Sabtu, 14 Januari 2017

MENGHADAPI FAKTA KERAS TAPI TIDAK PERNAH KEHILANGAN KEYAKINAN


Melanjutkan pembalajaran sebelumnya dari buku Good to Great, tentang "Kepemipinan Level 5" dan "Siapa Dulu Baru Apa", kali ini kita akan melanjutkan pembelajaran mengenai upaya selanjutnya yang perlu dilakukan untuk merubah perusahaan bagus menjadi perusahaan hebat, yakni "Menghadapi Fakta Keras Tapi Tidak Pernah Kehilangan Keyakinan".

Setelah sebuah perusahaan memiliki Pemimpin Level 5 yang kemudian memulai pekerjaannya dengan menentukan "Siapa Dulu Baru Apa", maka hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menghadapi fakta-fakta keras yang sedang dan akan dihadapi perusahaan dan dengan penuh keyakinan terus mencari jalan terbaik untuk meraih keunggulan.

Semua perusahaan "bagus ke hebat" yang diteliti oleh Jim Collins dan tim menujukkan pola yang sama. Mereka memulai proses dengan mencari jalan dan solusi untuk menuju keagungan dan kejayaan dengan menghadapi fakta-fakta brutal dari realitas terkini mereka. Para pengambil keputusan perusahaan harus memulai upaya jujur dan tekun dalam menentukan fakta-fakta dan realitas situasi yang sedang dihadapi dan tidak berusaha menghindari, mengabaikan, atau meremehkannya. Lalu, keputusan yang harus diambil akan menjadi jelas dengan sendirinya.

Perusahaan "bagus ke hebat" secara umum memiliki kemampuan yang sama dengan perusahaan pembanding dalam mendapatkan informasi-informasi dan fakta-fakta. Hal yang membedakannya adalah Perusahaan "bagus ke hebat" menghadapi fakta-fakta dan realitas tersebut, sedangkan perusahaan pembanding mengabaikan, meremehkan, atau mengacuhkannya, dan baru sadar ketika perusahaan telah sangat terpuruk. Untuk itu, tugas utama pemimpin level 5 agar dapat mengubah perusahaan dari bagus ke hebat adalah menciptakan sistem/kultur dimana orang akan memiliki peluang besar untuk didengarkan, sehingga pada akhirnya kebenaran pun akan didengar dan perusahaan dapat menentukan langkah-langkah untuk menghadapi realitas tersebut secara positif.

Dalam upaya membentuk iklim dimana kebenaran dapat didengar, perusahaan perlu menerapkan 4 praktik dasar :
  • Memimpin dengan pertanyaan, bukan jawaban
  • Terlibat dalam dialog dan debat, bukan paksaan
  • Melakukan otopsi tanpa saling menyalahkan
  • Membangun mekanisme bendera merah (semacam sistem notifikasi dini) yang dapat mengubah sebuah informasi menjadi informasi yang tak bisa diabaikan

Perusahaan "bagus ke hebat" menghadapi kesukaran dan fakta-fakta keras yang sama dengan perusahaan pembanding. Akan tetapi perusahaan "bagus ke hebat" merespon kesukaran itu dengan langsung menghadapi realita situasi. Pada akhirnya perusahaan "bagus ke hebat" mampu keluar dari kesukaran itu dalam kondisi lebih kuat.

Satu konsep psikologi yang dapat menggambarkan apa yang dilakukan perusahaan hebat adalah Paradoks Stockdale : Mempertahankan keyakinan mutlak bahwa seseorang/perusahaan dapat meraih kemenangan pada akhirnya, terlepas dari rintangan yang dihadapi, DAN pada saat bersamaan terus bertahan dan menghadapi fakta-fakta paling brutal dari realitas terkini, untuk kemudian menjadi semakin kuat dan terus semakin kuat.

Satu hal yang perlu dicatat, ternyata karisma kepemimpinan bisa menjadi beban ketimbang aset. Kekuatan kepribadian pemimpin bisa menyurutkan orang untuk membawa fakta-fakta brutal kepada pemimpin. Kepemimpinan tidak hanya memulai dengan visi. Kepemimpinan memulai pekerjaannya dengan membuat "orang-orang yang tepat" menghadapi fakta-fakta keras dan bertindak mengatasi dampak-dampak yang terjadi.

Untuk itu, bagi perusahaan "bagus ke hebat", upaya untuk memotivasi orang sama saja dengan membuang tenaga. Hal yang penting untuk membentuk kultur perusahaan hebat ini bukanlah dengan bertanya "Bagaimana cara memotivasi orang", tetapi hal ini dilakukan dengan meyakinkan bahwa perusahaan telah memiliki "orang-orang yang tepat" sehingga mereka akan memotivasi diri sendiri. Kuncinya adalah bagaimana caranya agar jangan sampai menyurutkan motivasi "orang-orang yang tepat" ini. Jika suatu perusahaan selalu mengabaikan fakta-fakta keras realitas, maka hal ini dapat menyurutkan motivasi "orang-orang yang tepat".

Setelah membahas "Kepemimpinan Level 5", "Siapa Dulu Baru Apa" dan "Menghadapi Fakta Keras (Tapi Tidak Pernah Kehilangan Keyakinan)" maka pada kesempatan pembahasan selanjutnya kita akan membahas mengenai "Konsep Landak (Kesederhanaan Dalam Tiga Lingkaran), Insya Allah.