Saling Berbagi Pengetahuan, Pemikiran dan Cerita Terkait Agama, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Kesehatan, Lingkungan, Energi, Bisnis, Manajemen, Sosial, Budaya, Sejarah, Dll
Selasa, 01 November 2011
Muhammad II Al Fatih
Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]
Sekitar delapan abad kemudian, salah satu bisyaroh nubuwah tersebut mampu diwujudkan oleh seorang hamba Allah yang bernama Muhammad Al Fatih atau Mehmed II, yang merupakan seorang Sultan ke-7 dari Kesultanan Turki Ustmani beserta sekitar 250.000 orang tenteranya. Keberhasilannya menaklukkan Konstatinopel membuatnya diberi gelar Al-Fatih. Berasal dari kata: fataha – yaftahu. Artinya membuka atau membebaskan. Sultan Muhammad Al Fatih menaiki takhta ketika berusia 19 tahun dan memerintah selama 30 tahun (1451 – 1481)
Kota konstatinopel atau disebut juga Byzantium (kini disebut Istanbul) adalah kota yang memiliki pesona yang kuat pada masa itu. Letaknya sangat strategis, yaitu di batas antara Eropa dan Asia. Bagian daratnya merupakan salah satu bagian dari Jalur Sutera, sedangkan di bagian lautnya, daerah ini berada di antara Laut Tengah dengan Laut Hitam. Pesonanya ini membuat banyak bangsa pada masa itu mengincarnya. Banyak ekspedisi-ekspedisi yang telah dilakukan, namun benteng Konstatinopel tetap tidak tertembus.
Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu, dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmarah dan Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai yang sangat besar, hingga tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya. Di samping itu, dari daratan juga dijaga dengan pagar-pagar sangat kokoh yang terbentang dari laut Marmarah sampai Tanduk Emas. Memiliki benteng setinggi 60 kaki, sedangkan pagar bagian luarnya memiliki ketinggian 25 kaki. Selain itu juga terdapat tower-tower pemantau yang terpencar dan dipenuhi tentara pengawas. Dari segi kekuatan militer, kota ini dianggap sebagai kota yang paling aman dan terlindungi, karena di dalamnya ada pagar-pagar pengaman, benteng-benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. Dengan demikian, maka sangat sulit untuk bisa diserang atau ditaklukkan. Kedudukan Konstantinopel yang strategis diillustrasikan oleh Napoleon Bonaparte; ".....kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!".
Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Konstantinopel. Di zaman Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu 'Anhu pernah dilakukan ekspedisi namun gagal. Di masa shahabat, memang pasukan muslim sudah sangat dekat dengan kota itu, bahkan salah seorang shahabat yang menjadi anggota pasukannya dikuburkan di seberang pantainya, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahuanhu. Tetapi tetap saja kota itu belum pernah jatuh ke tangan umat Islam sampai 800 tahun lamanya.
Abu Ayyub Al-Anshari berkata,"Aku mendengar baginda Rasulullah SAW bersabda bahwa ada seorang lelaki shalih akan dikuburkan di bawah tembok tersebut, Dan aku juga ingin mendengar derap tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja, yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda".
Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayyah, pemerintahan Abbasiyyah, dan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk.
Awal kurun ke-8 hijriyah, Daulah Utsmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi napas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sulthan Yildirim Bayazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Bayazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinopel secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk.
Selepas Daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali. Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) meneruskan usaha penaklukan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi belum membuahkan hasil. Sultan Murad II mewariskan perjuangan penaklukan Konstatinopel kepada anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II).
Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Constantine Paleologus menjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.
Sebelum menaklukkan Konstantinopel, ada khutbah yang disampaikan al Fatih untuk seluruh pasukannya :
“Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran”
Benteng kota Konstatinopel memang sulit ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7 m. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.
Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah pasukan Constantine mampu mempertahankan celah tersebut dan dengan cepat menumpuk kembali hingga tertutup. Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang cemerlang muncul. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Alhasil, hanya dalam semalam, 70-an kapal bisa memasuki wilayah selat Golden Horn.
29 Mei, setelah sehari istirahat perang Muhammad II kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari.
Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
Ketika Konstantinopel telah jatuh ke tangan pasukan Islam, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen. Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.
Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan salat wajib sejak baligh dan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan salat tahajjud sejak baligh. Hanya Sultan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan salat wajib, tahajud dan rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya.
Suatu hari timbul soal ketika pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum’at yang pertama kali di kota itu.
“Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?”
Tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri. lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri.
Kemudian beliau bertanya, “Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!”
Tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari itu, tak pernah satu kali pun meninggalkan shalat fardhu.
Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya, “Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!”.
Sebagian pasukan kemudian duduk, artinya, pasukan islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat-shalat rowatib. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam pimpinan Al Fatih.
Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!”
Semua yang tadinya berdiri segera duduk. Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia? dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tidak pernah kosong atau absen semalampun.
Sebagai sebuah wasiat untuk anaknya yang akan meneruskan kepemimpinan, maka Al Fatih menyampaikan wasiat kepada anaknya:
“Aku sudah diambang kematian. Tapi aku berharap aku tidak kawatir, karena aku meninggalkan seseorang sepertimu. Jadilah seorang pemimpin yang adil, shalih dan penyayang. Rentangkan pengayomamu untuk rakyatmu, tanpa kecuali, bekerjalah untuk menyebarkan islam. Karena sesungguhnya itu merupakan kewajiban para penguasa di muka bumi. Dahuluklan urusan agama atas apapun urusan lainnya. Dan janganlah kamu jemu dan bosan untuk terus menjalaninya. Janganlah engkau angkat jadi pegawaimu mereka yang tidak peduli dengan agama, yang tidak menjauhi dosa besar, dan yang tenggelam dalam dosa. Jauhilah olehmu bid’ah yang merusak. Jagalah setap jengkal tanah islam dengan jihad. Lindungi harta di baitul maal jangan sampai binasa. Janganlah sekali-kali tanganmu mengambil harta rakyatmu kecuali dengan cara yang benar sesuai ketentuan islam. Pastikan mereka yang lemah mendapatkan jaminan kekuatan darimu. Berikanlah penghormatanmu untuk siapa yang memang berhak.”
“Ketahuilah, sesungguhnya para ulama adalah poros kekuatan di tengah tubuh negara, maka muliakanlah mereka. Semangati mereka. Bila ada dari mereka yang tinggal di negeri lain, hadirkanlah dan hormatilah mereka. Cukupilah keperluan mereka.”
“Berhati-hatilah, waspadalah, jangan sampai engkau tertipu oleh harta maupun tentara. Jangan sampai engkau jauhkan ahli syari’at dari pintumu. Jangan sampai engkau cenderung kepada pekerjaan yang bertentangan dengan ajaran islam. Karena sesungguhnya agama itulah tujuan kita, hidayah itulah jalan kita. Dan oleh sebab itu kita dimenangkan.”
“Ambilah dariku pelajaran ini. Aku hadir ke negeri ini bagaikan seekor semut kecil. Lalu allah memberi nikmat yang besar ini. Maka tetaplah di jalan yang telah aku lalui. Bekerjalah untuk memuliakan agama islam ini, menghormati umatnya. Janganlah engkau hamburkan uang negara, berfoya-foya, dan menggunakannya melampaui batas yang semestinya. Sungguh itu semua adalah sebab-sebab terbesar datangnya kehancuran.”
Minggu, 16 Oktober 2011
Ikatan Hati dalam Islam: Persaudaraan, Empati, dan Kekuatan Ukhuwah
Hati manusia menyimpan banyak rahasia. Tidak ada manusia yang benar-benar mampu mengetahui seluruh isi hati manusia lainnya. Bahkan terhadap hati sendiri pun, sering kali kita masih perlu banyak bermuhasabah.
Dalam Islam, hati memiliki kedudukan yang sangat penting. Hati bukan sekadar tempat munculnya perasaan, tetapi juga pusat niat, iman, keikhlasan, dan arah hidup seseorang.
Rasulullah saw. bersabda bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.
Hadis ini menunjukkan bahwa memperbaiki hati adalah pekerjaan besar dalam kehidupan seorang Muslim. Hati yang baik akan melahirkan ucapan dan perbuatan yang baik. Sebaliknya, hati yang rusak dapat mendorong manusia kepada iri, dengki, sombong, kebencian, permusuhan, dan kezaliman.
Hati sebagai Pemimpin Diri
Hati dapat diibaratkan sebagai pemimpin dalam diri manusia. Anggota badan akan bergerak mengikuti apa yang diperintahkan hati. Lisan dapat berkata baik atau buruk bergantung pada keadaan hati. Tangan dapat menolong atau menyakiti. Mata dapat menjaga pandangan atau mengikuti hawa nafsu.
Karena itu, memperbaiki perilaku tidak cukup hanya dari luar. Manusia juga perlu memperbaiki sumbernya, yaitu hati.
Imam Al-Ghazali dalam pembahasan tentang hati menjelaskan bahwa manusia memiliki unsur lahir dan batin. Ada anggota tubuh yang terlihat oleh mata, seperti tangan, kaki, mata, dan telinga. Ada pula kekuatan batin seperti daya pikir, daya ingat, imajinasi, keinginan, kemarahan, dan persepsi.
Semua unsur itu bekerja dalam diri manusia dengan sistem yang sangat halus. Jika hati diarahkan kepada kebaikan, semua kemampuan itu dapat menjadi jalan ibadah. Namun, jika hati dikuasai hawa nafsu, kemampuan yang sama dapat digunakan untuk keburukan.
Manusia dan Interaksi Hati
Manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya berinteraksi dengan tubuh dan ucapan, tetapi juga dengan hati.
Ada orang yang baru bertemu tetapi terasa dekat. Ada pula orang yang sering bertemu tetapi tetap terasa jauh. Ada hubungan yang menenangkan, ada juga hubungan yang melelahkan. Semua itu menunjukkan bahwa interaksi manusia tidak hanya terjadi secara lahiriah, tetapi juga secara batiniah.
Rasulullah saw. menyebutkan bahwa ruh-ruh itu seperti pasukan yang berhimpun. Yang saling mengenal akan saling dekat, sedangkan yang tidak saling mengenal akan berselisih.
Hadis ini sering dipahami sebagai isyarat bahwa kedekatan hati bukan sekadar urusan fisik. Ada kesesuaian nilai, iman, akhlak, dan kecenderungan batin yang membuat manusia dapat merasa dekat atau jauh satu sama lain.
Allah yang Mempersatukan Hati
Persatuan hati bukan semata-mata hasil usaha manusia. Manusia dapat membuat pertemuan, organisasi, komunitas, atau aturan bersama. Namun, yang benar-benar menyatukan hati adalah Allah.
Dalam Surah Al-Anfal ayat 63, Allah menjelaskan bahwa sekalipun manusia membelanjakan semua kekayaan yang ada di bumi, manusia tidak akan mampu mempersatukan hati. Akan tetapi, Allah-lah yang mempersatukan hati mereka.
Ayat ini memberi pelajaran penting. Persatuan sejati tidak cukup dibangun dengan kepentingan dunia, slogan, atau hubungan formal. Persatuan yang kokoh membutuhkan iman, keikhlasan, kasih sayang, dan pertolongan Allah.
Karena itu, umat Islam perlu menjaga sebab-sebab yang dapat menguatkan hati, seperti salat berjamaah, saling menasihati, menjaga lisan, memaafkan, menolong, dan menjauhi penyakit hati.
Ukhuwah sebagai Nikmat Besar
Dalam Surah Ali Imran ayat 103, Allah memerintahkan orang-orang beriman agar berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Allah juga mengingatkan bahwa dahulu manusia bisa saja berada dalam permusuhan, lalu Allah mempersatukan hati mereka sehingga menjadi saudara.
Ukhuwah atau persaudaraan iman adalah nikmat besar. Dengan ukhuwah, seseorang tidak berjalan sendiri dalam kehidupan. Ia memiliki saudara yang mengingatkan ketika lupa, membantu ketika susah, mendoakan ketika jauh, dan ikut bahagia ketika mendapat nikmat.
Namun, ukhuwah tidak akan terjaga jika hati dipenuhi iri, dengki, prasangka buruk, dan kesombongan. Persaudaraan tidak cukup hanya diucapkan. Ia harus dijaga dengan akhlak.
Orang Beriman Seperti Satu Tubuh
Rasulullah saw. menggambarkan orang-orang beriman dalam cinta, kasih sayang, dan kepedulian seperti satu tubuh. Jika satu bagian tubuh sakit, bagian tubuh lainnya ikut merasakan sakit dan tidak nyaman.
Perumpamaan ini sangat indah. Ia mengajarkan bahwa sesama Muslim seharusnya tidak bersikap acuh terhadap penderitaan saudaranya.
Jika ada saudara yang kesulitan, kita berusaha membantu. Jika ada yang tersesat, kita menasihati dengan baik. Jika ada yang lemah, kita menguatkan. Jika ada yang berduka, kita menghibur. Jika ada yang berhasil, kita ikut bersyukur.
Ukhuwah bukan hanya tentang berada bersama ketika senang, tetapi juga tentang hadir ketika saudara membutuhkan.
Umat yang Kuat karena Saling Melengkapi
Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Ada yang kuat dalam ilmu, tetapi lemah dalam kesabaran. Ada yang pandai berbicara, tetapi perlu belajar lebih banyak mendengar. Ada yang kuat secara ekonomi, tetapi membutuhkan nasihat spiritual. Ada yang sederhana, tetapi memiliki hati yang sangat lembut.
Dalam kehidupan umat, perbedaan kelebihan ini seharusnya menjadi kekuatan, bukan sumber kesombongan.
Orang yang memiliki ilmu membantu dengan ilmunya. Orang yang memiliki harta membantu dengan hartanya. Orang yang memiliki tenaga membantu dengan tenaganya. Orang yang memiliki waktu membantu dengan kehadirannya. Orang yang memiliki kemampuan menenangkan membantu dengan nasihat dan doanya.
Jika setiap orang beriman saling melengkapi, umat akan menjadi lebih kokoh.
Menjaga Ikatan Hati dengan Akhlak
Ikatan hati tidak akan bertahan jika akhlak diabaikan. Rasulullah saw. berpesan agar sesama Muslim tidak saling dengki, tidak saling menipu, tidak saling membenci, tidak saling membelakangi, dan tidak merendahkan satu sama lain.
Pesan ini sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak hubungan rusak bukan karena masalah besar, tetapi karena penyakit hati kecil yang dibiarkan tumbuh. Iri berubah menjadi dengki. Prasangka berubah menjadi permusuhan. Candaan berubah menjadi hinaan. Perbedaan pendapat berubah menjadi kebencian.
Karena itu, menjaga ukhuwah berarti menjaga hati dan lisan.
Jangan Saling Dengki
Dengki muncul ketika seseorang tidak senang melihat saudaranya mendapat nikmat. Ia merasa terganggu ketika orang lain berhasil, dipuji, atau mendapatkan rezeki.
Padahal, nikmat Allah sangat luas. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi rezeki kita. Jika Allah memberi nikmat kepada saudara kita, seharusnya kita ikut mendoakan agar nikmat itu menjadi berkah.
Dengki merusak ikatan hati karena membuat seseorang melihat saudaranya sebagai pesaing, bukan sebagai bagian dari persaudaraan.
Jangan Saling Menipu
Kepercayaan adalah fondasi hubungan. Jika seseorang menipu saudaranya, ikatan hati akan rusak. Penipuan dalam jual beli, pekerjaan, amanah, janji, atau ucapan dapat menimbulkan luka yang dalam.
Seorang Muslim seharusnya menjadi pribadi yang amanah. Orang lain merasa aman dari kebohongan dan pengkhianatannya.
Jangan Saling Membenci
Membenci karena hawa nafsu dapat merusak persaudaraan. Islam mengajarkan agar kebencian tidak membuat seseorang berlaku zalim.
Perbedaan pendapat, kesalahan, atau konflik sebaiknya diselesaikan dengan adab. Jangan mudah memutus hubungan, menyebarkan aib, atau memperbesar masalah.
Jika ada kesalahan, nasihati dengan baik. Jika ada luka, berusahalah memperbaiki. Jika belum bisa dekat kembali, setidaknya jangan menzalimi.
Jangan Merendahkan Saudara
Merendahkan sesama Muslim adalah tanda hati yang bermasalah. Seseorang bisa merendahkan karena harta, ilmu, status, penampilan, pekerjaan, suku, pendidikan, atau masa lalu.
Padahal, kemuliaan di sisi Allah tidak ditentukan oleh hal-hal lahiriah semata. Yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.
Rasulullah saw. mengingatkan bahwa takwa berada di dalam dada. Karena itu, tidak layak seseorang merasa lebih tinggi dan meremehkan saudaranya.
Hati yang Mudah Berubah
Hati manusia tidak selalu stabil. Ia dapat berubah dari tenang menjadi gelisah, dari lembut menjadi keras, dari semangat menjadi lalai.
Karena itu, Rasulullah saw. mengajarkan doa agar hati diteguhkan di atas agama Allah:
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Allah untuk menjaga hati. Tidak ada orang yang boleh merasa terlalu kuat dari godaan. Tidak ada pula yang boleh merasa aman dari penyakit hati.
Setiap Muslim perlu terus memohon agar hatinya diteguhkan dalam iman dan dijauhkan dari kebencian yang tidak benar.
Ujian pada Sisi Hati yang Lemah
Setiap manusia memiliki sisi hati yang berbeda. Ada yang diuji dengan amarah. Ada yang diuji dengan iri. Ada yang diuji dengan kesombongan. Ada yang diuji dengan rasa takut, ambisi, cinta dunia, atau sulit memaafkan.
Allah dapat menguji seseorang pada sisi yang lemah agar ia belajar memperbaikinya. Allah juga dapat memberi amanah pada sisi yang kuat agar ia bersyukur dan tetap istiqamah.
Karena itu, jangan mudah menghakimi saudara yang sedang berjuang dengan kelemahannya. Bisa jadi kita kuat dalam satu sisi, tetapi lemah dalam sisi lain.
Yang diperlukan adalah saling menolong, bukan saling menjatuhkan.
Cara Menguatkan Ikatan Hati
Ada beberapa cara yang dapat membantu menguatkan ikatan hati sesama Muslim.
1. Mendoakan saudara
Doa adalah bentuk cinta yang tulus. Mendoakan saudara, terutama tanpa sepengetahuannya, dapat melembutkan hati dan menguatkan persaudaraan.
2. Menjaga lisan
Jangan mudah mencela, menyindir, menyebarkan aib, atau membuat komentar yang menyakiti. Banyak luka hati bermula dari lisan yang tidak dijaga.
3. Memberi maaf
Memaafkan tidak selalu mudah. Namun, hati yang mudah memaafkan akan lebih ringan dan lebih dekat kepada kebaikan.
4. Menolong dalam kebaikan
Bantulah saudara sesuai kemampuan. Tidak harus selalu dengan harta. Bisa dengan waktu, tenaga, nasihat, ilmu, atau perhatian.
5. Menasihati dengan adab
Nasihat adalah bagian dari kasih sayang. Namun, nasihat perlu disampaikan dengan cara yang baik agar tidak berubah menjadi penghinaan.
6. Menghindari prasangka buruk
Jangan cepat menyimpulkan niat orang lain. Jika ada masalah, tabayyun lebih baik daripada menyebarkan dugaan.
7. Mengingat bahwa semua manusia sedang diuji
Kesadaran ini membuat kita lebih lembut kepada sesama. Setiap orang punya perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Ikatan Hati dan Kehidupan Sosial
Ikatan hati yang baik tidak hanya bermanfaat dalam lingkup ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Keluarga menjadi lebih hangat, tetangga lebih peduli, tempat kerja lebih sehat, dan masyarakat lebih kuat.
Ketika hati saling terikat dalam kebaikan, orang akan lebih mudah bekerja sama. Perbedaan tidak langsung menjadi permusuhan. Kritik tidak langsung dianggap serangan. Kelebihan orang lain tidak menjadi sumber iri, melainkan inspirasi.
Inilah buah dari hati yang dipersatukan oleh iman.
Penutup
Hati adalah bagian penting dalam diri manusia. Jika hati baik, ucapan dan perbuatan akan lebih mudah baik. Jika hati rusak, hubungan dengan Allah dan manusia pun dapat rusak.
Islam mengajarkan bahwa sesama orang beriman memiliki ikatan hati yang kuat. Ikatan itu dibangun di atas iman, kasih sayang, empati, nasihat, dan kepedulian.
Orang beriman diibaratkan seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan. Karena itu, tidak layak sesama Muslim saling dengki, menipu, membenci, merendahkan, atau menzalimi.
Setiap manusia memiliki ujian dan kelemahan masing-masing. Maka, tugas kita bukan saling menjatuhkan, tetapi saling meringankan beban, saling menasihati, dan saling mendoakan.
Semoga Allah mempersatukan hati kita dalam iman, membersihkan hati kita dari penyakit hati, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang saling mencintai karena-Nya.
Wallahu a‘lam.
Jumat, 23 September 2011
TAKWIL MIMPI
Beberapa contohnya adalah sebagai berikut.
- Dalam kisah penciptaan Nabi Adam, Allah berkata kepada Nabi Adam, "Pernahkah engkau melihat diantara ciptaan-Ku sesuatu yang menyerupaimu?".
Nabi Adam menjawab, "Tuhanku, Engkau telah merahmatiku, dan memuliakanku diantara cipataan-Mu dan aku belum pernah melihat sesuatu yang menyerupaiku. Ya Allah, anugrahi aku seorang teman agar aku dapat merasakan ketenteraman bersamanya, dan kami akan menyembah-Mu dan mengagungkan-Mu bersama."
Allah kemudian memerintahkan Nabi Adam untuk tidur, dan Allah memperlihatkan Hawa' kepadanya melalui mimpi. Ketika Nabi Adam bangun dari tidurnya dan membuka matanya, ia melihat Hawa' duduk di dekatnya. Allah Yang Maha Kuasa menciptakan Hawa' dari tulang rusuk Nabi Adam dan membuat bentuknya menyerupai Nabi Adam.
- Mimpi Nabi Ibrahim yang merupakan perintah dari Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail, yang merupakan ujian bagi keimanan Beliau. Dalam Al Quran kisah ini diabadikan.
Maka ketika anak itu (Ismail) sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamnya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!"
Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya, Lalu kami panggil dia, "Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu." Sungguh demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik!" (QS. As Shaffat:102-105)
- Yusuf kecil bermimpi dan menceritakan kepada ayahnya, Nabi Ya'qub, perihal mimpinya itu. Kisah ini diabadikan dalam Al Quran.
(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."
Dia (Nabi Ya'qub) berkata, "Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia." (QS. Yusuf:4-5)
Pada akhir kisah, ketika Nabi Yusuf telah dewasa, menjadi pembesar di kerajaan Mesir, dan telah berkumpul kembali dengan keluarganya, Nabi Yusuf kembali berbincang dengan Ayahnya perihal mimpi yang dialaminya dulu ketika masih kanak-kanak.
Dan dia (Nabi Yusuf) menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka (semua) tunduk bersujud kepadanya (Nabi Yusuf). Dan dia (Nabi Yusuf) berkata, "Wahai ayahku! Inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya Tuhan-ku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya Tuhan-ku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sungguh, Tuhan-ku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sungguh Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. Yusuf:100)
- Mimpi yang benar juga terkadang dapat dilihat oleh orang-orang yang tidak beriman atas kehendak Allah. Dikisahkan bahwa Fir'aun pernah melihat dalam sebuah mimpi bahwa api yang dinyalakan di Syiria terus menjalar hingga mencapai Mesir, dimana api itu membakar dan menghancurkan semua rumah dan ladang di negeri itu. Fir'aun terjaga dari tidurnya, ketakutan. Ia memanggil semua penakwil mimpi di negeri itu dan meminta mereka untuk menjelaskan takwilknya.
Salah seorang penakwil berkata, "Jika mimpimu benar, maka ini berarti bahwa salah seorang keturunan keluarga Ya'qub akan lahir. Ia akan membawa kehancuran bagimu dan bangsa Mesir."
Segera Fir'aun memerintahkan prajuritnya untuk membunuh setiap anak laki-laki yang baru lahir di negeri itu. Meskipun demikian, Musa lahir dalam perlindungan Allah dan memenuhi kehendak Allah untuk menghancurkan kerajaan Fir'aun dan pengikutnya yang zalim.
- Nabi Muhammad SAW juga sering menakwilkan mimpinya yang semuanya menjadi kenyataan. Selain itu beliau juga menakwilkan mimpi-mimpi para sahabat.
Dalam Hadis riwayat Samurah bin Jundub radhaillaahu ‘anhu, ia berkata: Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam setiap kali selesai mengerjakan salat Subuh menghadapkan wajahnya kepada para sahabat dan bertanya: Apakah tadi malam ada salah seorang di antara kalian yang bermimpi. (Shahih Muslim No.4220).
Diantara kisah penakwilan mimpi oleh Rasulullah adalah seperti yang disebutkan dalam Hadis riwayat Abu Musa radhaillaahu ‘anhu:
Dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: Aku pernah bermimpi seolah-olah berhijrah dari kota Mekah menuju ke suatu daerah yang banyak pohon kurma. Aku yakin itu adalah daerah Yamamah atau daerah Hajar, namun ternyata adalah daerah Madinah yang dahulu disebut Yatsrib. Dalam mimpiku ini aku seakan-akan menghunus sebilah pedang tiba-tiba matanya menjadi tumpul. Ternyata mimpi itu adalah musibah bagi orang-orang mukmin pada perang Uhud. Kemudian aku ayunkan sekali lagi dan ternyata pedang itu kembali baik seperti semula. Ternyata itu adalah kemenangan yang diberikan oleh Allah dan bersatunya orang-orang mukmin. Dalam mimpi itu aku juga melihat seekor sapi, Allah adalah Zat yang baik. Ternyata itu adalah (isyarat) sekumpulan orang-orang mukmin pada perang Uhud. Namun kebaikan Allah datangnya masih nanti. Balasan sebuah keyakinan yang diberikan oleh Allah setelah perang Badar. (Shahih Muslim No.4217).
Dalam kisah lain juga disebutkan bahwa Rasulullah pernah menceritakan sebuah mimpi kepada sahabatnya Abu Bakar. Beliau berkata, "Aku melihat dalam mimpi bahwa kita menaiki sebuah tangga. Pada akhirnya, aku mendahului dua langkah di depan engkau."
Abu Bakar menjawab, "Wahai Rasulullah, Allah Yang Mahakuasa akan memanggil jiwamu kembali ke haribaan-Nya, dan aku akan hidup dua atau setengah tahun lagi setelah engkau meninggalkan dunia.
Mimpi ada tiga jenis:
- Mimpi yang benar, yang merupakan kabar gembira dari Allah subhanahu wata'ala.
- Mimpi buruk dan dibenci, yaitu hal-hal menakutkan yang berasal dari syetan untuk membuat manusia bersedih, waswas, khawatir, dan mempermainkannya di dalam mimpi.
- Mimpi yang diakibatkan kondisi psikologis seseorang dalam keadaan terjaga, lalu terbawa ke dalam mimpinya
Pembagian mimpi yang disebutkan di atas disebutkan dalam riwayat Imam Muslim no. 4200 dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu secara marfu’:
“Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang sekali mimpi seorang muslim yang tidak benar. Dan orang yang paling benar mimpinya di antara kalian adalah yang paling benar ucapannya. Mimpi seorang muslim adalah sebagian dari 45 macam nubuwwah (wahyu). Mimpi itu ada tiga macam: (1) Mimpi yang baik sebagai kabar gembira dari Allah. (2) mimpi yang menakutkan atau menyedihkan, datangnya dari syetan. (3) dan mimpi yang timbul karena ilusi angan-angan, atau khayal seseorang. Karena itu, jika kamu bermimpi yang tidak kamu senangi, bangunlah, kemudian shalatlah, dan jangan menceritakannya kepada orang lain.”
Hanya mimpi yang berasal dari Allah yang bisa ditakwilkan karena di dalamnya tersirat pesan-pesan yang berisi petunjuk mengenai apa yang akan terjadi, apa yang harus dilakukan atau tidak, dan peringatan-peringatan.
Al-’Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengatakan:
“Perbedaan antara ahlam (mimpi-mimpi yang tidak benar) yang merupakan mimpi-mimpi kosong dan tidak bisa dita’wil, seperti orang yang bermimpi dalam keadaan dia sibuk berpikir dan berangan-angan terhadap suatu persoalan. Maka kebanyakan yang dilihatnya dalam tidurnya adalah sejenis dengan apa yang dipikirkannya ketika dia dalam keadaan jaga. Jenis ini biasanya adalah mimpi kosong yang tidak ada ta’wilnya.
Demikian juga bentuk lain yang dilemparkan syaithan kepada ruh orang yang tidur, berupa mimpi dusta dan makna-makna yang kacau. Ini juga mimpi yang tidak ada ta’wilnya. Dan tidak perlu menyibukkan pikirannya dengan hal ini. Bahkan sebaiknya dia membiarkannya begitu saja.
Adapun mimpi yang benar, maka itu adalah ilham yang diberikan Allah kepada ruh ketika dia lepas dari jasad pada waktu tidur. Atau tamsil (permisalan) yang dibuat oleh malaikat bagi seorang manusia agar dia memahami apa yang sesuai dengan tamsil itu. Yakni, kadang dia melihat sesuatu sesuai hakekatnya, dan ta’birnya adalah apa yang dilihatnya dalam tidurnya.” [Al-Majmu’atul Kamilah li Mu’allafat Ibnu Sa’di, (1/108)]
MIMPI YANG BENAR
Mimpi yang benar dikategorikan menjadi dua:
- Mimpi yang jelas dan nyata sehingga tidak memerlukan takwil
- Mimpi yang samar, implisit, mengandung hikmah dan informasi dalam esensi mimpinya itu
- Bersih dari mimpi kosong, bayangan-bayangan yang menakutkan dan meresahkan.
- Dapat dipahami ketika terjaga. Orang yang bermimpi tidak melihat dalam tidurnya sesuatu yang bertolak belakang, seperti mimpi melihat orang berdiri dalam keadaan duduk.
- Tidur dalam keadaan pikirannya jernih, tidak disibukkan oleh satu persoalan pun. Karena pada umumnya, mimpi orang yang seperti ini adalah karena bisikan jiwanya (angan-angannya) sebelum tidur. Misalnya dia dalam keadaan haus lalu tertidur dan dalam tidurnya dia mimpi sedang minum. Atau lapar lalu mimpi sedang makan dan sebagainya.
- Mimpi tersebut dapat ditakwil dan sesuai dengan yang ada di dalam Lauhul Mahfuzh. Kalau mimpi itu kadang terlihat begini atau kadang begitu, maka itu tidaklah dinamakan mimpi yang baik dan benar. Karena mimpi yang benar itu harus tersusun rapi yang sesuah dan memungkinkan untuk ditakwilkan.
Ustadz Abu Sa'ad berkata, "Orang perlu menegakkan tata kesopanan agar mimpinya mendekati kebenaran. Di antara adab kesopanan itu ialah membiasakan diri berkata jujur. Nabi bersabda dalam hadits muttafaq alaih, ‘Orang yang paling benar mimpinya ialah yang paling benar perkataannya.'"
Jika seseorang jujur dalam kehidupannya maka ia akan melihat mimpi yang benar. Jika ia suka berbohong dalam hidupnya maka mimpinya juga akan berbohong kepadanya.
Selain itu ialah tidur dengan punya wudhu. Abu Dzar Al Ghiffari berkata, "Kekasihku (Muhammad SAW.) memberikan tiga pesan kepadaku yang tidak pernah aku tinggalkan hingga mati. Yaitu, puasa tiga hari pada setiap bulan, dua rakaat shalat fajar, dan tidak tidur kecuali punya wudhu." Demikian yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
Adab lainnya ialah tidur dengan berbaring ke sisi kanan tubuh karena Nabi saw. menyukai bagian kanan dalam segala hal. Diriwayatkan bahwa beliau tidur pada sisi kanan tubuhnya seraya meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanan, lalu berdoa, "Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada saat Engkau mengumpulkan hamba-hamba-Mu." (HR Tirmidzi dan Abu Dawud)
Mimpi yang lebih kuat kebenarannya adalah mimpi yang terjadi pada dini hari atau pada saat menjelang tengah hari. Mimpi juga bisa menjadi kuat dan lebih bermakna apabila terjadi ketika buah-buahan sedang matang pada pohonnya, pada saat musim panen, ketika sebuah bintang sedang akan terbit, ketika seseorang bermaksud untuk menandatangani sebuah perjanjian bisnis, ketika seseorang hendak menikah, atau ketika akhir dekade.
KETIKA MELIHAT MIMPI YANG TIDAK DISENANGI
Jika seseorang mengalami mimpi yang tidak disukai, disunnahkan melakukan lima perbuatan. Yaitu: mengubah posisi tidur, meludah ke kiri sebanyak tiga kali, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, bangun dan shalat, dan tidak menceritakan mimpinya kepada siapa pun.
Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya dia bangun dari tidur lalu mengerjakan salat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain.(Shahih Muslim No.4200)
Hadis riwayat Abu Qatadah, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: Mimpi baik (rukyah) itu datang dari Allah dan mimpi buruk (hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya. (Shahih Muslim No.4195).
GOLONGAN MANUSIA MENURUT KEBENARAN MIMIPINYA
Berdasarkan keadaan orang yang bermimpi, ahli ilmu membagi keadaan manusia sehubungan dengan mimpi ini menjadi lima bagian, yaitu:
- Para Nabi
Mereka adalah manusia-manusia yang paling jujur (benar) mimpinya, dan ini tidak diragukan lagi. Karena mereka adalah orang-orang yang paling benar (jujur) ucapan dan perbuatannya. Sebab itulah mimpi Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam bagaikan cahaya subuh (pagi) yang terang, karena mimpi beliau adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau.
- Shalihun (orang-orang shalih)
Mereka berada pada urutan kedua setelah para nabi dan rasul Allah. Yang dominan pada mimpi mereka adalah kebenaran. Namun di antaranya ada yang perlu dita’birkan dan ada pula yang tidak perlu, (karena mimpi itu) sudah menunjukkan suatu perkara yang sangat jelas.
Istri Rasulullah, Aisyah r.a., menuturkan bahwa Rasulullah berkata, “Kabar baik adalah satu-satunya kenabian yang ada setelah aku”. Seseorang bertanya, “Apakah kabar baik itu , Ya Rasulullah?”. “Mimpi baik yang dilihat seseorang atau dilihat orang lain untuknya”, jawab Rasulullah.
Rasulullah menjelaskan dalam hadis riwayat Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah bersabda: Mimpi seorang mukmin adalah termasuk satu dari empat puluh enam bagian kenabian. (Shahih Muslim No.4201)
Dalam hadis yang lain juga disebutkan:
Hadis riwayat Abu Hurairah, ia berkata:Dari Nabi bahwa beliau bersabda: Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. (Shahih Muslim No.4200).
Dan beliau juga bersabda:
“Mimpi yang baik dari orang yang shalih adalah satu dari 46 bagian kenabian (nubuwwah).” (HSR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim)
- Masturun (yang tidak diketahui keadaannya)
Yaitu orang-orang yang tidak diketahui apakah dia melakukan shalat, berzakat, haji dan ketaatan lainnya, mereka kurang dalam sebagian amalan dan mempunyai dosa yang lebih rendah dari syirik. Mereka ini juga mempunyai mimpi, namun kadang dari Allah dan kadang dari syaithan.
- Fasaqah (orang-orang fasik)
Mimpi mereka sangat sedikit benarnya, yang paling dominan adalah mimpi-mimpi kosong yang merupakan permainan syaithan.
- Kuffar (orang-orang kafir)
Mimpi mereka sangat jarang benarnya. Hal ini karena kekejian dan kekafiran mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan pada umumnya mimpi mereka adalah dari syaithan. Akan tetapi kadang mereka melihat mimpi yang benar. Namun demikian dipertanyakan, apakah mimpi tersebut berasal dari wahyu atau kita katakan satu dari 46 bagian kenabian?
Al-Imam Al-Qurthubi menjawab hal ini, beliau mengatakan: “Jika dikatakan bahwa mimpi yang benar itu adalah satu bagian dari kenabian, bagaimana mungkin orang yang kafir dan pendusta serta kacau keadaannya memperoleh atau bisa mendapatkannya? Jawabnya ialah bahwasanya orang yang kafir, fajir (jahat), fasik dan pendusta itu, meskipun suatu ketika mimpi mereka benar, itu bukanlah dari wahyu dan bahkan juga bukan dari nubuwwah. Karena tidaklah semua yang benar dalam berita tentang perkara ghaib, lantas beritanya merupakan nubuwwah. Dan sudah dijelaskan dalam surat Al-An’am bahwa seorang dukun atau yang lainnya (paranormal dan sejenisnya) kadang-kadang menyampaikan suatu berita dengan pernyataan yang benar (haq) lalu dibenarkan (dipercayai). Akan tetapi hal itu sangat jarang dan sedikit sekali. Demikian pula mimpi mereka ini.” [Tafsir Al-Qurthubi, (9/124)]
ILMU TAKWIL MIMPI
Dalam penakwilan mimpi diperlukan pengetahuan yang luas dan akurat berlandaskan dasar-dasar agama, nilai-nilai spiritual, tradisi moral dan budaya. Seorang penakwil harus memiliki pengetahuan tentang Al Quran, tafsir Al Quran, Hadis, dan makna kiasan, ibarat, sejarah, kisah-kisah dongeng, puisi, peribahasa, bahasa, dan sebagainya. Selain itu pengetahuan mengenai kondisi suatu wilayah, kondisi lahiriah dan batiniah pemimpi serta faktor-faktor eksternalnya juga perlu diketahui dan dikenali. Karenanya, suatu mimpi yang sama tetapi dialami orang yang berbeda, bisa berbeda pula takwilnya.
Dalam menyingkapakan suatu takwil mimpi haruslah berhati-hati. Memberi takwil mimpi yang salah merupakan sebuah perbuatan dosa, sementara jika ia tetap diam ketika tidak mengetahui jawabannya ia mendapat pahala. Ibn Sirin diriwayatkan sering menolak untuk menakwilkan mimpi.
Apabila penakwil mimpi tidak mau menakwilkan mimpi seseorang karena mimpi itu bermakna buruk atau karena pengatahun penakwil masih kurang maka dianjurkan mengucapkan, "Semoga kebaikan di pihakmu dan keburukan di pihak musuhmu. Semoga kamu dianugerahi kebaikan mimpi dan dilindungi dari keburukannya."
Bahaya dari orang yang mengemukakan mimpi-mimpi dusta adalah sangat fatal.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:“Barangsiapa yang mengaku telah bermimpi sesuatu padahal sebenarnya tidak maka ia akan dipaksa untuk duduk di antara dua helai rambut dan ia pasti tidak akan mampu melakukannya.” (HR. Bukhori no. 7042)
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kedustaan yang paling besar ialah seorang laki-laki yang mengaku telah bermimpi melihat sesuatu padahal ia tidak melihatnya.” (HR. Bukhori no. 7043)
Seperti kita ketahui, cabang-cabang, dasar-dasar, dan rujukan-rujukan takwil mimpi itu banyak dan tidak ada satu buku pun di dunia ini yang dapat mencakup keseluruhannya. Apabila ada seseorang pada zaman ini yang berupaya memastikan makna seluruh mimpi, maka ia pasti mengalami kegagalan. Prinsipnya, karena mimpi mengenai suatu objek bisa mempunyai banyak arti, jadi tak ada jaminan mengenai kebenarannya. Kepastian dari kebenaran mimpi tetap hanya ada di sisi Allah SWT. Kita harus selalu memohon perlindungan dan petunjuk kepada Allah atas apa-apa yang tidak kita ketahui. Selain itu juga memohon kepada Allah agar dijauhkan dari gangguan setan yang terkutuk.
Ustadz Abu Sa'ad berkata, "Aku melihat bahwa ilmu itu terdiri atas beberapa jenis, di antaranya ada yang bermanfaat bagi dunia, tetapi tidak bermanfaat bagi agama; ada juga yang bermanfaat bagi dunia dan agama. Ilmu tentang mimpi termasuk ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan agama. Kemudian aku shalat istikharah sebelum mengumpulkan apa yang berasal dari Allah dan menempuh metode peringkasan seraya memohon pertolongan kepada-Nya dalam menyempurnakan apa yang diridhai dan dicintai-Nya. Juga berlindung kepada-Nya dari ujian dan fitnah-Nya. Allahlah Pemilik taufik. Cukuplah Dia bagi kami. Dia adalah sebaik-baik Pelindung."
Dari penjelasan mengenai mimpi ini ada hal penting yang perlu kita ketahui. Semua mimpi, sekalipun yang baik dan berasal dari Allah, hanyalah bersifat membawa kabar gembira kepada sang pemilik mimpi atau orang yang berada di sekitarnya. Jadi mimpi tidak dapat dijadikan sebagai patokan syariat. Dengan berdasar atas mimpi, seseorang tidak boleh menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, mengamalkan sebuah ibadah yang baru maupun meninggalkan suatu ibadah yang sudah pasti pensyariatannya. Tidak boleh menjadikan mimpi sebagai pembuat syariat, karena syariat sudah baku dengan wafatnya Nabi Muhammad SAW, dan terus berlaku hingga hari kiamat. Karenanya siapa saja yang mengadakan perubahan atau penambahan dalam syariat Islam dengan beralasan dia menerima hal itu dalam mimpi dan dia mengaku bertemu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka sungguh dia adalah orang yang tertipu dengan setan dan apa yang dia lihat di dalam mimpinya pastilah bukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
REFERENSI
- Sirin, Muhammad Ibn. Ensiklopedia Takwil Mimpi. Diterjemahkan dari buku berbahasa Inggris: Ibn Sirin's Dictionary of Dreams According to Islamic Inner Traditions karya M. Al Kalili.
- Sirin, Muhammad Ibnu. 2004. Tafsir Mimpi: Menurut Al Quran dan As Sunnah. Judul Karya Asli : Tafsirul Ahlam. Penerjemah: Dr. M Syihabuddin, Asep Sopian SPd. Penyunting: Harlis Kurniawan. Jakarta : Gema Insani Press
- http://al-atsariyyah.com/kedudukan-mimpi-di-dalam-islam.html


