dengan cara ini, cinta dan benci dapat menjadi bagian dari iman, bukan bagian dari hawa nafsu.

Makna QS. Al-Mujadalah Ayat 22

Dalam QS. Al-Mujadalah ayat 22, Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak akan berkasih sayang dalam bentuk loyalitas kepada pihak yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka memiliki hubungan keluarga dekat.

Ayat ini mengajarkan bahwa iman harus lebih tinggi daripada hubungan duniawi. Namun, ayat ini perlu dipahami dengan ilmu dan bimbingan ulama. Ia tidak boleh digunakan untuk membenarkan sikap kasar kepada keluarga, memutus silaturahmi tanpa alasan syar’i, atau membenci orang lain secara membabi buta.

Islam tetap memerintahkan berbuat baik kepada orang tua, menjaga akhlak, berlaku adil, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, selama tidak menaati perintah maksiat.

Dengan demikian, loyalitas kepada Allah tidak berarti hilangnya akhlak kepada manusia.

Penutup

Cinta dan benci adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, keduanya perlu diarahkan agar tidak dikuasai hawa nafsu.

Cinta karena Allah berarti mencintai kebaikan, iman, dan ketakwaan yang ada pada seseorang. Cinta ini mendorong kita untuk menasihati, mendoakan, dan membantu saudara menuju kebaikan.

Benci karena Allah berarti membenci kemaksiatan, kezaliman, dan hal-hal yang dibenci Allah. Namun, kebencian ini harus tetap dibatasi oleh ilmu, adab, keadilan, dan harapan agar pelaku kesalahan mendapat hidayah.

Jangan sampai cinta membuat kita membela keburukan. Jangan sampai benci membuat kita berlaku zalim.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari cinta yang salah arah dan kebencian yang lahir dari hawa nafsu. Semoga Allah menjadikan cinta dan benci kita berada di jalan yang diridai-Nya.

Wallahu a‘lam.

Sabtu, 04 Juni 2011

Riya dan Ujub: Dua Penyakit Hati yang Menghapus Keikhlasan Amal


Riya dan ujub adalah dua penyakit hati yang perlu diwaspadai oleh setiap Muslim. Keduanya tidak selalu tampak dari luar, tetapi dapat merusak nilai amal dari dalam.

Seseorang bisa terlihat rajin beribadah, aktif berdakwah, banyak bersedekah, atau memiliki ilmu yang luas. Namun, jika hatinya tidak dijaga, amal-amal tersebut dapat tercampur dengan keinginan dipuji manusia atau rasa bangga terhadap diri sendiri.

Karena itu, menjaga keikhlasan adalah perjuangan yang terus-menerus. Bukan hanya sebelum beramal, tetapi juga ketika beramal dan setelah amal itu selesai dilakukan.

Apa Itu Riya?

Riya adalah menampakkan ibadah atau kebaikan dengan tujuan mendapatkan pujian, penghargaan, pengakuan, atau kedudukan di hadapan manusia.

Riya merupakan lawan dari ikhlas. Jika ikhlas berarti beramal karena Allah, maka riya berarti amal tersebut tercampur oleh keinginan agar dilihat manusia.

Contoh riya dapat terjadi dalam banyak bentuk. Seseorang bersedekah agar disebut dermawan. Seseorang memperindah salatnya karena merasa sedang diperhatikan. Seseorang rajin tampil dalam kegiatan agama agar dianggap saleh. Seseorang menulis nasihat bukan untuk mengingatkan diri dan orang lain, tetapi agar dipuji sebagai orang berilmu.

Riya sangat berbahaya karena menyerang bagian paling inti dari amal, yaitu niat.

Apa Itu Ujub?

Ujub adalah rasa bangga terhadap diri sendiri secara berlebihan. Orang yang ujub merasa kagum kepada amal, ilmu, ibadah, kecerdasan, keturunan, keberhasilan, atau kedudukannya sendiri.

Berbeda dengan riya yang berkaitan dengan keinginan dipuji orang lain, ujub bisa muncul meskipun seseorang sedang sendirian. Ia tidak perlu dilihat manusia untuk merasa tinggi. Cukup dengan memandang dirinya sendiri secara berlebihan, ia sudah terjebak dalam ujub.

Contohnya, seseorang merasa dirinya lebih ikhlas daripada orang lain. Ia bangga karena merasa sudah berhasil menjauhi riya. Ia merasa ilmunya paling benar. Ia merasa amalnya lebih banyak. Ia merasa dakwahnya paling besar pengaruhnya. Ia merasa dirinya lebih dekat kepada Allah dibandingkan orang lain.

Ujub sangat halus karena kadang muncul setelah seseorang berhasil melakukan kebaikan.

Perbedaan Riya dan Ujub

Riya dan ujub sering berkaitan, tetapi keduanya tidak sama.

Riya berhubungan dengan pandangan manusia. Seseorang beramal agar dilihat, dipuji, atau dihormati.

Ujub berhubungan dengan kekaguman terhadap diri sendiri. Seseorang merasa hebat karena amal, ilmu, atau keberhasilannya.

Riya berkata, “Lihatlah aku.”

Ujub berkata, “Aku memang hebat.”

Keduanya sama-sama berbahaya karena membuat hati berpaling dari ketergantungan kepada Allah.

Hubungan Riya dan Ujub

Riya dan ujub dapat saling menguatkan. Seseorang yang awalnya ingin dipuji manusia bisa menjadi bangga terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, seseorang yang ujub bisa terdorong untuk menampakkan amalnya agar orang lain mengakui kehebatannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa riya berkaitan dengan penyekutuan dalam tujuan ibadah kepada selain Allah, sedangkan ujub berkaitan dengan ketergantungan kepada diri sendiri. Orang yang riya belum benar-benar mewujudkan makna “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” sedangkan orang yang ujub belum benar-benar mewujudkan makna “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Makna ini sangat dalam. Riya membuat seseorang mencari penilaian manusia. Ujub membuat seseorang lupa bahwa semua kemampuan beramal sebenarnya berasal dari pertolongan Allah.

Mengapa Riya Berbahaya?

Riya berbahaya karena dapat menghapus keikhlasan amal. Amal yang seharusnya ditujukan kepada Allah menjadi tercampur oleh tujuan duniawi.

Riya juga membuat hati menjadi tidak tenang. Orang yang riya bergantung pada penilaian manusia. Jika dipuji, ia senang. Jika tidak diperhatikan, ia kecewa. Jika dikritik, ia marah. Padahal, penilaian manusia selalu berubah.

Riya membuat amal kehilangan ruhnya. Ibadah yang seharusnya mendekatkan hati kepada Allah justru berubah menjadi alat pencitraan diri.

Rasulullah saw. pernah mengingatkan para sahabat tentang syirik yang samar, yaitu seseorang memperindah salatnya karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya.

Peringatan ini menunjukkan bahwa riya sangat halus. Ia bisa masuk ke dalam ibadah yang paling mulia sekalipun.

Mengapa Ujub Berbahaya?

Ujub berbahaya karena membuat seseorang merasa aman dari kekurangan. Ia sulit menerima nasihat, sulit melihat kesalahan sendiri, dan mudah merendahkan orang lain.

Orang yang ujub lupa bahwa kemampuan beramal adalah taufik dari Allah. Jika Allah tidak memberi pertolongan, manusia tidak akan mampu beribadah, belajar, berdakwah, bersabar, atau melakukan kebaikan.

Ujub juga dapat menghalangi seseorang dari taubat. Bagaimana seseorang akan bertaubat jika ia merasa dirinya sudah baik?

Karena itu, ujub sering lebih sulit disadari daripada riya. Riya kadang dapat dikenali dari keinginan dipuji. Namun, ujub bisa bersembunyi dalam perasaan “saya sudah lebih baik”.

Contoh Riya dalam Kehidupan Sehari-hari

Riya tidak hanya terjadi dalam ibadah formal. Ia dapat muncul dalam banyak aktivitas, termasuk aktivitas sosial dan digital.

Beberapa contoh riya antara lain:

  • bersedekah hanya agar disebut dermawan;
  • memperbagus bacaan salat karena ada orang yang mendengar;
  • memposting amal kebaikan semata-mata agar dipuji;
  • menolong orang lain agar dianggap peduli;
  • menampilkan kesalehan agar dihormati;
  • berdakwah agar dianggap berilmu;
  • atau memperlihatkan kesederhanaan agar dipuji rendah hati.

Namun, perlu diingat bahwa tidak semua amal yang terlihat manusia otomatis riya. Ada amal yang memang perlu tampak karena alasan pendidikan, transparansi, syiar, laporan, atau motivasi kebaikan. Yang menentukan adalah niat di dalam hati.

Karena itu, jangan mudah menuduh orang lain riya. Lebih baik gunakan pembahasan ini untuk memeriksa diri sendiri.

Contoh Ujub dalam Kehidupan Sehari-hari

Ujub juga dapat muncul dalam berbagai keadaan.

Misalnya:

  • merasa lebih saleh karena rajin ibadah;
  • merasa lebih pintar karena banyak membaca;
  • merasa lebih benar karena mengikuti kajian tertentu;
  • merasa lebih berjasa karena aktif dalam dakwah;
  • merasa lebih ikhlas daripada orang lain;
  • merasa lebih rendah hati, lalu bangga dengan kerendahan hati itu;
  • atau merasa lebih baik karena mampu menjauhi dosa yang dilakukan orang lain.

Ujub dapat muncul pada siapa saja. Bahkan, seseorang yang sedang berusaha menjauhi riya pun bisa terjebak ujub jika ia merasa bangga karena menganggap dirinya sudah bersih dari riya.

Inilah sebabnya penyakit hati harus terus diawasi.

Tidak Semua Amal yang Tampak Itu Riya

Ada hal penting yang perlu diluruskan. Ketakutan terhadap riya jangan sampai membuat seseorang meninggalkan amal saleh.

Kadang, seseorang enggan salat di masjid karena takut riya. Enggan bersedekah karena takut dilihat orang. Enggan berbagi ilmu karena takut dipuji. Padahal, jika niatnya dijaga, amal-amal tersebut tetap perlu dilakukan.

Riya harus dilawan dengan memperbaiki niat, bukan dengan meninggalkan amal baik.

Jika sebuah amal perlu dilakukan secara terbuka karena ada manfaatnya, maka lakukanlah sambil terus meminta pertolongan Allah agar hati tetap ikhlas.

Misalnya, penggalangan dana perlu diumumkan agar transparan. Kajian perlu disampaikan secara terbuka agar ilmu tersebar. Kegiatan sosial perlu didokumentasikan untuk laporan. Hal-hal seperti ini tidak otomatis riya selama niat dan adabnya dijaga.

Cara Menjaga Diri dari Riya

Menghindari riya membutuhkan latihan hati. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

1. Memperbaiki niat sebelum beramal

Sebelum melakukan amal, tanyakan kepada diri sendiri: untuk siapa saya melakukan ini? Apakah saya mencari keridaan Allah atau mencari pujian manusia?

2. Menyembunyikan sebagian amal

Sebagian amal sebaiknya disembunyikan agar hati terbiasa tidak bergantung pada pujian. Misalnya sedekah rahasia, doa di malam hari, atau kebaikan kecil yang tidak diketahui orang.

3. Tidak terlalu mengejar pujian

Pujian manusia dapat melemahkan hati jika terlalu dikejar. Jika mendapat pujian, kembalikan semuanya kepada Allah dan sadari bahwa manusia hanya melihat bagian luar.

4. Mengingat bahwa manusia tidak memberi pahala

Yang memberi pahala adalah Allah. Jika seseorang beramal hanya untuk manusia, maka ia kehilangan tujuan yang lebih besar.

5. Berdoa agar diberi keikhlasan

Keikhlasan adalah karunia Allah. Karena itu, mintalah kepada Allah agar hati dijaga dari riya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Cara Menjaga Diri dari Ujub

Ujub dilawan dengan mengingat kelemahan diri dan besarnya pertolongan Allah.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

1. Menyadari bahwa semua kebaikan berasal dari Allah

Jika kita mampu salat, bersedekah, belajar, berdakwah, atau bersabar, semua itu terjadi karena Allah memberi taufik. Tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu.

2. Mengingat dosa dan kekurangan diri

Setiap manusia memiliki kekurangan. Mengingat kekurangan diri dapat membantu hati tetap rendah.

Namun, ini bukan berarti putus asa. Tujuannya adalah menumbuhkan kerendahan hati, bukan membenci diri sendiri.

3. Tidak meremehkan orang lain

Orang yang hari ini tampak biasa saja bisa jadi memiliki amal rahasia yang lebih dicintai Allah. Orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja kelak bertaubat dan menjadi lebih baik.

Karena itu, jangan merasa lebih tinggi dari orang lain.

4. Menerima nasihat

Orang yang bebas dari ujub lebih mudah menerima nasihat. Ia sadar bahwa dirinya masih bisa salah dan masih perlu dibimbing.

5. Mengingat akhir kehidupan

Tidak ada manusia yang tahu bagaimana akhir hidupnya. Kesadaran ini membuat seseorang tidak merasa aman dari ujian dan terus memohon keteguhan kepada Allah.

Ikhlas sebagai Jalan Keselamatan

Ikhlas adalah inti amal. Orang yang ikhlas tidak terlalu sibuk dengan penilaian manusia. Ia berusaha melakukan kebaikan karena Allah, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Orang yang ikhlas tidak berarti tidak pernah terganggu oleh pujian atau celaan. Ia tetap manusia. Namun, ia terus berjuang mengembalikan hatinya kepada Allah.

Ikhlas bukan sesuatu yang selesai sekali untuk selamanya. Ikhlas perlu dijaga berulang-ulang. Kadang niat sudah benar di awal, tetapi berubah di tengah jalan. Kadang amal sudah selesai, tetapi ujub muncul setelahnya.

Karena itu, orang yang ingin ikhlas perlu terus memeriksa hatinya.

Jangan Sibuk Menuduh Orang Lain Riya

Pembahasan tentang riya dan ujub seharusnya membuat kita lebih banyak mengoreksi diri, bukan sibuk menilai hati orang lain.

Hati manusia adalah wilayah yang tidak mudah diketahui. Kita boleh menilai perbuatan lahiriah yang jelas salah, tetapi tidak boleh sembarangan menuduh niat orang lain.

Jika melihat seseorang beramal secara terbuka, jangan langsung berkata ia riya. Bisa jadi ia punya alasan yang benar. Bisa jadi amalnya justru lebih ikhlas daripada amal kita yang tersembunyi.

Lebih baik takutlah kepada riya dalam diri sendiri daripada sibuk mencari riya dalam diri orang lain.

Kesimpulan

Riya dan ujub adalah dua penyakit hati yang sangat halus. Riya membuat seseorang beramal untuk dilihat manusia, sedangkan ujub membuat seseorang bangga terhadap dirinya sendiri.

Keduanya dapat merusak keikhlasan amal. Riya membuat hati mencari pujian manusia. Ujub membuat hati lupa bahwa semua kebaikan hanya terjadi karena pertolongan Allah.

Cara melawan riya adalah memperbaiki niat, menyembunyikan sebagian amal, tidak mengejar pujian, dan mengingat bahwa pahala hanya dari Allah. Cara melawan ujub adalah menyadari kelemahan diri, mengingat bahwa semua taufik berasal dari Allah, menerima nasihat, dan tidak meremehkan orang lain.

Semoga Allah menjaga hati kita dari riya yang tersembunyi dan ujub yang halus. Semoga setiap amal yang kita lakukan diterima sebagai amal yang ikhlas karena-Nya.

Wallahu a‘lam.