Jumat, 17 Juni 2011

KETELADANAN DARI SALAHUDDIN AL AYYUBI




Seorang pemimpin Islam dalam masa perang salib yang paling termasyur, dialah Salahuddin Al Ayyubi. Dikenal juga sebagai Saladin, sang macan perang salib. Kepemimpinan, keberanian dan kehalusan budi pekertinya telah diakui oleh semua kalangan, baik di kalangan Islam maupun non Islam.

Nama aslinya adalah Yusuf bin Najmuddin. Salahuddin merupakan nama gelarnya, sedangkan al-Ayyubi nisbah keluarganya. Beliau dilahirkan di Tikrit pada tahun 532 H yang bertepatan dengan tahun 1138 M, sebuah wilayah Kurdi di utara Iraq.

Singkat cerita, Salahuddin mencoba merebut kembali Jerusalem yang telah berhasil diduduki pasukan salib semenjak 1099. Usahanya berhasil, dimana akhirnya pada tahun 1187, Baitul Maqdis kembali dikuasai pasukan Muslimin.

Pasukan salib mencoba merebut kembali Jerusalem, dimana pimpinan pasukan salib saat itu di bawah komando Richard the Lion Heart dari Ingris. Namun usaha pasukan salib sia-sia belaka, Salahuddin berhasil mempertahankan Jerusalem. Pada tahun 1192 Salahuddin dan Richard menandatangani perjanjian perdamaian, yaitu perjanjian Ramla, di mana ditetapkan bahwa Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristen. Setahun berikutnya Shalahuddin meninggal dunia di Damaskus setelah Richard kembali ke Inggris.

Setiap bertempur, Salahuddin selalu menghindari terjadinya pertumpahan darah. Kepada anaknya ia pernah berpesan:
"Anakku, jangan tumpahkan darah, sebab darah yang terpercik tak akan tertidur," katanya.

Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa Salahuddin bukanlah seorang yang haus darah dan haus peperangan. Beliau adalah seorang pemimpin yang cinta damai. Sekali pun terjadi perang, beliau selalu mengupayakan untuk tidak menumpahkan darah sebanyak mungkin.

Saladin merebut Jerusalem kembali di musim panas 1187. Tapi menjelang serbuan, ia beri kesempatan penguasa Kristen kota itu untuk menyiapkan diri agar mereka bisa melawan pasukannya dengan terhormat. Dan ketika pasukan Kristen itu akhirnya kalah, yang dilakukan Saladin bukanlah melakukan pembantaian massal atau menjadikan penduduk Nasrani budak-budak. Saladin malah membebaskan sebagian besar mereka, tanpa dendam. Padahal, di tahun 1099, ketika pasukan Perang Salib dari Eropa merebut Jerusalem, 70 ribu orang muslim kota itu dibantai dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

Bahkan, ketika Salahuddin memerintah di tanah Jerusalem, beliau memuliakan pemeluk agama lain. Salahuddin berujar, “Muslim yang bails harus memuliakan tempat ibadah agama lain!”

Kebiasaan Sultan Salahuddin adalah membacakan Kitab Suci Al-Quran kepada pasukannya menjelang pertempuran berlangsung. Beliau juga sangat disiplin menjaga setiap puasanya dan tidak pernah lalai mengerjakan solat lima waktu hingga akhir hayatnya. Minumannya tidak lain dari air kosong saja, memakai pakaian yang terbuat dari bulu yang kasar, dan suatu ketika Beliau juga mengizinkan dirinya untuk dipanggil ke depan pengadilan karena suatu tuduhan fitnah. Beliau mengajar sendiri anak-anaknya mengenai agama Islam. Kezuhudan Shalahuddin tertuang dalam ucapannya yang selalu dikenang:
“Ada orang yang baginya uang dan debu sama saja.

Pemimpin pasukan Islam ini bersikap baik juga pada musuhnya. Salah satunya adalah kepada Raja Richard Berhati Singa (Richard the lion heart) yang datang dari Inggris untuk mengalahkannya. Ketika Richard sakit dalam pertempuran, Saladin mengiriminya buah pir yang segar dingin dalam salju, dan juga seorang dokter. Lalu perdamaian pun ditandatangani, 1 September 1192, dan pesta diadakan dengan pelbagai pertandingan, dan orang Eropa takjub bagaimana agama Islam bisa melahirkan orang sebaik itu.

Salahuddin meninggal pada 4 Maret 1193 di Damaskus. Para pengurus jenazahnya tercengang karena ternyata Sultan Salahuddin tidak mempunyai harta. Ia hanya mempunyai selembar kain kafan lusuh yang selalu dibawanya dalam setiap perjalanan dan uang senilai 66 dirham Nasirian (mata uang Suriah waktu itu) di dalam kotak besinya. Untuk mengurus penguburan panglima besar tersebut, mereka harus berhutang terlebih dahulu.

Berikut kata-kata bijak yang sempat beliau ucapkan, yang sungguh dapat menggugah semangat bagi mereka yang berjuang di jalan Allah

"Aku meminta kekuatan dan Allah memberikanku kesulitan untuk membuatku semakin kuat
Aku meminta kebijaksanaan dan Allah memberikanku permasalahan untuk kuselesaikan
Aku meminta kemakmuran dan Allah memberiku kecakapan dan energi untuk bekerja
Aku meminta keberanian dan Allah memberikanku rintangan untuk kuatasi
Aku meminta cinta dan Allah memberikanku orang-orang yang dalam masalah untuk kutolong
Aku meminta kemurahan hati dan Allah memberikanku kesempatan
Aku tidak selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, tetapi aku selalu mendapatkan apa yang aku butuhkan"

Senin, 06 Juni 2011

Cinta dan Benci karena Allah: Makna, Batasan, dan Cara Mengamalkannya


Sebagai manusia, kita semua pernah merasakan cinta dan benci. Kita mencintai keluarga, sahabat, pasangan, guru, atau orang-orang yang berbuat baik kepada kita. Kita juga mungkin pernah merasakan benci kepada seseorang karena disakiti, dikhianati, direndahkan, atau diperlakukan tidak adil.

Namun, dalam Islam, perasaan cinta dan benci perlu diarahkan dengan benar. Seorang Muslim tidak seharusnya mencintai atau membenci hanya karena hawa nafsu, kepentingan pribadi, fanatisme kelompok, iri hati, atau dendam.

Ada istilah yang sering dibahas dalam agama, yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah. Istilah ini mengajarkan bahwa ukuran cinta dan benci seorang Muslim seharusnya dikembalikan kepada iman, kebenaran, akhlak, dan keridaan Allah.

Namun, konsep ini perlu dipahami secara hati-hati. Jangan sampai “benci karena Allah” dijadikan alasan untuk bersikap kasar, merendahkan orang lain, memutus persaudaraan tanpa alasan yang benar, atau membenarkan kebencian pribadi.

Apa Arti Cinta karena Allah?

Cinta karena Allah berarti mencintai seseorang karena kebaikan, iman, ketakwaan, dan amal saleh yang ada pada dirinya. Cinta ini tidak semata-mata karena keuntungan dunia, hubungan darah, status sosial, kekayaan, popularitas, atau kepentingan pribadi.

Seseorang mencintai saudaranya karena ia melihat adanya kebaikan yang mendekatkan kepada Allah. Misalnya, ia mencintai orang yang menjaga salat, jujur, amanah, rendah hati, suka menolong, rajin belajar agama, berbakti kepada orang tua, atau berusaha memperbaiki diri.

Cinta seperti ini bukan cinta yang membutakan. Justru, cinta karena Allah membuat seseorang ingin melihat saudaranya semakin baik.

Jika saudara kita melakukan kesalahan, kita tidak membiarkannya terus jatuh. Kita menasihatinya dengan cara yang baik. Kita mendoakannya. Kita membantu semampu kita agar ia kembali kepada kebaikan.

Cinta karena Allah tidak berarti membenarkan semua perbuatan orang yang kita cintai.

Cinta yang Salah Arah

Kadang, seseorang mengaku mencintai saudaranya, tetapi membiarkannya dalam kemungkaran. Ia tidak mau menasihati karena takut hubungan menjadi tidak enak. Ia membenarkan kesalahan karena merasa sayang. Bahkan, ada yang ikut melanggar syariat demi menyenangkan orang yang dicintainya.

Cinta seperti ini bukan cinta yang sehat.

Cinta yang benar tidak membuat seseorang rela ikut dalam dosa. Cinta yang benar justru mendorong kita untuk menjaga orang yang kita cintai dari keburukan.

Misalnya, jika seorang teman mulai terbiasa berbohong, kita tidak membantunya menutupi kebohongan. Jika seorang saudara mengambil hak orang lain, kita tidak membelanya secara membabi buta. Jika seseorang yang kita cintai melakukan maksiat, kita tidak ikut membenarkan perbuatannya.

Nasihat yang baik memang tidak selalu mudah. Namun, membiarkan orang yang kita cintai berjalan menuju kerusakan bukanlah bentuk kasih sayang yang sebenarnya.

Apa Arti Benci karena Allah?

Benci karena Allah berarti membenci kekufuran, kemaksiatan, kezaliman, kebohongan, pengkhianatan, kesombongan, dan segala perbuatan yang dibenci Allah.

Namun, perlu dibedakan antara membenci perbuatan buruk dan membenci pribadi seseorang secara membabi buta.

Seorang Muslim membenci kemaksiatan, tetapi tetap berharap pelakunya mendapat hidayah. Ia membenci kezaliman, tetapi tidak boleh berlaku zalim dalam membalas. Ia membenci kebohongan, tetapi tetap menjaga lisannya dari fitnah. Ia membenci kesombongan, tetapi tidak boleh menjadi sombong karena merasa lebih baik.

Dengan demikian, benci karena Allah bukanlah kebencian yang liar. Ia harus tetap berada dalam batas ilmu, adab, keadilan, dan kasih sayang.

Benci karena Allah Bukan Dendam Pribadi

Banyak orang keliru membungkus dendam pribadi dengan bahasa agama. Ia berkata membenci karena Allah, padahal sebenarnya membenci karena iri, dengki, tersinggung, kalah bersaing, atau tidak suka secara personal.

Inilah yang perlu diwaspadai.

Jika kebencian membuat kita senang melihat orang lain jatuh, mungkin itu bukan benci karena Allah. Jika kebencian membuat kita mudah memfitnah, mungkin itu hawa nafsu. Jika kebencian membuat kita tidak adil, mungkin itu tanda hati sedang sakit.

Benci karena Allah seharusnya membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, bukan semakin mudah menyakiti manusia.

Benci karena Allah seharusnya membuat kita menjaga batas, bukan melampaui batas.

Ukuran Cinta dan Benci

Ukuran cinta dan benci dalam Islam bukanlah kepentingan pribadi, tetapi kebenaran.

Kita mencintai kebaikan karena Allah mencintai kebaikan. Kita membenci kemaksiatan karena Allah membenci kemaksiatan. Kita mencintai orang saleh karena kesalehannya. Kita membenci kezaliman karena kezaliman merusak manusia.

Namun, manusia sering memiliki sisi baik dan sisi buruk sekaligus. Seseorang bisa memiliki kebaikan dalam satu sisi, tetapi masih memiliki kekurangan di sisi lain. Karena itu, sikap kita juga perlu adil.

Kita dapat mencintai kebaikan yang ada pada seseorang, tetapi tidak menyetujui kesalahannya. Kita dapat menolak keburukan yang ia lakukan, tetapi tetap mendoakan agar ia mendapat hidayah.

Sikap seperti ini lebih seimbang daripada mencintai secara buta atau membenci secara total.

Cinta karena Allah Menguatkan Ukhuwah

Jika cinta karena Allah dipahami dengan benar, ia akan menguatkan ukhuwah atau persaudaraan. Sesama Muslim akan saling menasihati, saling mendoakan, saling membantu dalam kebaikan, dan saling menjaga dari keburukan.

Cinta karena Allah membuat kita tidak hanya mencari teman yang menyenangkan, tetapi juga teman yang mengingatkan kepada kebenaran.

Cinta seperti ini akan terlihat dalam sikap:

  • mendoakan saudara tanpa diketahui;
  • menasihati dengan lembut;
  • tidak membuka aibnya;
  • membantu ketika ia kesulitan;
  • ikut bahagia ketika ia mendapat nikmat;
  • tidak iri terhadap keberhasilannya;
  • dan tidak meninggalkannya ketika ia sedang berusaha memperbaiki diri.

Persaudaraan yang dibangun karena Allah lebih kuat daripada hubungan yang hanya dibangun karena kepentingan dunia.

Benci karena Allah Harus Tetap Adil

Islam mengajarkan keadilan, bahkan kepada orang yang tidak kita sukai. Kebencian tidak boleh membuat kita berlaku zalim.

Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin berbeda pendapat dengan kita, pernah bersalah kepada kita, atau memiliki perilaku yang tidak kita setujui. Namun, kita tetap tidak boleh menuduh tanpa bukti, menyebarkan fitnah, merampas haknya, atau memperlakukannya secara tidak adil.

Jika seseorang melakukan kesalahan, kesalahannya boleh dikritik. Tetapi kritik harus sesuai fakta, proporsional, dan tidak berubah menjadi penghinaan pribadi.

Benci karena Allah bukan berarti kehilangan akhlak.

Menasihati dengan Kasih Sayang

Salah satu bentuk cinta karena Allah adalah menasihati. Namun, nasihat memiliki adab.

Nasihat yang benar tidak hanya memperhatikan isi, tetapi juga cara penyampaiannya. Kebenaran yang disampaikan dengan kasar bisa membuat orang menjauh. Sebaliknya, kebenaran yang disampaikan dengan hikmah lebih berpeluang diterima.

Beberapa adab menasihati antara lain:

  • niatkan karena Allah, bukan ingin menang;
  • pilih waktu yang tepat;
  • sampaikan dengan bahasa yang baik;
  • jangan mempermalukan di depan umum;
  • bedakan antara menasihati dan menghakimi;
  • doakan orang yang dinasihati;
  • dan akui bahwa diri sendiri juga masih perlu diperbaiki.

Nasihat yang lahir dari cinta akan terasa berbeda dari teguran yang lahir dari kebencian.

Mencintai Kebaikan, Membenci Kemaksiatan

Dalam diri manusia, sering ada campuran antara kebaikan dan kekurangan. Karena itu, sikap yang bijak adalah mencintai kebaikan yang ada padanya dan membenci kemaksiatan atau keburukan yang dilakukannya.

Misalnya, seseorang rajin membantu orang lain, tetapi masih memiliki kebiasaan buruk dalam lisannya. Kita dapat menghargai kebaikannya, tetapi tetap tidak membenarkan kebiasaan buruknya.

Seseorang mungkin pernah salah, tetapi kemudian berusaha bertobat. Dalam kondisi seperti itu, jangan terus-menerus mengikatnya dengan masa lalunya. Jika Allah membuka pintu taubat, maka manusia tidak seharusnya menutup pintu perbaikan.

Sikap seperti ini membantu kita menjadi lebih adil.

Bahaya Cinta yang Berlebihan

Cinta yang tidak dikendalikan dapat membuat seseorang kehilangan objektivitas. Ia membela orang yang dicintainya meskipun salah. Ia menolak kritik karena merasa orang yang dicintainya pasti benar. Ia bahkan bisa memusuhi siapa pun yang menasihati orang tersebut.

Cinta seperti ini dapat muncul dalam banyak bentuk: fanatik kepada tokoh, kelompok, keluarga, pasangan, guru, atau organisasi.

Padahal, dalam Islam, tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Kebenaran harus lebih dicintai daripada tokoh atau kelompok.

Jika orang yang kita cintai salah, kita tetap harus adil. Mencintainya bukan berarti membenarkan semua perbuatannya.

Bahaya Benci yang Berlebihan

Sebaliknya, kebencian yang berlebihan dapat menutup mata dari kebaikan orang lain. Seseorang yang sudah kita benci seolah-olah tidak memiliki sisi baik sama sekali.

Kebencian seperti ini berbahaya karena dapat melahirkan fitnah, permusuhan, hasad, dan kezaliman.

Benci karena Allah tidak boleh membuat kita melampaui batas. Jika kebencian membuat kita senang menyebarkan aib, mudah mencaci, atau berharap orang lain hancur, maka kita perlu memeriksa hati.

Bisa jadi yang kita sebut “benci karena Allah” sebenarnya adalah penyakit hati.

Cara Mengamalkan Cinta dan Benci karena Allah

Agar cinta dan benci tetap berada dalam batas yang benar, beberapa hal berikut perlu diperhatikan:

  1. Jadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai ukuran, bukan perasaan pribadi.
  2. Bedakan antara membenci perbuatan buruk dan membenci pribadi secara mutlak.
  3. Jangan membela orang yang salah hanya karena dekat dengan kita.
  4. Jangan menzalimi orang yang kita benci.
  5. Nasihati saudara dengan adab.
  6. Doakan hidayah untuk orang yang masih salah.
  7. Jangan jadikan agama sebagai alasan untuk melampiaskan dendam.
  8. Periksa niat dan kondisi hati secara rutin.
  9. Cintai kebaikan di mana pun berada.
  10. Benci kemaksiatan tanpa kehilangan kasih sayang dan keadilan.

Dengan cara ini, cinta dan benci dapat menjadi bagian dari iman, bukan bagian dari hawa nafsu.

Makna QS. Al-Mujadalah Ayat 22

Dalam QS. Al-Mujadalah ayat 22, Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak akan berkasih sayang dalam bentuk loyalitas kepada pihak yang menentang Allah dan Rasul-Nya, meskipun mereka memiliki hubungan keluarga dekat.

Ayat ini mengajarkan bahwa iman harus lebih tinggi daripada hubungan duniawi. Namun, ayat ini perlu dipahami dengan ilmu dan bimbingan ulama. Ia tidak boleh digunakan untuk membenarkan sikap kasar kepada keluarga, memutus silaturahmi tanpa alasan syar’i, atau membenci orang lain secara membabi buta.

Islam tetap memerintahkan berbuat baik kepada orang tua, menjaga akhlak, berlaku adil, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik, selama tidak menaati perintah maksiat.

Dengan demikian, loyalitas kepada Allah tidak berarti hilangnya akhlak kepada manusia.

Penutup

Cinta dan benci adalah bagian dari fitrah manusia. Namun, keduanya perlu diarahkan agar tidak dikuasai hawa nafsu.

Cinta karena Allah berarti mencintai kebaikan, iman, dan ketakwaan yang ada pada seseorang. Cinta ini mendorong kita untuk menasihati, mendoakan, dan membantu saudara menuju kebaikan.

Benci karena Allah berarti membenci kemaksiatan, kezaliman, dan hal-hal yang dibenci Allah. Namun, kebencian ini harus tetap dibatasi oleh ilmu, adab, keadilan, dan harapan agar pelaku kesalahan mendapat hidayah.

Jangan sampai cinta membuat kita membela keburukan. Jangan sampai benci membuat kita berlaku zalim.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari cinta yang salah arah dan kebencian yang lahir dari hawa nafsu. Semoga Allah menjadikan cinta dan benci kita berada di jalan yang diridai-Nya.

Wallahu a‘lam.

Sabtu, 04 Juni 2011

Riya dan Ujub: Dua Penyakit Hati yang Menghapus Keikhlasan Amal


Riya dan ujub adalah dua penyakit hati yang perlu diwaspadai oleh setiap Muslim. Keduanya tidak selalu tampak dari luar, tetapi dapat merusak nilai amal dari dalam.

Seseorang bisa terlihat rajin beribadah, aktif berdakwah, banyak bersedekah, atau memiliki ilmu yang luas. Namun, jika hatinya tidak dijaga, amal-amal tersebut dapat tercampur dengan keinginan dipuji manusia atau rasa bangga terhadap diri sendiri.

Karena itu, menjaga keikhlasan adalah perjuangan yang terus-menerus. Bukan hanya sebelum beramal, tetapi juga ketika beramal dan setelah amal itu selesai dilakukan.

Apa Itu Riya?

Riya adalah menampakkan ibadah atau kebaikan dengan tujuan mendapatkan pujian, penghargaan, pengakuan, atau kedudukan di hadapan manusia.

Riya merupakan lawan dari ikhlas. Jika ikhlas berarti beramal karena Allah, maka riya berarti amal tersebut tercampur oleh keinginan agar dilihat manusia.

Contoh riya dapat terjadi dalam banyak bentuk. Seseorang bersedekah agar disebut dermawan. Seseorang memperindah salatnya karena merasa sedang diperhatikan. Seseorang rajin tampil dalam kegiatan agama agar dianggap saleh. Seseorang menulis nasihat bukan untuk mengingatkan diri dan orang lain, tetapi agar dipuji sebagai orang berilmu.

Riya sangat berbahaya karena menyerang bagian paling inti dari amal, yaitu niat.

Apa Itu Ujub?

Ujub adalah rasa bangga terhadap diri sendiri secara berlebihan. Orang yang ujub merasa kagum kepada amal, ilmu, ibadah, kecerdasan, keturunan, keberhasilan, atau kedudukannya sendiri.

Berbeda dengan riya yang berkaitan dengan keinginan dipuji orang lain, ujub bisa muncul meskipun seseorang sedang sendirian. Ia tidak perlu dilihat manusia untuk merasa tinggi. Cukup dengan memandang dirinya sendiri secara berlebihan, ia sudah terjebak dalam ujub.

Contohnya, seseorang merasa dirinya lebih ikhlas daripada orang lain. Ia bangga karena merasa sudah berhasil menjauhi riya. Ia merasa ilmunya paling benar. Ia merasa amalnya lebih banyak. Ia merasa dakwahnya paling besar pengaruhnya. Ia merasa dirinya lebih dekat kepada Allah dibandingkan orang lain.

Ujub sangat halus karena kadang muncul setelah seseorang berhasil melakukan kebaikan.

Perbedaan Riya dan Ujub

Riya dan ujub sering berkaitan, tetapi keduanya tidak sama.

Riya berhubungan dengan pandangan manusia. Seseorang beramal agar dilihat, dipuji, atau dihormati.

Ujub berhubungan dengan kekaguman terhadap diri sendiri. Seseorang merasa hebat karena amal, ilmu, atau keberhasilannya.

Riya berkata, “Lihatlah aku.”

Ujub berkata, “Aku memang hebat.”

Keduanya sama-sama berbahaya karena membuat hati berpaling dari ketergantungan kepada Allah.

Hubungan Riya dan Ujub

Riya dan ujub dapat saling menguatkan. Seseorang yang awalnya ingin dipuji manusia bisa menjadi bangga terhadap dirinya sendiri. Sebaliknya, seseorang yang ujub bisa terdorong untuk menampakkan amalnya agar orang lain mengakui kehebatannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa riya berkaitan dengan penyekutuan dalam tujuan ibadah kepada selain Allah, sedangkan ujub berkaitan dengan ketergantungan kepada diri sendiri. Orang yang riya belum benar-benar mewujudkan makna “Hanya kepada-Mu kami beribadah,” sedangkan orang yang ujub belum benar-benar mewujudkan makna “Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Makna ini sangat dalam. Riya membuat seseorang mencari penilaian manusia. Ujub membuat seseorang lupa bahwa semua kemampuan beramal sebenarnya berasal dari pertolongan Allah.

Mengapa Riya Berbahaya?

Riya berbahaya karena dapat menghapus keikhlasan amal. Amal yang seharusnya ditujukan kepada Allah menjadi tercampur oleh tujuan duniawi.

Riya juga membuat hati menjadi tidak tenang. Orang yang riya bergantung pada penilaian manusia. Jika dipuji, ia senang. Jika tidak diperhatikan, ia kecewa. Jika dikritik, ia marah. Padahal, penilaian manusia selalu berubah.

Riya membuat amal kehilangan ruhnya. Ibadah yang seharusnya mendekatkan hati kepada Allah justru berubah menjadi alat pencitraan diri.

Rasulullah saw. pernah mengingatkan para sahabat tentang syirik yang samar, yaitu seseorang memperindah salatnya karena mengetahui ada orang lain yang melihatnya.

Peringatan ini menunjukkan bahwa riya sangat halus. Ia bisa masuk ke dalam ibadah yang paling mulia sekalipun.

Mengapa Ujub Berbahaya?

Ujub berbahaya karena membuat seseorang merasa aman dari kekurangan. Ia sulit menerima nasihat, sulit melihat kesalahan sendiri, dan mudah merendahkan orang lain.

Orang yang ujub lupa bahwa kemampuan beramal adalah taufik dari Allah. Jika Allah tidak memberi pertolongan, manusia tidak akan mampu beribadah, belajar, berdakwah, bersabar, atau melakukan kebaikan.

Ujub juga dapat menghalangi seseorang dari taubat. Bagaimana seseorang akan bertaubat jika ia merasa dirinya sudah baik?

Karena itu, ujub sering lebih sulit disadari daripada riya. Riya kadang dapat dikenali dari keinginan dipuji. Namun, ujub bisa bersembunyi dalam perasaan “saya sudah lebih baik”.

Contoh Riya dalam Kehidupan Sehari-hari

Riya tidak hanya terjadi dalam ibadah formal. Ia dapat muncul dalam banyak aktivitas, termasuk aktivitas sosial dan digital.

Beberapa contoh riya antara lain:

  • bersedekah hanya agar disebut dermawan;
  • memperbagus bacaan salat karena ada orang yang mendengar;
  • memposting amal kebaikan semata-mata agar dipuji;
  • menolong orang lain agar dianggap peduli;
  • menampilkan kesalehan agar dihormati;
  • berdakwah agar dianggap berilmu;
  • atau memperlihatkan kesederhanaan agar dipuji rendah hati.

Namun, perlu diingat bahwa tidak semua amal yang terlihat manusia otomatis riya. Ada amal yang memang perlu tampak karena alasan pendidikan, transparansi, syiar, laporan, atau motivasi kebaikan. Yang menentukan adalah niat di dalam hati.

Karena itu, jangan mudah menuduh orang lain riya. Lebih baik gunakan pembahasan ini untuk memeriksa diri sendiri.

Contoh Ujub dalam Kehidupan Sehari-hari

Ujub juga dapat muncul dalam berbagai keadaan.

Misalnya:

  • merasa lebih saleh karena rajin ibadah;
  • merasa lebih pintar karena banyak membaca;
  • merasa lebih benar karena mengikuti kajian tertentu;
  • merasa lebih berjasa karena aktif dalam dakwah;
  • merasa lebih ikhlas daripada orang lain;
  • merasa lebih rendah hati, lalu bangga dengan kerendahan hati itu;
  • atau merasa lebih baik karena mampu menjauhi dosa yang dilakukan orang lain.

Ujub dapat muncul pada siapa saja. Bahkan, seseorang yang sedang berusaha menjauhi riya pun bisa terjebak ujub jika ia merasa bangga karena menganggap dirinya sudah bersih dari riya.

Inilah sebabnya penyakit hati harus terus diawasi.

Tidak Semua Amal yang Tampak Itu Riya

Ada hal penting yang perlu diluruskan. Ketakutan terhadap riya jangan sampai membuat seseorang meninggalkan amal saleh.

Kadang, seseorang enggan salat di masjid karena takut riya. Enggan bersedekah karena takut dilihat orang. Enggan berbagi ilmu karena takut dipuji. Padahal, jika niatnya dijaga, amal-amal tersebut tetap perlu dilakukan.

Riya harus dilawan dengan memperbaiki niat, bukan dengan meninggalkan amal baik.

Jika sebuah amal perlu dilakukan secara terbuka karena ada manfaatnya, maka lakukanlah sambil terus meminta pertolongan Allah agar hati tetap ikhlas.

Misalnya, penggalangan dana perlu diumumkan agar transparan. Kajian perlu disampaikan secara terbuka agar ilmu tersebar. Kegiatan sosial perlu didokumentasikan untuk laporan. Hal-hal seperti ini tidak otomatis riya selama niat dan adabnya dijaga.

Cara Menjaga Diri dari Riya

Menghindari riya membutuhkan latihan hati. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

1. Memperbaiki niat sebelum beramal

Sebelum melakukan amal, tanyakan kepada diri sendiri: untuk siapa saya melakukan ini? Apakah saya mencari keridaan Allah atau mencari pujian manusia?

2. Menyembunyikan sebagian amal

Sebagian amal sebaiknya disembunyikan agar hati terbiasa tidak bergantung pada pujian. Misalnya sedekah rahasia, doa di malam hari, atau kebaikan kecil yang tidak diketahui orang.

3. Tidak terlalu mengejar pujian

Pujian manusia dapat melemahkan hati jika terlalu dikejar. Jika mendapat pujian, kembalikan semuanya kepada Allah dan sadari bahwa manusia hanya melihat bagian luar.

4. Mengingat bahwa manusia tidak memberi pahala

Yang memberi pahala adalah Allah. Jika seseorang beramal hanya untuk manusia, maka ia kehilangan tujuan yang lebih besar.

5. Berdoa agar diberi keikhlasan

Keikhlasan adalah karunia Allah. Karena itu, mintalah kepada Allah agar hati dijaga dari riya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.

Cara Menjaga Diri dari Ujub

Ujub dilawan dengan mengingat kelemahan diri dan besarnya pertolongan Allah.

Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:

1. Menyadari bahwa semua kebaikan berasal dari Allah

Jika kita mampu salat, bersedekah, belajar, berdakwah, atau bersabar, semua itu terjadi karena Allah memberi taufik. Tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu.

2. Mengingat dosa dan kekurangan diri

Setiap manusia memiliki kekurangan. Mengingat kekurangan diri dapat membantu hati tetap rendah.

Namun, ini bukan berarti putus asa. Tujuannya adalah menumbuhkan kerendahan hati, bukan membenci diri sendiri.

3. Tidak meremehkan orang lain

Orang yang hari ini tampak biasa saja bisa jadi memiliki amal rahasia yang lebih dicintai Allah. Orang yang hari ini terlihat jauh dari kebaikan bisa saja kelak bertaubat dan menjadi lebih baik.

Karena itu, jangan merasa lebih tinggi dari orang lain.

4. Menerima nasihat

Orang yang bebas dari ujub lebih mudah menerima nasihat. Ia sadar bahwa dirinya masih bisa salah dan masih perlu dibimbing.

5. Mengingat akhir kehidupan

Tidak ada manusia yang tahu bagaimana akhir hidupnya. Kesadaran ini membuat seseorang tidak merasa aman dari ujian dan terus memohon keteguhan kepada Allah.

Ikhlas sebagai Jalan Keselamatan

Ikhlas adalah inti amal. Orang yang ikhlas tidak terlalu sibuk dengan penilaian manusia. Ia berusaha melakukan kebaikan karena Allah, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Orang yang ikhlas tidak berarti tidak pernah terganggu oleh pujian atau celaan. Ia tetap manusia. Namun, ia terus berjuang mengembalikan hatinya kepada Allah.

Ikhlas bukan sesuatu yang selesai sekali untuk selamanya. Ikhlas perlu dijaga berulang-ulang. Kadang niat sudah benar di awal, tetapi berubah di tengah jalan. Kadang amal sudah selesai, tetapi ujub muncul setelahnya.

Karena itu, orang yang ingin ikhlas perlu terus memeriksa hatinya.

Jangan Sibuk Menuduh Orang Lain Riya

Pembahasan tentang riya dan ujub seharusnya membuat kita lebih banyak mengoreksi diri, bukan sibuk menilai hati orang lain.

Hati manusia adalah wilayah yang tidak mudah diketahui. Kita boleh menilai perbuatan lahiriah yang jelas salah, tetapi tidak boleh sembarangan menuduh niat orang lain.

Jika melihat seseorang beramal secara terbuka, jangan langsung berkata ia riya. Bisa jadi ia punya alasan yang benar. Bisa jadi amalnya justru lebih ikhlas daripada amal kita yang tersembunyi.

Lebih baik takutlah kepada riya dalam diri sendiri daripada sibuk mencari riya dalam diri orang lain.

Kesimpulan

Riya dan ujub adalah dua penyakit hati yang sangat halus. Riya membuat seseorang beramal untuk dilihat manusia, sedangkan ujub membuat seseorang bangga terhadap dirinya sendiri.

Keduanya dapat merusak keikhlasan amal. Riya membuat hati mencari pujian manusia. Ujub membuat hati lupa bahwa semua kebaikan hanya terjadi karena pertolongan Allah.

Cara melawan riya adalah memperbaiki niat, menyembunyikan sebagian amal, tidak mengejar pujian, dan mengingat bahwa pahala hanya dari Allah. Cara melawan ujub adalah menyadari kelemahan diri, mengingat bahwa semua taufik berasal dari Allah, menerima nasihat, dan tidak meremehkan orang lain.

Semoga Allah menjaga hati kita dari riya yang tersembunyi dan ujub yang halus. Semoga setiap amal yang kita lakukan diterima sebagai amal yang ikhlas karena-Nya.

Wallahu a‘lam.