Rasulullah ﷺ pernah bersabda bahwa Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.
Hadis ini sering menjadi bahan renungan bagi umat Islam. Apa sebenarnya makna “asing” dalam hadis tersebut? Apakah menjadi asing berarti menjauh dari masyarakat? Apakah berarti merasa paling benar sendiri? Ataukah yang dimaksud adalah tetap berpegang pada kebenaran ketika nilai-nilai agama mulai dianggap aneh oleh banyak orang?
Untuk memahami maknanya, kita perlu melihat kembali sejarah awal dakwah Islam dan bagaimana ajaran Islam hadir di tengah masyarakat Mekkah.
Masyarakat Mekkah Sebelum Islam
Sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rasul, masyarakat Mekkah sebenarnya mengenal Allah. Mereka juga mengetahui Nabi Ibrahim dan menganggap diri mereka sebagai pewaris ajaran beliau.
Namun, dalam perjalanan waktu, ajaran tauhid yang murni telah tercampur dengan kemusyrikan. Berhala-berhala diletakkan di sekitar Ka’bah. Tradisi jahiliyah berkembang dalam kehidupan sosial. Sebagian kebiasaan yang jauh dari nilai tauhid dianggap sebagai warisan nenek moyang yang harus dipertahankan.
Mereka tidak merasa sedang melakukan kesalahan. Justru, mereka menganggap apa yang mereka lakukan sebagai kebenaran yang diwariskan turun-temurun.
Di sinilah dakwah Nabi Muhammad ﷺ hadir.
Dakwah Tauhid yang Dianggap Asing
Ketika Rasulullah ﷺ menyerukan kalimat tauhid, “La ilaha illallah,” beliau mengajak masyarakat Mekkah untuk kembali menyembah Allah saja dan meninggalkan kemusyrikan.
Seruan ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Tauhid bukan hanya mengubah cara beribadah, tetapi juga mengguncang kebiasaan sosial, ekonomi, status, dan kekuasaan yang sudah mapan.
Sebagian besar pemuka Quraisy menolak dakwah Nabi ﷺ bukan karena mereka tidak pernah mendengar nama Allah, tetapi karena ajaran tauhid menuntut perubahan besar. Mereka harus meninggalkan berhala, meninggalkan kebanggaan jahiliyah, dan tunduk kepada aturan Allah.
Karena itu, para pengikut awal Nabi ﷺ dianggap asing. Mereka dicela, ditekan, bahkan disiksa. Namun, mereka tetap bertahan karena meyakini kebenaran Islam.
Dari Keterasingan Menuju Kemenangan
Pada masa awal dakwah, kaum Muslimin adalah kelompok kecil yang lemah secara sosial dan politik. Namun, mereka memiliki kekuatan iman, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah.
Perjalanan dakwah tidak mudah. Ada penolakan, tekanan, pemboikotan, hijrah ke Habasyah, hingga hijrah ke Madinah. Namun, dengan pertolongan Allah, Islam terus berkembang.
Akhirnya, terjadilah Fathul Mekkah. Rasulullah ﷺ dan para sahabat kembali ke Mekkah dalam keadaan kuat. Berhala-berhala dihancurkan, tauhid ditegakkan, dan Ka’bah dikembalikan sebagai pusat ibadah kepada Allah semata.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa ajaran yang awalnya dianggap asing dapat menjadi cahaya yang membebaskan manusia dari kemusyrikan dan kezaliman.
Islam Kembali Terasa Asing di Zaman Modern
Seiring berjalannya waktu, kehidupan manusia berubah. Teknologi berkembang pesat. Ada pesawat, internet, komputer, smartphone, media sosial, kecerdasan buatan, sistem keuangan modern, dan berbagai bentuk kehidupan baru yang tidak ada pada masa Nabi ﷺ.
Perubahan ini membuat sebagian orang merasa bahwa ajaran Islam perlu disesuaikan sepenuhnya dengan zaman. Bahkan, ada yang menganggap sebagian syariat sudah tidak relevan karena dunia telah berubah.
Memang benar, zaman Nabi ﷺ dan zaman sekarang berbeda dalam hal teknologi, sistem sosial, dan kompleksitas kehidupan. Namun, perbedaan zaman tidak berarti nilai dasar Islam menjadi usang.
Kejujuran tetap penting. Tauhid tetap menjadi dasar. Keadilan tetap wajib ditegakkan. Riba tetap perlu dihindari. Zina tetap haram. Amanah tetap harus dijaga. Akhlak tetap menjadi ukuran kemuliaan. Halal dan haram tetap bukan sekadar selera zaman.
Yang berubah adalah sarana dan konteksnya. Prinsipnya tetap.
Syariat dan Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi pada dasarnya adalah alat. Ia dapat digunakan untuk kebaikan atau keburukan.
Internet bisa digunakan untuk dakwah, pendidikan, bisnis halal, dan silaturahmi. Namun, internet juga bisa menjadi jalan maksiat, penipuan, fitnah, dan pemborosan waktu.
Kecerdasan buatan dapat membantu pekerjaan, riset, pelayanan publik, dan pendidikan. Namun, ia juga bisa disalahgunakan untuk manipulasi, penyebaran informasi palsu, atau pelanggaran etika.
Sistem keuangan modern dapat memudahkan transaksi. Namun, ia juga perlu ditimbang dengan prinsip halal, keadilan, dan bebas dari praktik yang merugikan.
Karena itu, bukan syariat yang harus tunduk kepada teknologi. Teknologilah yang perlu diarahkan agar tidak keluar dari nilai-nilai kebenaran.
Islam tidak menolak kemajuan. Islam menuntun kemajuan agar tetap manusiawi, adil, dan tidak merusak.
Menjadi Asing Bukan Berarti Menjauh dari Masyarakat
Ada hal penting yang perlu dipahami. Menjadi “asing” dalam hadis bukan berarti seorang Muslim harus memusuhi masyarakat, menutup diri, atau merasa paling suci.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling baik akhlaknya. Beliau berdakwah dengan hikmah, sabar, kasih sayang, dan keteguhan. Beliau tidak mengajarkan umatnya untuk bersikap kasar hanya karena berbeda dengan orang lain.
Maka, orang yang terasing dalam makna yang baik adalah orang yang tetap menjaga iman dan akhlak ketika banyak orang mulai lalai. Ia tidak ikut arus kemaksiatan, tetapi tetap berinteraksi dengan manusia secara baik.
Ia berbeda, tetapi bukan karena ingin terlihat berbeda. Ia istiqamah, tetapi tidak sombong. Ia memegang prinsip, tetapi tetap lembut. Ia menolak keburukan, tetapi tidak kehilangan adab.
Ciri Orang yang Terasing dalam Kebaikan
Orang yang terasing dalam makna positif bukan orang yang sekadar berbeda penampilan atau banyak mengkritik zaman. Ia adalah orang yang berusaha menjaga nilai Islam dalam dirinya.
Beberapa cirinya antara lain:
1. Tetap menjaga tauhid
Ia meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Ia tidak menggantungkan hati kepada selain Allah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan.
2. Menjaga ibadah
Ia berusaha menjaga salat, membaca Al-Qur’an, berdoa, berzikir, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.
3. Menjaga halal dan haram
Ia tidak menghalalkan sesuatu hanya karena banyak orang melakukannya. Ia tetap berhati-hati dalam makanan, rezeki, pergaulan, pekerjaan, dan transaksi.
4. Berakhlak baik
Ia tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk bersikap kasar. Ia berusaha jujur, amanah, rendah hati, santun, dan adil.
5. Tidak mudah ikut arus
Ia mampu berkata tidak kepada keburukan, meskipun keburukan itu sedang populer.
6. Menasihati dengan hikmah
Ia tidak hanya mengeluh tentang zaman, tetapi berusaha memperbaiki keadaan dengan cara yang bijak.
7. Sabar menghadapi pandangan orang
Ia mungkin dianggap kaku, aneh, terlalu berhati-hati, atau tidak mengikuti zaman. Namun, ia tetap bersabar dan tidak membalas dengan keburukan.
Tantangan Muslim di Zaman Modern
Hidup sebagai Muslim di zaman modern memiliki tantangan tersendiri. Informasi sangat cepat menyebar. Batas antara benar dan salah sering dibuat kabur. Gaya hidup konsumtif dipromosikan. Hiburan mudah diakses. Standar moral sering berubah mengikuti tren.
Dalam kondisi seperti ini, seorang Muslim perlu memiliki pegangan yang kuat.
Ia perlu belajar agama dengan benar, bukan hanya mengikuti potongan informasi dari media sosial. Ia perlu memilih lingkungan yang baik. Ia perlu membiasakan tabayyun. Ia perlu menjaga hati dari kesombongan. Ia juga perlu memahami realitas zaman agar dapat berkontribusi dengan bijak.
Muslim yang baik bukan hanya menjaga diri, tetapi juga memberi manfaat.
Antara Prinsip dan Keluwesan
Berpegang pada Islam tidak berarti menolak semua hal baru. Islam memiliki prinsip yang tetap dan ruang ijtihad dalam hal-hal yang berubah.
Misalnya, alat transportasi berubah. Cara berdagang berubah. Media dakwah berubah. Sistem administrasi berubah. Teknologi komunikasi berubah. Semua itu boleh dimanfaatkan selama tidak melanggar prinsip syariat.
Yang tidak boleh berubah adalah nilai dasarnya: tauhid, kejujuran, keadilan, amanah, kesucian diri, larangan zalim, larangan menipu, dan kewajiban beribadah kepada Allah.
Dengan memahami perbedaan antara prinsip dan sarana, seorang Muslim dapat hidup relevan di zaman modern tanpa kehilangan identitas keislamannya.
Jangan Takut Menjadi Baik Meski Dianggap Aneh
Ada kalanya seseorang ingin berhijrah, tetapi takut dianggap sok alim. Ingin menjaga salat, tetapi takut dicemooh. Ingin meninggalkan pergaulan buruk, tetapi takut kehilangan teman. Ingin mencari rezeki halal, tetapi khawatir tertinggal dari orang lain.
Di sinilah hadis tentang orang yang terasing menjadi penguat.
Jika suatu kebaikan terasa asing di lingkungan tertentu, bukan berarti kebaikan itu salah. Bisa jadi lingkungannya yang sudah terbiasa dengan kelalaian.
Namun, dalam menjalani kebaikan, tetaplah rendah hati. Jangan merasa lebih suci dari orang lain. Jangan mudah mencela. Jangan lupa bahwa kita semua masih membutuhkan hidayah Allah.
Istiqamah harus berjalan bersama tawadhu.
Tugas Muslim: Menjaga Diri dan Memberi Manfaat
Seorang Muslim tidak cukup hanya berkata, “Saya berbeda dari masyarakat.” Yang lebih penting adalah bertanya: “Apa manfaat yang bisa saya berikan?”
Jika kita ingin menegakkan nilai Islam, tunjukkan dengan akhlak yang baik. Jadilah pekerja yang amanah, tetangga yang peduli, anak yang berbakti, orang tua yang penyayang, pedagang yang jujur, pemimpin yang adil, dan teman yang dapat dipercaya.
Dengan cara itu, orang akan melihat bahwa Islam bukan hanya aturan, tetapi juga rahmat.
Menjadi asing dalam kebaikan bukan berarti hidup menyendiri. Justru, orang baik diperlukan di tengah masyarakat agar nilai kebenaran tetap hidup.
Penutup
Islam datang pada masa awal dalam keadaan asing. Rasulullah ﷺ menyerukan tauhid di tengah masyarakat yang telah terbiasa dengan kemusyrikan dan tradisi jahiliyah. Para pengikut awal beliau menghadapi penolakan, tetapi mereka tetap sabar dan istiqamah.
Di zaman modern, sebagian ajaran Islam mungkin kembali terasa asing bagi sebagian orang. Namun, perubahan teknologi dan budaya tidak boleh membuat seorang Muslim kehilangan prinsip.
Menjadi orang yang terasing bukan berarti merasa paling benar, memusuhi masyarakat, atau menolak kemajuan. Menjadi orang yang terasing dalam makna yang baik adalah tetap berpegang pada tauhid, menjaga ibadah, memilih yang halal, berakhlak mulia, dan istiqamah di tengah arus zaman.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang tetap teguh di atas kebenaran, lembut dalam dakwah, baik dalam akhlak, dan bermanfaat bagi sesama.
Wallahu a‘lam.


