A little fiction story about one of the Apple Inc.'s phenomenal product that was launched at first time by Steve Jobs at January 2008 : Mcbook Air!!!
Saling Berbagi Pengetahuan, Pemikiran dan Cerita Terkait Agama, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Kesehatan, Lingkungan, Energi, Bisnis, Manajemen, Sosial, Budaya, Sejarah, Dll
Minggu, 27 Oktober 2013
Rabu, 05 Desember 2012
Masyarakat Bijak, Masyarakat Hemat Energi: Dari Kesadaran Pribadi hingga Keteladanan Publik
Penghematan energi bukan hanya urusan pemerintah, perusahaan energi, atau lembaga lingkungan. Penghematan energi adalah tanggung jawab bersama. Setiap rumah, kantor, sekolah, kendaraan, dan aktivitas harian masyarakat ikut menentukan seberapa besar energi yang dikonsumsi suatu negara.
Berbagai program penghematan energi dan pelestarian lingkungan telah banyak disosialisasikan. Pemerintah membuat regulasi, lembaga pendidikan melakukan kampanye, perusahaan mulai memperhatikan efisiensi, dan teknologi ramah lingkungan terus dikembangkan.
Namun, program sebesar apa pun tidak akan mencapai hasil maksimal jika kesadaran masyarakat masih rendah. Teknologi hemat energi akan sulit berdampak luas jika perilaku pengguna tetap boros. Regulasi juga tidak akan efektif jika tidak diiringi keteladanan dan kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, masyarakat yang bijak adalah masyarakat yang sadar bahwa energi tidak boleh digunakan secara berlebihan. Hemat energi bukan sekadar mengurangi tagihan listrik atau biaya bahan bakar, tetapi juga bagian dari tanggung jawab sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Mengapa Hemat Energi Itu Penting?
Energi adalah kebutuhan dasar kehidupan modern. Listrik, bahan bakar, gas, dan berbagai bentuk energi lain digunakan untuk bekerja, belajar, memasak, bepergian, berkomunikasi, dan menjalankan industri.
Namun, konsumsi energi yang terlalu tinggi memiliki banyak dampak.
Pertama, konsumsi energi yang boros dapat meningkatkan beban ekonomi rumah tangga. Semakin banyak energi yang digunakan tanpa kebutuhan jelas, semakin besar biaya yang harus dikeluarkan.
Kedua, pemborosan energi dapat meningkatkan beban negara, terutama jika energi masih disubsidi. Subsidi yang tidak tepat sasaran dapat mengurangi ruang anggaran untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, transportasi publik, dan infrastruktur.
Ketiga, konsumsi energi yang tinggi dapat memperbesar tekanan terhadap lingkungan. Jika energi masih banyak berasal dari bahan bakar fosil, maka emisi dan polusi juga ikut meningkat.
Keempat, ketergantungan energi yang tinggi dapat memengaruhi ketahanan energi nasional. Negara yang konsumsi energinya terus naik perlu memastikan pasokan tetap aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Dengan demikian, hemat energi bukan hanya perilaku kecil. Ia berkaitan dengan masa depan ekonomi, lingkungan, dan ketahanan bangsa.
Tantangan Penggunaan Energi Alternatif
Banyak orang setuju bahwa energi alternatif dan teknologi ramah lingkungan perlu dikembangkan. Namun, dalam praktiknya, masyarakat tidak selalu mudah beralih.
Ada beberapa hambatan yang sering muncul.
Pertama, harga teknologi atau bahan bakar alternatif masih dianggap mahal oleh sebagian masyarakat. Misalnya, kendaraan listrik, panel surya, atau peralatan hemat energi tertentu membutuhkan biaya awal yang tidak kecil.
Kedua, infrastruktur belum merata. Masyarakat akan sulit beralih ke energi alternatif jika fasilitas pendukungnya masih terbatas.
Ketiga, kualitas layanan publik belum selalu memadai. Jika transportasi umum belum nyaman, aman, dan tepat waktu, masyarakat akan tetap memilih kendaraan pribadi.
Keempat, informasi yang diterima masyarakat belum cukup jelas. Banyak orang ingin hemat energi, tetapi belum tahu langkah yang paling realistis untuk dilakukan sesuai kondisi mereka.
Kelima, kebiasaan lama sulit diubah. Pemborosan energi sering terjadi bukan karena niat buruk, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan harian.
Karena itu, transisi energi tidak cukup hanya dengan menyediakan teknologi. Perubahan perilaku masyarakat juga harus dibangun.
Peran Pemerintah dalam Membangun Budaya Hemat Energi
Kesadaran masyarakat tidak dapat tumbuh optimal jika tidak didukung oleh kebijakan dan keteladanan pemerintah. Pemerintah memiliki peran penting sebagai pembuat aturan, penyedia infrastruktur, dan pemberi arah perubahan.
Pemerintah perlu memastikan bahwa masyarakat memiliki pilihan yang masuk akal untuk berhemat energi. Misalnya, masyarakat akan lebih mudah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi jika transportasi umum tersedia, terjangkau, aman, nyaman, dan terintegrasi.
Masyarakat juga akan lebih tertarik menggunakan teknologi hemat energi jika ada insentif, kemudahan akses, edukasi, dan kepastian kualitas.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pemerintah antara lain:
- memperbaiki kualitas transportasi umum;
- memperluas infrastruktur energi alternatif;
- memberi insentif untuk teknologi hemat energi;
- memastikan subsidi energi lebih tepat sasaran;
- mengedukasi masyarakat secara konsisten;
- memperbaiki standar efisiensi energi pada bangunan dan peralatan;
- serta memberi contoh penghematan energi di kantor pemerintahan.
Jika pemerintah serius memberi fasilitas dan contoh, masyarakat akan lebih mudah ikut bergerak.
Kesadaran Personal sebagai Kunci Utama
Walaupun kebijakan pemerintah penting, penghematan energi pada akhirnya sangat bergantung pada perilaku pengguna. Masyarakat adalah subjek utama konsumsi energi.
Setiap hari, ada banyak keputusan kecil yang menentukan boros atau hematnya energi.
Apakah lampu dimatikan saat tidak digunakan? Apakah AC disetel terlalu dingin? Apakah kendaraan pribadi dipakai untuk jarak yang sebenarnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki atau transportasi umum? Apakah peralatan elektronik dibiarkan menyala sepanjang hari? Apakah pembelian kendaraan dan alat rumah tangga mempertimbangkan efisiensi energi?
Keputusan-keputusan kecil seperti ini, jika dilakukan oleh jutaan orang, akan menghasilkan dampak besar.
Budaya hemat energi dimulai dari rumah, lalu meluas ke sekolah, kantor, tempat ibadah, pusat perbelanjaan, industri, dan ruang publik.
Edukasi Hemat Energi Perlu Lebih Praktis
Edukasi hemat energi tidak cukup hanya berupa seminar, slogan, atau poster. Edukasi harus menyentuh kebiasaan nyata masyarakat.
Masyarakat perlu diberi contoh yang sederhana dan mudah dilakukan. Misalnya:
- mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak dipakai;
- menggunakan lampu LED;
- mengatur suhu AC secara wajar;
- membersihkan filter AC secara berkala;
- menggunakan transportasi umum jika memungkinkan;
- berbagi kendaraan untuk rute yang sama;
- berjalan kaki atau bersepeda untuk jarak dekat;
- memilih peralatan rumah tangga yang hemat energi;
- mengurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk perjalanan yang tidak perlu;
- dan merawat kendaraan agar konsumsi bahan bakar lebih efisien.
Edukasi juga perlu disesuaikan dengan kelompok masyarakat. Anak sekolah, pekerja kantoran, ibu rumah tangga, pengusaha, pengemudi, dan pemilik gedung memiliki kebutuhan edukasi yang berbeda.
Semakin praktis edukasinya, semakin mudah masyarakat menerapkan.
Pentingnya Keteladanan Public Figure
Salah satu hal yang sering dilupakan dalam membangun budaya hemat energi adalah keteladanan. Masyarakat tidak hanya belajar dari instruksi, tetapi juga dari contoh.
Tokoh publik memiliki pengaruh besar. Pejabat, pemimpin perusahaan, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, selebritas, influencer, dan figur publik lainnya dapat membantu mempercepat perubahan perilaku.
Bayangkan jika para pejabat dan public figure secara konsisten menunjukkan perilaku hemat energi. Misalnya, tidak menggunakan BBM bersubsidi jika tidak berhak, memilih kendaraan rendah emisi, menggunakan transportasi umum untuk kegiatan tertentu, menghemat listrik di kantor, atau menyampaikan edukasi hemat energi secara rutin.
Keteladanan seperti ini dapat memberi pesan kuat kepada masyarakat bahwa hemat energi bukan hanya kewajiban orang kecil, tetapi tanggung jawab semua lapisan.
Namun, keteladanan harus dilakukan dengan konsisten. Jika hanya menjadi pencitraan sesaat, masyarakat akan sulit percaya.
Transportasi Umum dan Penghematan Energi
Salah satu sumber konsumsi energi yang besar adalah sektor transportasi. Penggunaan kendaraan pribadi yang terus meningkat dapat memperbesar konsumsi BBM, kemacetan, polusi udara, dan biaya ekonomi.
Karena itu, transportasi umum memiliki peran penting dalam penghematan energi.
Jika transportasi umum aman, nyaman, terjangkau, tepat waktu, dan terintegrasi, masyarakat akan lebih tertarik menggunakannya. Namun, jika transportasi umum tidak memadai, masyarakat akan sulit meninggalkan kendaraan pribadi.
Mendorong penggunaan transportasi umum bukan hanya soal meminta masyarakat berubah. Pemerintah dan operator transportasi juga perlu menyediakan layanan yang layak.
Transportasi umum yang baik dapat memberikan banyak manfaat:
- mengurangi konsumsi BBM;
- menekan kemacetan;
- mengurangi polusi udara;
- menghemat biaya perjalanan;
- meningkatkan mobilitas masyarakat;
- dan memperbaiki kualitas hidup kota.
Karena itu, budaya hemat energi perlu berjalan bersama perbaikan transportasi publik.
Subsidi Energi dan Keadilan Sosial
Subsidi energi sering menjadi isu penting. Di satu sisi, subsidi dapat membantu masyarakat agar harga energi tetap terjangkau. Di sisi lain, subsidi yang tidak tepat sasaran dapat dinikmati oleh kelompok yang sebenarnya mampu.
Jika masyarakat mampu masih menggunakan BBM bersubsidi, maka beban negara menjadi lebih besar. Padahal, anggaran tersebut dapat dialihkan untuk kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, transportasi umum, energi terbarukan, atau bantuan bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
Karena itu, hemat energi juga berkaitan dengan keadilan sosial.
Masyarakat yang mampu sebaiknya memiliki kesadaran untuk tidak mengambil hak subsidi yang ditujukan bagi kelompok yang lebih membutuhkan. Ini bukan hanya soal aturan, tetapi juga soal etika.
Peran Industri dan Perusahaan
Selain rumah tangga dan transportasi, sektor industri dan perusahaan juga memiliki peran besar dalam konsumsi energi. Banyak perusahaan membutuhkan listrik, bahan bakar, mesin, pendingin ruangan, transportasi logistik, dan fasilitas operasional lainnya.
Perusahaan dapat berkontribusi melalui efisiensi energi, audit energi, penggunaan teknologi hemat energi, pengelolaan limbah, pemanfaatan energi terbarukan, serta desain bangunan yang lebih efisien.
Efisiensi energi di perusahaan bukan hanya baik untuk lingkungan, tetapi juga dapat mengurangi biaya operasional.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan antara lain:
- melakukan audit energi;
- mengganti lampu dan peralatan dengan yang lebih hemat energi;
- mengoptimalkan penggunaan AC dan pendingin;
- merawat mesin agar lebih efisien;
- mengurangi perjalanan dinas yang tidak perlu;
- menggunakan sistem digital untuk mengurangi pemborosan;
- menerapkan kebijakan kantor hemat energi;
- dan melibatkan karyawan dalam program efisiensi.
Jika perusahaan besar bergerak serius, dampaknya akan sangat signifikan.
Pertemuan antara Kebijakan dan Kesadaran
Budaya hemat energi akan terbentuk jika ada pertemuan antara kebijakan dari atas dan kesadaran dari bawah.
Dari sisi pemerintah, dibutuhkan regulasi, infrastruktur, insentif, pengawasan, dan keteladanan. Dari sisi masyarakat, dibutuhkan kesadaran, kedisiplinan, dan kemauan mengubah kebiasaan.
Jika hanya pemerintah yang bergerak, hasilnya akan lambat. Jika hanya masyarakat yang diminta berubah tanpa fasilitas yang memadai, hasilnya juga tidak maksimal.
Keduanya harus bertemu di tengah.
Pemerintah menyediakan sistem yang mendukung. Masyarakat menggunakan sistem itu dengan bijak. Public figure memberi contoh. Sekolah dan keluarga membangun kebiasaan. Media menyebarkan edukasi. Perusahaan menjalankan efisiensi. Dengan sinergi seperti ini, budaya hemat energi akan lebih mudah terbentuk.
Hemat Energi Dimulai dari Rumah
Gerakan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil. Rumah adalah tempat pertama untuk membangun budaya hemat energi.
Beberapa contoh sederhana yang dapat dilakukan di rumah:
- mematikan lampu saat ruangan tidak digunakan;
- mencabut charger setelah selesai dipakai;
- menggunakan lampu hemat energi;
- mengatur AC pada suhu yang wajar;
- membuka ventilasi dan memanfaatkan cahaya alami;
- mencuci pakaian sesuai kapasitas mesin cuci;
- menggunakan air panas seperlunya;
- memilih peralatan elektronik berlabel hemat energi;
- mengurangi penggunaan kendaraan pribadi untuk jarak dekat;
- dan mengajarkan anak-anak untuk tidak boros listrik.
Kebiasaan sederhana ini tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mendidik keluarga agar lebih bertanggung jawab.
Hemat Energi di Kantor dan Sekolah
Selain di rumah, kantor dan sekolah juga perlu menjadi ruang edukasi hemat energi.
Di kantor, hemat energi dapat dilakukan dengan mematikan komputer saat tidak digunakan, mengatur pencahayaan, mengurangi pendingin ruangan berlebihan, memakai rapat online jika efektif, serta menerapkan sistem kerja yang lebih efisien.
Di sekolah, hemat energi dapat diajarkan melalui praktik langsung. Anak-anak tidak hanya diberi teori, tetapi dilibatkan dalam kegiatan seperti mematikan lampu kelas, merawat tanaman, memilah sampah, memahami sumber energi, dan menggunakan air secara bijak.
Jika kebiasaan hemat energi ditanamkan sejak kecil, hasilnya akan lebih kuat dalam jangka panjang.
Hemat Energi sebagai Budaya Bijak
Hemat energi bukan berarti hidup pelit atau anti-kemajuan. Hemat energi berarti menggunakan energi sesuai kebutuhan, tidak berlebihan, dan mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.
Masyarakat bijak tidak menilai kemajuan dari seberapa besar energi yang dihabiskan, tetapi dari seberapa efektif energi digunakan untuk menghasilkan manfaat.
Budaya hemat energi mencerminkan beberapa nilai:
- kesadaran lingkungan;
- tanggung jawab sosial;
- keadilan dalam penggunaan subsidi;
- kepedulian terhadap generasi mendatang;
- efisiensi ekonomi;
- dan kedisiplinan pribadi.
Jika nilai-nilai ini tumbuh, penghematan energi tidak lagi terasa sebagai paksaan. Ia menjadi bagian dari karakter masyarakat.
Kesimpulan
Masyarakat bijak adalah masyarakat yang hemat energi. Bukan karena dipaksa, tetapi karena memahami bahwa energi adalah amanah yang harus digunakan secara bertanggung jawab.
Program pemerintah, teknologi ramah lingkungan, dan energi alternatif memang penting. Namun, semua itu perlu didukung oleh kesadaran masyarakat. Tanpa perubahan perilaku, penghematan energi sulit mencapai hasil maksimal.
Pemerintah perlu menyediakan kebijakan, infrastruktur, dan keteladanan. Public figure perlu memberi contoh. Perusahaan perlu menjalankan efisiensi. Sekolah dan keluarga perlu mendidik kebiasaan hemat energi. Masyarakat perlu memulai dari langkah kecil sehari-hari.
Jika bagian atas dan bagian bawah dapat bertemu di tengah, budaya hemat energi akan terbentuk secara alami. Dengan begitu, energi dapat digunakan lebih efisien, beban ekonomi dapat dikurangi, lingkungan lebih terjaga, dan masa depan bangsa menjadi lebih berkelanjutan.
Senin, 22 Oktober 2012
FASOBRUN JAMIL (BERSABAR ITU INDAH)
Dalam kondisi seperti itu tiada upaya yang bisa dilakukan kecuali hanya bisa bersabar dan berpikir positif terhadap cobaan yang menimpa kita. Bersabar merupakan usaha terakhir yang harus dilakukan sebagai hamba Allah yang beriman ketika menemui ketetapan Allah tidak sesuai dengan harapan. Selain itu, sambil lalu kita harus tetap berikhtiar, mencari-cari celah penyelesaian dari konflik yang seolah tak berujung.
Fasobrun Jamil, artinya sabar itu indah. Sabar merupakan bunga-bunga keimanan. Semakin bersabar semakin indah.
Untuk bisa bersabar dengan benar perlu pemahaman yang benar mengenai cobaan dan musibah. Kita dapat mempelajarinya dari Al Quran dan Al Hadis.
Pemahaman yang benar mengenai musibah, adalah dengan meyakini bahwa segala sesuatunya terjadi atas Izin Allah.
Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus:107)
Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:155)
Allah tidak pernah menzalimi hambaNYA, tetapi hambaNYA itulah yang seringkali menzalimi dirinya sendiri.
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya". Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): "Rasakanlah olehmu azab yang membakar.(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri, dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imron: 181 - 182)
Sesungguhnya Allah tidaklah berbuat zalim walau seberat semut yang kecil.” (An-Nisa: 40)
Dalam hadits qudsi, Allah berfirman: “Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku…” (HR. Muslim)
Setiap orang yang beriman akan diberi cobaan untuk menguji kadar keimanannya. Selayaknya emas yang perlu disepuh agar semakin tinggi kadar kemurniannya.
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah:214)
Semakin besar cobaan yang menimpa kita, terdapat potensi pahala yang besar pula apabila kita bersabar dalam menghadapinya dan tetap tegar untuk bisa memperjuangkan kebaikan. Cobaan yang diberikan Allah adalah bentuk cinta Allah kepada kita agar kita bisa meningkatkan derajat diri kita di sisi-Nya. Seperti halnya ujian naik kelas. Apabila kita lulus, maka kita akan naik kelasnya.
“Sesungguhnya pahala yang besar itu, bersama dengan cobaan yang besar pula. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menimpakan musibah kepada mereka. Barangsiapa yang ridha maka Allah akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang murka, maka murka pula yang akan didapatkannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Shahihah [146]).
Kesabaran akan semakin membuat kita sebagai orang atau kaum yang kuat dan tangguh. Sebagai gambaran, dalam periode dakwah Nabi Muhammad yang selama 23 tahun, kita tahu bahwa awalnya Beliau berdakwah di Mekkah (periode Mekah)selama 13 tahun. Selama 13 tahun ini beliau dan para sahabat mulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi hingga kemudian secara terang-terangan. Selama berdakwah di Mekkah ini beliau dan para sahabat mendapat penolakan dan bahkan penganiayaan serta siksaan.
Baru kemudian ketika hijrah ke Madinah, kamu muslimin mendapat kekuatan sedikit demi sedikit. Lalu akhirnya kekuatan pun dimiliki dan mampu membela diri walaupun dengan angkatan perang dan persenjataan yang terbatas. Pada akhirnya Mekkah berhasil ditaklukkan. Kekuasaan Islam pun semakin meluas dan menjadi pelita bagi peradaban manusia yang sebelumnya berada dalam periode jahiliyah atau dark age. Begitulah keindahan bersabar dalam memperjuangkan kebaikan.
Disebutkan bahwa kekuatan seorang yang sabar adalah setara dengan 100 orang musuh.
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti. (QS. Al Anfaal:65)
Allah telah menjanjikan bahwa orang yang sabar pada akhirnya akan menang. Jadi, kita tidak boleh berputus harapan.
Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS. Ar Ra’du:22)
Orang-orang yang sabar akan memiliki sifat-sifat kebaikan. Mereka yang sabar akan memiliki keberuntungan yang besar di dunia dan akhirat.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. Fushilat:35)
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin itu. Semua urusannya baik baginya. Hal itu hanya dimiliki orang yang beriman. Jika dia memperoleh nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan, dia bersabar dan itu baik baginya.”(HR. Muslim)
Setiap kesulitan hidup yang kita alami merupakan penghapus dosa bagi mereka yang bersabar. Selain itu ada hikmah yang bisa dipetik.
"Tak seorang muslim pun yang ditimpa gangguan semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dengan demikian, kesabaran merupakan suatu bentuk komponen keimanan kita kepada Allah. Setiap orang yang beriman haruslah menerima ketentuan Allah mengenai adanya cobaan dan musibah yang akan menimpa setiap manusia.
Allah berfirman dalam hadits Qudsi : ”Akulah Allah, tiada Tuhan melainkan Aku. Siapa saja yang tidak sabar menerima cobaan dari-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku dan tidak ridha dengan ketentuan-Ku, maka bertuhanlah kepada Tuhan selain Aku.” (hadist ini diriwatkan oleh al-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir melalui jalur Abu Hind al-Dari)

