Sabtu, 29 Februari 2020

Berjilbab Sesuai Petunjuk Rasulullah: Memahami Syarat Hijab Muslimah dengan Bijak


Islam adalah agama yang memberikan tuntunan dalam seluruh sisi kehidupan manusia. Bukan hanya dalam ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi juga dalam akhlak, keluarga, muamalah, kebersihan, pergaulan, hingga cara berpakaian.

Bagi seorang Muslim, aturan agama bukan sekadar batasan, tetapi bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Syariat hadir untuk menjaga kehormatan, memperbaiki akhlak, menata hubungan sosial, dan membimbing manusia menuju kebaikan dunia serta akhirat.

Salah satu tuntunan Islam bagi muslimah adalah mengenakan jilbab atau hijab sesuai ketentuan syariat. Pembahasan ini bukan untuk merendahkan muslimah yang sedang berproses, tetapi sebagai pengingat bersama agar setiap Muslimah dapat memahami tuntunan agama dengan ilmu, keikhlasan, dan kesadaran.

Setiap orang memiliki proses hijrah yang berbeda. Ada yang langsung mampu menjalankan dengan baik, ada yang masih belajar, dan ada pula yang sedang berusaha memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Yang penting adalah terus mendekat kepada Allah, menerima kebenaran dengan lapang, dan berusaha mengamalkannya sesuai kemampuan.

Jilbab sebagai Bagian dari Ketaatan

Berjilbab bukan semata-mata pilihan mode, identitas sosial, atau budaya tertentu. Dalam Islam, jilbab merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.

Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 59:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini menunjukkan bahwa jilbab memiliki fungsi menjaga kehormatan, identitas, dan keselamatan seorang muslimah. Jilbab juga menjadi tanda ketaatan kepada perintah Allah.

Namun, dalam menyampaikan kewajiban jilbab, kita perlu menggunakan bahasa yang baik. Mengajak kepada kebaikan harus dilakukan dengan hikmah, bukan dengan celaan. Sebab, tujuan nasihat adalah mendekatkan seseorang kepada Allah, bukan membuatnya semakin jauh karena merasa dihakimi.

Jilbab dan Niat yang Benar

Salah satu hal terpenting dalam berjilbab adalah niat. Seorang muslimah mengenakan jilbab karena ingin menaati Allah, menjaga kehormatan diri, dan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ.

Niat yang benar akan membantu seseorang tetap istiqamah meskipun menghadapi komentar orang lain, perubahan tren, atau tekanan lingkungan.

Berjilbab bukan untuk merasa lebih baik dari orang lain. Berjilbab juga bukan untuk merendahkan muslimah yang belum mampu menjalankannya dengan sempurna. Jilbab adalah ibadah, dan ibadah harus dijaga dari riya, kesombongan, serta sikap merasa paling suci.

Karena itu, semakin baik seorang muslimah dalam menutup aurat, seharusnya semakin baik pula akhlaknya, lisannya, dan cara ia memperlakukan orang lain.

Syarat Jilbab Sesuai Tuntunan Islam

Para ulama menjelaskan beberapa syarat pakaian muslimah yang sesuai dengan tuntunan syariat. Rincian ini disusun agar seorang muslimah dapat memahami prinsip dasar hijab dengan lebih jelas.

1. Menutup aurat dengan baik

Syarat utama jilbab adalah menutup aurat. Allah memerintahkan perempuan beriman untuk menjaga kehormatan dan tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa tampak, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nur ayat 31.

Dalam pembahasan fikih, terdapat perbedaan penjelasan ulama tentang bagian yang dikecualikan, seperti wajah dan telapak tangan. Namun, secara umum, para ulama sepakat bahwa pakaian muslimah harus menutup aurat dengan baik dan tidak bertujuan menampakkan keindahan tubuh di hadapan laki-laki non-mahram.

Prinsip ini penting: jilbab bukan sekadar kain di kepala, tetapi bagian dari pakaian yang menjaga aurat secara utuh.

2. Tidak diniatkan sebagai tabarruj

Tabarruj adalah menampakkan perhiasan atau keindahan diri secara berlebihan di hadapan orang yang bukan mahram. Dalam konteks pakaian, seorang muslimah perlu berhati-hati agar jilbab tidak berubah fungsi menjadi alat pamer, menarik perhatian berlebihan, atau menonjolkan kecantikan secara sengaja.

Islam tidak melarang muslimah tampil rapi, bersih, dan pantas. Bahkan kebersihan dan kerapian adalah bagian dari adab yang baik. Namun, ada perbedaan antara tampil rapi dengan berhias berlebihan untuk menarik perhatian.

Karena itu, pakaian muslimah sebaiknya sederhana, sopan, bersih, dan tidak berlebihan.

3. Bahannya tidak tipis atau transparan

Pakaian yang menutup aurat harus memiliki bahan yang cukup tebal sehingga tidak memperlihatkan warna kulit atau bagian tubuh di baliknya. Jika pakaian terlalu tipis atau transparan, maka fungsi menutup aurat menjadi tidak sempurna.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan tentang pakaian yang masih dapat menggambarkan bentuk tubuh. Pesan ini menunjukkan bahwa pakaian tidak cukup hanya menempel di badan, tetapi harus benar-benar menutup dengan baik.

Muslimah dapat memilih bahan yang nyaman, tidak panas, tidak menerawang, dan tetap sesuai dengan kebutuhan aktivitas sehari-hari.

4. Tidak ketat dan tidak membentuk lekuk tubuh

Selain tidak transparan, pakaian muslimah juga sebaiknya tidak ketat sampai membentuk lekuk tubuh. Tujuan jilbab adalah menutup aurat, bukan membungkus tubuh dengan pakaian yang memperjelas bentuknya.

Ini bukan berarti pakaian harus menyulitkan aktivitas. Muslimah tetap dapat memilih pakaian yang praktis, rapi, dan nyaman. Namun, prinsip longgar dan sopan tetap perlu dijaga.

Dalam kehidupan modern, tersedia banyak pilihan busana muslimah yang nyaman untuk bekerja, belajar, bepergian, berolahraga, dan aktivitas harian lainnya. Yang penting adalah memilih pakaian yang tetap menjaga prinsip syariat.

5. Tidak memakai parfum menyengat ketika keluar rumah

Dalam sejumlah hadis disebutkan larangan bagi perempuan memakai wewangian yang dapat tercium oleh laki-laki non-mahram ketika keluar rumah. Larangan ini berkaitan dengan menjaga adab, kehormatan, dan menghindari fitnah.

Namun, menjaga kebersihan tubuh tetap penting. Seorang muslimah boleh menjaga diri agar tidak berbau tidak sedap, misalnya dengan mandi, menggunakan deodoran seperlunya, mencuci pakaian, dan menjaga kebersihan badan. Yang perlu dihindari adalah parfum yang menyengat dan sengaja menarik perhatian.

Dengan kata lain, Islam tidak mengajarkan muslimah untuk tampil kotor atau tidak rapi. Islam mengajarkan kebersihan, tetapi juga menjaga batasan.

6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki

Di antara adab berpakaian dalam Islam adalah menjaga perbedaan identitas pakaian antara laki-laki dan perempuan sesuai tuntunan syariat dan kebiasaan yang baik di masyarakat.

Maksudnya bukan melarang semua bentuk pakaian modern, tetapi menghindari gaya berpakaian yang secara jelas meniru identitas lawan jenis.

Dalam hal ini, muslimah dapat memilih busana yang sopan, feminin sesuai kebiasaan yang baik, dan tetap menjaga aurat.

7. Tidak menjadi pakaian syuhrah

Pakaian syuhrah adalah pakaian yang dipakai dengan tujuan mencari perhatian, popularitas, atau sensasi di tengah masyarakat. Pakaian seperti ini bisa berupa pakaian yang terlalu mencolok karena kemewahan, keanehan, atau cara penggunaannya yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian.

Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang bahaya pakaian syuhrah. Pesannya adalah agar seorang Muslim tidak menjadikan pakaian sebagai alat kesombongan dan pencarian popularitas.

Seorang muslimah sebaiknya memilih pakaian yang pantas, tidak berlebihan, tidak mencolok untuk sensasi, dan tidak membuatnya terjebak dalam sikap pamer.

Berjilbab dan Memperbaiki Akhlak

Jilbab adalah bagian dari ketaatan, tetapi bukan satu-satunya ukuran kesalehan. Seorang muslimah yang berjilbab tetap perlu memperbaiki shalat, menjaga lisan, menghormati orang tua, bersikap jujur, menuntut ilmu, menjaga pergaulan, dan memperbaiki akhlak.

Kadang ada orang berkata, “Yang penting hatinya dulu, tidak perlu jilbab.” Pernyataan ini kurang tepat jika dipahami untuk menunda kewajiban. Hati yang baik seharusnya mendorong ketaatan lahir.

Namun, ada juga yang berkata, “Percuma berjilbab kalau akhlaknya belum baik.” Pernyataan ini juga perlu hati-hati. Jilbab adalah kewajiban, dan akhlak juga kewajiban. Keduanya sama-sama perlu diperbaiki. Jangan menjadikan kekurangan akhlak seseorang sebagai alasan untuk meremehkan jilbab.

Yang lebih tepat adalah: berjilbablah sambil terus memperbaiki akhlak. Jangan menunggu sempurna untuk taat, karena manusia tidak pernah benar-benar sempurna.

Menghormati Proses Hijrah

Tidak semua muslimah berada pada titik yang sama. Ada yang sejak kecil sudah terbiasa berjilbab. Ada yang baru belajar. Ada yang sedang berusaha meninggalkan gaya berpakaian lama. Ada yang masih takut komentar keluarga atau lingkungan kerja. Ada pula yang masih mencari pemahaman.

Karena itu, dalam mengajak kepada jilbab syar’i, kita perlu memahami proses. Nasihat yang baik akan lebih mudah diterima jika disampaikan dengan kasih sayang.

Jangan mudah mencela. Jangan mempermalukan. Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat menghakimi muslimah lain. Sebaliknya, berilah contoh yang baik, bantu dengan ilmu, doakan, dan sampaikan nasihat dengan adab.

Hijrah membutuhkan ilmu, keberanian, lingkungan yang mendukung, dan kesabaran.

Jilbab Bukan Penghalang Aktivitas

Sebagian orang mengira jilbab akan menghambat aktivitas. Padahal, banyak muslimah tetap dapat belajar, bekerja, berdagang, mengajar, berkarya, berorganisasi, dan memberi manfaat luas sambil menjaga hijabnya.

Jilbab bukan penghalang produktivitas. Jilbab adalah identitas ketaatan yang bisa berjalan bersama ilmu, kerja keras, kreativitas, dan kontribusi sosial.

Yang dibutuhkan adalah memilih pakaian yang sesuai dengan aktivitas, tetap sopan, nyaman, dan memenuhi prinsip syariat.

Muslimah dapat berperan di berbagai bidang selama tetap menjaga batasan agama.

Menjaga Jilbab di Tengah Tren Mode

Industri fashion terus berkembang. Busana muslim juga memiliki banyak tren. Hal ini bisa menjadi peluang karena muslimah memiliki lebih banyak pilihan pakaian yang nyaman dan sopan.

Namun, tren tetap perlu disaring. Tidak semua yang disebut “busana muslim” otomatis sesuai dengan prinsip hijab. Ada pakaian yang menutup kepala, tetapi terlalu ketat. Ada yang panjang, tetapi transparan. Ada yang terlihat islami, tetapi terlalu mencolok dan berlebihan.

Karena itu, muslimah perlu cerdas memilih. Jadikan syariat sebagai panduan utama, bukan sekadar tren.

Mode boleh berubah, tetapi prinsip menutup aurat tetap harus dijaga.

Tips Praktis Memilih Jilbab dan Busana Muslimah

Beberapa tips sederhana yang dapat membantu muslimah memilih pakaian:

  1. pilih bahan yang tidak transparan;
  2. pastikan pakaian cukup longgar;
  3. pilih jilbab yang menutup dada;
  4. hindari model yang terlalu mencolok atau berlebihan;
  5. pilih warna dan desain yang sopan;
  6. sesuaikan pakaian dengan aktivitas;
  7. utamakan kenyamanan agar mudah istiqamah;
  8. hindari parfum menyengat ketika keluar rumah;
  9. siapkan beberapa pakaian basic yang mudah dipadukan;
  10. terus belajar ilmu agama agar semakin yakin dalam berhijab.

Tips ini bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk membantu menjalankan ketaatan dengan lebih mudah.

Penutup

Berjilbab adalah salah satu bentuk ketaatan seorang muslimah kepada Allah. Tuntunan jilbab dalam Islam memiliki tujuan mulia: menjaga kehormatan, melindungi aurat, membangun identitas keimanan, dan menjaga adab dalam pergaulan.

Syarat jilbab yang baik antara lain menutup aurat, tidak transparan, tidak ketat, tidak diniatkan untuk tabarruj, tidak memakai wewangian menyengat ketika keluar rumah, tidak menyerupai pakaian laki-laki, dan tidak menjadi pakaian syuhrah.

Namun, dalam menyampaikan tuntunan ini, kita harus tetap menjaga adab. Jangan merendahkan muslimah yang sedang berproses. Jangan merasa lebih suci karena sudah berjilbab. Sebaliknya, jadikan jilbab sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah dan semakin baik akhlaknya kepada manusia.

Semoga Allah memudahkan setiap muslimah untuk menjalankan perintah-Nya, menjaga kehormatan dirinya, dan istiqamah dalam kebaikan.

Wallahu a‘lam.

Sumber dan Rujukan

  • Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 59.
  • Al-Qur’an Surah An-Nur ayat 31.
  • Kajian terkait adab berpakaian muslimah: https://youtu.be/V9AYuwo5LL8
  • Artikel rujukan: muslimah.or.id, “Lindungi Diri dengan Jilbab Syar’i”.

Sabtu, 22 Februari 2020

TELUR DADAR TEPUNG TALBINAH

Tanggal tua kembali ke telur dadar. Kali ini dicampur tepung talbinah agar dapat pahala sunnah Rasul. Berikut resepnya:
BAHAN
1. Telur 2 butir, kocok lepas.
2. Tepung talbinah 4 sendok makan (sdm).
3. Bawang bombai 1 butir. Iris kecil.
4. Bawang putih 2 siuang. Iris kecil.
5. Garam secukupnya. Baiknya oakai garam himalaya yang berdasarkan riset lebih kaya nutrisi.
6. Minyak beras atau disebut juga minyak bekatul atau rice bran oil. Titik didihnya lebih tinggi dari minyak goreng lain sehingga lebih aman dna sehat.

CARA BUAT 
1. Kocok lepas telur. Capurkan dengan tepung talbinah. Beri sedikit garam. Aduk-aduk hingga rata dan tidak terbentuk gumpalan.
2. Panaskan minyak beras di wajan.
3. Goreng bawang bombai dan bawang putih sebentar hingga tercium harum dan terlihat layu. 
4. Matikan kompor. Angkat bawang tiriskan sebentar dan kemudian campurkan pada adonan telur dan tepung talbinah. Aduk-aduk hingga rata.
5. Panaskan kembali minyak. 
6. Tuang adonan dan atur tipis. Goreng hingga matang.
7. Sajikan dengan sambal.

SELAMAT MENCOBA 👨‍🍳😅😂🤣🙏👍