Jumat, 18 November 2011

KETIKA PARA ULAMA BERBICARA CINTA

Para seniman dan satrawan dari zaman ke zaman tidak pernah jemu mendefinisikan kata "cinta". Telah ada banyak definisi cinta yang diabadikan dalam syair-syair, bangunan-bangunan indah, dan beragam karya seni dan sastra. Masing-masing definisi memiliki karakteristiknya sendiri, tergantung dari si pencipta karya seni.

Namun sayang, definisi cinta semakin lama semakin mengalami penyempitan makna. Cinta hanyalah didefinisikan sebagai hubungan ketertarikan lawan jenis semata. Padahal sesungguhnya makna cinta itu luas. Bukan hanya masalah jalinan kasih muda-mudi. Namun juga mencakup cinta seorang ibu kepada anaknya dan sebaliknya, cinta seorang muslim pada saudaranya sesama muslim, cintanya pemimpin kepada rakyatnya dan sebaliknya, cinta para sahabat dan orang-orang yang beriman kepada Rasulullah dan sebaliknya, dan cintanya Allah kepada hamba-hambaNya yang tercermin dalam sifatNya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Rasa cinta yang tulus akan terbukti kebenarannya apabila diungkapkan dengan amal perbuatan yang istiqomah. Bukan hanya berhenti di mulut yang manis saja dimana seringkali seperti kita liat selama ini. Dari mulut selalu terlontar kata-kata manis tentang cinta, namun ternyata semua itu kenyataannya hanya omong kosong belaka. Kita bisa melihat contoh kasus ini dari kehidupan para artis dan selebritis. Mereka dengan merdunya melantunkan senandung-senandung cinta suci, cinta tulus, cinta abadi, atau cinta mati. Tetapi dalam kenyataannya, kehidupan keseharian beberapa diantara mereka dipenuhi dengan perselingkuhan, kawin-cerai, dan praktek-praktek asusila. Ini sangat disayangkan sekali karena moral dan ahlak generasi muda yang menjadi taruhannya. Mereka sebagai public figure tidak memberikan contoh yang baik, padahal generasi muda zaman sekarang banyak berkiblat pada mereka. Apa kata dunia?

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shaff : 2-3)

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS. Luqman : 6)

Dengan demikian perlu kita menyimak kisah-kisah cinta sebenarnya yang mencerahkan jiwa dari pengalaman para sahabat. Perlu juga melihat hadis-hadis mengenai cinta dari Rasulullah dan definisi cinta dari kalangan para sahabat dan ulama. Rujukan mengenai kisah dan definisi cinta perlu diambil dari sumber-sumber yang terpercaya agar padangan kita tidak salah kapra. Kisah hidup Rasulullah, para sahabat, dan pendapat-pendapat para ulama perlu dijadikan referensi utama, agar kita sebagai seorang yang awam ilmu tidak salah jalur dalam berpikir dan mengkaji suatu permasalahan. Tidak tertipu oleh syair-syair buatan manusia yang kurang berilmu dimana penuh kepalsuan.

KISAH-KISAH CINTA

Cinta Sahabat Kepada Rasulullah

Sepeti apa rasa cintanya sahabat kepada Rasulullah bisa disimak pada kisah di bawah ini:

Dikisahkah Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA berangkat dari Kota Mekkah ke kota Yatsrib atau Madinah untuk menjalankan perintah Allah melaksanakan Hijrah. Perjalanan ini membutuhkan waktu relatif lama dan melelahkan karena harus ditempuh dengan berjalan kaki. Perlu diketahui bahwa jarak antara Kota Mekkah dan Madinah sangatlah jauh sekitar 600 kilometer. Bisa dibayangkan beratnya perjalanan ini dimana mereka berdua harus melalui padang pasir dan bebukitan batu yang panas, gersang dan tandus. Selain itu juga ada ancaman dari kaum Musrik Mekkah yang hendak membunuh Nabi Muhammad, sehingga perjalanan ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi dan penuh kehati-hatian.

Ditengah perjalanan, ketika mereka berdua cukup lelah, mampirlah Rasulullah dan Abu Bakar sejenak disebuah gua yang dinamakan dengan gua Tsur. Gua Tsur adalah gua dari batu sempit yang berada di puncak sebuah bukit dengan perbukitan yang terjal dan tandus serta ditengah-tengah gurun pasir yang panas nyaris tak bertepi.

Ketika Rasulullah dan Abu bakar di tiba gua Tsur, Abu Bakar dengan penuh kesetiaan terlebih dahulu masuk kedalam gua dan membersihkan ruangan-ruangan gua dari hal-hal yang tidak membuat nyaman dan membahayakan Rasulullah. Setiap sudut-sudut gua dibersihkan oleh Abu Bakar menggunakan pakaiannya. Beliau tidak mengehendaki apabila ada hewan atau binatang kecil sekalipun yang bisa mengganggu kenyamanan istirahat Rasulullah. Setelah dirasa bersih dan aman, barulah Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah untuk masuk dan beristirahat di dalam gua.

Rasulullah yang kelelahan langsung tertidur dengan lelapnya dipangkuan Abu Bakar. Namun tiba-tiba, ditengah istirahat Rasulullah, datanglah seekor ular (dalam riwayat yang lain disebutkan kalajengking) yang mendesis melewati tempat Rasulullah dan Abu Bakar beristirahat. Khawatir Rasulullah terbangun dari tidurnya Abu Bakar tetap tidak bergerak dan tidak berubah posisi dari tempat duduknya sehingga kemudian akhirnya kaki Abu Bakar pun digigit oleh ular tesebut. Ketika ular tersebut berlalu dan pergi Abu Bakar masih tetap tidak bergeming dari tempatnya. Dari saking begitu perih dan sakitnya gigitan ular itu, menyebabkan Abu Bakar sampai menangis menitikkan air mata hingga jatuh kepipi Rasulullah.

Tetesan air mata Abu Bakar menyebabkan Rasulullah terbagun dari tidurnya. Ketika bangun, tentu saja Rasulullah keheranan melihat Abu Bakar menitikkan air mata. Setelah mendengar cerita dari Abu Bakar barulah Rasulullah tahu dan sangat terharu melihat betapa cinta dan sayangnya Abu Bakar kepadanya hingga berani berkorban agar Rasulullah tidak terganggu dari lelap tidurnya. Melihat Abu Bakar menitikkan air mata, dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang Rasulullah mengobati sahabatnya itu, dan dengan cinta dan kasih sayang Rasulullah serta atas Izin Allah, sakitnya kaki Abu bakar hilang dan sembuh dengan sempurna.

Begitulah cinta. Begitu kuat dan dalam cintanya Abu Bakar kepada Rasulullah sehingga ia mampu dan mau untuk lebih memilih merasakan rasa sakit. Rasa sakit itu lebih ia pilih ketimbang ia menyakiti orang yang ia kasihi dan sayangi.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: ”Tidaklah seorang hamba beriman hingga aku menjadi orang yang lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya dan manusia semuanya.” (HR. Bukhori)

Allah ta’ala juga berfirman: ”Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri” (QS. Al-Ahzab: 6).

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Hisyam radliyallahu’anhu bahwa ia berkata: Kami bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam ketika itu beliau shallallahu’alaihi wa sallam menggandeng Umar bin al Khattab radliyallahu’anhu lalu Umar berkata kepada beliau, ”Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri”.

Maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Tidak ! Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan Nya, hingga aku menjadi orang yang lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri”.

Maka ’Umar radliyallahu’anhu pun berkata kepada beliau, ”Sesungguhnya sekarang, Demi Allah, engkau sungguh lebih aku cintai daripada diriku sendiri”.

Maka beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ”Sekaranglah wahai Umar !” yakni, baru sekaranglah imanmu sempurna.

Sebagai seorang muslim, kita diwajibkan untuk mencintai Allah dan Rasulnya. Ini adalah suatu paket cinta yang harus dipegang teguh oleh mereka yang mengaku beriman. Bentuk rasa cinta ini adalah kerelaan dan keihklasan untuk mengikuti sunnah Rasulullah.

Katakanlah: ’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian’. Allah Maha Pengampun dan Penyanyang” (QS. Ali-’Imron: 31)

Ittiba’ kepada Rasulullah merupakan bukti cinta hamba kepada Allah ta’ala. Dan Allah ta’ala memberikan janji kepada hamba-Nya berupa balasan cinta-Nya ketika memenuhi syarat cinta ini.

Cinta Pemimpin Kepada Rakyatnya

1. Abu Bakar as Shiddiq

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. “Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?” tanya Umar.

“Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar,” jawab sang khalifah.

Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, “Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan.”

Abu Bakar lalu bertanya, “Jika tak berdagang, bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?”

Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.

Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk membeli manisan. “Wahai istriku, aku tak punya uang,” kata Abu Bakar.

Istrinya lalu mengusulkan untuk menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.

Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun terkumpul. “Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini uangnya,” ungkap sang istri memohon.

Betapa kagetnya Abu Bakar melihat uang yang disisihkan istrinya untuk membeli manisan.

“Wahai istriku, uang ini ternyata cukup banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji melebihi kecukupan sehari-hari,” tutur Abu Bakar.

Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah. “Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan,” ujarnya berwasiat.

Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada Khalifah penggantinya.

“Itu sebagai pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal,”kata Abu Bakar.

Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun berkata, “Semoga Allah SWT merahmati ayahmu.”

Pada kisah yang lain, yaitu pada masa sesaat setelah meninggalnya Rasulullah, Abu Bakar mengirimkan ekspedisi militer yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Sebagian besar para sahabat keberataan dengan diangkatnya Usamah Bin Zaid sebagai panglima perang, padahal hal itu telah menjadi ketetapan Rasulullah SAW sebelum beliau wafat. Abu Bakar yang meneruskan kepemimpinan, tidak membatalkan apa yang telah ditetapkan Rasulullah SAW.

Abu Bakar mengiringi pelepasan ekspedisi Usamah dengan menuntun kudanya sampai perbatasan. Sejak awal Usamah merasa tidak enak hati karena Abu Bakar berjalan kaki sementara ia berada di atas kudanya. Lalu Usamah menawarkaan diri bahwa dia akan turun dari kudanya, dan menawarkan Abu Bakar saja yang naik kuda. Abu Bakar berkata, “Demi Allah, aku tidak mau naik dan engkau juga tidaak perlu turun. Biarkanlah kakiku bersimbah debu di jalan Allah.”

2. Umar Bin Khattab

Dalam suatu cerita masa khulafaur Rasyidin, seorang Amirul Mukminin yang terkenal keras seperti Umar bin Khattab, ternyata begitu sabarnya dan setianya kepada istri dan rakyatnya. Kisah cintanya Umar dapat disimak dalam kisah berikut.

Seseorang bermaksud menghadap Umar bin khattab hendak mengadukan perangai buruk istrinya. Sesampai di pintu rumahnya, ia mendengar isteri Umar mengomeli Umar sang khalifah itu, sementara Umar sendiri hanya berdiam saja tanpa memberikan reaksi apa-apa. Di depan pintu rumah Umar itu, ia bergumam, “Kalau keadaan Amirul Mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan aku?” Ia pun beranjak pergi. Namun bersamaan dengan itu Umar keluar. Umar pun memanggilnya, “Ada keperluan penting?”

Ia menjawab, “Ya Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal isteriku lantaran suka memarahiku. Tetapi begitu mendengar isterimu sendiri berbuat seperti itu, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata, kalau keadaan Amirul Mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku.”

Umar berkata, “Saudaraku, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari isteriku karena adanya beberapa hak yang ada padanya. Ia selalu bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencuci pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku. Padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tenteram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan isteriku, karena itu aku menerima sekalipun dimarahi.”

Orang itu berkata, “Amirul Mukminin, demikian pulakah terhadap isteriku?” Jawab Umar, “Ya, terimalah marahnya karena yang dilakukan isterimu tidak akan lama, hanya sebentar saja.”

Begitulah kisah Amirul Mukminin Umar bin Khattab yang bersedia dimarahi istrinya dan bersedia pula melayani konsultasi hal-hal sepele dari rakyatnya. Seorang Amirul Mukminin yang bersedia melayani semua tamu. Selain itu, kehidupan pribadinya sangat terbuka seolah-olah tidak ada kerahasiaan dalam kehidupan Umar.

Khalifah Umar adalah sosok pemimpin yang sangat memperhatikan rakyatnya, sehingga pada suatu ketika secara diam-diam ia turun berkeliling di malam hari untuk menyaksikan langsung keadaan rakyatnya. Pada suatu malam, ketika sedang berkeliling di luar kota Madinah, di sebuah rumah dilihatnya seorang wanita sedang memasak sesuatu, sedang dua anak perempuan duduk di sampingnya berteriak-teriak minta makan. Perempuan itu, ketika ditanya Khalifah yang sedang menyamar perihal kondisinya, menjelaskan bahwa anak-anaknya lapar, sedangkan di ceret yang ia jerang tidak ada apa-apa selain air dan beberapa buah batu. Itulah caranya ia menenangkan anak-anaknya agar mereka percaya bahwa makanan sedang disiapkan.

Tanpa menunjukan identitasnya, Khalifah bergegas kembali ke Madinah yang berjarak tiga mil. Ia kembali dengan memikul sekarung terigu, memasak bahan makanan sendiri, dan baru merasa puas setelah melihat anak-anak yang malang itu sudah merasa kenyang. Keesokan harinya, ia berkunjung kembali, dan sambil meminta maaf kepada wanita itu ia meninggalkan sejumlah uang sebagai sedekah kepadanya.

Khalifah yang agung itu hidup dengan cara yang sangat sederhana. Tingkat kehidupannya tidak lebih tinggi dari kehidupan orang biasa. Suatu ketika Gubernur Kufah mengunjunginya sewaktu ia sedang makan. Sang gubernur menyaksikan makanannya terdiri dari roti gersh dan minyak zaitun, dan gubernur itu berkata, “Wahai Amirul mukminin, terdapat cukup bahan makanan di kerajaan Anda; mengapa Anda tidak makan roti dari gandum?”.

Dengan agak tersinggung dan nada murung, Khalifah bertanya, “Apakah Anda pikir setiap orang di kerajaanku yang begitu luas bisa mendapatkan gandum?”

“Tidak,” Jawab gubernur.

“Lalu, bagaimana aku dapat makan roti dari gandum? Kecuali bila itu bisa dengan mudah didapat oleh seluruh rakyatku.” Tambah Umar.

Dalam kesempatan lain Umar berpidato di hadapan suatu pertemuan. Katanya, “Saudara-saudara, apabila aku menyeleweng, apa yang akan kalian lakukan?”

Seorang laki-laki bangkit dan berkata, “Anda akan kami pancung.”

Umar berkata lagi untuk mengujinya, “Beranikah anda mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan seperti itu kepadaku?”

“Ya, berani!” jawab laki-laki tadi.

Umar sangat gembira dengan keberanian orang itu dan berkata, “Alhamdulillah, masih ada orang yang seberani itu di negeri kita ini, sehingga bila aku menyeleweng mereka akan memperbaikiku.”

Sejarawan Kristen Mesir, Jurji Zaidan terhadap prestasi Umar berkomentar: “Pada zamannya, berbagai negara ia taklukkan, barang rampasan kian menumpuk, harta kekayaan raja-raja Parsi dan Romawi mengalir dengan derasnya di hadapan tentaranya, namun dia sendiri menunjukkan kemampuan menahan nafsu serakah, sehingga kesederhanaannya tidak pernah ada yang mampu menandingi. Dia berpidato di hadapan rakyatnya dengan pakaian bertambalkan kulit hewan. Dia mempraktekkan satunya kata dengan perbuatan. Dia mengawasi para gubernur dan jenderalnya dengan cermat dan dengan cermat pula menyelidiki perbuatan mereka. Bahkan Khalid bin Walid yang perkasa pun tidak terkecuali. Dia berlaku adil kepada semua orang, dan bahkan juga bagi orang non-Muslim. Selama masa pemerintahannya, disiplin baja diterapkan secara utuh.”

3. Umar bin Abdul Aziz

Sesudah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah dan Amirul Mukminin, Umar langsung mengajukan pertanyaan pada Fatimah binti Abdul Malik bin Marwan, isteri tercinta. Umar berkata kepadanya, "Isteriku sayang, kanda harap dinda memilih satu di antara dua."

Fatimah bertanya kepada suaminya, "Memilih apa, kekanda?"

Umar bin Abdul Aziz menerangkan, "Memilih antara perhiasan emas berlian yang dinda pakai dengan Umar bin Abdul Aziz yang mendampingimu."

kata Fatimah, "Demi ALLAH, dinda tidak memilih pendamping lebih mulia daripadamu, wahai Amirul Mukminin. Inilah emas permata dan seluruh perhiasanku."

kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menerima semua perhiasan itu dan menyerahkannya ke Baitulmal, khazanah negara kaum Muslimin. sementara Umar bin Abdul Aziz dan keluarganya makan makanan rakyat biasa, yitu roti dan sedikit garam.

Cinta Anak Kepada Ibunya

Pada saat Sa'ad bin Abi Waqqash baru memeluk islam, beliau mendapatkan banyak cobaan yang berat. Diantara ujian yang dirasa paling berat adalah, karena ibunya yang paling dikasihi dan disayanginya itu tidak rela ketika mengetahui Sa’ad memeluk Islam. Sejak memeluk Islam, Sa'ad telah melaksanakan shalat dengan sembunyi-sembunyi di kamarnya. Sampai pada suatu saat, ketika ia sedang bersujud kepada Allah, secara tidak sengaja, ibu yang belum mendapat hidayah dari Allah ini melihatnya. Dengan nada sedikit marah, Hamnah bertanya, "Sa'ad, apakah yang sedang kau lakukan ?"

Rupanya Sa’ad sedang berdialog dengan Tuhannya; ia tampak tenang dan khusyu' sekali. Setelah selesai menunaikan Shalat, ia berbalik menghadap ibunya seraya berkata lembut. "Ibuku, anakmu tadi bersujud kepada Allah Yang Esa, Pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya."

Mendengar jawaban anaknya, sang ibu mulai naik darah dan berkata, "Rupanya engkau telah meninggalkan agama nenek moyang kita, Tuhan Lata, Manata dan Uzza. Ibu tidak rela wahai anakku. Tinggalkanlah agama itu dan kembalilah kepada agama nenek moyang kita yang telah sekian lama kita anut".

"Wahai ibu, aku tidak dapat lagi menyekutukan Allah, Dia-lah Dzat Yang Tunggal, tiada yang setara dengan Dia, dan Muhammad adalah utusan Allah untuk seluruh umat manusia," jawab Sa'ad.

Kemarahan ibunya semakin menjadi-jadi, karena Sa’ad tetap bersikeras dengan keyakinannya yang baru ini. Oleh karena itu, Hamnah berjanji tak akan makan dan minum sampai Sa’ad kembali taat memeluk agamanya semula. Sehari telah berlalu, ibu ini tetap tidak mau makan dan minum. Hati Sa’ad merintih melihat ibunya, tetapi keyakinanya terlalu mahal untuk dikorbankan. Sa'ad datang membujuk ibunya dengan mengajaknya makan dan minum bersama, tapi ibunya menolak dengan harapan agar Sa’ad kembali kepada agama nenek moyangnya. Kini Sa’ad makan sendirian tanpa ditemani ibunya. Hari keduapun telah berlalu, ibunya tampak letih, wajahnya pucat-pasi dan matanya cekung, ia kelihatan lemah sekali. Tidak ada sedikitpun makanan dan minuman yang dijamahnya. Sa’ad sebagai seorang anak yang mencintai ibunya bertambah sedih dan terharu sekali melihat keadaan Hamnah yang demikian.

Malam berikutnya, Sa’ad kembali membujuk ibunya, agar mau makan dan minum. Namun ibunya adalah seorang wanita yang berpendirian keras, ia tetap menolak ajakan Sa’ad untuk makan, bahkan ia kembali merayu Sa’ad agar menuruti perintahnya semula. Tetapi Sa’ad tetap pada pendiriannya, ia tak hendak menjual agama dan keimanannya kepada Allah dengan sesuatupun, sekalipun dengan nyawa ibu yang dicintainya. Imannya telah membara, cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya telah sedemikian dalam. Di depan matanya ia menyaksikan keadaan ibunya yang meluluhkan hatinya, namun dari lidahnya keluar kata-kata pasti yang membingungkan lbunya;

"Demi Allah, ketahuilah wahai ibunda, seandainya ibunda memiliki seratus nyawa lalu ia keluar satu persatu, tidaklah nanda akan meninggalkan agama ini walau ditebus dengan apa pun juga. Maka sekarang, terserah kepada ibunda, apakah ibunda akan makan atau tidak".

Kata kepastian yang diucapkan anaknya dengan tegas membuat ibu Sa’ad bin Abi Waqqash tertegun sesaat. Akhirnya ia mulai mengerti dan sadar, bahwa anaknya telah memegang teguh keyakinannya. Untuk menghormati ibunya, Sa’ad kembali mengajaknya untuk makan dengannya, karena ibu ini telah merasakan kelaparan yang amat sangat dan ia telah memaklumi pula bahwa anak yang dicintainya tidak akan mundur setapakpun dari agama yang dianutnya, maka ibu Sa’ad mundur dari pendiriannya dan memenuhi ajakan anaknya untuk makan bersama. Alangkah gembiranya hati Sa’ad bin Abi Waqqash. Ujian iman ternyata dapat diatasinya dengan ketabahan dan memohon pertolongan Allah.

Keesokan paginya, Sa’ad pergi menuju ke rumah Nabi Saw. Sewaktu ia berada di tengah majelis Nabi Saw, turunlah firman Allah yang menyokong pendirian Sa’ad bin Abi Wadqash:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu-bapakmu; hanya kepada-Ku-lah tempat kamu kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu turuti keduanya, dan bergaullah dengan keduanya didunia dengan baik dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah tempat kembalimu. Maka Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". (Q.S. Luqman: 14-15).

Demikianlah, keimanan Sa’ad bin Abi Waqqash kepada Allah dan Rasul-Nya telah mendapat keridhaan Ilahi. Al-Qur’an telah mengabadikan peristiwa itu menjadi pedoman buat kaum Muslimin. Terkadang Sa’ad mencucurkan air matanya apabila ia sedang berada di dekat Nabi Saw. Ia adalah seorang sahabat Rasul Allah Saw, yang diterima amal ibadahnya dan diberi nikmat dengan doa Rasul Allah Saw, agar doanya kepada Allah dikabulkan. Apabila Sa'ad bermohon diberi kemenangan oleh Allah pastilah Allah akan mengabulkan doanya.

Cinta Para Sahabat Pada sang Kekasih

1. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra

Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah SAW itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehaannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah SAW. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”.

Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”.

2. Umar bin Abdul Aziz

Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: “Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu”.

Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya, “Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?” Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!”

3. Abdurrahman ibn Abu Bakar

Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan istrinya, Atika, amat saling mencintai satu sama lain. Abu Bakar, ayahanda dari Abdurrahman, merasa khawatir melihat anaknya yang tenggelam dalam euforia cinta dan pada akhirnya meminta Abdurrahman menceraikan istrinya karena takut cinta mereka berdua melalaikan dari jihad dan ibadah. Abdurrahman pun menuruti perintah ayahnya, meski cintanya pada sang istri begitu besar.

Namun tentu saja Abdurrahman tak pernah bisa melupakan istrinya. Berhari-hari ia larut dalam duka meski ia telah berusaha sebaik mungkin untuk tegar. Perasaan Abdurrahman itu pun melahirkan syair cinta indah sepanjang masa:

Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari tak terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia dithalaq karena dosanya
Dia berakhlaq mulia, beragama, dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu dan halus tutur katanya


Akhirnya hati sang ayah pun luluh. Mereka diizinkan untuk rujuk kembali. Abdurrahman pun membuktikan bahwa cintanya suci dan takkan mengorbankan ibadah dan jihadnya di jalan Allah. Terbukti ia syahid tak berapa lama kemudian.

4. Thalhah ibn ‘Ubaidillah

Satu hari Thalhah berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau tak suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”

Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad. Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.

5. Kisah cinta yang membawa surga

Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amr An-Nakha’i, ia berkata, “Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia sangat rajin dan taat. Suatu waktu dia berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha’.

Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata cintanya pada si wanita cantik tak bertepuk sebelah tangan.

Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamar gadis tersebut. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, ‘Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.’

Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, ‘Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobaranya.’

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, “Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu.” Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya, Dia menangis dan mendo’akanya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

Dia menjawab, “Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan.”

Pemuda itu bertanya, “Jika demikian, kemanakah kau menuju?” Dia jawab, “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak.”

Pemuda itu berkata, “Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu.” Dia jawab, “Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah.”

Si pemuda bertanya, “Kapan aku bisa melihatmu?” Jawab si wanita: “Tak lama lagi kau akan datang melihat kami.” Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.

6. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah

Ummu Sulaim merupakan janda dari Malik bin Nadhir. Abu Thalhah yang saat itu masih belum masuk islam, memendam rasa cinta dan kagum pada Ummu Sulaim. Dia akhirnya memutuskan untuk melamar Ummu Sulaim tanpa banyak pertimbangan. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,

“Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?”

“Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan,” kata Abu Thalhah.

“Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam,” tukas Ummu Sualim tandas.

“Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?” tanya Abu Thalhah.

“Tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri,” tegas Ummu Sulaim.

Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah SAW. yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah Saw. berseru, “Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya.”

Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hingga tanpa terasa di hadapan Rasulullah Saw. lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, “Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya.”

Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga seorang sahabat yang bernama Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, “Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya.” Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam.

7. Kisah Cinta Yang Melahirkan Ulama Besar, Imam Abu Hanifah

Tsabit bin Ibrahim, adalah ayahanda dari Abu Hanifah Al-Nu‘man, pendiri Mazhab Hanafi. Pada saat masih membujang beliau menghadapi godaan sebuah apel nan lezat. Ternyata, dengan kesabarannya dalam menghadapi godaan buah apel nan lezat tersebut, hikmah luar biasa ia raih. Bagaimana kisah Tsabit bin Ibrahim tersebut? Berikut kisahnya:

Tsabit bin Ibrahim melintasi sebuah kebun apel luas selepas menempuh perjalanan panjang untuk meraih ilmu. Hari itu bekalnya telah habis dan tubuhnya terasa sangat lelah. Karena itu, ia lantas memasuki kebun yang sedang tak dijaga itu dan kemudian melihat buah-buah apel yang ada di dalamnya. Lama, ia menatap satu demi satu buah-buah apel ranum yang sangat membangkitkan seleranya itu.

Sejenak Tsabit bin Ibrahim kemudian menghentikan langkahnya dan kemudian duduk di dekat sebuah pohon apel yang ranum buah-buahnya. Akhirnya, selepas lama menatap satu buah apel di pohon itu, tangannya terjulur ke arah buah itu dan memetiknya. Dan, kemudian, ia pun menyantap separohnya dan minum air jernih sungai yang ada di sebelah kebun itu. Tapi, tiba-tiba hati nuraninya mengingatkannya bahwa ia telah berbuat kesalahan: kebun dan buah apel itu bukan miliknya.

Kejadian itu benar-benar membuat Tsabit bin Ibrahim menyesal. Ia pun bertekad tak akan meneruskan perjalanannya, hingga bertemu dengan pemilik kebun itu. Ia akan meminta maaf atas tindakannya yang telah menyantap separoh apel tanpa izin. Karena itu, ia lantas mencari rumah pemilik kebun itu.

Selepas berhasil menemukan rumah pemilik kebun apel itu dia bermaksud meminta maaf dan memohon ridhonya si pemilik kebun apel atas kekhilafannya memakan separuh buah apel miliknya, ia pun berucap, “Wahai Tuan! Mohon kiranya saya dimaafkan. Tadi, tanpa seizin Tuan, saya memasuki kebun apel milik Tuan. Lalu, karena lapar dan lalai, saya memetik satu buah apel dan memakan separoh buah itu. Kemudian saya sadar, buah apel itu bukan milik saya. Karena itu, saya mohon kiranya Tuan berkenan memaafkan saya, juga mengikhlaskan separoh buah apel yang saya makan.”

Lalu pemilik kebun apel itu menjawab. “Tak usah kau bayar apel itu, tapi kau harus bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa dibayar, apakah kau mau?”

Pemuda itu tampak berfikir, karena untuk segigit apel dia harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama tiga tahun dan itupun tanpa digaji, tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha apelnya ia makan.

”Baiklah Pak, saya mau.”

Alhasil pemuda itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa dibayar. Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Tak terasa sudah tiga tahun dia bekerja dikebun itu. Dan hari terakhir dia ingin pamit kepada pemilik kebun.

“Pak, sekarang waktuku bekerja di tempat Anda sudah berakhir, apakah sekarang Anda ridho kalau apelmu sudah aku makan?”

Pemilik kebun itu diam sejenak. “Belum.”

Pemuda itu terhenyak. “Kenapa Pak, bukankah aku sudah bekerja selama tiga tahun di kebunmu.”

“Anak muda,” jawab pemilik kebun, “Aku akan ridho pada buah apel yang kamu makan apabila engkau bersedia menikah dengan putriku. Tapi, perlu engkau ketahui, putriku itu adalah seorang gadis buta, dengan kata lain tak kuasa melihat. Juga, ia tuli, dengan kata lain tak kuasa mendengar. Dan ia juga bisu, dengan kata lain tak kuasa berbicara!”

Dalam kebimbangan, Tsabit bin Ibrahim memutuskan menerima syarat yang diajukan pemilik kebun itu. Apa pun risikonya. Bukankah hidup di dunia yang fana ini tak lama. Juga, bukankah keridhaan Allah SWT jauh lebih berharga dan lebih bermakna.

Dan, pernikahan itu pun dilangsungkan.

Namun, betapa kaget Tsabit bin Ibrahim ketika bertemu dengan dengan gadis yang baru dinikahinya itu. Ternyata, gadis itu sangat cantik nan jelita, bisa bicara, tidak tuli. Beda sekali dengan yang dikemukakan ayahandanya ketika mengemukakan satu syarat yang harus dipenuhinya.

“Wahai istriku,” tanya Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu, “Sejatinya apa yang terjadi? Ternyata, engkau kuasa bicara, mendengar, dan melihat. Tidak sebagaimana dikemukakan ayahanda kita?”

“Suamiku,” jawab gadis itu, “Ayahanda benar-benar tak berdusta”.

“Ayahanda memang mengatakan apa adanya. Aku buta, dengan pengertian aku tak pernah memandang laki-laki yang tak halal bagiku. Aku tuli, dengan pengertian aku tak pernah duduk di majelis yang sarat dengan gunjingan, iri, kedengkian, dan bincang-bincang yang tak bermakna. Dan aku bisu, dengan pengertian aku tak pernah mengatakan kata-kata yang tak senonoh dan tak pernah pula berbincang dengan laki-laki yang tak halal bagiku.”

Betapa gembira Tsabit bin Ibrahim mendengar jawaban istrinya yang demikian itu. Dan dari pasangan suami-istri ini lahir seorang anak yang kelak menjadi seorang ulama terkemuka yang pendiri Mazhab Hanafi: Abu Hanifah Al-Nu‘man.

CINTA DALAM HADIS

"Perumpamaan seorang Mukmin dan Mukmin yang lainnya dalam cinta dan kasih sayang mereka bagaikan tubuh yang satu. Apabila salah satu anggota tubuhnya ada yang sakit, seluruh tubuh yang lain merasa sakit dan demam." (HR Muslim).

"Tali keimanan yang paling kuat adalah berwalaa'karena Allah dan memusuhi karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah" (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 998).

Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “siapa mereka itu?, “mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah ‘Azzawajalla. (HR. Ahmad).

Rasullah SAW bersabda, "Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nati ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bias saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu." (HR. Al-Tirmidzi).

Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga sebelum kalian beriman. Kalian tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai. Tidakkah aku tunjukkan kepada kalian mengenai sesuatu yang ketika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!. (HR. Muslim).

Dari Rasulullah SAW yang bersabda dalam satu doanya, “ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buatku yang melabuhkan cintanya di sisiMu. Ya Allah jadikan segala yang Engkau rezekikan untukku dari diantara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan diantara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai. (H R. Al-Tirmidi)

Musaddad mengabari bahwa Yahyaa sebagaimana diberitakan oleh Syu'bah, dari Qatadah dari Anas dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda: "Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia cinta untuk saudaranya apa yang ia cinta untuk dirinya sendiri" (Hadis riwayat Bukhari)

DEFINISI CINTA MENURUT PARA ULAMA

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.-- Hamka

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.-- Hamka

Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya.
-- Ar Rabi’ bin Anas (Jami’ al ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)


Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar (cinta) dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya. -- Salman al Farisi (Az Zuhd, Imam Ahmad)

Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya. --
Malik bin Dinar (Hilyatul Auliyaa’)


Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu. -- Ali bin Abi Thalib

Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai. -- A’idh Al-Qorni

“Seorang mukmin itu tidaklah menjadi seseorang yang benar-benar beriman sampai dia mendahulukan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam daripada kecintaannya kepada seluruh makhluk, dan kecintaan kepada Rasulullah itu mengiringi kecintaan kepada Dzat yang mengutusnya (Allah).” -- Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam]

“Ketahuilah bahwa yg menggerakkan hati menuju Allah ada tiga perkara: cinta takut dan harapan. Dan yg paling kuat adalah cinta dan cinta itu sendiri merupakan tujuan karena akan didapatkan di dunia dan di akhirat.” -- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan

“Dasar tauhid dan ruh adalah keikhlasan dalam mewujudkan cinta kepada Allah. Cinta merupakan landasan penyembahan dan peribadatan kepada-Nya bahkan cinta itu merupakan hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid kecuali bila kecintaan seorang hamba kepada Rabb juga sempurna.” -- Asy-Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di

"Barangsiapa yang mentaati Rasul -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , dan mengesakan Allah, maka tak boleh baginya mencintai orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, walaupun orang yang ia cintai adalah kerabat terdekatnya". -- Syaikh Muhammad bin Sulaiman At Tamimiy [Lihat Tashil Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hal. 11), cet. Dar Ibnu Rajab]

“Kasih sayang adalah penyebab hati dan ruh menjadi hidup terpelihara. Hati tidak akan merasa tenteram, nikmat, beruntung, dan merasa hidup bila tanpa cinta. Seandainya hati tanpa cinta, sakitnya lebih terasa daripada mata terasa sakit ketika tidak bisa lagi melihat cahaya, telinga ketika tidak bisa lagi mendengar, hidung ketika tidak bisa lagi mencium, lisan ketika tidak mampu lagi berbicara. Bahkan, hati pun bisa menjadi rusak apabila hampa dari kasih sayang yang sudah merupakan fitrah dalam jiwa manusia. Ia adalah sebuah karunia yang diberikan Sang Pencipta. Oleh karena itu, rusaknya lebih parah daripada kerusakan tubuh manusia yang diisi dengan ruh, dan ini tidak mungkin bisa dikatagorikan menjadi sesuatu yang pasti kecuali orang yang memiliki jiwa yang selalu hidup.” -- Ibnu Qayyim rahimahullâh (al-Jawâb al-Kâfî li Man Sa'ala ‘an ad-Dawâ' asy-Syâfî - Jawaban Konkrit Bagi Mereka yang Menanyakan Obat Manjur)

Ibnu Qayyim rahimahullâh berkata dalam kitab ad-Dâ' wa ad-Dawâ' (Penyakit dan Obat):
“Mencintai wanita itu terbagi tiga, yaitu:
Bagian pertama dan kedua adalah “pendekatan” dan “ketaatan”. Yang termasuk kategori ini dapat dimisalkan seperti mencintai seorang istri. Bentuk cinta semacam ini sangat bermanfaat karena bagaimanapun ia merupakan salah satu syariat yang diperintahkan oleh Allah ta’ala dalam melaksanakan pernikahan. Karena, pernikahan dapat menghindarkan pandangan mata dan hati dari perbuatan semu yang dilarang Islam. Maka dari itulah Allah ta’ala, Rasul-Nya Muhammad saw., dan seluruh manusia menjunjung tinggi martabat pecinta semacam ini.

Sedangkan bagian ketiga adalah “cinta mubah” (cinta yang dibolehkan), seperti cinta seorang laki-laki ketika disebutkan kepadanya sosok seorang wanita jelita, atau ketika seorang laki-laki melihat wanita secara kebetulan lalu hatinya terpaut kepada wanita tersebut, dengan catatan tidak ada unsur maksiat dalam jatuh cinta itu. Cinta semacam ini pelakunya tidak dibebani dosa dan siksa, namun lebih baik menghindar dan menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan yang lebih bermanfaat lagi positif serta wajib baginya merahasiakan hal itu. Apabila menjaga dan sabar terhadap suatu hal yang berbau negatif, niscaya Allah ta’ala akan memberikan ganjaran pahala kepadanya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”

“Cinta yang terpuji adalah cinta yang memberikan manfaat kepada orang yang merasakan cinta itu untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Cinta inilah yang menjadi asas kebahagiaan. Sedangkan cinta bencana adalah cinta yang membahayakan pelakunya di dunia maupun akhirat dan membawanya ke pintu kenistaan serta menjadikannya asas penderitaan dalam jiwanya.”


Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab ad-Dâ' wa ad-Dawâ' (Penyakit dan Obat):

“Cinta membangkitkan jiwa dan menata prilaku. Mengungkapkannya adalah suatu kewajaran dan memendamnya menjadi beban.” Lalu, beliau berkata: “Mereka berucap: ‘Kita tidak memungkiri kerusakan cinta jika terbumbui oleh perbuatan tercela kepada sesama makhluk. Yang kita dambakan adalah cinta suci dari seorang laki-laki idaman yang selalu komitmen kepada agama, kehormatan, dan akhlak. Jangan sampai cinta itu menjadi jurang pemisah antara menusia dengan Khaliq-nya dan menyebabkan antara pecinta dengan yang dicintainya jatuh ke dalam perbuatan nista.

“Cinta itu mensucikan akal, menghilangkan kerisauan, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan kewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang soleh dan cubaan bagi ahli ibadah,” -- Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Raudah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberikan ulasan mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang.


Imam Syafi'i berpesan:
“Jika seseorang tidak dapat menjaga nama baiknya kecuali dalam keadaan terpaksa, tinggalkanlah dia dan jangan bersikap belas kasihan kepadanya. Banyak orang lain yang dapat menjadi penggantinya. Berpisah dengannya berarti istirahat.

"Dalam hati masih ada kesabaran buat kekasih, meskipun memerlukan daya usaha yang keras. Tidak semua orang yang engkau cintai, mencintaimu dan sikap ramahmu kadangkala dibalas dengan sikap tidak sopan. Jika cinta suci tidak datang daripada tabiatnya, tidak ada gunanya cinta yang dibuat-buat.

Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat kerana dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai. Dia akan memungkiri jalinan cinta yang terbentuk dan akan menampakkan hal yang dulunya menjadi rahasia.

Seseorang itu juga dapat menundukkan musuhnya dengan menunjukkan rasa persahabatan”.

Senin, 14 November 2011

Sunnatullah: Memahami Ketetapan Allah dalam Alam, Ilmu, dan Kehidupan


Manusia hidup di dalam alam semesta yang berjalan dengan keteraturan. Matahari terbit dan terbenam. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Benda jatuh karena gravitasi. Api membakar. Tanaman tumbuh ketika mendapatkan air, cahaya, dan unsur hara. Kehidupan manusia juga memiliki pola: siapa yang bersungguh-sungguh biasanya lebih dekat kepada hasil, siapa yang zalim akan menuai akibat, dan siapa yang sabar akan lebih kuat menghadapi ujian.

Dalam Islam, keteraturan dan ketetapan yang berlaku dalam alam serta kehidupan sering disebut sebagai sunnatullah. Secara sederhana, sunnatullah dapat dipahami sebagai ketetapan Allah yang berlaku atas ciptaan-Nya.

Sunnatullah tidak hanya dapat dilihat pada fenomena alam, tetapi juga pada perjalanan manusia, masyarakat, sejarah, rezeki, ujian, kemenangan, kehancuran, dan akibat dari amal perbuatan.

Apa Itu Sunnatullah?

Sunnatullah adalah ketentuan, hukum, atau pola yang Allah tetapkan dalam ciptaan-Nya. Ketetapan ini berjalan dengan izin Allah dan tidak lepas dari ilmu serta kekuasaan-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mengenal sebagian sunnatullah melalui pengalaman, penelitian, dan ilmu pengetahuan. Misalnya, manusia mengetahui bahwa api bersifat panas, air dapat mengalir, tanaman membutuhkan cahaya, dan tubuh membutuhkan makanan.

Dalam bidang sosial, manusia juga melihat bahwa kezaliman dapat merusak masyarakat, kebodohan dapat melemahkan suatu bangsa, sedekah dapat menumbuhkan kepedulian, dan persatuan dapat menguatkan umat.

Namun, seorang Muslim meyakini bahwa semua keteraturan itu tidak berdiri sendiri. Di balik hukum-hukum alam dan pola kehidupan, ada kehendak Allah yang menciptakan, mengatur, dan mengetahui segala sesuatu.

Ilmu Pengetahuan dan Hukum Alam

Para ilmuwan melakukan pengamatan, penelitian, eksperimen, dan kajian untuk memahami gejala alam maupun sosial. Dari proses itu lahirlah teori, rumus, dan hukum ilmiah.

Dalam fisika, kita mengenal rumus sederhana seperti:

F = m × a

Rumus ini menjelaskan bahwa gaya berhubungan dengan massa dan percepatan.

Kita juga mengenal hukum kekekalan energi atau Hukum I Termodinamika, yang secara umum menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan oleh manusia, tetapi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lain.

Dalam bentuk sederhana, hukum tersebut sering ditulis:

ΔU = Q − W

Rumus ini menggambarkan perubahan energi dalam suatu sistem, dengan mempertimbangkan kalor dan usaha.

Rumus-rumus seperti ini membantu manusia memahami sebagian keteraturan alam. Namun, bagi orang beriman, hukum alam bukan sesuatu yang berdiri terpisah dari Allah. Hukum alam adalah bagian dari ketetapan Allah pada ciptaan-Nya.

Teori Sosial dan Keteraturan Kehidupan

Selain dalam ilmu alam, manusia juga berusaha memahami pola kehidupan sosial dan ekonomi.

Dalam ekonomi, misalnya, terdapat berbagai pemikiran tentang bagaimana pasar bekerja. Adam Smith dikenal dengan gagasan bahwa pasar dapat bergerak melalui mekanisme yang seolah-olah mengatur dirinya sendiri. Gagasan ini sering disebut sebagai invisible hand.

Di sisi lain, John Maynard Keynes menekankan bahwa dalam kondisi tertentu, negara perlu hadir untuk menjaga stabilitas ekonomi, terutama ketika permintaan melemah dan pasar tidak mampu memulihkan dirinya sendiri.

Perbedaan pandangan seperti ini menunjukkan bahwa ilmu manusia berkembang melalui pengamatan, perdebatan, dan koreksi. Dalam memahami gejala sosial, manusia sering menghadapi kenyataan yang lebih kompleks karena melibatkan perilaku, kepentingan, emosi, budaya, dan keputusan banyak orang.

Karena itu, teori manusia dapat berubah. Namun, perubahan teori tidak berarti ilmu tidak berguna. Justru, ilmu berkembang karena manusia terus belajar dari kenyataan.

Ilmu Manusia Bersifat Terbatas

Dalam Islam, ilmu adalah karunia Allah. Manusia dapat mengetahui sesuatu karena Allah memberi kemampuan untuk berpikir, mengamati, mengukur, dan mengambil pelajaran.

Allah berfirman dalam Ayat Kursi bahwa manusia tidak mengetahui apa pun dari ilmu Allah kecuali apa yang Allah kehendaki.

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati. Sepintar apa pun manusia, ilmunya tetap terbatas. Setinggi apa pun teknologi, tetap ada hal yang tidak manusia ketahui. Banyak teori yang dahulu dianggap kuat kemudian diperbaiki oleh teori baru. Banyak jawaban ilmiah yang justru membuka pertanyaan baru.

Karena itu, ilmu seharusnya tidak membuat manusia sombong. Ilmu seharusnya membuat manusia semakin sadar bahwa alam semesta ini berjalan dalam keteraturan yang luar biasa, dan keteraturan itu merupakan tanda kekuasaan Allah.

Sunnatullah dalam Penciptaan Langit dan Bumi

Al-Qur’an banyak mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, hujan, tumbuhan, hewan, pergantian malam dan siang, serta perjalanan sejarah umat manusia.

Allah menciptakan langit dan bumi dengan ukuran, ketetapan, dan keteraturan. Tidak ada satu pun yang luput dari pengetahuan-Nya.

Dalam Surah At-Thalaq ayat 12, Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menciptakan tujuh langit dan bumi, serta perintah-Nya berlaku padanya, agar manusia mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Dalam Surah Al-An’am ayat 59, Allah menyebutkan bahwa kunci-kunci yang gaib ada di sisi-Nya, dan tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Allah mengetahuinya.

Ayat-ayat seperti ini mengajarkan bahwa alam tidak berjalan tanpa pengawasan. Semua berada dalam ilmu dan ketetapan Allah.

Sunnatullah dalam Kehidupan Manusia

Sunnatullah juga berlaku dalam kehidupan manusia. Ada pola-pola yang dapat dilihat dalam sejarah, masyarakat, dan kehidupan pribadi.

Misalnya, kezaliman tidak akan membawa keberkahan. Kesombongan akan mendatangkan kehancuran. Persatuan akan menguatkan. Ilmu akan mengangkat derajat. Kemalasan akan melemahkan. Sabar dan takwa akan menjadi jalan pertolongan Allah.

Namun, sunnatullah tidak selalu berjalan sesuai waktu yang manusia inginkan. Kadang seseorang berdoa, tetapi jawabannya tidak langsung tampak. Kadang orang zalim terlihat kuat dalam waktu lama. Kadang orang baik diuji bertubi-tubi. Kadang usaha yang benar belum segera menghasilkan buah.

Di sinilah iman diperlukan. Seorang Muslim meyakini bahwa ketetapan Allah pasti berlaku, meskipun waktunya tidak selalu sesuai dengan harapan manusia.

Sunnatullah dalam Sejarah

Al-Qur’an memuat banyak kisah umat terdahulu. Kisah-kisah itu bukan hanya cerita masa lalu, tetapi pelajaran tentang hukum kehidupan.

Ada kaum yang dihancurkan karena kesombongan dan kezaliman. Ada nabi dan rasul yang diuji dengan penentangan kaumnya. Ada kaum beriman yang ditolong setelah sabar. Ada penguasa zalim yang akhirnya runtuh. Ada masyarakat yang selamat karena mau menerima peringatan.

Salah satu contoh yang disebut dalam Al-Qur’an adalah berita tentang bangsa Romawi yang akan menang setelah sebelumnya dikalahkan. Dalam Surah Ar-Rum ayat 2–4, Allah mengabarkan bahwa bangsa Romawi telah dikalahkan, tetapi setelah kekalahan itu mereka akan menang dalam beberapa tahun.

Ayat ini menunjukkan bahwa peristiwa sejarah pun berada dalam ilmu dan ketetapan Allah.

Sabar dan Takwa sebagai Sunnatullah Kemenangan

Al-Qur’an sering mengaitkan pertolongan Allah dengan sabar dan takwa.

Dalam Surah Ali Imran ayat 120, Allah menjelaskan bahwa jika orang beriman bersabar dan bertakwa, maka tipu daya musuh tidak akan membahayakan mereka sedikit pun kecuali dengan izin Allah.

Sabar bukan berarti pasif. Sabar berarti bertahan dalam kebenaran, tidak mudah menyerah, tidak terbawa emosi, dan tetap taat kepada Allah dalam kondisi sulit.

Takwa berarti menjaga diri dari hal yang dilarang Allah dan berusaha menjalankan perintah-Nya.

Jika sabar dan takwa menyatu, seseorang menjadi lebih kuat. Ia tidak mudah hancur oleh tekanan, tidak mudah tertipu oleh dunia, dan tidak mudah membalas keburukan dengan keburukan.

Sunnatullah bagi Orang Zalim

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa kezaliman memiliki akibat. Orang atau kaum yang berbuat zalim mungkin diberi waktu, tetapi bukan berarti mereka lepas dari ketetapan Allah.

Dalam Surah An-Nahl ayat 61, Allah menjelaskan bahwa jika Allah langsung menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan tersisa makhluk melata di bumi. Namun, Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang ditentukan.

Ayat ini mengajarkan bahwa penundaan hukuman bukan berarti kezaliman dibenarkan. Bisa jadi penundaan itu adalah kesempatan untuk bertaubat. Bisa juga merupakan bagian dari ujian bagi manusia.

Karena itu, jangan tertipu ketika kezaliman tampak menang sementara. Sejarah menunjukkan bahwa kezaliman tidak bertahan selamanya.

Sunnatullah dalam Sedekah

Al-Qur’an juga menjelaskan pola kebaikan dalam sedekah. Harta yang dikeluarkan di jalan Allah tidak akan hilang sia-sia. Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang yang bersedekah dengan ikhlas.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 261, Allah membuat perumpamaan nafkah di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, dan pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki.

Ayat ini mengajarkan bahwa sedekah bukan kehilangan, tetapi investasi kebaikan. Balasannya tidak selalu dalam bentuk uang yang langsung kembali. Bisa berupa keberkahan, ketenangan hati, perlindungan dari keburukan, kemudahan hidup, atau pahala di akhirat.

Namun, sedekah harus dilakukan dengan ikhlas dan tidak diiringi sikap menyakiti orang yang menerima.

Sunnatullah dan Ikhtiar Manusia

Meyakini sunnatullah bukan berarti manusia boleh pasif. Justru, karena Allah menetapkan sebab dan akibat, manusia harus berikhtiar.

Jika ingin panen, manusia harus menanam. Jika ingin sehat, manusia harus menjaga tubuh. Jika ingin berilmu, manusia harus belajar. Jika ingin rezeki halal, manusia harus bekerja dengan cara yang baik. Jika ingin masyarakat kuat, manusia harus membangun persatuan, keadilan, dan pendidikan.

Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal adalah menyandarkan hasil kepada Allah setelah melakukan ikhtiar yang benar.

Sunnatullah mengajarkan bahwa hidup memiliki hukum sebab-akibat. Namun, sebab-akibat itu tetap berjalan di bawah kehendak Allah.

Ketika Sunnatullah Tidak Segera Tampak

Ada kalanya manusia merasa telah berusaha, tetapi hasil belum terlihat. Seseorang sudah berdoa, tetapi belum mendapat jawaban sesuai harapan. Seseorang sudah bersabar, tetapi ujian masih berlanjut. Seseorang sudah berbuat baik, tetapi tetap menghadapi kesulitan.

Dalam keadaan seperti ini, manusia perlu memahami bahwa ketetapan Allah tidak selalu terbaca dari satu kejadian pendek. Kadang hikmah baru terlihat setelah waktu yang panjang. Kadang Allah menunda sesuatu karena ada kebaikan yang belum kita pahami. Kadang Allah mengganti permintaan kita dengan sesuatu yang lebih baik.

Karena itu, orang beriman tidak boleh putus asa. Tugas manusia adalah menjaga niat, berusaha, berdoa, bersabar, dan tetap istiqamah.

Rela terhadap Ketetapan Allah

Menerima ketetapan Allah bukan berarti tidak boleh sedih atau kecewa. Manusia tetap manusia. Ia bisa menangis, lelah, dan merasa berat.

Namun, ridha berarti tidak menuduh Allah berbuat tidak adil. Ridha berarti tetap percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, sedangkan manusia tidak mengetahui seluruh hikmah di balik kejadian.

Ali bin Abi Thalib pernah dinukilkan berkata bahwa siapa yang ridha terhadap ketetapan Allah, maka ketetapan itu tetap berlaku dan ia mendapat pahala. Siapa yang tidak ridha, ketetapan itu tetap berlaku, tetapi ia kehilangan pahala kesabaran.

Makna ini mengajarkan bahwa menolak ketetapan Allah tidak akan mengubah kenyataan. Yang dapat diubah adalah sikap hati kita terhadap kenyataan tersebut.

Pelajaran dari Sunnatullah

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat diambil dari pembahasan sunnatullah.

Pertama, alam semesta berjalan dengan keteraturan karena Allah menciptakan dan mengaturnya.

Kedua, ilmu pengetahuan adalah cara manusia membaca sebagian kecil dari keteraturan tersebut.

Ketiga, ilmu manusia terbatas sehingga harus disertai kerendahan hati.

Keempat, kehidupan manusia juga memiliki pola: sabar, takwa, kejujuran, ilmu, dan sedekah membawa kebaikan; sedangkan kezaliman, kesombongan, kebohongan, dan kemaksiatan membawa kerusakan.

Kelima, ketetapan Allah pasti berlaku, meskipun waktunya tidak selalu sesuai dengan keinginan manusia.

Keenam, iman kepada sunnatullah harus melahirkan ikhtiar, bukan kepasrahan yang pasif.

Kesimpulan

Sunnatullah adalah ketetapan Allah yang berlaku dalam alam dan kehidupan. Dalam alam, manusia mengenal sebagian keteraturan itu melalui ilmu pengetahuan, seperti hukum fisika, biologi, dan fenomena alam lainnya. Dalam kehidupan manusia, sunnatullah tampak dalam pola sejarah, masyarakat, akhlak, perjuangan, sabar, takwa, sedekah, dan akibat dari kezaliman.

Seorang Muslim perlu memahami bahwa ilmu manusia hanyalah sedikit dari ilmu Allah. Karena itu, setiap pengetahuan seharusnya membuat manusia semakin rendah hati, bukan semakin sombong.

Meyakini sunnatullah bukan berarti berhenti berusaha. Justru, manusia harus berikhtiar sesuai sebab yang Allah tetapkan, lalu bertawakal kepada-Nya.

Jika hasil belum tampak, tetaplah bersabar. Jika ujian terasa berat, tetaplah bertakwa. Jika kebaikan belum berbuah, jangan berhenti menanam. Ketetapan Allah pasti berlaku pada waktu yang Dia kehendaki.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang memahami tanda-tanda kebesaran-Nya, bersabar dalam ujian, bersyukur atas nikmat, dan ridha terhadap ketetapan-Nya.

Wallahu a‘lam.

Jumat, 04 November 2011

COMPRESSED NATURAL GAS (CNG)

Indonesia adalah Negara yang kaya akan gas alam. Gas alam merupakan salah satu sumber energi yang menawarkan emisi yang rendah. Prospek bisnis gas sangat cerah di masa yang akan datang. Salah satunya adalah bidang gas alam terkompresi (CNG).

Pada dasarnya, CNG merupakan salah satu bentuk teknologi dalam upaya tranportasi gas alam ke konsumen. Teknologi transportasi gas alam lainnya yang dikenal adalah dengan jalur perpipaan (pipeline) dan gas alam cair (LNG). Perlu diketahui juga bahwa masih banyak gas alam yang masih berstatus stranded (belum terjamah). Kelayakan bisnis CNG dapat dilihat dari sisi volume gas alam yang tersedia dan jarak ke konsumen. Secara sederhana, CNG dibuat dengan mengkompresi gas alam pada tekanan 120-275 bar (122-278 kg/cm2) dan pada temperatur sekitar -30 hingga 45oC. Gas yang terkompresi ini disimpan dalam suatu tabung baja penampung dengan perlakuan khusus. Dari kegiatan kompresi ini volume gas alam dapat direduksi menjadi 140 hingga 250 kali lebih kecil, sehingga memudahkan mobilisasi. Perlu diketahui juga, untuk gas alam cair (LNG), volume gas dapat direduksi hingga 160 kali. Namun demikian, kembali lagi pada faktor volume ketersediaan gas alam dan jarak pasar yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan teknologi transportasi gas alam.

Berdasarkan penelitian dari British Petroleum, lebih dari 50% gas alam yang ada di dunia berada dalam kondisi stranded (terdampar jauh dari pasar). Karenanya bisnis CNG cukup menjanjiikan. Indonesia merupakan salah satu area yang cukup menjanjikan dalam penerapan CNG.
Setelah gas alam dikompresi dan disimpan di dalam tabung, terdapat pilihan sarana tranportasi sesuai dengan medan pengiriman CNG. Bisa digunakan tranportasi laut (marine), dan juga bisa dengan tranportasi darat.
Dalam dunia CNG marine, terdapat sejumlah korporasi yang telah memiliki teknologi pengangkutan CNG melalui wilayah perairan. Beberapa diantaranya yaitu Enersea, Williams Power Company, Trans Ocean Gas, dan Knutsen OAS Shipping. Fasilitas pendukung dalam CNG marine adalah adanya alat angkut yang dapat berupa kapal atau perahu seret (barge), adanya fasilitas untuk muatan (loading), adanya terminal yang dapat berupa dermaga atau sarana lepas pantai, dan terakhir adanya lokasi penyimpanan yang bisa berupa sarana onshore (di pantai) atau offshore (lepas pantai).

Dalam transportasi darat CNG bisa diangkut dengan menggunakan truk atau kereta api. Gas alam yang disalurkan melalui pipa, sesampainya di stasiun induk (mother station), diberi perlakukan awalan lalu dikompresi dengan menggunakan kompresor. Setelah proses kompresi gas alam, CNG bisa dialirkan langsung ke gas dispenser untuk dikonsumsi oleh sarana transportasi berbahan bakar gas. Tetapi ada juga yang diangkut oleh truk trailer untuk disalurkan ke stasiun cabang (daughter station), atau ke pihak industri yang menjadi konsumen gas. Di daughter station, gas alam bisa dikonsumsi oleh sarana transportasi umum berbahan bakar gas.

Ternyata sampai sejauh ini telah terdapat sejumlah pemain bisnis CNG di Indonesia. Mereka mulai menggeliat dan terus mencari peluang-peluang dalam pengembangan bisnis CNG ini. Salah satu stasiun induk CNG terdapat di Jawa Barat. Konsumen bisnis ini sementara, sebagain besar, masih dari kalangan industri.
Peluang bisnis CNG ini masih terbuka lebar baik di bidang perindustrian maupun di bidang transportasi umum. Keterbatasan bahan bakar minyak semakin membuka peluang bagi bahan bakar gas untuk semakin populer.

Beberapa waktu yang lalu kita juga sudah pernah melihat aplikasi CNG dalam sarana tranportasi umum. Salah satunya adalah yang dilakukan di Surabaya. Uji coba penggunaan gas sebagai bahan bakar pada angkot pernah dilakukan dan disaksikan secara langsung oleh walikota Surabaya saat itu, Bambang DH. Taxi Bluebird di Surabaya juga melakukan uji coba pemanfaatan bahan bakar gas pada sejumlah armadanya. Tidak mau kalah, di Palembang, sebanyak 350 angkot berbahan bensin dikonversi menjadi berbahan bakar gas. Namun sayang, gaung pemanfatan bahan bakar gas ini hanya sebatas wacana, selanjutnya hilang di telan bumi.