Dalam kehidupan modern, martabat atau dignity seseorang sering kali diukur dari pencapaian materi. Banyak orang dianggap sukses karena memiliki rumah besar, kendaraan mewah, pakaian mahal, jabatan tinggi, atau gaya hidup yang tampak mapan. Semakin besar kekayaan yang terlihat, semakin tinggi pula status sosial yang diberikan masyarakat kepadanya.
Cara pandang seperti ini sangat mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial, iklan, budaya populer, dan lingkungan sosial sering membentuk anggapan bahwa manusia yang paling berhasil adalah manusia yang paling banyak memiliki. Akibatnya, banyak orang merasa perlu menunjukkan kekayaan agar dianggap sukses, dihormati, dan memiliki martabat.
Padahal, dalam Islam, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh harta, jabatan, penampilan, atau status sosial. Islam memandang dignity atau kehormatan manusia berdasarkan iman, takwa, akhlak, amal saleh, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Apa Itu Dignity?
Dignity dapat dipahami sebagai martabat, kehormatan, atau nilai kemuliaan seseorang. Dalam kehidupan sosial, dignity sering dikaitkan dengan bagaimana seseorang dipandang dan dihormati oleh orang lain.
Namun, masalah muncul ketika martabat manusia hanya diukur dari sesuatu yang bersifat lahiriah. Jika kemuliaan manusia hanya dinilai dari materi, maka orang miskin akan dianggap rendah, orang sederhana dianggap gagal, dan orang kaya dianggap lebih mulia hanya karena kepemilikannya.
Islam tidak menolak harta. Islam juga tidak melarang seseorang menjadi sukses, kaya, atau memiliki kehidupan yang baik. Namun, Islam mengingatkan bahwa harta hanyalah amanah dan ujian. Harta dapat menjadi jalan kebaikan jika digunakan dengan benar, tetapi juga dapat menjadi sumber kelalaian jika membuat manusia sombong dan jauh dari Allah SWT.
Materialisme dan Ukuran Kesuksesan
Materialisme adalah cara pandang yang terlalu menekankan nilai materi sebagai ukuran utama kehidupan. Dalam pola pikir materialistik, manusia sering dinilai dari apa yang dimiliki, bukan dari siapa dirinya dan bagaimana akhlaknya.
Orang yang memiliki banyak harta dianggap lebih berhasil. Orang yang memiliki rumah besar dianggap lebih terhormat. Orang yang memakai barang mahal dianggap lebih tinggi statusnya. Sementara itu, orang yang hidup sederhana sering kali dipandang biasa saja, meskipun mungkin ia memiliki akhlak yang baik, ilmu yang bermanfaat, dan amal yang besar.
Pola pikir seperti ini dapat membuat manusia terjebak dalam perlombaan tanpa akhir. Ia terus ingin terlihat lebih sukses, lebih kaya, lebih dihormati, dan lebih tinggi dibandingkan orang lain. Akibatnya, hidup menjadi penuh tekanan, iri hati, gengsi, dan ketakutan kehilangan status sosial.
Pandangan Islam tentang Harta Dunia
Al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia memang memiliki kecenderungan mencintai hal-hal duniawi. Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 14 bahwa dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan kepada wanita, anak-anak, harta yang banyak, kendaraan pilihan, hewan ternak, dan ladang. Semua itu adalah kesenangan hidup dunia, sedangkan di sisi Allah terdapat tempat kembali yang baik.
Ayat ini menunjukkan bahwa mencintai dunia adalah kecenderungan manusiawi. Namun, Islam mengajarkan agar kecintaan kepada dunia tidak mengalahkan tujuan akhirat. Harta, keluarga, dan kenikmatan dunia boleh dimiliki, tetapi tidak boleh menjadi tujuan tertinggi dalam hidup.
Pada ayat berikutnya, Surah Ali Imran ayat 15, Allah menjelaskan bahwa bagi orang-orang bertakwa tersedia balasan yang lebih baik di sisi-Nya, yaitu surga, keridaan Allah, dan kehidupan yang kekal. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada banyaknya kepemilikan, tetapi pada ketakwaan dan kedekatan kepada Allah.
Kesederhanaan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW adalah manusia paling mulia, tetapi kehidupan beliau sangat sederhana. Beliau memiliki kedudukan sangat tinggi sebagai Nabi dan Rasul, pemimpin umat, serta teladan bagi seluruh kaum muslimin. Namun, beliau tidak menjadikan kemuliaan itu sebagai alasan untuk hidup bermewah-mewahan.
Dalam berbagai riwayat, kehidupan Rasulullah SAW digambarkan sangat sederhana. Beliau pernah tidur di atas tikar hingga membekas pada tubuhnya. Ketika Umar bin Khattab RA melihat keadaan tersebut, ia merasa sedih karena membandingkan kehidupan Rasulullah dengan para penguasa besar dunia saat itu. Rasulullah SAW kemudian mengingatkan bahwa mereka mendapatkan dunia, sedangkan kaum beriman mengharapkan akhirat.
Kesederhanaan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa martabat tidak bergantung pada kemewahan. Beliau dihormati bukan karena istana, harta, atau pakaian mewah, tetapi karena kejujuran, amanah, kasih sayang, keberanian, kebijaksanaan, dan ketaatan beliau kepada Allah SWT.
Para Sahabat dan Kemuliaan Akhlak
Para sahabat Nabi juga memberikan teladan bahwa kemuliaan tidak harus ditunjukkan dengan kemewahan. Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali adalah tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam. Mereka memiliki kedudukan penting, tetapi tidak menjadikan kekuasaan sebagai jalan untuk meninggikan diri.
Sebagian sahabat memang memiliki kekayaan, seperti Utsman bin Affan RA dan Abdurrahman bin Auf RA. Namun, kekayaan mereka tidak menjadikan mereka materialistis. Mereka menggunakan harta untuk membantu perjuangan Islam, menolong kaum muslimin, dan mendukung kepentingan umat.
Ini menjadi pelajaran penting bahwa Islam tidak mencela orang kaya. Yang dicela adalah ketika kekayaan membuat manusia sombong, lalai, kikir, atau merasa lebih mulia dari orang lain. Sebaliknya, harta yang digunakan di jalan Allah dapat menjadi sumber pahala dan kemuliaan.
Dignity dalam Islam: Takwa sebagai Ukuran Kemuliaan
Dalam Islam, ukuran kemuliaan manusia dijelaskan dengan sangat jelas dalam Surah Al-Hujurat ayat 13. Allah SWT berfirman bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal, dan yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh suku, ras, jabatan, keturunan, kekayaan, warna kulit, popularitas, atau status sosial. Ukuran utama kemuliaan adalah takwa.
Takwa berarti kesadaran untuk menaati Allah, menjauhi larangan-Nya, menjaga akhlak, dan hidup dengan rasa tanggung jawab di hadapan-Nya. Orang yang bertakwa bisa saja kaya atau miskin, terkenal atau tidak dikenal, pejabat atau rakyat biasa. Yang membedakan adalah kualitas iman dan amalnya.
Dunia sebagai Ujian
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Dalam Surah Al-Hadid ayat 20, Allah menjelaskan bahwa kehidupan dunia berisi permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga, serta berlomba dalam harta dan anak. Semua itu akan berlalu, sedangkan kehidupan akhirat adalah tempat balasan yang sebenarnya.
Ayat ini bukan berarti manusia harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk pasif, malas, atau menolak kemajuan. Islam justru mendorong umatnya bekerja, berusaha, berdagang, belajar, membangun, dan memberi manfaat.
Namun, dunia harus ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan akhir. Harta adalah alat untuk beribadah, menolong sesama, menjaga keluarga, dan membangun kebaikan. Jika harta menjadi tujuan utama, maka manusia mudah kehilangan arah.
Bahaya Mengejar Dignity Palsu
Dignity palsu muncul ketika seseorang merasa dirinya bernilai hanya karena kepemilikan dunia. Ia merasa harus selalu terlihat kaya, harus selalu dipuji, harus selalu dianggap sukses, dan takut dipandang rendah oleh orang lain.
Pola hidup seperti ini dapat membuat hati lelah. Seseorang menjadi sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun jiwa. Ia sibuk memperindah penampilan, tetapi lupa memperbaiki akhlak. Ia sibuk mengejar pengakuan manusia, tetapi lupa mencari keridaan Allah.
Dignity palsu juga dapat mendorong seseorang melakukan hal yang tidak sehat, seperti berutang demi gengsi, pamer berlebihan, meremehkan orang lain, atau mengukur pertemanan berdasarkan status sosial.
Dalam Islam, kehormatan sejati tidak membutuhkan pamer. Orang yang benar-benar mulia tidak harus selalu menunjukkan dirinya mulia. Akhlaknya, kejujurannya, manfaatnya, dan ketakwaannya akan menjadi saksi.
Harta sebagai Amanah
Islam memandang harta sebagai amanah. Artinya, harta bukan milik manusia secara mutlak. Harta adalah titipan Allah yang harus digunakan dengan cara yang benar.
Orang yang diberi kelapangan rezeki memiliki tanggung jawab lebih besar. Ia perlu menunaikan zakat, bersedekah, membantu yang membutuhkan, menafkahi keluarga dengan baik, dan menjauhi cara memperoleh harta yang haram.
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 261 tentang perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki.
Ayat ini menunjukkan bahwa harta dapat menjadi jalan kemuliaan jika digunakan untuk kebaikan. Dengan demikian, persoalannya bukan pada banyak atau sedikitnya harta, tetapi bagaimana harta itu diperoleh dan digunakan.
Kesuksesan yang Seimbang
Islam tidak menolak kesuksesan dunia. Seorang muslim boleh menjadi pengusaha, profesional, pejabat, ilmuwan, seniman, atau pekerja yang berhasil. Islam juga tidak melarang seseorang memiliki rumah yang baik, kendaraan yang nyaman, atau kehidupan yang layak.
Namun, kesuksesan dunia perlu dijaga agar tidak merusak hati. Seorang muslim harus bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kesuksesan ini membuat saya semakin bersyukur atau semakin sombong? Apakah harta ini membuat saya semakin dekat kepada Allah atau semakin lalai? Apakah saya menggunakan nikmat ini untuk kebaikan atau hanya untuk gengsi?
Kesuksesan yang seimbang adalah kesuksesan yang tetap menjaga iman, akhlak, keluarga, tanggung jawab sosial, dan hubungan dengan Allah. Kesuksesan seperti ini tidak hanya memberi kenyamanan dunia, tetapi juga menjadi bekal akhirat.
Dignity Sejati dalam Kehidupan Sehari-hari
Dignity dalam Islam dapat dibangun melalui hal-hal yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya berkata jujur, menepati janji, menjaga amanah, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, bekerja dengan halal, tidak meremehkan orang lain, membantu yang lemah, dan menjaga ibadah.
Seseorang yang hidup sederhana tetapi jujur memiliki martabat tinggi. Seseorang yang tidak terkenal tetapi bermanfaat bagi orang lain memiliki kemuliaan. Seseorang yang tidak kaya tetapi menjaga kehormatan diri memiliki dignity yang kuat.
Sebaliknya, orang yang kaya tetapi sombong, berkuasa tetapi zalim, atau terkenal tetapi merusak nilai-nilai kebaikan tidak otomatis memiliki kemuliaan di sisi Allah.
Penutup
Dignity dalam pandangan materialisme sering dikaitkan dengan harta, penampilan, jabatan, popularitas, dan status sosial. Namun, Islam memberikan ukuran yang lebih dalam dan lebih adil. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh apa yang ia miliki, tetapi oleh iman, takwa, akhlak, amal saleh, dan manfaatnya bagi sesama.
Harta dan kesuksesan dunia bukan sesuatu yang tercela jika diperoleh dengan cara halal dan digunakan untuk kebaikan. Namun, harta tidak boleh menjadi ukuran utama martabat manusia. Sebab, segala yang bersifat duniawi akan berakhir, sementara amal dan ketakwaan akan dibawa menghadap Allah SWT.
Maka, marilah kita membangun dignity yang sejati. Bukan dignity yang bergantung pada pujian manusia, tetapi dignity yang tumbuh dari ketakwaan, kejujuran, kesederhanaan, dan kebaikan yang bermanfaat bagi kehidupan.


