Jumat, 18 Mei 2012

Orang yang Terasing: Makna Istiqamah di Tengah Zaman Modern


Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.

Hadis ini sering menjadi bahan renungan bagi umat Islam. Apa sebenarnya makna “asing” dalam hadis tersebut? Apakah menjadi asing berarti menjauh dari masyarakat? Apakah berarti merasa paling benar sendiri? Ataukah yang dimaksud adalah tetap berpegang pada kebenaran ketika nilai-nilai agama mulai dianggap aneh oleh banyak orang?

Untuk memahami maknanya, kita perlu melihat kembali sejarah awal dakwah Islam dan bagaimana ajaran Islam hadir di tengah masyarakat Mekkah.

Masyarakat Mekkah Sebelum Islam

Sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rasul, masyarakat Mekkah sebenarnya mengenal Allah. Mereka juga mengetahui Nabi Ibrahim dan menganggap diri mereka sebagai pewaris ajaran beliau.

Namun, dalam perjalanan waktu, ajaran tauhid yang murni telah tercampur dengan kemusyrikan. Berhala-berhala diletakkan di sekitar Ka’bah. Tradisi jahiliyah berkembang dalam kehidupan sosial. Sebagian kebiasaan yang jauh dari nilai tauhid dianggap sebagai warisan nenek moyang yang harus dipertahankan.

Mereka tidak merasa sedang melakukan kesalahan. Justru, mereka menganggap apa yang mereka lakukan sebagai kebenaran yang diwariskan turun-temurun.

Di sinilah dakwah Nabi Muhammad ﷺ hadir.

Dakwah Tauhid yang Dianggap Asing

Ketika Rasulullah ﷺ menyerukan kalimat tauhid, “La ilaha illallah,” beliau mengajak masyarakat Mekkah untuk kembali menyembah Allah saja dan meninggalkan kemusyrikan.

Seruan ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Tauhid bukan hanya mengubah cara beribadah, tetapi juga mengguncang kebiasaan sosial, ekonomi, status, dan kekuasaan yang sudah mapan.

Sebagian besar pemuka Quraisy menolak dakwah Nabi ﷺ bukan karena mereka tidak pernah mendengar nama Allah, tetapi karena ajaran tauhid menuntut perubahan besar. Mereka harus meninggalkan berhala, meninggalkan kebanggaan jahiliyah, dan tunduk kepada aturan Allah.

Karena itu, para pengikut awal Nabi ﷺ dianggap asing. Mereka dicela, ditekan, bahkan disiksa. Namun, mereka tetap bertahan karena meyakini kebenaran Islam.

Dari Keterasingan Menuju Kemenangan

Pada masa awal dakwah, kaum Muslimin adalah kelompok kecil yang lemah secara sosial dan politik. Namun, mereka memiliki kekuatan iman, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah.

Perjalanan dakwah tidak mudah. Ada penolakan, tekanan, pemboikotan, hijrah ke Habasyah, hingga hijrah ke Madinah. Namun, dengan pertolongan Allah, Islam terus berkembang.

Akhirnya, terjadilah Fathul Mekkah. Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Mekkah dalam keadaan kuat. Berhala-berhala dihancurkan, tauhid ditegakkan, dan Ka’bah dikembalikan sebagai pusat ibadah kepada Allah semata.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa ajaran yang awalnya dianggap asing dapat menjadi cahaya yang membebaskan manusia dari kemusyrikan dan kezaliman.

Islam Kembali Terasa Asing di Zaman Modern

Seiring berjalannya waktu, kehidupan manusia berubah. Teknologi berkembang pesat. Ada pesawat, internet, komputer, smartphone, media sosial, kecerdasan buatan, sistem keuangan modern, dan berbagai bentuk kehidupan baru yang tidak ada pada masa Nabi ﷺ.

Perubahan ini membuat sebagian orang merasa bahwa ajaran Islam perlu disesuaikan sepenuhnya dengan zaman. Bahkan, ada yang menganggap sebagian syariat sudah tidak relevan karena dunia telah berubah.

Memang benar, zaman Nabi ﷺ dan zaman sekarang berbeda dalam hal teknologi, sistem sosial, dan kompleksitas kehidupan. Namun, perbedaan zaman tidak berarti nilai dasar Islam menjadi usang.

Kejujuran tetap penting. Tauhid tetap menjadi dasar. Keadilan tetap wajib ditegakkan. Riba tetap perlu dihindari. Zina tetap haram. Amanah tetap harus dijaga. Akhlak tetap menjadi ukuran kemuliaan. Halal dan haram tetap bukan sekadar selera zaman.

Yang berubah adalah sarana dan konteksnya. Prinsipnya tetap.

Syariat dan Kemajuan Teknologi

Kemajuan teknologi pada dasarnya adalah alat. Ia dapat digunakan untuk kebaikan atau keburukan.

Internet bisa digunakan untuk dakwah, pendidikan, bisnis halal, dan silaturahmi. Namun, internet juga bisa menjadi jalan maksiat, penipuan, fitnah, dan pemborosan waktu.

Kecerdasan buatan dapat membantu pekerjaan, riset, pelayanan publik, dan pendidikan. Namun, ia juga bisa disalahgunakan untuk manipulasi, penyebaran informasi palsu, atau pelanggaran etika.

Sistem keuangan modern dapat memudahkan transaksi. Namun, ia juga perlu ditimbang dengan prinsip halal, keadilan, dan bebas dari praktik yang merugikan.

Karena itu, bukan syariat yang harus tunduk kepada teknologi. Teknologilah yang perlu diarahkan agar tidak keluar dari nilai-nilai kebenaran.

Islam tidak menolak kemajuan. Islam menuntun kemajuan agar tetap manusiawi, adil, dan tidak merusak.

Menjadi Asing Bukan Berarti Menjauh dari Masyarakat

Ada hal penting yang perlu dipahami. Menjadi “asing” dalam hadis bukan berarti seorang Muslim harus memusuhi masyarakat, menutup diri, atau merasa paling suci.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Beliau berdakwah dengan hikmah, sabar, kasih sayang, dan keteguhan. Beliau tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap kasar hanya karena berbeda dengan orang lain.

Maka, orang yang terasing dalam makna yang baik adalah orang yang tetap menjaga iman dan akhlak ketika banyak orang mulai lalai. Ia tidak ikut arus kemaksiatan, tetapi tetap berinteraksi dengan manusia secara baik.

Ia berbeda, tetapi bukan karena ingin terlihat berbeda. Ia istiqamah, tetapi tidak sombong. Ia memegang prinsip, tetapi tetap lembut. Ia menolak keburukan, tetapi tidak kehilangan adab.

Ciri Orang yang Terasing dalam Kebaikan

Orang yang terasing dalam makna positif bukan orang yang sekadar berbeda penampilan atau banyak mengkritik zaman. Ia adalah orang yang berusaha menjaga nilai Islam dalam dirinya.

Beberapa cirinya antara lain:

1. Tetap menjaga tauhid

Ia meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Ia tidak menggantungkan hati kepada selain Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.

2. Menjaga ibadah

Ia berusaha menjaga salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berzikir, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.

3. Menjaga halal dan haram

Ia tidak menghalalkan sesuatu hanya karena banyak orang melakukannya. Ia tetap berhati-hati dalam makanan, rezeki, pergaulan, pekerjaan, dan transaksi.

4. Berakhlak baik

Ia tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk bersikap kasar. Ia berusaha jujur, amanah, rendah hati, santun, dan adil.

5. Tidak mudah ikut arus

Ia mampu berkata tidak kepada keburukan, meskipun keburukan itu sedang populer.

6. Menasihati dengan hikmah

Ia tidak hanya mengeluh tentang zaman, tetapi berusaha memperbaiki keadaan dengan cara yang bijak.

7. Sabar menghadapi pandangan orang

Ia mungkin dianggap kaku, aneh, terlalu berhati-hati, atau tidak mengikuti zaman. Namun, ia tetap bersabar dan tidak membalas dengan keburukan.

Tantangan Muslim di Zaman Modern

Hidup sebagai Muslim di zaman modern memiliki tantangan tersendiri. Informasi sangat cepat menyebar. Batas antara benar dan salah sering dibuat kabur. Gaya hidup konsumtif dipromosikan. Hiburan mudah diakses. Standar moral sering berubah mengikuti tren.

Dalam kondisi seperti ini, seorang Muslim perlu memiliki pegangan yang kuat.

Ia perlu belajar agama dengan benar, bukan hanya mengikuti potongan informasi dari media sosial. Ia perlu memilih lingkungan yang baik. Ia perlu membiasakan tabayyun. Ia perlu menjaga hati dari kesombongan. Ia juga perlu memahami realitas zaman agar dapat berkontribusi dengan bijak.

Muslim yang baik bukan hanya menjaga diri, tetapi juga memberi manfaat.

Antara Prinsip dan Keluwesan

Berpegang pada Islam tidak berarti menolak semua hal baru. Islam memiliki prinsip yang tetap dan ruang ijtihad dalam hal-hal yang berubah.

Misalnya, alat transportasi berubah. Cara berdagang berubah. Media dakwah berubah. Sistem administrasi berubah. Teknologi komunikasi berubah. Semua itu boleh dimanfaatkan selama tidak melanggar prinsip syariat.

Yang tidak boleh berubah adalah nilai dasarnya: tauhid, kejujuran, keadilan, amanah, kesucian diri, larangan zalim, larangan menipu, dan kewajiban beribadah kepada Allah.

Dengan memahami perbedaan antara prinsip dan sarana, seorang Muslim dapat hidup relevan di zaman modern tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Jangan Takut Menjadi Baik Meski Dianggap Aneh

Ada kalanya seseorang ingin berhijrah, tetapi takut dianggap sok alim. Ingin menjaga salat, tetapi takut dicemooh. Ingin meninggalkan pergaulan buruk, tetapi takut kehilangan teman. Ingin mencari rezeki halal, tetapi khawatir tertinggal dari orang lain.

Di sinilah hadis tentang orang yang terasing menjadi penguat.

Jika suatu kebaikan terasa asing di lingkungan tertentu, bukan berarti kebaikan itu salah. Bisa jadi lingkungannya yang sudah terbiasa dengan kelalaian.

Namun, dalam menjalani kebaikan, tetaplah rendah hati. Jangan merasa lebih suci dari orang lain. Jangan mudah mencela. Jangan lupa bahwa kita semua masih membutuhkan hidayah Allah.

Istiqamah harus berjalan bersama tawadhu.

Tugas Muslim: Menjaga Diri dan Memberi Manfaat

Seorang Muslim tidak cukup hanya berkata, “Saya berbeda dari masyarakat.” Yang lebih penting adalah bertanya: “Apa manfaat yang bisa saya berikan?”

Jika kita ingin menegakkan nilai Islam, tunjukkan dengan akhlak yang baik. Jadilah pekerja yang amanah, tetangga yang peduli, anak yang berbakti, orang tua yang penyayang, pedagang yang jujur, pemimpin yang adil, dan teman yang dapat dipercaya.

Dengan cara itu, orang akan melihat bahwa Islam bukan hanya aturan, tetapi juga rahmat.

Menjadi asing dalam kebaikan bukan berarti hidup menyendiri. Justru, orang baik diperlukan di tengah masyarakat agar nilai kebenaran tetap hidup.

Penutup

Islam datang pada masa awal dalam keadaan asing. Rasulullah ﷺ menyerukan tauhid di tengah masyarakat yang telah terbiasa dengan kemusyrikan dan tradisi jahiliyah. Para pengikut awal beliau menghadapi penolakan, tetapi mereka tetap sabar dan istiqamah.

Di zaman modern, sebagian ajaran Islam mungkin kembali terasa asing bagi sebagian orang. Namun, perubahan teknologi dan budaya tidak boleh membuat seorang Muslim kehilangan prinsip.

Menjadi orang yang terasing bukan berarti merasa paling benar, memusuhi masyarakat, atau menolak kemajuan. Menjadi orang yang terasing dalam makna yang baik adalah tetap berpegang pada tauhid, menjaga ibadah, memilih yang halal, berakhlak mulia, dan istiqamah di tengah arus zaman.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tetap teguh di atas kebenaran, lembut dalam dakwah, baik dalam akhlak, dan bermanfaat bagi sesama.

Wallahu a‘lam.

Sabtu, 12 Mei 2012

SEMANGAT BERWIRAUSAHA

David McClelland menyatakan bahwa suatu bangsa bisa mencapai kemakmuran finansial apabila jumlah entrepreneur atau pengusaha yang dimilikinya adalah paling sedikit 2 persen dari total jumlah penduduknya. Berdasarkan data dari Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), jumlah pengusaha di Indonesia saat ini adalah 0,24 persen dari total penduduk, atau sekitar 568.800 orang dengan asumsi jumlah penduduk total Indonesia sebanyak 237 juta jiwa. Angka tersebut dinilai terlalu sedikit dibandingkan dengan rasio populasi pengusaha muda di negara-negara ASEAN lainnya.

Sebagai gambaran, di Singapura, persentase jumlah pengusahanya mencapai 7,20 persen dari total jumlah penduduknya. Sementara di India yang merupakan negara yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, memiliki jumlah pengusaha sekitar 11 persen dari total jumlah penduduknya yang berjumlah 1,2 miliar jiwa.

Jumlah ideal pengusaha Indonesia semestinya 4.740.000. Artinya, dari kondisi ideal tersebut maka Indonesia masih kekurangan sekitar 4.171.200 orang wirausahawan. Peluang yang sangat besar dan masih terbuka lebar.

Dari jumlah pengusaha di Indonesia yang sebanyak 568.800 orang, 75 persen diantaranya adalah pengusaha muda atau 0,18 persen dari total jumlah penduduk. Sebagai perbandingan, Malaysia memiliki jumlah pengusaha muda sebanyak 16 persen dari total jumlah penduduk. Artinya Indonesia masih tertinggal sangat jauh. Jumlah pengusaha muda tersebut memberikan gambaran kondisi perekonomian suatu negara di masa mendatang. Kumpulan pengusaha muda inilah, yang nantinya akan melahirkan pengusaha-pengusaha utama dalam perekonomian.

Secara global, menurut Marshall Silver dalam bukunya Passion, Profit & Power, disebutkan ternyata hanya 1% penduduk dunia yang menguasai 50% uang yang sedang beredar. Tung Desem Waringin dalam bukunya Financial Revolution, menyebutkan pengalamannya bekerja di kantor cabang sebuah bank swasta dimana dia menyebutkan terdapat hanya 1% orang yang menguasasi 75% dana bank yang ada. Atau 5% orang menguasai 90% uang yang beredar. Ini sungguh menyedihkan karena 95% orang harus berebutan menguasai hanya 10% uang yang beredar.

Apabila semua uang yang ada di dunia dikumpulkan dan kemudian dibagi sama rata kepada semua penduduk dunia, maka masing-masing orang akan mendapatkan uang sebesar USD 2.400.000, atau sekitar 24 milyar rupiah (asumsi 1 USD = Rp 10.000). Marshal menyebutkan dari hasil studinya, bahwa sekalipun semua orang telah mendapatkan pembagian uang sama rata ini, maka dalam lima tahun ke depan, komposisi penguasaan uang akan kembali ke kondisi awal, yaitu 1% penduduk dunia yang menguasai 50% uang yang sedang beredar. Hal ini disebabkan 1% orang tahu cara untuk meningkatkan jumlah uang mereka.

Statistik dari Leveraging Time to Create Wealth karya KC See menunjukkan informasi yang menarik. Dimana dari 100 orang kaya diketahui profesi mereka adalah:
  • 74% berasal dari businessman
  • 10% dari profesional
  • 10% dari karyawan (Top CEO)
  • 6% dari lain-lain

Lalu mengapa jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat sedikit dan tertinggal jauh dari negara tetangga. Padahal hasil bumi sangat berlimpah dan menunggu untuk dimanfaatkan secara maksimal. Secara geo ekonomi politik, posisi Indonesia yang mengandung kekayaan alam yang begitu melimpah seperti: mineral pertambangan, kekayaan hutan, kekayaan laut, minyak, gas, keindahan alam dan lain-lain tentunya sangat menggoda negara-negara lain untuk melirik dan mengincarnya. Lalu kemana saja selama ini hasil pengolahannya?

Apabila kita telaah, bisa dikatakan faktor lingkungan dan pendidikan sangat mempengaruhi kondisi tersebut. Menyitir pernyataan Ir Ciputra, bahwa akar dari kemiskinan Indonesia bukan semata karena minimnya akses pendidikan, melainkan karena sistem pendidikan di negara ini tidak mengajarkan dan menumbuhkan jiwa entrepreneur dengan baik. Pendidikan tinggi Indonesia lebih banyak menciptakan sarana pencari kerja dibanding pencipta lapangan kerja. Sistem pendidikan Indonesia yang banyak mengandalkan sistem belajar pasif (guru menerangkan dan murid mendengarkan) memberikan dampak yang cukup signifikan untuk membuat masyarakat Indonesia menjadi tidak kreatif dan produktif, dan hanya terbiasa mengandalkan makan gaji. Negara ini banyak mencetak begitu banyak sarjana yang handal dengan kemampuan akademisnya, namun tidak handal menjadikan mereka lulusan yang kreatif yang dapat menciptakan lapangan kerja. Akibatnya, pengangguran terdidik di Indonesia semakin besar setiap tahunnya.

Sedangkan menurut Robert Kiyosaki dalam bukunya yang sangat terkenal “Rich Dad Poor Dad”, sangat jelas sekali memberikan gambaran tentang kondisi yang cukup memprihatinkan bahwa orang lebih memilih "bekerja untuk uang" daripada membuat "uang yang bekerja untuk orang". Coba simak saja penjelasan berikut, bahwa ada 4 tipe orang dalam cashflow quadrant, yaitu Employee, Self-Employed, Business owner dan Investor. Kuadran 1 atau orang yang bekerja untuk uang diisi oleh Employee dan Self-Employed. Sedangkan Kuadran 2 atau uang yang bekerja untuk orang diisi oleh Business owner dan Investor. Dari kedua kuadran tersebut, secara jelas Kiyosaki mengatakan bahwa orang-orang yang berada di kuadran kedua-lah yang bisa menjadi orang yang kaya. Jadi, kalau bukan menjadi Business Owner berarti harus menjadi Investor.

Ayo maju terus pengusaha muda Indonesia!

SENI BERDAKWAH

Setiap dari kita memiliki tugas untuk berdakwah. Sampaikanlah walaupun satu ayat. Begitulah kira-kira pesan Rasulullah dalam hadis riwayat dari Bukhari.
“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Karena tugas yang kita emban ini, kita harus mengetahui bagaimana cara mendakwahkan agama ini dengan cara yang sebaik-baiknya, yang sesuai dengan tuntunan syariah. Selain sesuai syariah, kita juga harus melakukan dakwah dengan lemah lembut demi tetap terjaganya ukhuwah (persatuan).

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya” (QS. Ali Imron : 159)

Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang MahaTahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS an-Nahl [16]: 125).


Dalam berdakwah, kita harus mencegah sebisa mungkin timbulnya kebencian, terjadinya perpecahan, permusuhan, apalagi peperangan dan pembunuhan. Karena islam adalah rahmatan lil 'alamin, yakni rahmat bagi semesta alam. Dengan demikian, marilah kita semua menghindarkan diri kita dari cara-cara dakwah yang kurang benar, yang menyulut permusuhan dan kebencian diantara kita. Inilah yang bisa kita sebut sebagai seni berdakwah.

Salah satu contoh bagaimana dakwah Rasulullah bisa dilihat ketika seorang pemuda datang dan berkata pada Beliau, "Ya Rasulullah, izinkan saya berzina."

Rasulullah memandangi pemuda tersebut dengan penuh kasih sayang dan mengajaknya berdialog.
"Sukakah kamu bila itu terjadi pada ibumu?", tanya Rasulullah.
"Tidak, demi Allah," jawab anak muda itu.
"Sukakah kamu bila itu terjadi pada saudara perempuanmu?" tanya Rasulullah.
"Tidak, demi Allah." "Sukakah kamu bila itu terjadi pada anak perempuanmu?"
"Tidak, demi Allah."
"Sukakah kamu bila itu terjadi pada istrimu?"
Anak muda itu menjawab, "Tidak, Demi Allah."

Rasulullah lalu berkata, "Demikianlah halnya dengan semua perempuan, mereka itu berkedudukan sebagai ibu, saudara perempuan, istri, atau anak perempuan."

Kemudian beliau meletakkan telapak tangannya di dada pemuda itu, lalu mendoakannya.

Demikianlah salah satu contoh cara Rasulullah berdakwah. Alangkah indahnya teladan Rasulullah SAW dalam mendakwahkan kebaikan. Coba dibayangkan apabila si pemuda datang pada orang-orang yang kurang ilmunya, tentu si pemuda langsung dikata-katai, "kurang ajar!", "tidak tahu malu!", "kafir!", "murtad!", "neraka!". Atau mungkin langsung didamprat dan ditempeleng. Namun tingginya ilmu Rasulullah, membuat Beliau melakukannya dengan cara yang begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang.

Nasihatnya tak menyakitkan si pendengarnya, bahkan si penerima dakwah menyadari kekeliruan yang dibuatnya. Inilah yang menjadi tantangan dan tugas pada da'i untuk mengajak umat menuju kebaikan, serta menghindarkan mereka dari perbuatan dosa. Rasulullah SAW telah mengajarkan dan mencontohkan cara berdakwah yang baik dan penuh hikmah.
Wa Allahu a'lam bis showab.